Archsoul

Archsoul
Part 68


__ADS_3

Sesudah menemani Zena yang tiba-tiba tertidur, aku memberinya sebuah ciuman pada kening, lalu berjalan keluar kamar menuju halaman belakang untuk mencari sebuah udara segar. Aku tak tahu sudah berapa lama waktu terlewat semenjak kedatanganku ke sini, tapi aku yakin sekarang sudah subuh. 


Halaman belakang tampak sepi tanpa sedikit pun kehidupan. Aku melompat keluar dari jendela yang masih berantakan karena sihir Theora hanya dapat digunakan pada alam. Kemudian duduk di bangku taman, menyandarkan tubuh dan menatap langit malam yang tampak sedikit lebih gelap dibanding di luar area dark elf. 


Berbagai macam pikiran melayang-layang dalam kepala, mengisiku dengan berbagai bayangan mengenai masa depan. Seperti dalam bentuk apakah mahluk tersebut akan menampakkan diri atau mungkinkah kami akan mati sebelum melihatnya dengan mata kepala sendiri. Lalu, apakah kami bisa melewati ini karena sepertinya telah sepuluh kali kami gagal. Bagaimana kalau ternyata kami gagal lagi, apakah ini akhirnya? 


Sebuah helaan napas panjang keluar dari mulut. Baru kusadari kalau ternyata pundak ini terasa begitu berat hingga ingin rasanya aku berbaring dan tak lagi membuka mata. Kenyataan kalau kami hanya bisa melarikan diri tanpa melakukan sebuah perlawanan berarti, membuatku merasa kecil, merasa tak berdaya. 


Terakhir kali aku merasakan sesuatu seperti ini adalah saat aku pertama kali menginjakkan kaki dalam Archsoul dan memerhatikan cara tiap ras bertarung. Waktu itu, aku masih belum terlalu percaya kalau aku adalah bagian dari mereka.. Atau kemungkinan akulah yang tak ingin percaya kalau aku bagian dari Codes sehingga menahan diri untuk tak menggunakan kekuatan dan menjadi layaknya manusia biasa. 


Terlalu sering aku melakukan hal tersebut sampai akhirnya aku terbiasa. Aku sampai lupa kalau aku memiliki kekuatan tersebut dan hanya mengingatnya tiap kali membuka baju untuk membersihkan diri. Saat itu jugalah aku merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang manusia yang tak memiliki apa-apa, hanya berbekal keteguhan hati serta semangat demi menyelamatkan orang tersayang. 


Tunggu.. Aku rasa bukan saat itu aku merasa tak berdaya. 


Aku yakin aku merasakannya ketika mereka harus mati sementara aku sebenarnya bisa saja menyelamatkan mereka. Namun karena merasa aku masih di awasi oleh para Codes, aku menahan diri untuk tak menggunakan kekuatan dan melihat dengan mata kepala sendiri mereka tertimbun oleh bebatuan besar dari langit-langit gua yang runtuh. Seharusnya mereka masih hidup sekarang, masih dapat tersenyum dan tertawa. Bukannya menjadi mayat. 


Saat itu aku terlalu takut, terlalu khawatir kalau seseorang dari para Codes bisa saja mati karena aku sembarangan menggunakan kekuatan yang sekarang aku bersyukur aku tak melakukannya karena dapat membahayakan nyawa Zena. Tapi, di saat bersamaan aku merasa begitu bersalah. Apa gunanya kekuatan sebesar ini kalau aku bahkan tak dapat menyelamatkan mereka yang dekat denganku? Mereka sampai rela mengorbankan nyawa hanya agar aku bisa menyelamatkan diri dengan alasan akulah yang termuda. 


Apakah aku seseorang yang pantas untuk disebut sebagai mahluk hidup? 


Bahkan hewan saling menyelamatkan satu sama lain. Sedangkan aku cuma berdiam diri. 


Sialan. Ini benar-benar menyiksa. 

__ADS_1


Tiba-tiba Alvain mengambil tempat duduk di samping. Ia ikut menyandarkan tubuh dan menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya menoleh padaku "Tadinya aku ingin mencari udara segar sendiri sesudah menemani Yuna tidur. Tak kusangka akan menemukanmu dari jendela. Karena itu aku datang ke sini. Kau tak terganggu bukan? Aku mengerti kalau kau membutuhkan waktu sendiri sekarang, terutama setelah mendengar penjelasan Zena" 


Aku menggeleng pelan "Tidak, tak apa-apa. Bahkan aku mungkin membutuhkan kehadiran orang lain untuk membawaku menjauh dari pikiran yang sedang kacau layaknya kapal pecah ini" Jawabku lemas. 


Terdengar sebuah langkah kaki dari belakang. Theora muncul dari samping kanan, mengambil tempat duduk di samping kananku dan ikut melakukan hal yang sama seperti Alvain, lalu berkata "Maaf atas sikapku barusan. Aku hanya.. Aku tak suka ketika kita tak tak dapat melakukan apa-apa dan hanya dapat duduk diam menunggu takdir" 


"Aku rasa tak hanya dirimu seorang yang merasakan hal tersebut" Ucap suara berat yang terdengar cukup familiar tetapi sekaligus asing. 


Kami berbalik, menemukan Dragonoid tersebut datang ke mari dan mengambil tempat duduk di bawah, tepat di depan kami. Theora menoleh pada kami berdua, kemudian memutuskan untuk ikut duduk di bawah menemaninya yang tentu saja juga diriku lakukan karena aku merasa tak enak. Alvain akhirnya ikut turun sesudah menghela napas dan kembali menyandarkan tubuh pada badan kursi meski aku tahu rasanya tak senyaman tadi. 


"Kalian tak perlu ikut duduk di bawah sini" Tukasnya. 


"Mohon maaf, tapi aku merasa tak enak padamu. Jadi, tolong biarkan aku melakukan ini sekali" Jawabku.


Dragonoid itu tersenyum "Atraz, namaku" 


Atraz tertawa kecil, mengangguk-angguk lalu mengucapkan "Salam kenal dengan kalian semua. Ini adalah pertama kalinya bagiku mengenal elf dan manusia/codes. Aku tak menyangka ternyata kalian begitu dekat terlepas dari rumor yang mengatakan kalau elf dan manusia saling membenci" 


Theora terkejut mendengarnya, menggaruk belakang kepala sembari tertawa gugup "Haha.. Itu tak sepenuhnya salah. Selain kami, aku tak yakin elf dan manusia dapat berhubungan seperti ini. Kami berharap dapat mengubah hal tersebut, tetapi sesudah para Mercenary menyerang aku tak yakin itu dapat terjadi" 


"Jangan menyerah terlebih dahulu Theora. Kita masih tak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, bahkan sejam yang lalu kita tak tahu bagaimana dunia berakhir. Jadi, teruslah berusaha sampai kau menemukan jawabannya" Balas Atraz memberi semangat sembari menepuk-nepuk pundak elf di samping. 


"Apakah itu yang di ajarkan dalam Dragonoid?" Tanya Alvain penasaran.

__ADS_1


Atraz menoleh padanya, terdiam mendengar pertanyaan tersebut dan menggeleng pelan dengan raut wajah kecewa "Sayangnya tidak. Dalam Dragonoid kami diminta untuk terus tampil agung karena kami adalah naga, ras yang terkuat, penguasa langit dan daratan. Seperti yang Codes tadi, Zena katakan. Kami tak pernah beradaptasi. Kami hanya mengikuti perintah tersebut dan berlomba-lomba siapa naga teragung dari yang teragung.


Awalnya aku merasa kalau itu adalah hal yang menakjubkan, hal yang seharusnya dipelajari oleh tiap ras agar dapat bersanding dengan kami. Namun sekarang.. Aku mulai berpikir kalau hal tersebut adalah hal bodoh untuk dilakukan. Daripada membangun masyarakat, kami justru saling memperebutkan gelar layaknya anak kecil, sementara dalam kehidupan, gelar tersebut tak dapat membawa kami ke mana-mana. Memang benar berkat gelar itu kami dihormati, diperlakukan layaknya seorang penguasa. Tapi begitu kau sendirian di area milikmu, kau mulai berpikir apakah ini pantas? Sebuah kebahagiaan semu yang dengan mudah menghilang tanpa sebuah arti.


Dan sekarang, aku merasakan hal tersebut ketika mendengar kalau dunia kita tak lama lagi dilahap oleh mahluk yang bahkan membuat para Codes ketakutan. Apa gunanya gelar seperti ini di hadapan sesuatu seperti itu? Apakah bisa membuatnya bertekuk lutut? Mengusirnya pergi dari dunia? Tak perlu dikatakan berapa banyak penyesalan terbentuk dalam hati"


Kami terdiam mendengarnya, ikut merasakan yang dirasakan oleh Atraz. Aku juga sudah terlalu sibuk mencari jati diri sampai melupakan fakta kalau kehidupan ini mampu memberikan lebih dibanding hal tersebut.


"Tapi, aku merasa itu bukanlah hal yang salah" Tukasku menarik perhatian mereka "Memang benar hal-hal yang kita lakukan tak ada artinya di hadapan mahluk tersebut. Namun, bukankah itu yang membuat kita adalah kita? Itulah jati diri kita, sesuatu yang menjelaskan kalau 'inilah kita', 'inilah kami'. Jadi bagiku, itu bukanlah sesuatu yang buruk karena aku yakin tak ada hal yang benar-benar 'pantas' untuk dilakukan dalam dunia ini. Kita hanya perlu menikmati prosesnya sembari terus berusaha mengejar tujuan hidup yang telah kita tentukan. Itulah arti dari kehidupan kita, arti dari diri kita. 


Jika semua orang melakukan hal yang sama, apa yang membedakan kita dari para robot? Yang membedakan kita dengan sebuah boneka yang bergerak atas dasar perintah? Kita melakukan hal berbeda-beda, memiliki cara berbeda untuk melihat kehidupan karena inilah arti kehidupan. Kehidupan berisi akan hal-hal baru, hal-hal yang masih menjadi sebuah misteri untuk nantinya kita pelajari dan membuat kita menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya. Bukan sebuah kehidupan jika kita terus mengulang hal yang sama tanpa mencari arti di baliknya. 


Belum saatnya bagi kita untuk menyerah sekarang meski aku tahu rasanya sulit untuk bergerak sesudah mendengar keberadaan mahluk yang dapat mengirim kita pada kematian hanya dalam sekejap. Mungkin bagi kalian semua pilihan yang kalian pilih menjadi tak bermakna karenanya. Tapi, jangan lupa kalau itulah yang membuat kalian berada di sini sekarang, mendengar rahasia di balik kehadiran para Codes dan bahkan menjadi inti dari rencana mereka! Jika kalian merasa yang kalian lakukan salah, maka cobalah untuk melakukan hal yang jauh lebih baik dari sebelumnya dan buat diri kalian sendiri bangga!  


Apakah kita akan menyerah hanya karena sebuah kata-kata? Apakah kita akan menyerah hanya karena berhadapan dengan sesuatu yang tak mampu kita kalahkan? Aku tahu ini merupakan sebuah bodoh untuk dikatakan, tetapi kalau kita menyerah sekarang, apa bedanya dengan sebuah kematian? Lebih baik kita berusaha melakukan sesuatu, berusaha merubah takdir meski di akhir kita semua akan mati! Ataukah.. Kalian ingin menjadi bagian dari mereka yang telah menyerah sebelum melakukan sebuah perubahan?"


Aku bangkit berdiri, kembali menyatukan dan meneguhkan hati dengan tatapan penuh keyakinan "Bagi kalian yang ingin berdiri bersamaku untuk mengubah keadaan, bangkitlah berdiri!" 


Dengan cepat mereka bangkit, berdiri dengan tatapan tertuju ke atas, menghadap langit malam di mana mahluk tersebut kemungkinan akan muncul.


"Bersama! Kita akan menyatukan tiap dunia! Kita akan membawa kemenangan bagi kita semua! Dan kita akan membuktikan kalau kita takkan tunduk tanpa sebuah perlawanan!" 


Kuangkat tangan, mengacungkannya tinggi ke udara.

__ADS_1


"AYO BERJUANG BERSAMA!!" 


Kami bersorak keras, meluapkan isi hati dan kembali mengobarkan api yang tadi telah padam. Seperti perkataan Zena, kami tak pernah menyerah, kami selalu berusaha, kami selalu beradaptasi. Mari buktikan kalau kesempatan terakhir ini takkan berakhir sama seperti sebelumnya dan tunjukkan pada mahluk tersebut kalau dia telah memilih dimensi yang salah untuk dihancurkan!


__ADS_2