Archsoul

Archsoul
Part 74


__ADS_3

Pedang tersebut tak bercahaya, hanya tampak seperti sebuah pedang megah biasa dalam warna keemasan. Namun begitu dia mulai melangkah, energi besar terhempas keluar, mendorongku beberapa langkah ke belakang. Energi besar tersebut kembali muncul di langkah kedua, kali ini menghentikan peperangan yang terjadi di belakang dan tahu-tahu kegelapan menghilang. 


Begitu aku melirik ke belakang, mereka juga memiliki tatapan yang sama sepertiku tadi. Terkejut terhadap kekuatan yang baru kali ini mereka rasakan kembali setelah Angel dan Demon diam dalam kota masing-masing. Kami kembali teringat akan perang pertama, perang yang membawa kehancuran besar dan masih dapat dilihat sampai sekarang bekas peperangan tersebut. 


Trauma itu masih membekas dalam hati, membuat mereka diam di tempat dengan tubuh gemetaran. Mereka mematung, mata melebar dipenuhi rasa takut, sadar mereka dapat mati kapan saja. Kami sadar kami tak benar-benar mati, tetapi kekuatan mengerikan seseorang di Tier 10 membuat kami lebih memilih untuk menghindari mereka. 


Dia terus berjalan mendekat, pedang dalam genggaman tangan yang tahu-tahu dia angkat. Ujungnya tepat beberapa inci di depan leher "Sekali lagi aku tanya, mengapa kau melakukannya?" 


"Aku katakan sekalipun takkan kau percaya" Balasku. 


Dia menghela napas, tatapannya menajam "Jawab saja"


"Kekasihmu itu mencoba untuk menghancurkan dark elf dan menuduh mereka mencuri Seed of Life padahal dialah yang mencurinya untuk membangkitkanmu" Jawabku.


Azrael terdiam. Dia melirik pada Qeina yang menyunggingkan sebuah seringai padanya. Lalu balik menatapku dengan sebuah seringai penuh kepuasan "Sepertinya kau berhasil Qeina. Aku bangga padamu"


"Tunggu. Apa?"


Tiba-tiba dia maju, memutar pedang dan menghantamkan pangkalnya tepat ke hidung, mengirimku terbang jauh ke belakang. Dapat kurasakan tubuh ini terbanting beberapa kali hingga akhirnya berhenti terseret di atas permukaan tanah. Begitu aku mengangkat kepala, pandanganku berkunang-kunang. Butuh beberapa saat sampai akhirnya aku bisa kembali memfokuskan penglihatan. Namun sayangnya kurang cukup cepat sehingga dia sudah kembali muncul di depan, menghantam masuk perut. 


Aku merasa tiap organ dalam akan kumuntahkan keluar, terbang tinggi ke udara sebelum akhirnya ditendang kembali ke bawah, membentur tanah dengan kuat hingga sebuah retakan besar tercipta. 


Saat berusaha bangkit, dapat kurasakan sebuah kaki menginjak punggung, menekanku lebih dalam ke tanah. Rasa sakit menyebar sangat cepat dari dada, mencari udara untuk mengambil napas yang sama sekali tak diberikan olehnya. Dia justru menekanku lebih dalam lagi sampai kurasakan retak pada tiap tulang rusuk. 

__ADS_1


Dia berhenti tepat ketika sebuah energi tajam menyerangnya yang dengan mudah dia tepis seperti serangan anak-anak. Alvain muncul tak jauh di depan, mengarahkan pedang pada Azrael, merasa terhianati oleh kaumnya sendiri "Apa yang kau lakukan! Mengapa kau justru membantu Druid yang berusaha menghancurkan perdamaian!" 


"Perdamaian?" Sebuah tawa keluar, tawa yang terdengar begitu jahat, begitu kejam dan tak berperasaan "Aku tak pernah menginginkan perdamaian. Aku tahu suatu saat nanti akan ada ras yang muncul di dunia kita berkat struktur aneh di bawah kerajaan. Namun karena umurku takkan cukup, aku meminta Qeina untuk mengubah jiwaku menjadi Seed of Life yang kalian pakai untuk terus mengisi pohon sekarat itu. Dia menunggu beribu-ribu tahun sampai saat ini tiba, saat bagiku untuk bangkit dan bergabung bersama mereka. Codes" 


Alvain terkejut mendengarnya. Dia sudah tahu mengenai Beacon yang berada di bawah kerajaan, tapi tak pernah mendengar cerita soal bergabung bersama Codes "Apa maksudmu? Mereka adalah manusia yang telah berevolusi. Kita tak mungkin bergabung bersama mereka. Dan kita tak mungkin mengganti anggota tubuh seperti  yang mereka lakukan. Kita adalah elf!" Sahutnya marah. 


"Disitulah letak kesalahan kalian. Kalian takkan pernah bisa berhasil mencapai posisi pertama jika terus berpikir seperti itu. Kalian terlalu naif. Kalian mengira terus mempertahankan ajaran lama tersebut dapat membuat kita bertahan di dunia sekarang?" Dia menginjakku makin kuat, terbawa oleh semangat membara yang telah tertidur selama ribuan tahun "Kalau kau mau tahu, Codes dapat membuat kita menjadi salah satu dari mereka selama kau mencapai kekuatan yang lebih tinggi dibanding Tier 11. Bagaimana aku tahu? Itu adalah sebuah rahasia. Kau tak perlu mengetahuinya sekarang. 


Jadi apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan tetap menolong manusia ini dan bergabung bersama kami atau kau ingin menjadi salah satu yang dihancurkan? Pilihlah dengan bijak, kau sadar kau bukanlah apa-apa di hadapanku" 


Alvain terdiam di tempat, memikirkan segala kemungkinan yang dapat terjadi sebelum mengambil sebuah langkah. Dia lalu melirik padaku, sebelum kembali pada Azrael yang masih menunggu "Maaf. Meskipun kau adalah leluhur kami, aku takkan bisa meninggalkan temanku sendiri. Aku bukanlah seorang elf jika tak membalas kebaikannya. Oleh karena itu, aku Alvain Edenwood, memintamu untuk segera melepaskan dia" 


Azrael mendengus geli "Aku akui sifat persahabatanmu itu, tapi.. " Dalam sekejap mata, dia sudah muncul di hadapan Alvain yang tersentak kaget. Di hantamnya dada elf tersebut, mengirim dia terbang menghantam kuat dinding kerajaan hingga hancur berantakan "Kau masih terlalu lemah" 


Namun sebelum kami dapat mencapai kerajaan, dia sudah muncul di depan, mengarahkan tangan ke depan dengan telapak tangan mengarah pada kami. Sebuah lingkaran sihir terbentuk dalam warna emas, begitu besar dan dari sana terbentuk sebuah laser energi. Theora membentuk lingkaran sihir, berniat melindungi kami dari serangan, tetapi lingkaran sihir tersebut hancur berantakan. 


Kami terdorong oleh serangannya, menghantam tanah dengan kuat di mana terbentuk sebuah kawah besar berasap. Sebelum dia sempat bergerak, Alvain sudah kembali muncul di belakang, mengayunkan pedang beberapa kali, membentuk energi-energi tajam sebagai sebuah pengalihan. Begitu Azrael sibuk menepis, dia maju menerjang, berharap serangannya kali ini berhasil yang sayang sekali justru membuat lehernya dicengkram. 


"Kau memiliki potensi. Sangat disayangkan kau justru memilih pihak yang akan kalah" 


Tetapi sebelum dia dapat melempar Alvain, Atraz muncul di sampingnya, mengepalkan tangan dan menghantam wajah tersebut. Azrael terhempas ke bawah, menciptakan getaran kuat dari tubuh membentur tanah. Atraz bergegas membawa Alvain kembali ke permukaan tanah lalu menatap ke arah hutan, tempat Azrael terjatuh. 


"Carilah lawan yang sepadan. Kau sebagai seorang leluhur elf mengapa justru begitu menyedihkan" Sahutnya. 

__ADS_1


Azrael melangkah keluar dari dalam hutan sembari membersihkan zirah dari debu dan tanah "Hmm.. Aku bertanya-tanya ras apakah dirimu sampai bisa memiliki kekuatan yang hampir menyamai high elf. Tak kusangka akan bertemu lawan yang mampu membuat darahku mendidih di era sekarang, era ketika elf menjadi begitu lemah dan dengan mudah diinjak-injak oleh ras lain" Dia membalas tatapan Atraz yang juga tak kalah menakutkan "Katakan padaku, mengapa kau berniat membantu mereka? Bukankah kau juga ingin bergabung bersama Codes? Menjadi salah satu dari mereka? Menjadi sosok seorang dewa?" 


Atraz meregangkan badan, bersiap untuk bertarung sesudah sekian lama tak pernah menggerakkan badan "Kenapa kau tanya? Apakah kau membutuhkan alasan untuk membantu seorang teman? Ahh, maaf. Aku lupa orang sepertimu takkan pernah memiliki teman"  


Mereka berdua saling menerjang, menciptakan getaran kuat bagaikan sebuah gempa besar. Kedua kekuatan tersebut saling mendorong, dapat terasa hingga menutupi seluruh area dark elf dan membuat kami terdiam di tempat merasakan kekuatan besar yang kami tahu takkan pernah kami capai. 


Pertarungan keduanya dengan cepat mengubah area ini menjadi kacau. Kawah-kawah besar, retakan-retakan pada tanah, kemudian jurang yang juga tercipta akibat kekuatan keduanya. Sulit untuk menjelaskan pemandangan menakjubkan sekaligus menakutkan yang kami saksikan sekarang. Pemandangan yang membuat kami merasa kecil, merasa tak berdaya, merasa begitu lemah sampai tak ada gunanya. 


Tak seorang pun berniat mengangkat senjata. Mereka telah kehilangan semangat bertarung. Hanya dengan mendengar suara hantaman, tendangan serta serangan kedua orang tersebut sudah menciutkan hati. Begitu besar, begitu memekakkan telinga seperti sebuah ledakan. 


Namun aku tahu kami tak bisa diam seperti ini. Kami harus melakukan sesuatu untuk membantu Atraz. Dia memang dapat mengalahkan Azrael, tetapi entah mengapa aku merasa elf tersebut masih menyembunyikan sesuatu. Tak mungkin dia berencana dibangkitkan di era sekarang tanpa sebuah perencanaan. 


"Kalian sudah dengar apa yang dikatakan olehnya bukan? Segera hancurkan dark elf dan bawa kemenangan!" 


Melalui sahutan Qeina itu, terutama sesudah melihat kekuatan Azrael, mereka tentu tak tinggal diam. Daripada mereka mati di tangannya, lebih baik mereka berusaha menghancurkan kerajaan dark elf dengan kesempatan menang yang masih lebih tinggi. 


Para Nightmare tak tinggal diam. Mereka datang menyerang, berusaha mengurangi jumlah mereka secepat mungkin terutama dengan kegelapan yang kini menghilang. Perlahan-lahan dapat terlihat pasukan Qeina berhasil melakukan perlawanan terhadap mahluk Ancient tersebut. Meskipun masih membutuhkan perjuangan besar, setidaknya mereka tak mati begitu saja. 


Aku berdecak kesal melihatnya, berpikir apa yang mungkin dapat kulakukan untuk membantu terutama akulah yang membuat keadaan ini berubah drastis. 


Kemudian suara Zena dapat terdengar dalam kepala.


"Bersiaplah Xera, mereka akan datang" 

__ADS_1


__ADS_2