
"Bagaimana-
Aku tak memberikannya kesempatan untuk berbicara, memberi hantaman pada tempat yang sama sekali lagi hingga membentuk sebuah cerukan besar di belakang dengan darah kini dimuntahkan olehnya. Sudah cukup, tak perlu ada penderitaan lagi. Aku akan menghabisi orang ini sebagai bayaran atas apa yang telah terjadi.
Kutarik rambutnya itu, membawa wajah dia mendekat pada lutut yang terangkat, memberinya sebuah hidung patah dan berlanjut menghantam dia di wajah beberapa kali sebelum diakhiri menggunakan sebuah tendangan tepat pada samping kepala. Fayheart terlempar, lalu terbanting ke kanan. Aku berjalan mendekat, melihatnya berusaha bangkit berdiri meski kini tubuh gemetaran, entah oleh rasa takut atau sakit. Aku tak begitu peduli.
"Bangunlah Fayheart, aku tahu kau masih mampu. Kau ingin menunjukkan pada kami bagaimana kekuatan seorang Rebels bukan? Kalau begitu, akan kutunjukkan kekuatan seorang manusia yang telah membuang kemanusiaannya. Ironis kan? Aib dari elf melawan aib dari manusia. Mari kita lihat siapa yang akan menang. Dengan begitu kita tahu siapa sampah di antara sampah" Aku memajukan tangan kanan, menggerakkan jari telunjuk dan tengah, menantangnya untuk maju. Di saat itu juga, Alvain melihat kalau ternyata tangan kanan tersebut masihlah berupa tangan manusia, bukan sebuah besi hitam.
Fayheart meraung marah, mengambil sebuah langkah dan muncul di depan mata. Ia memutar badan, mengayunkan kaki ke depan yang sayangnya dengan mudah kutahan. Namun, ia tak berhenti hanya sampai disitu, ia lanjut menggunakan kaki satunya untuk memberi dorongan lagi, memberiku sebuah tendangan tepat di pundak. Tendangan tersebut berhasil mendorongku ke sebelah kanan, tetapi belum cukup untuk membuatku terjatuh sehingga aku dapat balik menyerang.
Adrenalin mengalir deras, hantaman dan tendangan diberikan dengan keras. Kami saling menyerang serta bertahan dari serangan masing-masing, berusaha memberikan yang terbaik dari yang terbaik, sebuah pertarungan hidup dan mati. Sebuah penentuan siapakah yang akan menjadi penghuni neraka, berakhir dengan tubuh tanpa nyawa.
Daratan di sekitar hancur berantakan, tak mampu menahan beban dari kekuatan yang kami keluarkan. Dua orang di tier 9 saling bertarung, mengeluarkan semua yang mereka miliki untuk dapat menentukan Sang pemenang, seseorang yang setidaknya dapat membuktikan, bahwa dia adalah sampah terbaik. Itu benar, sampah. Dua orang yang telah membuang ras sendiri, berubah menjadi sesuatu yang lain hanya demi meninggalkan masa lalu masing-masing. Sebuah jalan pintas, jalan pintas menuju kehancuran lebih besar di mana penyesalan menunggu di garis akhir. Namun, apa yang dapat kami lakukan? Berharap dan bertahan? Takkan ada gunanya jika tak ada perubahan. Sesuatu harus dilakukan untuk membuang kelemahan.
Sebuah hantaman kuat masuk mengenai wajahnya, mengirim ia terbang ke belakang. Tapi, tentu saja tak kubiarkan berhenti sampai di sana. Aku muncul di atasnya, memberi dia sebuah tendangan kuat ke bawah hingga membentuk sebuah retakan besar pada tanah. Tidak, aku belum selesai. Aku meluncur ke bawah, mengumpulkan energi pada tangan kiri dan memberinya sebuah hantaman kedua yang kini berhasil membuat beberapa tulang rusuk patah. Dapat kurasakan disertai bunyi yang cukup membuat gigi gemeletuk ngeri.
__ADS_1
Aku berdiri di samping, menatapnya. Apakah hanya seperti ini? Kekuatan Tier 9 hanya seperti ini? Aku benar-benar kecewa "Hei Fayheart, buka matamu sebelum kuambil nyawamu. Atau kau sudah menyerah dan menerima fakta bahwa kau adalah sampah?" Reflek aku melompat ke belakang, menghindari ayunan kakinya yang berusah menjegal. Sebuah seringai terbentuk pada wajah, seringai yang sudah lama tak kulihat, tak kurasakan. Seringai ketika perasaan itu muncul kembali ke atas permukaan. Seringai yang bagai sebuah kutukan.
"Tak kusangka seorang manusia juga memiliki tatapan seperti itu. Oh benar, aku lupa kau sudah bukan seorang manusia, melainkan sesuatu yang lain. Bagaimana rasanya?Menyenangkan bukan? Dapat memiliki sesuatu yang kau kira takkan pernah kau dapatkan dan kau gunakan untuk membalas dendam. Aku tahu perasaan itu. Sebuah kebebasan" Ucapnya bangga.
"Ha? Menyenangkan katamu? Tidak, aku justru sangat membencinya, benar-benar membencinya sampai aku tak ingin melihat diri sendiri. Inilah alasan Face Distortion ini ada. Namun, kau tahu kenapa aku memperlihatkannya padamu?" Listrik merah mengamuk pada tangan kiri, menyambar bagaikan sebuah sambaran petir disertai suara menggelegar yang cukup untuk membuat hati gemetar "Karena kau akan mati. Menyenangkan? Oh tidak, ini bukanlah sebuah permainan, melainkan pembantaian"
Kami saling menerjang, menciptakan angin kencang yang mampu membuat jantung tak tenang. Begitu saling berbenturan, ledakan besar kembali terjadi. Dewan Edenwood sampai harus membuat lagi sebuah kubah pertahanan agar mereka tak terkena dampak ledakan. Ketiganya tak dapat mengeluarkan sepatah kata, hanya dapat menonton sembari berharap semoga X menang meskipun dia bertarung menggunakan kekuatan yang sama sekali bukanlah berasal dari seorang manusia. Demi Alfheim, mereka memilih untuk menutup mata pada hal tersebut, hal yang mungkin membuat X terus berusaha menahan diri- Tidak, sudah pasti karena itu.
Alvain memperhatikannya, menghela napas khas miliknya lalu berkata dalam hati 'Hancurkan dia Xera'.
Ketika akhirnya Fayheart terhuyung-huyung ke belakang akibat sebuah uppercut, aku memutar tubuh, memberinya sebuah tendangan keras tepat pada pelipis. Tubuh kekar dan besar tersebut terhempas ke samping, terbanting beberapa kali sebelum akhirnya terseret berhenti. Beberapa detik terlewati, dia masih tak bergerak, diam di tempat seakan telah mati. Karena penasaran, aku melangkah mendekat, mencoba melihat apakah dia benar-benar telah tiada hanya karena tendangan tadi.
Benar saja, dia masih hidup.
Aura ungu-kehitaman itu muncul kembali, menyelimutinya dan mengangkat tubuh tersebut untuk berdiri tegap dengan kepala tertunduk lemas. Darah dari atas kepala perlahan menetes jatuh pada tanah yang lalu mendesis layaknya air menguap ketika menyentuh permukaan. Aura-kehitaman tersebut tiba-tiba mengamuk, bertambah makin besar seolah dia baru saja memasuki fase kedua, padahal ini bukanlah sebuah game melainkan dunia nyata.
__ADS_1
"Kau benar-benar akan mati-
Sebuah sulur tanaman masuk menembus jantung Fayheart, mengangkatnya tinggi ke udara sebelum akhirnya dibuang ke samping. Di belakang, Druid tersebut menampakkan diri, melangkah keluar dari dalam sebuah kepompong yang tercipta dari sulur-sulur tanaman berwarna hijau. Dia terkejut melihatku, lalu memberikan sebuah senyum hangat yang entah mengapa membuatku merasa tenang. Langkah kaki dilanjutkan, bergerak mendekati sosok Fayheart di samping yang kini berusaha mengeluarkan suara meski telah berada di ambang kematian.
"Anak muda, aku benar-benar merasa kasihan melihatmu seperti ini. Kau terjatuh dalam kegelapan karena perasaan iri dan dengki hingga membuatmu tak hanya membuang ras sendiri, tetapi juga mencelakai mereka. Namun, jangan takut, karena aku akan memberimu sebuah pengampunan berupa kematian cepat agar kau tak lagi menderita terhadap siksaan dunia dan menjadi tenang, bersatu bersama jiwa-jiwa yang kini sementara beristirahat. Mari berharap mereka akan menerimamu untuk tinggal bersama"
Aku berlari ke sana, memanggil Sang Druid, meminta dia untuk tak segera membunuh Fayheart karena kami masih harus menanyakan beberapa hal padanya, terlambat mendengar ketika Alvain berteriak keras dan tahu-tahu, menemukan sulur tanaman sudah masuk menembus tubuhku.
Pandanganku mulai kabur, memerhatikan darah segar mengalir turun, menetes satu demi satu, membuat sebuah genangan baru pada tanah dengan cepat. Aku tak dapat merasakan apa-apa karena syok. Tetapi begitu Druid tersebut menariknya keluar, sebuah rasa nyeri yang tak kusangka akan kembali kurasakan, menyebar cepat, mengambil alih tubuh dan memaksaku jatuh ke tanah. Aku terbatuk-batuk dengan mata melebar saat melihat darah kini juga berada di depan mulut layaknya sebuah cipratan. Perlahan namun pasti, pandanganku menggelap, membiarkan kegelapan datang menjemput, membawaku ke sebuah tempat yang aku tak tahu mengapa, tapi memberiku sebuah perasaan tenang.
Samar-samar aku mendengar teriakan Alvain dan Theora memanggil-manggil namaku. Tunggu, apakah itu suara putri Yuna? Apakah Sang tuan putri akhirnya kembali sadar? Dia terbangun, aku tertidur. Sungguh klasik.
Maafkan aku semuanya, aku rasa, aku hanya sampai di sini saja. Maaf atas semua kesalahan yang telah kulakukan dan maaf aku tak dapat menemani kalian sampai akhir. Alvain, Theora, terima kasih karena telah memberiku kesempatan untuk kembali merasakan pertemanan. Lalu Z.. Maaf aku belum mengatakannya, tapi aku yakin, aku..
Mencintaimu.
__ADS_1