
Perlahan aku membuka mata, memerhatikan sosok di samping, perempuan cantik bagaikan bidadari yang sementara tertidur tenang. Jika melihatnya seperti ini, Codes terasa seperti benar-benar hidup dan bukannya robot yang hanya mengikuti sebuah perintah. Mereka memang tak pernah menjelaskan mereka itu apa, tetapi penampilan mereka serta cara mereka bekerja membuat kami menganggap Codes layaknya AI. Sesuatu yang telah diprogram agar perebutan posisi berjalan dengan baik.
Z.. Astaga, aku baru sadar betapa cantiknya dia. Tak memiliki satu kekurangan pun dan bibir mungil yang kini sementara terbuka sedikit itu, mengingatkanku pada ciuman semalam. Jika saja dia tak berada di sini bersamaku sekarang, aku mungkin akan menganggap itu sebagai sebuah mimpi indah.
Tanpa sadar, tanganku sudah bergerak, membelai lembut rambut pendeknya dan memberikan sebuah ciuman hangat pada kening tersebut, tak menyadari Sang tuan putri ternyata telah terbangun.
"Jika kau terus bersikap seromantis ini, aku benar-benar takkan bisa berpisah darimu" Ucapnya pelan dengan suara serak khas seseorang yang baru saja bangun dari tidur. Ia melihat ke atas di mana mata kami saling bertemu dan membalas ciuman tadi dengan sebuah ciuman selamat pagi sebelum kembali menarikku mendekat agar dia dapat merapatkan kepala pada leherku seperti semalam "Biarkan aku seperti ini sebentar"
Tanganku lanjut membelai kepalanya sebagai sebuah balasan sembari memerhatikan jendela yang masih terlihat gelap, tanda matahari belumlah muncul. Kuhela napas lega, mendekapnya makin erat, tak ingin lepas dari perasaan nyaman dan tenang ini yang hanya bertahan untuk sementara karena Theora tiba-tiba datang menerobos masuk ke dalam kamar sembari berteriak kalau Alvain telah menghilang dan buru-buru kabur dari ruangan dengan wajah memerah saat menyadari Z juga ada di kasur.
"Sudah waktunya bagiku untuk pergi" Ia bangkit keluar dari kasur yang segera kutarik kembali untuk memberinya ciuman terakhir sebelum kami harus berpisah untuk sementara "Xera!" Sahutnya malu. Rona merah tampak pada wajah menggemaskannya itu.
"Agar kau terus mengingatku" Balasku lalu bangkit dari kasur untuk segera mencari Alvain bersama Theora. Tentunya sesudah melihat Z pergi.
"Begitu semua ini selesai, aku akan kembali padamu" Ucapnya lalu menghilang bersama kilatan cahaya ungu sembari menyembunyikan muka.
"Ehem!" Dehamnya, berusaha fokus "Kemungkinan besar Alvain sudah pergi lebih dahulu dibanding kita entah karena alasan apa"
Kami berada di luar tempat persembunyian, di jalan yang masih sangat sepi karena matahari masih belum menampakkan diri di timur.
__ADS_1
"Mungkin ada hubungannya dengan para bangsawan yang dia ajak bicara secara pribadi" Balasku sembari mengingat hal tersebut "Menurutmu, di mana dia berada sekarang?"
Theora berpikir sejenak, mencoba menggali-gali informasi mengenai Sang sahabat dan menjentikkan jari dengan wajah puas "Dia berada dalam istana!" Serunya penuh semangat "Alvain pasti akan menghadapi ayahnya terlebih dahulu sebelum para bangsawan lain bergerak"
"Meskipun dingin, dia ternyata benar-benar hangat di dalam. Tapi, kita harus bergegas ke sana karena aku tak yakin dia akan baik-baik daja"
"Bagaimana? Sekalipun kita mengerahkan seluruh mana dan energi untuk bergerak cepat, mereka pasti sudah bertemu" Balas Theora yang mulai panik membayangkan Sang sahabat akan terluka parah karena dewan Edenwood memiliki kekuatan di Tier 8.
Namun, bukan dialah yang membuatku merasa khawatir, melainkan empat orang Mercenary yang kami lihat sebelumnya. Aku merasa Alvain belum bisa menghadapi mereka mengingat sifatnya yang penuh belas kasihan. Seandainya saja dia juga dingin di dalam, maka aku takkan merasa khawatir seperti ini.
Tanpa berbicara, aku mengangkatnya seperti seorang tuan putri, memasang ancang-ancang dan bersiap untuk meluncur tanpa menghiraukan jeritan Theora yang ketakutan.
Sudah lama aku menantikan ini.
Jauh dari saja, di dalam ruangan yang sama, Alvain sedang berdiri tegap dengan sebuah pedang tergenggam erat, menghadapi Sang ayah yang dilindungi oleh empat orang Mercenary. Keempat Mercenary tersebut menggunakan senjata yang sama, sebuah Dagger kembar berwarna hitam. Jaket mereka sama seperti milik X, sebuah jaket khusus untuk anggota M3RC.
Untuk pertama kalinya, Alvain akan menghadapi grup elite dari Mercenary yang sering dianggap sebagai seekor kuda hitam. Banyak yang menganggap mereka remeh karena terdiri dari manusia dan orang terbuang dari tiap ras karena tak dapat menggunakan sihir. Namun, itulah yang justru menjadi kartu as mereka, datang menerpa layaknya sebuah ombak raksasa, menghantam apapun dalam yang menghalangi jalan. Mereka terkenal tak tahu kata menyerah dan bahkan rela menggunakan nyawa sendiri untuk menyelesaikan misi yang diberikan. Salah satu alasan M3RC termasuk grup mengerikan.
Sudah cukup lama Alvain ingin berhadapan dengan mereka dan kini ia mendapatkan kesempatan untuk membuktikan apakah semua reputasi itu benar adanya.
__ADS_1
"Ayah, tolong sadarlah. Ayah tak seperti ini, ayah adalah orang yang paling mencintai ras elf. Ayah tak mungkin melakukannya!" Sahut Alvain, masih berusaha menyadarkan Sang ayah meski smenjak awal mereka bertemu tadi, sama sekali tak memberikan hasil.
"Sia-sia saja Alvain. Sudah ayah katakan, kami.. Atau mereka"
Para Mercenary itu langsung maju menerjang begitu perintah diberikan, mengerahkan segala kemampuan mereka tanpa menahan diri karena sebagai M3RC, kau diharapkan untuk dapat menyelesaikan masalah dengan cepat tak peduli bagaimana caranya. Sehingga, salah satu dari mereka sengaja menerima ayunan pedang Alvain untuk dapat menahannya menggunakan tubuh sendiri dan memberikan kesempatan bagi tiga anggotanya untuk maju menyerang.
Alvain berdecak kesal melihat pedang tersebut kini tertancap dalam tubuh Mercenary dan berusaha mengambil jarak sembari menahan serangan yang diberikan secara bertubi-tubi, sama sekali tak memberinya ruang untuk bernapas. Untung saja Alvain memiliki mana sehingga dapat menggunakan sihir untuk menciptakan perisai lingkaran sihir seperti sebelumnya yang kali ini ia gunakan untuk menghantam salah satu Mercenary dan menggunakan kesempatan tersebut untuk merebut Dagger miliknya.
Kedua Mercenary di depan saling mengangguk, berlari berlawanan arah, berniat menyerang Alvain dari dua sisi secara bersamaan. Elf tersebut tentu tak membiarkan hal tersebut terjadi. Ia memanfaatkan sihir angin miliknya untuk mengendalikan kedua Dagger di udara dan mengganggu rencana mereka. Begitu mendapatkan kesempatan di salah satunya, Alvain maju menerjang, mencengkram leher dia lalu menghantamnya kuat ke tanah.
Sayang sekali, itulah yang direncanakan mereka. Tangannya ditahan, dipaksa untuk tak dapat bergerak selagi Mercenary di belakang melompat tinggi, siap menghunuskan Dagger pada punggung elf tersebut. Alvain menggeram marah, berubah menjadi sebuah teriakan keras sembari mengangkat tubuh Mercenary tersebut ke atas, sebagai perisai hidup. Darah dengan cepat mengalir turun, menetes menciptakan genangan pada lantai begitu benturan terjadi. Alvain memanfaatkan kesempatan ini untuk menusuk Mercenary kedua menggunakan kedua Daggernya.
Namun sebelum sempat membuang mereka ke samping dua Mercenary yang tersisa datang menyerang, memberikan luka sayatan besar pada tubuh elf tersebut, hampir saja mengenai lehernya jika dia tak melompat. Alvain mendarat keras, sedikit kehilangan keseimbangan karena rasa nyeri. Tapi, ia meneguhkan hati, tahu luka ini dapat sembuh seiring berjalannya waktu berkat kemampuan regenerasi elf meski tak secepat Werebeast. Ia hanya perlu fokus mengulur waktu sembari mencari kesempatan untuk mengalahkan dua Mercenary yang tersisa, mengira dua Mercenary sebelumnya telah berhasil dijatuhkan.
Sayangnya, Alvain tak begitu mengenal para M3RC. Mereka bukanlah manusia biasa yang akan langsung menyerah hanya karena sebuah tusukan ataupun sayatan. Bahkan tulang patah ataupun remuk sekalipun, mereka takkan pernah berhenti, takkan pernah menyerah karena hanya itulah tujuan hidup mereka. Sebuah mesin pembunuh yang telah tak memiliki jiwa.
Kedua Mercenary tersebut menahan tubuh Alvain, mengerahkan seluruh energi untuk meremukkan tubuh elf tersebut tetapi hanya berhasil membuatnya berteriak kesakitan selagi dua Mercenary lainnya, bersiap untuk membunuh mereka.
Di tengah-tengah itu semua, Alvain berusaha memutar otak untuk menemukan jalan keluar. Dua Mercenary di kiri dan kanan sudah bergerak mendekat dalam kecepatan tinggi, siap mengambil nyawa. Alvain benar-benar tak menyangka para M3RC ini rela bertindak layaknya sebuah alat ketimbang mahluk hidup dan bertanya, apakah mungkin X juga seperti itu.
__ADS_1
Di saat-saat terakhir, ketika Dagger masing-masing akan memisahkan leher Alvain. Tiba-tiba, dalam pandangan mereka, sekelebat cahaya merah bergerak dan membawa mereka menjauh dari target sebelum sebuah rasa sakit luar biasa menguasai begitu tubuh menghantam dinding hingga membentuk cekungan dalam di sana. Dada mereka hancur, masuk ke dalam, tampak lubang oleh tangan besi. Beberapa detik kemudian, tubuh mereka terjatuh lemas ke lantai, menimbulkan suara menggelegar dari body armor yang jatuh dari ketinggian sepuluh meter.
Alvain menggunakan kesempatan tersebut untuk menghempaskan mana dalam jumlah besar, mengirim kedua Mercenary terbang ke belakang menghantam dinding, tetapi tak sekeras tadi. Dari kepulan debu di depan, samar-samar terlihat bayangan seseorang disertai sambaran listrik kemerahan. Begitu sosok tersebut menampakkan diri, keluar dari kepulan debu yang juga perlahan menghilang, seringai Alvain terbentuk, penuh akan semangat dan kebanggaan, menyaksikan kedua sahabatnya datang untuk membantu dengan Theora tampak sudah lemas duluan sebelum bertarung.