Archsoul

Archsoul
Part 10


__ADS_3

"Aku tahu ini terdengar gila, tapi aku janji padamu, kau takkan kecewa" Tukasnya sekali lagi, berusaha meyakinkan tak hanya diriku tetapi juga kedua temannya yang kini mengernyit tak mengerti sembari melirik ke arahku beberapa kali.


"Mengajak manusia itu? Seorang Merc?" Tanya elf berambut putih dengan nada tinggi. Terlihat jelas dia tak menyukaiku, melayangkan tatapan setajam silet beberapa kali "Kau harus memikirkan ini baik-baik Yuna, seorang manusia sepertinya bisa apa selain menjadi beban? Belum lagi dia adalah Mercenary! Kita tak tahu kapan dia menusuk kita dari belakang!"


Dia tak salah. Aku mungkin saja membunuhnya jika dia tak menutup mulut mengenai manusia yang lemah bla bla bla. Kalau saja bukan karena temanmu yang adalah Buyer, kau tak lagi bernapas sekarang.


"Hmm? Kenapa kau terlihat lebih sensitif ketimbang biasanya?" Tanya elf berambut abu-abu "Aku tahu mengajak seorang manusia ke dalam misi kita itu sedikit aneh, tapi tak biasanya bagimu yang selalu mengutamakan fakta dan rencana untuk bersikap hanya melalui perasaan.. Hmmm, begitu ya" Dia tersenyum penuh arti pada elf berambut putih yang reflek memalingkan muka.


Ah, ternyata itu.. Hehe.


Aku datang mendekat, tak memedulikan kedua elf yang seketika menggenggam gagang pedang namun tak melebihi itu karena gadis elf tersebut mengangkat tangannya, penasaran pada apa yang akan kulakukan.


Begitu hanya berjarak kurang dari beberapa senti, aku mendekatkan wajah, membuat kedua elf di kiri-kanan memiliki reaksi yang jauh berbeda dari satu sama lain. Si rambut abu-abu tampak bersemangat dan tak sabar dengan yang akan terjadi, layaknya seseorang menonton sebuah drama dan akan mencapai bagian *******. Sementara si rambut putih tampak begitu penuh amarah dan kebencian seakan melihat sebuah mahluk hina yang pantas mati dan tak hidup, mahluk yang bahkan tak pantas berada dalam neraka, sebaiknya hilang tak bersisa.


Senyumku mengembang karenanya, membisikkan sesuatu yang membuat gadis elf itu terkejut namun tetap mendengarkan. Begitu selesai, aku mengambil langkah mundur, menunggu dirinya selesai berpikir yang kemudian dijawab olehnya dengan sebuah anggukan.


"Baik, akan kulakukan. Tapi berjanjilah kau akan menemani kami"

__ADS_1


Aku menarik keluar Futurephone dari dalam jaket, mengirim sebuah file padanya "Gunakan itu ketika aku mengingkari janji dan percayalah padaku, kau akan menemukan tubuh tak bernyawaku keesokan pagi, di antar langsung padamu dalam sebuah peti penyimpanan senjata" Tukasku. Jangan tanya kenapa aku melakukan ini, aku sendiri tak mengerti kenapa. Namun, aku merasa aku dapat menemukan sesuatu yang penting jika ikut dengan mereka, sesuatu yang mungkin memiliki hubungan terhadap tujuan utamaku dan apa kau lupa? Instingku selalu benar.


"Apa yang dibicarakannya? Yuna!" Desak elf berambut putih, merasa gelisah menyaksikan Sang pujaan hati tampak tersipu malu. Jauh di dalam hatinya, aku tahu dia merasakan sebuah api panas membara besar, membawa amarah yang membuatku sedikit gugup jika dia lepas kendali. Tapi, hidup kurang menyenangkan tanpa sebuah tantangan bukan.


"Umm, Gorg tak mengerti kalian membicarakan apa tapi Gorg ingin memberitahu kalau di bawah sana Gorg melihat beberapa prajurit patroli mengarah ke sini" Kata Gorg yang tahu-tahu sudah berada di ujung tebing tanpa dapat kami sadari.


Buru-buru mereka bertiga bergegas ke sana, terkejut memerhatikan lebih dari lima prajurit patroli kini mengendarai sebuah kuda dengan tato berwarna biru transparan terang pada sisi tubuh bergaya tribal. Tanda bahwa kuda-kuda tersebut telah menjalin sebuah koneksi pada pengendara mereka sehingga dapat berkomunikasi secara batin, sesuatu yang menjadi ciri khusus para elf ketika akan 'menjinakkan' hewan.


"Bukankah seharusnya mereka fokus terhadap masalah kerajaan? Mengapa mereka datang ke sini?" Tanya elf berambut abu-abu.


"Sudah pasti karena dirinya!" Tunjuk elf berambut putih padaku "Sudah kuduga dia hanyalah pembawa masalah. Yuna, kita harus berpikir kembali mengenai hal ini. Lihat apa yang dia lakukan! Dia membawa perhatian ke sini dan kita tak membutuhkan itu sekarang"


"Aku tak berbicara padamu manusia!" Bentaknya, lalu kembali pada Sang honey bunny sweetie "Yuna, lebih baik kita mencari orang lain. Aku memiliki perasaan buruk mengenainya dan kau tahu perasaanku ini jarang meleset. Dia berbahaya"


"Tentu saja dia berbahaya Alvain, dia seorang Mercenary, seseorang yang menganggap pekerjaan seperti membunuh layaknya pekerjaan biasa"


Hey, itu terlalu kasar dan tak benar.

__ADS_1


"Karena itu kita membutuhkannya. Apa kau ingin mengotori tanganmu sendiri? Melakukan hal-hal tak terpuji yang dapat membuatmu kehilangan moral? Kau bukanlah seseorang seperti itu Alvain, karena itu kita membutuhkan bantuannya dan aku yakin dia takkan membuka mulut mengingat dia adalah Mercenary. Mercenary takkan pernah berbicara mengenai hal-hal yang dilakukan Buyer, benar begitu X?" Tanyanya padaku.


Aku mengangguk, menjawab "Tentu saja. Sudah merupakan hukum tak tertulis bagi para Merc untuk tak membicarakan apapun mengenai Buyer mereka dan jika seseorang melakukannya, seperti yang kukatakan, badanmu akan dikirim dalam peti penyimpanan senjata" Jika kau tak tahu cara yang benar untuk melakukannya. Sebuah kesalahan yang hanya dilakukan oleh Mercenary kelas teri.


Elf bernama Alvain itu berdecak kesal, melihat ke arahku sekali lagi, lalu memilih untuk menyerah, tahu dirinya takkan dapat mengubah pendirian Sang tercinta. Oleh karena itu, dia justru berjalan ke arahku, mendekatkan wajahnya dan berkata "Sampai kau berani macam-macam, akan kubuat dirimu menderita sebelum dikirim masuk gerbang kematian. Camkan itu baik-baik" Ancamnya sembari menggertakkan gigi sebelum kembali ke sisi si gadis elf.


"Kalau begitu! Sebaiknya kita segera pergi dari sini" Seru elf berambut abu-abu yang masih tak kuketahui namanya "Tapi, kita harus pergi ke mana untuk hilang dari kejaran mereka?"


Gorg berbalik pada kami semua, menjawab "Gorg tahu tempat bersembunyi terbaik, Gorg selalu menghabiskan waktu di sana ketika bosan, Gorg akan menunjukkan jalannya"


"Hey, aku tak tahu Forest Guardian dapat merasa bosan" Balas si rambut abu-abu sembari tersenyum riang "Aku selalu mengira kalian adalah mahluk yang kaku dan tegas"


Tunggu, apa Gorg baru saja tertawa gugup? Forest Guardian yang dapat merasa bosan dan tertawa gugup? Aku benar-benar menemukan banyak hal menarik malam ini. Mungkin, bersama mereka, aku akhirnya dapat merasakan apa yang selama ini dia katakan. Sebuah petualangan bersama orang-orang yang dapat dirimu sebut tak hanya sebagai teman seperjuangan, tetapi juga saudara.


"X! Ayo naik ke atasku-


"Tidak, kita akan berjalan kaki" Potong Yuna "Kalian berdua terlalu banyak meninggalkan jejak, terutama dengan kecepatan tinggi dan suara yang tak kecil itu" Yuna melangkah menjauhi tebing, menuju hutan "Ayo Gorg, tunjukkan jalannya. Tenang saja, butuh beberapa jam bagi mereka untuk dapat mencapai tempat ini dan begitu mereka tiba, kita sudah hilang dari Alfheim"

__ADS_1


Dengan begitu, kami mengikuti Gorg yang memimpin jalan di depan sembari menceritakan pengalamannya selama berada dalam tempat 'persembunyian', dimulai dari menata batu-batu indah yang dia sebutkan sebelumnya hingga berendam di dalam air terjun sampai ketiduran.


__ADS_2