
Tenda telah kembali diperbaiki seadanya. Untung saja tenda milik mereka berdua menggunakan benang khusus yang takkan mudah hancur. Kalau tidak, mungkin kami mau tak mau tidur beralaskan daun. Itupun, tenda ini sudah memiliki robekan di sana-sini sehingga kami berdua memutuskan agar Theora sajalah yang tidur di dalam atau tenda yang hampir tak muat menampung tiga orang itu akan hancur berantakan.
Itulah sebabnya, sekarang aku bersama Alvain sedang duduk mengitari api unggun yang kali ini terbuat dari kayu kering. Alvain mengatakan kalau kayu-kayu ini tak lagi memiliki kehidupan sesudah ditebang oleh Mercenary sebelumnya sehingga tak masalah untuk dibakar. Ia terlihat kesal saat mengatakan itu, namun memutuskan malam ini adalah waktu untuk beristirahat. Elf yang selalu tampak tegas dan bersemangat itu, kini benar-benar kelihatan kehabisan energi, layaknya seseorang yang belum tidur selama dua hari karena pekerjaaan.
"Mengapa kau menyelamatkan kami?" Tanyanya sembari memerhatikan nyala api hangat di depan, melihat bagaimana api tersebut bergoyang pelan mengikuti arah hembusan angin malam.
"Hm? Apa maksudmu?" Tanyaku.
"Berhentilah berpura-pura, aku tahu kau ingin bergabung dengannya, tetapi memutuskan untuk tak melakukan itu" Kepalanya terangkat, menatapku tepat di mata "Mengapa?"
Sudah kuduga Alvain pasti menyadarinya. Mata dia terlalu tajam untuk tak melihat hal ini. Kuhela napas panjang, lalu balik membalas tatapan yang terasa menusuk tersebut "Karena kalian pantas.. Dan karena aku tak pernah berniat menghianati kalian" Lanjutku cepat sebelum dia dapat memotong.
"Tak mungkin! Kau berniat menghianati kami. Terlihat begitu jelas!" Serunya, tak dapat menahan serbuan amarah yang sudah ditahan semenjak pertempuran "Kau terlihat begitu yakin! Kau bahkan mengatakan hal buruk mengenai Yuna! Dan kau mau aku percaya bahwa kau tak memiliki niat buruk!?"
Lihat X? Inilah salah satu alasan mengapa kau tak cocok berada dalam sebuah tim. Kau hanya akan menyakiti mereka, menghancurkan kepercayaan mereka, seperti yang biasa dirimu lakukan.
"Mau kau percaya atau tidak. Aku sama sekali tak ada niatan seperti itu. Aku hanya berpikir untuk bergabung dan memata-matai Rebels karena kupikir, akan jauh lebih aman bagi kita semua. Terlebih aku bisa memberitahu kalian jika mereka berniat menyergap dan semacamnya. Itulah yang ada dalam pikiranku. Tapi.. " Kembali kuhela napas, berusaha menguatkan diri untuk mengeluarkan kalimat yang aku tak tahu apakah dapat diterima dengan baik atau tidak. Sayangnya, aku kembali gagal untuk meraih keberanian tersebut "Lupakan saja. Intinya aku takkan pernah menghianati kalian. Aku hanya mengambil jalan yang kupikir adalah jalan terbaik dengan tingkat bahaya minimal"
"Dan kau pikir dirimu menyusup masuk dalam wilayah musuh yang bahkan kita tak tahu menyimpan apa adalah minimal? Kau membahayakan dirimu sendiri!" Bentak Alvain tak terima.
__ADS_1
Ck! Kenapa kau tak bisa menerimanya saja dan menutup mulut? "Apa pedulimu? Bukankah kau telah mengatakannya sendiri kalau aku adalah Mercenary, seseorang yang tak dapat dipercaya dan sebuah beban? Berhentilah bersikap baik hanya untuk membuatku merasa tenang, aku jauh lebih memilih kau jujur seperti sebelumnya" Aku bangkit berdiri, akan pergi mencari udara segar namun teriakan Alvain menghentikan langkahku.
"Tunggu!" Elf tersebut ikut berdiri, diam di tempatnya dengan kedua tangan terkepal kuat menahan amarah "Kau pikir kau siapa berhak menyuruhku? Aku melakukan dan merasakan apa yang kuinginkan, tak seorangpun berhak melarangnya"
"Seperti bagaimana kau terus menolak perasaanmu sendiri pada putri Yuna? Kalau iya, aku merasa kasihan padanya, harus terus membuang waktu dan energi untuk seseorang sepertimu. Jauh lebih baik dia bersama yang lain-
Sebuah pedang melintas tepat di samping wajah, hanya berjarak beberapa senti saja sebelum memisahkan telinga kiriku dari kepala. Aku berbalik, menemukan Alvain sedang menggenggam sarung pedangnya dengan dada naik-turun cepat oleh emosi yang sudah meluap "Tarik kembali kata-katamu itu" Ancam dia. Suaranya terdengar begitu dingin dan berbahaya. Saat itulah aku sadar aku sudah kelewatan.
"Apa? Karena yang kukatakan benar? Tak ingin seorangpun melarang apa yang kau lakukan, namun langsung mengancam begitu ada yang memiliki pendapat buruk mengenai dirimu. Kau hipokrit" Aku melanjutkan langkah, menjauh dari sana, sekuat tenaga berusaha untuk tak berbalik ke belakang dengan tangan terkepal begitu kuat hingga buku-buku jari memutih oleh perasaan kecewa pada diri sendiri.
Apa yang sudah kulakukan? Dia hanya berusaha bersikap baik padamu dan seperti biasa, kau mendorong mereka semua menjauh. Karena apa? Takut hati kecilmu kembali terluka? Dewasalah X! Kau takkan pernah bisa apa-apa jika terus terbelenggu oleh masa lalu!
Kemudian apa? Kembali merasakan rasa sakit yang sama? Kembali berjalan dalam kegelapan pekat tanpa arah yang membuat kepalamu terasa begitu sakit hingga kau ingin bunuh diri? Kau ingin merasakan itu kembali?
Reflek, aku menghantam sebuah pohon di samping, menghancurkan batang pohon tersebut hingga satu pohon kembali tumbang, tak mengerti apa yang membuatnya menerima perlakuan seperti ini padahal hanya tumbuh di sana layaknya pohon-pohon lain.
Maaf.. Aku benar-benar meminta maaf. Ini salahku. Aku minta maaf. Maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf-
Tanpa dapat kusadari, aku sudah jatuh berlutut di bawah, memegangi kepala yang kini terasa seperti dihantam berulang kali menggunakan palu godam dan di saat bersamaan, hati ini seperti disayat-sayat memakai belati, berulang kali, tanpa ada niatan untuk berhenti.
__ADS_1
Inilah mengapa aku tak berhak bersama mereka, mengapa aku ditakdirkan sendirian karena diriku sadar kalau aku.. Bukanlah seseorang yang baik. Seseorang yang dapat mereka andalkan. Akan jauh lebih baik jika aku menghilang.. Itu benar. Menghilang. Seperti biasa yang dirimu lakukan.
Menghilang.
Aku kembali bangkit berdiri dengan wajah datar yang seperti biasa kupasang ketika perasaan mulai mengambil alih. Selama beberapa hari belakangan ini, aku tampaknya sudah terlalu naif, membiarkan perasaan kembali menguasai diri sementara diriku adalah seorang Mercenary, seorang M3RC. Seseorang dengan pekerjaan kotor yang seharusnya adalah mesin pembunuh, bukan mahluk hidup.. Namun, bagaimana reaksi adikku ketika melihatku seperti ini? Bagaimana dengan reaksi mereka?
Apa yang harus kulakukan?
Aku takut...
Keesokan harinya, Alvain terbangun, melihat matahari kini telah berada di atas, menyinari dunia dengan cahaya hangatnya yang terlihat begitu indah dan terasa nyaman layaknya sebuah pelukan. Ia bangkit berdiri, memeriksa keadaan Theora yang masih tertidur lelap dan tersenyum pada Sang sahabat, bangga terhadapnya. Begitu dia keluar dari tenda, getaran kuat terjadi disertai suara menggelegar dari pohon-pohon tumbang dan ledakan energi yang besar. Alvain bergegas ke arah datangnya suara, lalu terdiam di tempat ketika menemukan sosok X yang kini sementara berlatih hingga keringat membasahi tubuh dan tanpa menggunakan pakaian atas sama sekali, termasuk Face Distortionnya. Untuk pertana kalinya lah, dia melihat sepasang mata merah dengan kesedihan yang begitu mendalam serta kebencian.
X lanjut berlatih- Atau lebih tepatnya, menghantam secara membabi buta terhadap apapun di depan dirinya, tak peduli jika yang dilakukannya itu tak hanya menimbulkan keributan, tetapi juga kerusakan. Meski sudah dipanggil oleh Alvain berulang kali, dia tak mendengarnya, berada jauh di dalam pikiran sendiri, membayangkan apa yang terjadi di masa lalu, kenangan buruk yang membuatnya menjadi seperti sekarang. Apakah dia ingin menjadi seperti ini?
Tidak. X sama sekali tak menginginkannya. Karena itulah dia mengamuk, berusaha mengeluarkan tiap perasaan tersebut melalui amarah atas kebencian pada diri sendiri yang membuat Alvain menjadi penasaran. Sebenarnya, apa yang sudah terjadi di masa lalu sampai membuat X seperti sekarang.
"SPEARHEAD SIALAN!!"
Kedua mata Alvain melebar mendengarnya, tahu kalau Spearhead adalah tim Mercenary yang mengalami kejadian paling buruk yang pernah terjadi di Archsoul dengan hanya satu orang berhasil selamat.. Mungkinkah!
__ADS_1
Sayangnya sebelum sempat bertanya, Theora sudah muncul di samping, menguap lebar sembari merenggangkan tubuh, mengatakan "Jadi, kapan kita akan lanjut? OHH!" Seru Sang sahabat saat melihat sosok X "KAU TERLIHAT SUPER HARI INI X!!"
Di saat-saat seperti inilah Alvain bertanya pada diri sendiri, 'Bagaimana bisa aku menahan diri tak menghantamnya sampai sekarang'.