Archsoul

Archsoul
Part 48


__ADS_3

"Bagaimana kita akan menghadapi itu? Dia berhasil menghancurkan sihir Tier 9!" Sahut salah seorang bangsawan dengan sepasang mata hampa, kehilangan harapan. 


"Sial, seharusnya aku mengambil nyawanya bukan mengurungnya" Keluh Alvain sembari menggenggam erat pedang. 


Efek dari bloodlust mulai menghilang, mengembalikan kesadaran mereka yang di mana adalah waktu yang benar-benar buruk, terlebih sesudah para elf itu menyerang layaknya hewan buas. Mereka sudah pasti akan merasa syok oleh perbuatan mereka dan kami benar-benar membutuhkan bantuan untuk menghadapi mahluk di depan. 


Tuan Fayheart melangkah, menciptakan sebuah ledakan sonic dalam satu langkah tersebut dan mencengkram leher Alvain. Ia menyeretnya di tanah selagi meluncur dalam kecepatan tinggi sebelum kemudian melempar dia jauh ke belakang hingga menembus beberapa bangunan. Orang tua stres itu lalu berbalik menghadap kami dan tahu-tahu sudah melakukan hal yang sama pada Theora. Theora hanya mampu membalik situasi untuk sesaat menggunakan kedelapan pedangnya, tetapi karena perbedaan kekuatan yang terlalu jauh, elf tersebut berhasil dibanting kuat ke tanah sampai menghancurkan tanah. 


Tahu target berikutnya adalah diriku, aku segera menghindar saat dia akan melakukan hal yang sama. Kecepatan kami setara, sehingga aku masih bisa berlari kabur sembari memikirkan rencana apa yang mungkin dapat kulakukan untuk menghentikan monster di belakang. Aku bisa saja kembali menggunakan Bloodlust, tetapi efek sampingnya terlalu besar bagi para elf yang sekarang saja sudah jatuh terduduk di tanah, tak mampu menanggung beban perbuatan mereka. Sekali lagi aku menggunakan Bloodlust, maka bisa saja mereka akan benar-benar rusak dan menjadi sebuah boneka hidup. Seseorang yang memiliki nyawa tetapi tidak dengan jiwa. Hanya ada satu cara, yaitu membawa orang ini pergi menjauh dari Elecya dan mengerahkan segalanya.


Namun, aku tak sempat melakukan hal tersebut. Hal terakhir yang kulihat sebelum kepalaku dihantam ke tanah adalah sosok dewan Edenwood. Aku dapat merasakan tubuhku terbanting menghantam puing-puing bangunan, nyeri merambat ke seluruh tubuh layaknya ribuan jarum menusuk di saat bersamaan sebelum akhirnya aku berhenti dengan tubuh terbentur kuat pada dinding. Perlahan, aku mengangkat kepala, berusaha melihat siapa yang mampu menghadapi tuan Fayheart dan menyaksikan dewan Edenwood, ayah Alvain sedang bertarung mengerahkan segala kemampuannya untuk mengalahkan monster di depan. 


Kekuatan mereka hampir seimbang, tetapi monster tua itu sudah berada di level berbeda sehingga dewan Edenwood pun berhasil dipukul mundur. Tak lama kemudian, Alvain bergabung dalam pertarungan meski darah masih mengalir turun dari kepala. Kombinasi serangan keduanya, membuat tuan Fayheart sedikit kesulitan meskipun tak menimbulkan luka serius, hanya berupa irisan-irisan tipis yang tak berarti di hadapan monster seperti itu. Saat mereka hampir dikalahkan, kini giliran Theora mengerahkan seluruh kemampuannya yang menjadi sebuah perubahan besar karena kini tak hanya seorang saja di Tier 8, tetapi dua. Theora menggunakan kedelapan pedang melayangnya itu untuk terus membatasi pergerakan tuan Fayheart sementara dewan Edenwood masuk menyerang bersama Sang anak. Kombinasi mereka berhasil memukul mundurnya, membuat ia merasa sedikit kelelahan sekaligus emosi karena tak dapat kabur dari serangan gabungan tersebut. 


Aku bangkit berdiri, berusaha menghiraukan rasa sakit yang kembali menguasai tubuh, berusaha mengambil alihnya dan membuatku jatuh pingsan. Tapi, tentu saja aku tak membiarkan itu. Aku tak mungkin tak ikut dalam pertarungan. Aku harus membantu mereka, aku tak bisa membiarkan mereka sendirian menghadapinya. Namun.. Apakah aku benar dapat membantu atau hanya menjadi beban? Bagaimana kalau kejadian yang sama kembali terulang? Aku tak tahu apakah diriku mampu menanggung semua perasaan bersalah itu lagi.


.


.


"Aku datang membantu!" Teriakku saat itu, berlari masuk dalam pertarungan yang sudah jelas takkan dapat kami menangkan bagaimanapun caranya. Sudah merupakan hal baik jika kami dapat kabur dari sini dengan tubuh masih lengkap. Tapi, tentu saja diriku yang bodoh itu melompat masuk dalam pertarungan dan bukannya membantu, melainkan justru menjadi sosok yang harus dibantu sehingga nyawa dia adalah bayaran atas kebodohanku.

__ADS_1


Di hari itu jugalah aku mengetahui, kalau selama ini mereka tak pernah benar-benar menganggapku sebagai seorang teman seperjuangan, melainkan sebuah barang titipan yang dapat dibuang kapan saja ketika telah tak dibutuhkan. Masih dapat terdengar jelas perkataan mereka di malam kami berhasil lolos meski dengan luka parah.


"Sudah kukatakan! DIA HANYALAH BEBAN!! DIA SAMA SEKALI TAK ADA GUNANYA!! RAY MATI KARENA DIRIMU SIALAN!!!" 


"Hey hey sudahlah. Dia hanya berusaha membantu. Tapi.. Kali ini aku setuju dengan Gilbert. Seharusnya kau menyadari kemampuanmu sendiri X. Kami tak masalah jika kau tinggal bersama kami seperti sebuah parasit, tetapi setidaknya jangan datang mengganggu ketika kami sedang bekerja. Kau yang sudah tak memiliki apa-apa, lebih baik diam di belakang"


"Viona benar X. Kami baru saja kehilangan seorang pemimpin, seseorang yang bahkan tak dapat dibandingkan denganmu. Apa yang dirimu pikirkan? Berusaha membuktikan diri pada adikmu yang sudah hampir mati itu? Ingin membuat kenangan bagus sebelum dia pergi?"


"Kyle!"


"APA!? BUKAN HANYA DIA SAJA YANG BERADA DALAM SEBUAH MASALAH! KITA SEMUA JUGA TERPAKSA MENJADI MERCENARY! JANGAN HARAP AKU MAU MENGASIHANINYA KETIKA AKU SENDIRI TAK DAPAT MENGASIHANI DIRI!!"


"Sialan, harusnya kami membuang di hari pertama. Mengapa kami harus menghabiskan tenaga berpura-pura menjadi temanmu? Seharusnya kau berterima kasih pada Ray. Jika bukan karena dirinya, kami takkan pernah mau menerima beban hidup sepertimu. Bahkan, kurasa sebaiknya kau mati sebagai ganti atas nyawanya"


"Oh berhentilah menjadi seorang hipokrit Viona! Aku tahu kau juga membencinya setengah mati! Ray adalah pasanganmu! Dialah yang sudah menyelamatkan kita semua, tetapi begitu DIA MUNCUL! SEMUA BERANTAKAN!!"


.


.


Ck, mengapa kenangan buruk itu harus muncul di saat-saat seperti ini. Sialan. 

__ADS_1


Aku berlari maju ke depan, berniat membantu mereka, tetapi tiba-tiba diriku terjatuh ke bawah karena kaki yang justru diam di tempat, tak berani mengambil sebuah langkah. Kuperhatikan kedua kakiku itu, berusaha menggerakkannya, tetapi sama sekali tak bergoyang, hanya diam gemetar di tempat. 


"Apa-apaan? Kalian adalah kaki besi! Kalian tak bisa merasakan rasa takut! BERGERAK SIALAN!!" Terus kupaksa kedua kakiku itu untuk setidaknya bangkit berdiri, namun nihil. Tak ada yang terjadi, seakan diriku masihlah sama seperti dulu. Masih seseorang yang lemah yang hanya tahu melarikan diri dari masalah dan berpura-pura kuat. 


Sialan sialan sialan sialan sialan sialan! 


Aku sudah berbeda sekarang! Aku sudah bukan orang yang sama seperti sebelumnya!! BERGERAK!!


Ayo bergerak! Kumohon.. Bergerak. 


. . . .


"Z!! X akan menggunakan Bloodlust kembali!!" 


"X BERHENTI!!"


Tak ada cara lain, aku harus melakukannya. Aku tak bisa terus seperti ini. Aku tak bisa terus terbelengu oleh masa lalu, aku harus keluar, aku harus membebaskan diri! TAK PEDULI CARANYA!


Dari layar, bahkan dengan Face Distortion sekalipun, mata X tampak bercahaya merah terang dengan asap yang kini perlahan keluar dari dalam tubuh. Pada layar kedua di mana terdapat informasi detail disertai gambar tubuh X, warna oranye mulai tampak di dada. Makin menerang dan menerang hingga akhirnya seluruh bagian tubuh mulai berwarna merah. Kembali pada layar utama, dapat terlihat kulit dan pakaian pada tubuh X perlahan mencair, memperlihatkan sebuah tubuh besi penuh akan lampu-lampu neon merah yang kini menyala terang, cuma tersisa jaket M3RC serta celana hitam panjangnya saja. Hanya beberapa bagian tubuhnya yang masih berupa daging manusia, tetapi itupun sudah terdapat sebuah sentuhan mesin di sana sehingga X tak lagi dapat dikatakan sebagai manusia, melainkan sebuah cyborg- tidak, bukan Cyborg, melainkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang mungkin dibenci oleh ras elf dan kemungkinan besar akan dibenci oleh Alvain serta Theora, dua teman yang baru saja kembali ditemukannya setelah sekian lama menyendiri. 


Salah satu alasan X tidak pernah ingin menunjukkan kekuatan penuhnya adalah karena dia tak ingin dianggap sebagai sebuah mesin pembunuh saja, melainkan seseorang yang masih memiliki jiwa dan kepribadian. Walaupun jauh di dalam hati, X sadar, itu bukanlah kenyataannya karena bahkan dirinya yang sekarangpun hanyalah sebuah clone. Dirinya yang asli telah lama mati. Tetapi, tanda dia rela melakukan semua ini demi kedua elf itu berarti dia masih memiliki hati bukan? Hati asli seorang manusia dan bukannya buatan?

__ADS_1


"Tunggu, apakah kau mengetahui ini Z? Kau selama ini sadar kalau X yang sekarang adalah sebuah clone? Apakah itu alasannya kau selalu berusaha melindunginya?" Tanya Codes di belakang, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia tak menyangka kalau X yang asli telah tiada dan digantikan oleh sebuah clone.


Z hanya terdiam sembari memerhatikan layar. Hatinya terasa pedih melihat X harus terus menderita karena sebuah takdir sialan yang takkan pernah melepasnya, seakan dia dan takdir tersebut sudah menjadi satu-kesatuan yang sama. Tanpa disadari, sebuah air mata mengalir turun, jatuh menetes pada kursi sebelum akhirnya isak tangis tersebut tak lagi dapat ditahan. 


__ADS_2