Archsoul

Archsoul
My Dear Zena


__ADS_3

Berkat ingatan masa kecil tersebut, kami berhasil mencapai kaki gunung lebih cepat dibanding perkiraan melalui jalan rahasia yang menjadi tempat persembunyian Zena dulunya.


Anti Matter berhasil kami temukan kembali sesudah berkeliling selama lima belas menit. Namun kami memutuskan untuk beristirahat terutama karena Theora yang terus meminta untuk berhenti.


"Apa kau yakin besok Anti Matter tak menghilang?" Tanya Atraz, sudah berbaring di bawah pohon berbantalkan dua tangan yang saling disilangkan.


"Menurut kalkulasiku, mereka akan tetap ada sampai jam lima pagi. Jadi kita memiliki waktu untuk beristirahat selama kita tak telat bangun besoknya" Jawab Zena sembari mengecek Anti Matter dalam tabung yang dia namakan 'Chamber'.


Alvain dan Theora menarik keluar FP mereka, memutarnya menjadi horizontal, bergegas melanjutkan permainan yang sempat terhenti pagi tadi.


Tak sampai dua menit kemudian mereka sudah saling bersahutan, saling memberi perintah siapa yang akan bertahan dan siapa yang akan menyerang.


Putri Yuna seperti biasa bergabung bersama mereka dan menjadi penengah sekaligus pemimpin.


 Sayangnya dia kehilangan sosok tuan putri begitu sudah bermain game.


Beragam kata keluar, sesuatu yang tak disangka dari seseorang selembut dan seelegan dirinya.


Melihat mereka yang sedang sibuk, Zena mengetuk punggung tanganku beberapa kali, memberi tanda untuk ikut dengannya.


Aku melirik ke belakang, memerhatikan mereka yang sudah begitu fokus pada permainan, lalu pada Atraz.


Dragonoid itu justru sudah menutup mata dan tampak tertidur tenang.


Sesudah bangkit berdiri, aku mengikuti Zena sembari bertanya-tanya apa yang mungkin dia inginkan.


"Hei, mereka sudah pergi. Apa kau ingin melihatnya?" Tanya Theora sembari menyeringai licik.


"Bukankah kita mau menyelesaikan ini?" Tanya Alvain kesal.


Putri Yuna tahu-tahu sudah berdiri, menarik lengan Alvain dan membawanya untuk segera mencari ke mana dua orang tadi pergi.


Meski kesal karena tak bisa menyelesaikan game, Alvain menurut pada Sang kekasih yang entah mengapa begitu penasaran pada Xera dan Zena.


Bukankah mereka juga sudah menjadi sepasang kekasih? Apa lagi yang harus mereka lihat dari mereka berdua?


Namun pemikiran tersebut segera lenyap begitu mereka menyaksikan dua orang yang kini sementara menari penuh penghayatan.


Lagu berputar dari sebuah bola besi berhologram biru yang kini terbang melayang di atas mereka.


Goyangan yang membuat mata melebar itu mengejutkan mereka dengan Theora yang hampir menjerit kalau saja mulutnya tak segera ditutup oleh Alvain dan Yuna bersamaan.


"Aku tak tahu Xera bisa menari seperti itu" Tukas Alvain.


Theora mengganguk beberapa kali.


"Lihat Zena! Dia menaruh seluruh perasaannya!" Jerit Yuna gembira. Tentunya dengan suara pelan.


Theora mengangguk cepat, setuju dengan kedua sahabatnya.


Sudah berapa lama semenjak aku menari seperti ini?


Merasakan sesuatu yang sudah lama tak kurasakan. Sesuatu yang terkadang membuatku takut pada diri sendiri, takut kehilangan kendali.


Zena memutar tubuhnya, membiarkan sinar rembulan bersinar pada sosok cantik bagai seorang malaikat.


Rambutnya mengembang, tampak bercahaya dan begitu menghipnotis.


Aku terdiam di sana, terpana oleh kecantikannya, teringat kembali oleh masa lalu saat dia juga memutar tubuh, menari gembira di hadapanku seperti sekarang.


Namun kini, tak hanya kegembiraan saja yang dapat kami rasakan.


Sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat jantung berdegup kencang dan tubuh terasa panas.


Zena kembali masuk dalam rangkulan, mengalungkan kedua lengan pada leherku.


Dapat kurasakan kehangatan dari sana, kehangatan yang justru membuat kobaran api dalam hati makin membara.

__ADS_1


Dia datang mendekat, menatapku dengan sepasang mata sayu.


Violet bertemu abu-abu.


Wajah kami hanya berjarak beberapa inci, sedikit lagi maka bibir kami bersentuhan.


Napas yang begitu harum dan memabukkan.


Senyuman mengembang dan bibir yang tergigit pelan.


Namun tentu saja Zena tak ingin mengakhirnya secepat itu.


Dia kembali memutar tubuh, menghadap ke depan dan menarik napas dalam ketika tanganku menyentuh perutnya.


Kudekatkan wajah, berbisik "Apakah ini salah satu caramu agar aku mengalah?"


"Kenapa? Kau takut aku kembali mengalahkanmu?" Tanyanya dengan suara parau.


Kuputar dia, membiarkannya menikmati kenangan yang sementara kami buat bersama sebelum kembali padaku.


Dua tangan balik terkalung pada leher, perlahan merambat naik ke belakang kepala, menarik wajahku mendekat.


Kami menutup mata begitu kening bersentuhan, saling merasakan kehangatan dan perasaan satu sama lain dalam diam. Hanya tubuh yang berbicara, bergoyang mengikuti irama lagu pelan yang mengingatkanku saat berdansa seorang diri dalam Nightclub dua tahun lalu.


Kutarik dirinya lebih dekat, membuatnya tersentak kaget dengan senyum mengembang.


"Kau dengar itu?" Bisikku.


Zena tertawa kecil "Iya, aku mendengarnya sayang"


"Tampaknya ada yang menguntit kita"


"Mau beri mereka sedikit pertunjukan?"


"Sedikit? Aku ingin semuanya"


Dapat terdengar dari sini, jeritan mereka berempat makin membesar tanpa dapat ditahan.


Mau tak mau kami menarik diri dan tertawa bersama karenanya.


Zena mengangkat tangan, mengambil kembali speaker yang meluncur pelan ke dalam genggaman tangan. Kemudian bersama kami mendekati mereka dengan tangan kananku masih melingkari pinggulnya.


"Puas?" Tanyaku sedikit kesal.


Theora menarik lepas tangan mereka, bersorak "TERBAIK!! Chemistry kalian berdua adalah yang TERBAIK!!" Dia menyikut pada Alvain sembari tersenyum penuh arti "Kau kapan? Atau kau ingin terus dikalahkan oleh Xera?"


"Aku hanya menunjukkan kasih sayang saat kami cuma berdua" Balasnya sembari melipat lengan.


Aku berdeham beberapa kali "Aku juga seperti itu, tapi kalianlah yang memutuskan untuk menonton. Untung saja aku dan Zena tak melakukan hal lain"


"HAL LAIN!?" Teriak Theora dengan wajah semerah udang rebus.


Alvain reflek menepuk kepala sahabatnya itu sembari berkata "Dia cuma bercanda!"


"Zena, apa aku bercanda?"


"K-kau tak bercanda?" Tanyanya balik.


Tak hanya Zena, wajah mereka semua memerah mendengarnya, termasuk Atraz yang sering memamerkan keromantisan dia dengan Sang kekasih yang sayangnya tak bisa ikut ke sini karena dia adalah putri dari pemimpin para Dragonoid.


"Sudah kubilang bukan? Kita pasti bertemu Zeon"


Kami seketika berbalik, menemukan empat Zeros sementara berjalan ke mari dengan senjata masing-masing sudah siap dalam genggaman.


Dua pedang dan dua senapan mesin besar milik Codes.


Alvain menarik keluar pedang miliknya, mengimbuhkan mana, menyahut "Kalau kalian masih sayang nyawa, kusarankan kalian segera berbalik"

__ADS_1


Mereka tertawa.


"Atau apa? Kau ingin menghabisi kami? Kami sudah menginjak Tier 7!" Seru salah satunya bangga yang dengan cepat ditarik.


"Kau gila? Kau tak mendengar apa yang dikatakan Rico?" Mereka melirik pada M3RC di depan "Itu adalah Black Swan! Kau ingin mati? Mereka semua berada di Tier 8 ke atas!"


Dia menariknya lebih dekat, berbisik "Mereka adalah grup utama Zeon! Dan wanita cantik di depan itu adalah pendirinya, Zeon asli!"


Di saat bersamaan mereka menoleh pada kami lalu kembali saling berhadapan dan mengangguk.


"Haha.. Maafkan temanku satu ini. Dia adalah anak baru. Jadi, dia sedikit terlalu bersemangat" Serunya.


"Lalu apa yang kau inginkan? Kau ingin kabur begitu saja sesudah mengganggu waktu berharga kami?" Geram Alvain yang sudah siap mengayunkan pedang.


Entah mengapa dia menjadi semakin nekat sesudah bermain game.


"Ah.. Tolong jangan tersinggung. Kami meminta maaf. Tapi kalau kalian masih belum percaya, bagaimana kalau kami memberi kalian sebuah informasi?" Ucapnya sambil berjalan mendekat.


Theora ikut menarik pedang, curiga terhadap sikap mereka yang seolah sedang mengulur waktu.


Dia mengangkat tangan makin tinggi, berusaha menunjukkan kalau dirinya tak berbahaya "Aku jamin informasi ini begitu penting bagi kalian"


"Berhenti di sana sebelum aku membelahmu menjadi dua"


Astaga Alvain..


"Adikmu Xera, telah bersama kami"


Melihat kami yang terkejut, mereka mengambil kesempatan untuk maju menerjang.


Peluru-peluru plasma ditembakkan, menghancurkan pepohonan yang berada di belakang, menyisakan lubang-lubang besar pada batang.


Zeros bersenjatakan pedang lari ke depan, melempar pedang masing-masing yang terhubung dengan sebuah benang baja sehingga dapat mereka kendalikan di udara.


Theora dan Alvain menahan kedua pedang yang bergerak secara acak itu, mencengkramnya dan menariknya ke belakang sembari menyahut,


 "KAMI SUDAH KALAH DUA BELAS RONDE SIALAN!"


Kedua Zeros terhempas jauh ke belakang membentur kedua temannya yang sedang memegang senapan mesin. Pedang masing-masing menusuk di sana dan terjadilah sebuah ledakan besar.


Hawa panas dapat dirasakan, menyebar begitu cepat bersama debu dan tanah, sebelum akhirnya menghilang tergantikan oleh udara malam.


"Jadi itu alasan kalian menguntit kami? Karena kalian terus kalah?" Tanya Zena sembari melipat lengan.


Putri Yuna tertawa kecil, berlari mendekatinya dan merangkul lengan Zena dengan wajah yang sengaja dibuat menggemaskan "Hehe, maaf. Kami butuh pengalih perhatian"


Aku sangat ingin berkomentar mengenai mereka bertiga yang telah sepenuhnya berubah, tetapi pikiranku terus terfokus pada perkataan Zeros tadi.


Adikku bersama mereka? Apa maksudnya?


Tak mungkin dia bisa bersama mereka jika dia aman di dalam tempat persembunyian Zeon.


Aku menarik keluar FP, bergegas menghubungi Zeon yang kini sementara berjaga di sana. Namun setelah beberapa kali mencoba, tak satupun dari mereka mengangkat.


Dapat kurasakan dada menjadi begitu sesak hingga sulit menarik napas, membayangkan adikku berada di tangan para Zeros..


Di tangan laki-laki sialan itu!


Zena buru-buru mendekat, mengelus-elus dadaku sembari berkata "Aku di sini.. Aku di sini.. Tenangkan dirimu"


Kuhela napas panjang, menghadap pada mereka yang kini khawatir "Zeon dalam bumi di serang. Aku sama sekali tak bisa menghubungi siapapun di sana"


"Itu tak mungkin! Bumi begitu besar! Tak mungkin semua tempat persembunyian di sana habis begitu saja" Balas Theora tak terima karena dia adalah salah satu yang berusaha mati-matian melindungi Zeon di bumi.


Dia memajukan kepala, mendesak jawaban dariku.


Namun aku hanya bisa menggeleng pelan tanpa mengucapkan sepatah kata.

__ADS_1


__ADS_2