
"Kalian siap?" Tanya Antra.
Monster tersebut sudah terperangkap di depan, tak dapat bergerak dalam ruangan yang penuh akan cahaya dengan kami bersembunyi di lantai atas, siap untuk melompat ke bawah menghadapinya.
Jika bukan karena bantuan dark elf, kami belum tentu bisa melakukan ini. Kemampuan mereka untuk bergerak dalam kegelapan, meski tak secepat Nighthunter, merupakan bantuan besar untuk memancing monster tersebut tanpa salah satu dari kami tertangkap olehnya berkat cahaya dari jendela yang dipantulkan kembali oleh para dark elf menggunakan sebuah pecahan kaca untuk membutakan Nighthunter selama kurang dari dua detik. Waktu yang pendek itu memberi kami kesempatan besar untuk dapat mengambil jarak darinya selagi menuntun dia masuk dalam ruangan besar yang sepertinya adalah sebuah perpustakaan. Di tengah perpustakaan tersebut terdapat sebuah area luas yang tadinya menjadi area membaca dengan kursi dan meja yang telah disingkirkan oleh para dark elf selagi kami menuntun dia ke sama sesudah mengambil jalan memutar agar mereka dapat menyiapkan segala sesuatunya lebih baik.
Kesulitan paling besar yang kami hadapi hanyalah ketika berusaha memancingnya menjauh dari ruangan kami berada sebelumnya. Theora hampir kehilangan nyawa ketika memancing monster tersebut menjauh selagi kami semua keluar dan pergi menyelamatkan dia tak lama kemudian. Terlambat sedikit saja, mungkin Theora telah menjadi santapan.
Sesudahnya, kami bertiga menuntun dia menuju perpustakaan tersebut, aku, Alvain dan Theora yang mengeluh karena mengapa harus dirinya lagi. Selama itu, yang membuat kami ingin buru-buru ke dalam perpustakaan adalah jeritannya yang tak berhenti dari awal kami berlari dengan nada tinggi seakan naik satu oktaf lagi saja, maka kaca-kaca jendela pecah dan mungkin monster di belakang akan kehilangan fungsi pendengarannya.
Untung para dark elf yang berusaha memantulkan cahaya, muncul tiba-tiba dari bayangan gorden, tak merasa terganggu oleh itu dan tetap fokus dalam tugas masing-masing.
__ADS_1
Begitu kami sampai di dalam perpustakaan di mana semuanya telah siap, pintu langsung ditutup rapat, membuat ruangan ini menjadi gelap gulita, merupakan saat paling krusial dalam rencana karena salah sedikit saja, maka nyawa kami semua melayang. Anak panah dilepaskan, memberi sebuah cahaya dari api yang membara di atas tungku, mengitari monster tersebut, mengurungnya di dalam tapi tidak untuk waktu yang lama. Kami kini bergantung pada tuan putri Yuna yang sedang menuju ruangan bawah tanah untuk segera memperbaiki sistem sihir kerajaan dark efl bersama seorang prajurit mereka yang adalah orang kepercayaan Antra agar kami bertiga setidaknya dapat merasa tenang membiarkan tuan putri bersama putri Zyora pergi menuju ruang bawah tanah yang menyeramkan.
Monster tersebut menghantam dan menghantam penghalang transparan yang seolah terbentuk karena cahaya, berusaha membuat tungku-tungku api di atas sebuah podium hitam jatuh sembari meraung marah. Mata merah menyala itu menatap kami, membawa rasa mencekam yang begitu menusuk hati, seolah mengatakan 'AKAN KUCABIK-CABIK KALIAN!'.
Keringat mulai mengucur, membasahi kami oleh kegelisahan, takut jika tuan putri mengalami sebuah masalah di bawah sana sehingga tak dapat memperbaiki sistem sihir. Hantaman-hantaman kembali dilanjutkan, menjatuhkan salah satu tungku yang kemudian padam. Ia meraung bahagia, tahu beberapa kali hantaman lagi maka dirinya dapat keluar. Untung saja, di saat-saat terakhir, lampu menyala terang, memberi kami semua Flashbang hingga kami membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.
Begitu pandangan telah membaik, Antra melihat menoleh ke kanan-kiri, ke pada kami, Theora di sebelah kanannya, aku dan Alvain di sebelah kiri, mengucapkan "Kalian siap?" Sembari menekan sebuah silinder metalik berukuran sedikit lebih besar dibanding sebuah pulpen yang ternyata adalah sebuah tombak besar berwarna biru-kehitaman dengan ukiran-ukiran yang tampak sedikit menyeramkan.
Kami mengangguk serentak, menyiapkan senjata masing-masing. Antra tersenyum melihatnya, bangkit berdiri dan tahu-tahu sudah melompat ke bawah.
Tak hanya kami, para prajurit yang tadinya bersiap menunggu aba-aba di pinggir ruangan juga ikut maju, mengerahkan semua yang mereka miliki untuk membalas dendam pada monster yang sudah meneror dan membawa tak hanya rasa takut tetapi juga putus asa.
__ADS_1
Segalanya berjalan lancar, tubuh monster tersebut mulai dipenuhi luka di sana-sini sampai tiba-tiba lampu ruangan mati, menyisakan lampu dari tungku-tungku api yang takkan cukup untuk membekukan tubuhnya. Kami mengambil langkah mundur, menyaksikan ketika monster itu kembali bergerak, mengamuk menjatuhkan lebih dari dua tungku, kini menyisakan tiga tungku saja yang masih berdiri tegak dengan api membara.
"Lindungi tiap tungku api tersebut! Kami akan menghadapinya!" Seru Antra memberi perintah lalu bergerak maju, berusaha menarik perhatian monster dengan memberi sebuah luka panjang pada dada
Keinginannya itu berhasil, namun dengan bayaran kini dia menjadi sasaran utama. Kami bertiga langsung maju membantu, mengupayakan untuk memberi kerusakan yang sama, kalau bisa jauh lebih besar pada monster tersebut. Dia makin mengamuk, menghilang menyatu bersama lantai sebelum tiba-tiba muncul tak jauh di belakang, dari bayangan Alvain yang tercipta oleh api tungku. Alvain berbalik, menghindar dengan cepat namun tetap menerima sebuah luka di belakang punggung, berupa cakaran panjang, berhasil merobek pakaian yang kini bersimbah darah.
Ketika monster itu akan lanjut menyerangnya, lampu kembali menyala, membekukan monster tersebut di tempat. Sebuah timing yang sangat bagus bagi Alvain untuk mundur selagi kami kembali menyerang dia bertubi-tubi, berusaha menembus tubuhnya yang hampir sama keras seperti Forest Guardian. Namun, sebelum dapat memberikan kerusakan besar, lampu kembali mati, memberikannya kekuatan untuk berpindah tempat menggunakan bayangan lagi dan kali ini muncul di belakang salah satu prajurit yang telat menyadari sosok monster di belakangnya.
Hanya dalam satu ayunan tangan, tubuh prajurit itu sudah terpisah menjadi lima bagian dengan darah terciprat ke samping sesuai arah cakar besar tersebut bergerak. Kami terdiam di sana, syok melihat pemandangan mengerikan dari tubuh yang kini tergeletak tak beraturan di depan dengan bagian dalam berserakan keluar. Salah satu prajurit muntah, tak dapat menahan diri sementara yang lain dipenuhi oleh amarah dan benci sehingga maju menyerang, tak mendengarkan perintah dari Antra yang meminta mereka untuk tetap menjaga jarak.
Untung saja lampu kembali menyala, balik membekukan monster itu sehingga nyawa para prajurit aman, tapi tidak dengan kondisi mental mereka yang kini terguncang layaknya sebuah vas kaca di atas podium yang telah memiliki retakan kecil dan jika terjatuh sekali saja, maka akan pecah berantakan.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi di ruang bawah tanah?" Tanya Antra frustasi dengan tangan tergenggam makin kuat pada tombak.
Kami bertiga yang mendengar pertanyaan itu, menjadi khawatir terhadap tuan putri dan putri Zyora, terutama Alvain yang tampak begitu ingin menyusulnya ke bawah untuk memastikan sendiri, nyawa Sang kekasih tak berada dalam bahaya.