Archsoul

Archsoul
Part 67


__ADS_3

   Begitu Zena menjelaskan mengenai alasan mengapa ini adalah kesempatan terakhir, kami semua terdiam. Kami tak menyangka kalau mereka telah mengulang ini sebanyak sepuluh kali dan kini hanya tersisa satu energi yang tersisa, energi yang telah manusia kumpulkan semenjak awal penciptaan Codes. Mereka sadar kalau mereka tak dapat hidup hingga saatnya tiba untuk melakukan perjalanan waktu, tetapi setidaknya ciptaan mereka dapat mengemban misi tersebut demi umat manusia di masa lalu. 


  Begitu kesempatan terakhir ini gagal, maka dengan kata lain, kehidupan di dunia ini takkan ada lagi. Lenyap di hadapan mahluk yang bahkan tak dapat dijelaskan oleh para Codes. Dapat begitu terasa suasana mencekam membuat hati meringkuk takut terhadap masa depan. Kami mengira kalau kami hanya perlu fokus terhadap perebutan sepuluh posisi. Siapa sangka kalau ternyata kami harus menghadapi kiamat seperti ini. 


  Tak seorang pun berbicara selama dua menit berikutnya. Berpikir terhadap pilihan-pilihan hidup yang membawa mereka hingga mencapai titik ini. Apakah yang sudah mereka lakukan pantas? Apakah mereka sudah melakukan yang terbaik? Agar nantinya mereka siap begitu kematian datang menjemput, tanpa sebuah penyesalan. 


Bukan berarti kami sudah menyerah sebelum mencoba. Kami hanya tak ingin menghabiskan waktu dengan sia-sia sementara tak lama lagi kami hilang dari dunia. Menghadapi mahluk yang bahkan membuat Codes kesulitan, kami tak tahu harus bereaksi seperti apa selain kehilangan harapan. Mendengar fakta kalau ternyata mereka telah mengulang ini sebanyak sepuluh kali.. Sulit membayangkan betapa kerasnya perjuangan mereka untuk terus mengulang, mengulang dan mengulang. 


Yang menjadi pertanyaanku sekarang adalah mengapa aku tak mengingat satupun mengenai pengulangan tersebut? Mengapa aku tak memiliki memori mengenai masa saat itu terjadi? Ataukah hanya Zena seorang diri yang terus mengulang waktu?


Aku melirik padanya, dia balas menoleh padaku dan memberikan sebuah senyuman lembut yang justru membuat hatiku terasa pedih. Jika benar dia terus mengulang ini seorang diri, aku tak bisa membayangkan seperti apa rasa sakit yang dia rasakan. Seperti apa beban yang dia tanggung dan bagaimana bisa dia terus bertahan menyaksikan orang terdekat, mati di depan mata. 


Dragonoid itulah yang paling pertama keluar dari dalam ruangan dengan kepala tertunduk. Sosok ras Dragonoid yang tangguh dan agung telah menghilang darinya. Kini dia hanya seorang Dragonoid yang sedang mempertanyakan hidup.


"Aku butuh udara segar" Begitulah katanya, diikuti oleh Angel dan Demon yang juga dalam kondisi sama. 

__ADS_1


Theora berjalan mendekat tempat duduk yang berada di dekat sebuah meja, menurunkan tubuh di sana dan bersandar sembari menghela napas panjang. Dia tak pernah mengira dalam seumur hidup kalau sesuatu seperti ini akan terjadi. Siapa yang menyangka kalau kiamat benar-benar ada. Dia hanya pernah mendengar cerita mengenai dunia yang suatu saat akan ditelan oleh kegelapan beserta kehidupan di dalamnya. Dia menganggap itu hanyalah sebuah cerita yang di buat untuk menakut-nakuti anak kecil agar mereka mau mendengar perintah orang tua dan tak menjadi anak nakal. Mengetahui kalau ternyata hal tersebut benar adanya, membuat dia lemas. 


"Jadi.. Dari penjelasanmu tadi, kau mengatakan kalau dia mampu melahap seluruh dunia bersamaan? Bukankah jarak planet kami saling berjauhan?"  Tanya Alvain tak dapat menahan pertanyaan yang telah mengganggu semenjak mendengar penjelasan Zena. 


Zena terkejut seseorang akan menanyakan hal tersebut, tetapi dia telah siap seandainya pertanyaan seperti itu keluar. Namun, dia tak yakin kalau Alvain telah siap mendengar fakta yang dapat membuat dia mempertanyakan usaha mereka "Aku khawatir kau belum siap untuk mendengar ini.. Namun, lebih baik sekarang dibanding nanti bukan?" Ucapnya berniat untuk meringankan suasana yang tentu tak berhasil. Ia menghela napas berat, menatap lurus ke Alvain dengan wajah serius "Pertanyaan sebenarnya adalah kapan dia akan tiba di dimensi kita. Begitu dia tiba di sini, maka seluruh isi dimensi ini akan hancur. Oleh karena itu kita harus segera kabur ke dimensi lain di mana diri kita yang lain juga berada di sana. Mungkin ini akan terdengar kejam, tetapi kita akan memaksa masuk dalam diri kita tersebut yang berarti kita tanpa sengaja membunuh diri sendiri" 


"J-jadi maksudmu.. "


Alvain terhuyung-huyung ke belakang. Tuan putri bergegas ke sana, menahan tubuhnya untuk tak terjatuh ke bawah dan membantu dia untuk tetap berdiri meski Alvain terasa lumayan berat. Alvain tak menyangka kalau ternyata di balik semua ini, kita masih harus melakukan sesuatu yang justru membuatnya merasa mual. Dia mengerti mengenai dimensi lain dan semacam ini karena dalam pengajaran elf telah dijelaskan kalau dunia kita tak hanya satu, tetapi terdiri dari jumlah yang tak terbatas. Sehingga begitu dirimu mati di dunia ini, maka kemungkinan besar kau hidup di dunia berikutnya dan bahkan siapa tahu jika kau tertidur, sebenarnya itu adalah salah satu cara jiwamu untuk berpindah dimensi. Namun tentu semua itu hanyalah sebuah spekulasi semata dan belum ada cara untuk membuktikan benar atau tidak. 


Tetapi, membunuh diri sendiri? Dia justru merasa jauh lebih baik jika mereka mati menghadapi mahluk tersebut ketimbang membunuh diri sendiri versi lain di dimensi berbeda. Mereka yang mungkin menjalani kehidupan berbeda, ia tak ingin merebut hal tersebut dari mereka. Terlebih jika kehidupan mereka jauh lebih baik dibanding yang dialami sekarang. 


Zena terdiam sejenak, memikirkan berbagai cara yang mungkin dapat berhasil sebelum kembali memandang tuan putri elf "Sebenarnya ada" Kepala Alvain terangkat mendengarnya "Salah satunya adalah dengan membunuh.. " Dia melirik ke arahku, tak dapat melanjutkan kata berikutnya "Cara lainnya adalah dengan menghadapi mahluk tersebut secara langsung bersama kami para Codes yang di mana merupakan sebuah pertaruhan besar karena tak semua ras berniat melakukannya dan justru dapat menjadi sebuah perpecahan besar dalam Archsoul. Belum lagi dengan kehadiran para Rebels yang mungkin menghasut mereka untuk bergabung.. Aku takut satu-satunya cara adalah berpindah dimensi" 


"Dengan kata lain yang dapat kita lakukan adalah kabur, kabur dan terus kabur" Tukas Theora yang tiba-tiba tertawa kosong "Apakah kita begitu tak berarti di hadapannya sampai satu-satunya cara untuk selamat adalah dengan melarikan diri?" Ia bangkit berdiri, tatapannya berubah tajam. Sesuatu yang belum pernah kulihat dari Theora sebelumnya "Aku takkan menerima itu! Kita pasti memiliki cara lain! Kau hanya belum mencarinya dengan benar!" 

__ADS_1


Ia berjalan keluar sembari menghentakkan kaki, menghiraukan panggilan Alvain yang kemudian menghela napas panjang melihat sikap Sang sahabat "Maaf, Theora memang suka bercanda dan selalu berlagak seperti seseorang yang naif, tetapi dia paling membenci yang namanya keputusasaan. Akan sulit menghentikannya jika sudah seperti ini" Alvain bangkit berdiri, kembali menghela napas yang kini terdengar lebih berat dan menggenggam tangan putri Yuna "Kami berdua akan mencari udara segar juga, aku harap semoga apapun yang kita rencanakan berikutnya dapat membawa sedikit harapan untuk kita semua" 


Kini tinggal aku, Zena dan Ciara lah yang berada di dalam ruangan. Dia masih berdiri diam di tempat dengan kepala terus tertunduk semenjak awal. Kemungkinan besar karena mendengar cerita mengenai diriku dan Zena. Jauh lebih baik dia menyadarinya dengan cepat dibanding nanti ketika perasaannya telah tumbuh lebih jauh. Aku tahu aku terdengar kejam, tetapi akan jauh lebih menyiksa ketika dia terus mempertanyakan kenapa aku tak membalas perasaannya. 


"Ciara-


"Maaf X, aku harus pergi keluar mencari udara segar sama seperti yang lain" Dia berlari keluar sembari menyembunyikan wajahnya. 


Aku ingin berlari mengejar, namun aku tahu itu tak benar. Terutama di posisi kami berdua sekarang, lebih baik aku membiarkannya sendiri. 


Aku berbalik menghadap Zena yang kini duduk di bibir kasur. Dia menepuk tempat kosong di sampingnya, memintaku untuk duduk di sana. Begitu aku duduk di samping, dia menjatuhkan kepala pada pundakku, menghela napas panjang, lalu mengatakan "Xera, apa kita dapat melakukan ini? Karena jujur saja, aku takut. Aku benar-benar ketakutan" Air mata mengalir turun yang aku yakin sudah berusaha kuat dia tahan dari awal. 


Kutarik dia mendekat, membawanya masuk dalam rangkulan di mana dia bisa menumpahkan seluruh isi hati hingga dia merasa tenang. Kubelai pelan rambut tersebut, membiarkan kedua tangannya menarikku begitu kuat hingga sedikit terasa sesak. 


"Shhh.. Tak apa-apa, aku ada di sini. Aku ada bersamamu. Aku takkan ke mana-mana jadi menangislah sampai hatimu merasa tenang, sayangku" 

__ADS_1


Satu hal yang nantinya aku sadari adalah tak hanya Zena seorang diri yang menangis menumpahkan seluruh isi hati, tetapi juga Theora, Ciara, Alvain, putri Yuna, Dragonoid, Angel juga Demon yang masih belum aku ketahui namanya. Bahkan diriku sendiri yang sudah mulai merasakan air menumpuk di pelupuk mata. 


Aku berharap, semoga kami baik-baik saja ke depannya. 


__ADS_2