Archsoul

Archsoul
Part 62


__ADS_3

"Alvain! Yuna!" Teriak Theora, buru-buru masuk dalam ruangan hingga terengah-engah di depan pintu sebelum akhirnya menunjukkan Gorg mini yang kini melambaikan tangan, membuat mereka berdua terkejut "X.. X sudah kembali"


Alis Alvain terangkat mendengar hal tersebut. Ia tak menyangka seorang M3RC sepertinya akan kembali terutama di situasi buruk ini "Setelah tiga hari menghilang, dia memutuskan untuk kembali? Apa dia mengumpulkan kembali poin miliknya selama tiga hari itu atau dia berubah pikiran?" Tanya Alvain pada diri sendiri, tak dapat menebak jalan pikiran X meski sudah menghabiskan waktu dengannya. Biasa, dia dengan mudah menebak pikiran seseorang bahkan di awal pertama bertemu. Namun dengan X, dia seperti menemukan sebuah dinding transparan. 


"Bukankah merupakan hal bagus dia kembali?" Tanya tuan putri, bingung melihat reaksi Alvain yang justru terlihat tak suka dengan kabar gembira ini.


"Tolong jangan salah paham terlebih dahulu. Tapi, apa kalian tak berpikir ini terlalu tepat untuk dikatakan sebagai sebuah kebetulan? Kita sudah siap berperang, tiba-tiba dia kembali ke sini. Aku tahu X sudah mengorbankan nyawanya, tetapi tubuh mereka bukanlah tubuh asli, jadi itu bukan sesuatu yang begitu wah" Jelasnya.


"Apa ini karena dia menyembunyikan fakta kalau dia mengubah seluruh bagian tubuhnya menjadi besi?" Tanya tuan putri yang lalu datang mendekat, meletakkan tangan pada pundak Alvain. Dapat terasa ketegangan di sana "Alvain, aku tahu kau merasa seperti terhianati. Tapi, bagaimana kalau ternyata X memiliki alasan tersendiri? Mungkin dia masih ragu untuk mengatakannya pada kita. Mungkin, dia takut kita akan meninggalkannya seperti yang ras kita lakukan pada mereka" Ucapnya lembut, berusaha menenangkan amarah yang kini bergejolak dalam hatinya yang sedang terluka. 


Kedua tangan Alvain mengepal kuat mengingat kembali ketika X berhadapan dengan Fayheart. Dia tahu X bukanlah seseorang yang jahat sampai rela menunjukkan sisi aslinya pada mereka demi menghadapi Fayheart. Tetapi, bukan itu masalahnya. Masalahanya adalah mengapa X sama sekali tak mengatakan apa-apa? Mungkin di awal mereka akan merasa dia terlalu berlebihan karena sampai mengubah satu tubuh menjadi besi hanya demi kekuatan. Namun, pada akhirnya mereka pasti mengerti dan tak mungkin mengucilkan dirinya. Alvain merasa kalau waktu yang mereka habiskan, tak begitu berharga karena X masih tak menganggap mereka sebagai seorang teman yang dapat dipercaya. 


"Alvain.. " Panggil putri Yuna lagi dengan suara yang lebih lembut hingga Sang kekasih kini mau menoleh padanya. Luka terlihat pada sepasang mata tersebut, sesuatu yang sudah begitu dikenal Yuna dan menjadi salah satu alasan mengapa dia jatuh cinta padanya. Hati Alvain begitu lembut "Bagaimana kalau kita memberinya satu kesempatan lagi dan siapa tahu kalian berdua mungkin menemukan waktu untuk saling berbicara?" Sebuah senyuman hangat terbentuk "Dia adalah seseorang yang baik Alvain, kau tahu itu. Berikanlah dia kesempatan kedua untuk perlahan terbuka padamu. Dia juga adalah seorang manusia, bukan seperti kita ras elf yang mudah untuk terbuka pada orang lain. Bahkan sebagai seorang elf, kau tetap membutuhkan waktu yang lama untuk terbuka padaku bukan? Dan aku menunggumu. Sekarang adalah giliranmu untuk menunggu, sekaligus merasakan betapa menderitanya diriku" Canda tuan putri yang kemudian tertawa kecil. 


Saat Alvain akan membalas, sebuah ciuman mendarat tepat di pipi kanan, membuatnya tak dapat mengeluarkan sepatah kata dan akhirnya X menampakkan diri di depan pintu bersama Antra serta satu orang yang tak dia sangka akan berani muncul di hadapannya sesudah apa yang terjadi. 

__ADS_1


"Wah wah, lihat siapa di sini. Seorang penghianat yang tak tahu malu. Mengapa kau membawanya ke sini X? Apakah kau diancam?" Seru Alvain ketus dengan tatapan setajam silet pada Ciara yang juga balas menatapnya penuh emosi. 


"Aku berniat meminta maaf pada kalian!" Bentaknya.


"Haha, meminta maaf katamu? Sesudah meracuni kami? Kami beruntung tak berada di tengah-tengah kepungan Mercenary. Bisa kau bayangkan apa yang dapat terjadi? Mungkin kami sudah tak berada di sini sekarang! Maaf? Aku jauh lebih ingin kau mati ketimbang maaf" Alvain menghantam meja dan berjalan keluar dari dalam ruangan. Tak lupa sengaja menabrak pundakku dan pundak Ciara, diikuti oleh putri Yuna yang meminta maaf atas sikapnya barusan. 


"ALVAIN!!" 


Sialan, aku keceplosan. Amarahku tiba-tiba memuncak karena perlakuannya dan membangkitkan sisi diriku yang tak kusukai. 


Alvain yang sudah berada beberapa langkah di depan, seketika berbalik. Emosi tampak jelas di wajahnya. Dia datang dengan kaki menghentak kuat dan kedua tangan terkepal. Tahu-tahu saja dia sudah menarik kerah jaketku, mendekatkan wajah padaku "Kau pikir dirimu siapa? Membawa seorang penghianat yang jelas-jelas berniat kita mati. Mau berapa banyak rahasia lagi yang kau sembunyikan dari kami? Mau sampai kapan dirimu bersembunyi? Kau memang sudah mengganti tubuhmu menjadi kumpulan besi, tetapi kau masihlah seorang pengecut" 


Alvain dengan kasar mendorongku, membalikkan badan dan lanjut berjalan menjauh meninggalkan kami tanpa sepatah kata pun. Aku tahu aku tak seharusnya berkata seperti ini, tetapi amarah dan ego yang sudah mengambil alih, membuatku melakukannya.


"Sekarang Yuna tahu betapa pengecutnya dirimu!" 

__ADS_1


Seketika dia berlari, memberiku sebuah hantaman kuat di wajah yang berhasil membuatku terdorong selangkah. Dia terkejut melihatnya, tak menyangka aku dapat menahan pukulan kuat tersebut. Kuusap darah yang mengalir keluar dari sisi mulut menggunakan punggung tangan, memutar pundak dan maju menerjang. 


Kami saling bertarung, memukul serta menendang satu sama lain, tak memedulikan teriakan serta sahutan yang lain. Mereka berusaha memisah, tetapi Theora justru menghadang, mengatakan kalau sebaiknya mereka membiarkan kami selesai meskipun harus terluka parah nantinya. Antra mengangguk setuju, membenarkan hal tersebut. Tak ada hal yang lebih baik selain membiarkan dua orang sahabat yang sementara saling mengeluarkan isi hati melalui serangan mereka dan terbukti dari sahutan-sahutan mereka yang terdengar konyol bagi tuan putri juga Ciara karena mereka bisa berbicara dengan damai tanpa perlu adanya pertarungan. 


"Mau sampai kapan kau terus menyembunyikan diri sialan!!" Alvain memutar badannya, memberikan tendangan yang kutahan memakai lengan.


Dengan cepat kucengkeram kaki tersebut dan membantingnya ke bawah sekeras mungkin lalu melempar dia keluar dari jendela. Kusaksikan dari bibir jendela, tubuhnya terbentur kuat di halaman belakang sebelum terbanting beberapa kali dan akhirnya berhenti. Aku melompat turun, membuka tudung kepala serta Face Distortion. Entah karena alasan apa, aku hanya merasa aku harus melakukannya. 


Alvain perlahan bangkit berdiri, berusaha menghiraukan rasa rakit yang kini terasa di beberapa bagian tubuh. Ia menatap sosok di depan, menggertakkan gigi dan mengalirkan mana, berniat memperlakukan X sama seperti dia memperlakukannya tadi. Sama sekali tak menyadari kalau kini bukanlah sepasang mata merah yang menatapnya, melainkan sepasang mata violet indah penuh amarah. 


Sebuah ledakan energi terjadi, percampuran antara mana putih-keemasan serta listrik merah terang. Keduanya tak lagi menahan diri, mengeluarkan segala sesuatu yang mereka miliki sampai halaman belakang istana kini tampak seperti sebuah medan perang dengan kawah di mana-mana serta retakan-retakan besar pada tanah. 


Yang lain menonton dari atas, khawatir terhadap keadaan keduanya terutama sesudah melihat mereka menggunakan kekuatan untuk melukai satu sama lain. Tuan putri dan Ciara ingin turun ke bawah menghentikan mereka yang lagi-lagi ditahan oleh Theora serta Antra dengan alasan ini adalah saat terpenting dalam perjalinan persahabatan. Tak seorangpun boleh mengganggunya. Mereka harus menyelesaikan ini sendiri dan mereka yakin kalau kedua orang di depan nantinya akan menjadi sahabat yang hanya terpisahkan oleh maut. 


Para prajurit pun bergegas datang ke sana, berniat menghentikan pertarungan yang membuat para warga merasa was-was. Namun begitu mendengar penjelasan Antra dan Theora, para laki-laki segera membentuk barisan untuk menghalangi prajurit perempuan. Keteguhan tampak di wajah masing-masing, tahu ini adalah momen terpenting bagi kedua orang tersebut dan dapat menjadi senjata pamungkas mereka dalam peperangan yang akan datang. Para perempuan tentu tak mengerti apa yang mereka bicarakan, tetapi memilih untuk menyerah saat melihat keteguhan pada tatapan mereka, tahu apapun yang mereka lakukan, akan langsung dihentikan. 

__ADS_1


Karena inilah para laki-laki sering dikatakan bodoh oleh para perempuan. Menjalin sebuah persahabatan melalui sebuah pertarungan yang bahkan dapat dikatakan pertarungan hidup atau mati. Hanya para laki-laki lah yang mengerti. Mereka juga dapat membedakan mana pertarungan hidup atau mati dan pertarungan sahabat atau musuh. Mereka berharap semoga keduanya dapat mencapai sebuah pengertian untuk satu sama lain sehingga membentuk sebuah jalinan kuat yang takkan mudah tergoyahkan. Jalinan yang bahkan lebih kuat dari persaudaraan karena mereka terbentuk dalam tiap serangan yang diberikan. 


Tak butuh waktu lama sampai pertarungan memuncak yang mengakibatkan Theora harus membentuk sebuah kubah emas transparan besar untuk mengurung mereka berdua di dalam dan tak menghancurkan istana. Dia tahu sesudah mereka selesai, dia adalah sasaran tuan putri serta Ciara, bahkan mungkin seluruh perempuan di dalam kerajaan karena tindakannya yang tak berperasaan. Dia berharap semoga para laki-laki mendukungnya saat itu terjadi. 


__ADS_2