
Sudah dapat terlihat di kejauhan, musuh membangun tenda-tenda, tempat mereka untuk beristirahat, menyimpan perbekalan serta membuat rencana. Jumlah mereka sesuai dengan perkiraan, mencapai hingga dua puluh ribu orang dari berbagai ras. Yang membuat kami khawatir adalah kehadiran para Orc serta Dwarf karena perpaduan mereka dapat menciptakan prajurit mengerikan.
Untung saja tak ada Warbeast di sini. Hewan-hewan mengerikan itu adalah peliharaan para Werebeast yang telah dilatih khusus untuk berperang sehingga dapat menjadi lawan berbahaya. Terutama ketika mereka sedang berada di bawah pengaruh 'RAGE'. Kemampuan khusus Werebeast yang dapat membuat mereka tak merasakan sakit selama semenit dan mengamuk mengeluarkan seluruh kekuatan. Tentunya dengan efek samping besar. Begitu mencapai batas durasi, mereka akan kehilangan energi hingga beberapa dapat jatuh pingsan.
Aku penasaran apa yang akan terjadi seandainya mereka berada di bawah pengaruh kemampuan khusus milikku.
Kami telah meminta para penduduk untuk berevakuasi, tetapi mereka tetap ingin tinggal di dalam kerajaan, bahkan berniat membantu dalam peperangan. Mereka tahu kesempatan kami menang hanya sedikit, terutama menghadapi lawan seperti itu dengan jumlah yang bahkan tak sampai setengah dari jumlah mereka. Tapi mereka lebih memilih untuk mati dalam peperangan ketimbang kabur tanpa melakukan sebuah perlawanan. Sebuah sikap yang tak kusangka muncul dari para dark elf.
Aku selalu menganggap mereka sebagai ras yang hanya akan bergerak begitu melihat sebuah kesempatan. Namun akan mundur jika hanya kelalahan yang menanti.
Ternyata, aku sudah terlalu meremehkan mereka.
Semenjak pagi, kami sudah membantu para pasukan memperkuat pertahanan serta memasang berbagai jebakan sihir di depan kerajaan untuk membantu para Nightmares yang berjumlah seratus. Seratus Nightmares sama seperti seribu pasukan tambahan, sehingga kami merasa lebih tenang dengan kehadiran mereka. Masalah terbesar kami hanyalah para Angel maupun Demon yang ikut dalam grup Qeina serta Druid itu sendiri. Ras-ras lainnya bukanlah apa-apa di hadapan Nightmares yang berada di Tier 8.
Belum lagi kami memiliki Alvain yang telah mencapai Tier 7 serta Theora di Tier 8. Kekuatan yang memang mengejutkan bahkan untuk para elf karena elf sebenarnya hanya berada di Tier 4 seperti para pasukan dark elf yang sementara menggali tak jauh di depan dinding. Kami masih belum terlalu mengerti mengapa mereka melakukan itu dan Antra hanya menjawab "Kalian lihat saja nanti" Saat ditanya.
Atraz berada di Tier 9, satu-satunya ras Dragonoid yang hadir dalam peperangan kali ini sebagai sekutu. Semenjak pembicaraan kami kemarin malam, dia menjadi lebih dekat dengan kami bertiga sampai kami justru bertanya seandainya dia tak berada dengan salah satu dari kami. Memilikinya sebagai sekutu merupakan sebuah keberuntungan besar karena kekuatan dia yang bahkan melebihi Nightmares. Dia jugalah yang akan mengatasi para Angel maupun Demon mengingat tingkat kekuatan mereka sama.
Sedangkan, putri Yuna kini sementara mengemban sebuah misi penting yang semoga dapat membawa kami ke pada kemenangan bersama Ciara. Entah mengapa dia tiba-tiba meminta untuk ikut bersama tuan putri. Kemungkinan besar karena kejadian kemarin.
Awalnya Alvain menolak keras karena takut Sang kekasih berada dalam bahaya. Tapi, putri Yuna dapat melihat kalau Ciara benar-benar telah menyesal dan mengizinkannya untuk ikut selama dia menjadi perisai untuknya. Ciara mengangguk setuju, berjanji akan mengerahkan segenap kekuatan untuk melindungi tuan putri. Mau tak mau, Alvain setuju, sesudah memberi peringatan keras pada Ciara untuk tak melakukan hal yang sama seperti sebelumnya atau dia akan memburu Ciara.
Butuh beberapa saat bagi kami untuk menenangkannya yang terus merasa gelisah, berjalan mondar-mandir tanpa sebuah tujuan semabri terus memikirkan keadaan tuan putri yang telah pergi semenjak subuh. Tak satupun dari kami yang tahu apa rencana tuan putri dan mengapa dia tiba-tiba mengubah rencana awalnya. Yang pasti, kami hanya bisa percaya pada putri Yuna dan berharap semoga dia baik-baik saja.
__ADS_1
Namun karena itu juga, sebuah rumor mulai beredar di antara pasukan dark elf, mengatakan kalau putri Yuna sudah melarikan diri dan lebih memilih untuk bergabung bersama musuh. Untung saja Antra segera bertindak, menjelaskan kalau dia sementara mengerjakan misi penting yang sayangnya tak dapat dijelaskan untuk sementara demi menjaga keamanan rahasia. Tentu dia juga mendisiplinkan para pasukan karena telah berpikir tidak-tidak terhadap tuan putri elf.
Tak kami sangka waktu berlalu dengan cepat sampai kini hari telah berubah gelap. Tak tampak matahari lagi di atas sana. Hanya langit malam berbintang yang mulai besok akan tertutupi oleh asap. Bunga-bunga biru bercahaya terang, memberi kami penerangan indah yang mungkin adalah kali terakhir kami melihatnya, di mana para pasukan kini membentuk grup masing-masing dan duduk melingkar tak jauh di belakang gerbang, menyantap makanan mereka diiringi canda-tawa, persiapan sebelum mereka menghadapi hari esok yang kemungkinan menjadi hari terakhir mereka menghembuskan napas.
Suasana tak terasa terlalu buruk. Bahkan, menurutku jauh lebih hangat ketimbang sebelumnya. Aku rasa perkataan kalau tiap orang akan makin dekat dalam sebuah peperangan benar adanya. Beberapa bahkan mengajakku untuk makan bersama yang tentu saja aku terima.
Alvain, Theora, Atraz dan Antra datang tak lama kemudian. Ikut bergabung dan menyantap makan malam masing-masing, mendengarkan cerita Theora mengenai hari yang akan datang. Di mana kami saling bahu-membahu, bertarung bersama dan menyaksikan matahari terbenam sembari menghela napas lega. Para pasukan tertawa mendengar itu, berharap semoga ceritanya berubah menjadi sebuah kenyataan sebelum tiba saatnya bagi kami semua untuk beristirahat.
Saat ini, aku duduk di atas dinding kerajaan, memerhatikan tenda-tenda di depan, berpikir apakah aku bisa menyerang mereka sekarang sebagai sebuah elemen kejutan yang tentu takkan mereka duga. Aku adalah Codes, Qeina bukanlah apa-apa di hadapanku. Aku bisa saja menghancurkan mereka sekarang.
Ingin rasanya aku dapat berkata seperti itu. Tapi, aku sama sekali tak dapat merasakan kekuatan melebihi Tier 9. Karena sebuah alasan tertentu, kekuatanku sebagai Codes berkurang drastis. Energi yang terkumpul dalam tubuh memang masih sangat besar, bahkan jika aku meledakkan diri, mungkin Alfheim akan hancur. Namun, saat ingin menggunakan kekuatan, kekuatan yang keluar justru hanya dapat mencapai Tier 9 saja. Itupun sudah maksimal.
Aku seolah seperti keran air kecil bagi sebuah bendungan. Dan perasaan tersebut membuatku merasa begitu kesal karena aku seakan tak pantas untuk menggunakan kekuatan besar tersebut.
Apakah aku memang tak seberguna itu? Selemah itu?
Mungkinkah, ini batasan sebagai sebuah clone?
Kutepuk kedua pipi, menyadarkan diri dari lamunan, terkejut saat melihat Alvain sudah berada di samping, memerhatikan tenda-tenda di kejauhan.
"Apa yang kau pikirkan sampai membuatmu seperti itu?" Tanyanya penasaran tanpa mengalihkan pandangan dari sana, seolah dia sedang mempelajari tenda-tenda tersebut. Atau dia memang sedang mempelajarinya?
"Bukan apa-apa. Hanya memikirkan batasanku saja" Kembali kuhela napas panjang, meredam kekesalan yang mulai merambat naik "Aku selalu berpikir kalau kekuatanku ini sama seperti mereka, para Codes. Karena itu aku menahan diri dan menahan diri. Namun, begitu aku mengetahui kalau aku hanya seseorang di Tier 9.. " Aku tak dapat melanjutkan kata-kataku.
__ADS_1
"Bukankah itu karena kau sendiri yang berharap terlalu tinggi?" Tanya Alvain lagi, sedikit menusuk hati sebab dia benar.
Akulah yang sudah berpikir terlalu jauh, menganggap kalau aku akan memiliki kekuatan yang sama seperti mereka sedangkan aku saja hanyalah sebuah Clone yang telah dibuang. Tak ada kepastian kalau aku masih memiliki kekuatan seperti para Codes.
Hmm.. Dalam pikiranku tiba-tiba terbersit sesuatu yang cukup mengganggu.
Mengapa kami tak menggunakan kekuatan besar kami saat melarikan diri? Seharusnya aku dapat menghentikan peluru plasma tersebut bukan? Mengapa aku justru diam di sana menjadi sebuah tameng?
"Apapun yang kau pikirkan sekarang Xera, jangan sampai kau terganggu keesokan harinya. Kami masih membutuhkanmu.. Tidak, kurasa itu kurang tepat. Dunia ini, dunia kami semua membutuhkan dirimu. Jadi jangan anggap remeh dirimu sendiri, kau jauh lebih mengagumkan dari yang kau kira. Kalau aku menjadi dirimu, aku tak tahu apakah aku dapat bertahan"
"Kau tentu saja dapat bertahan, kau adalah Alvain"
Alvain terdiam, lalu mengangguk "Kau benar. Aku hanya mengatakan itu untuk membuatmu merasa lebih baik" Sebuah senyum terbentuk pada wajahnya. Dia bangkit berdiri sesudah menepuk pundakku dan berjalan menjauh.
Aku menggeleng pelan melihatnya. Tentu dengan sebuah senyuman yang sama.
Orang itu, meski terlihat dingin dari luar, dia selalu tahu cara menaikkan moral seseorang. Meskipun dia harus menjadi seseorang yang rada brengsek untuk melakukannya. Namun, itulah yang aku sukai dari Alvain. Dia selalu jujur, terlalu jujur sampai minta untuk dipukul.
"Hmm, sepertinya Alvain telah mendahuluiku" Ucap Zena yang tiba-tiba muncul di sebelah kanan. Dia ikut duduk, merebahkan kepala pada pundakku "Besok adalah harinya ya. Aku tahu aneh untuk mengatakan ini sementara kau dapat menghadapi mereka semua dengan mudah, tapi aku ingi kau tetap berhati-hati. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya"
"Bukankah kau sudah menjalani ini sebanyak sepuluh kali?" Tanyaku ingin tahu.
"Iya, tapi tak satupun dari mereka sama. Bahkan saat ini, saat kita berdua duduk di atas dinding, aku belum pernah mengalaminya. Ini juga adalah sesuatu yang baru bagiku, itulah yang membuatku khawatir. Terlebih ketika perang ini selesai"
__ADS_1
"Apa yang akan terjadi?"
"Tiap Timeline memang berbeda, tetapi mereka selalu memiliki awal yang sama, awal dari kemunculan mahluk-mahluk tersebut" Zena kembali menegakkan badan, menatap jauh ke depan, kembali mengenang masa lalu/masa depan "Mereka muncul begitu perang berakhir" Jawabnya dengan tatapan tajam.