Archsoul

Archsoul
Part 11


__ADS_3

"Woahh... " Adalah kata pertama yang kami ucapkan ketika berjalan melewati sebuah gua yang tertutup oleh tanaman rambat sehingga sulit untuk ditemukan dari luar jika tak dilihat secara seksama. Gua tersebut gelap, hanya tampak cahaya terang pada ujung jalan seakan sedang melewati sebuah terowongan menuju dunia lain.


Begitu kami sampai di sana dengan mata telah menyesuaikan terhadap terangnya cahaya, kami terdiam di tempat memerhatikan pemandangan yang tak kami sangka selama ini tersembunyi. Sulit untuk menggambarkan perasaan yang kami rasakan, tetapi juga aku dapat memilih satu kata untuk menggambarkannya..


Indah, tempat ini begitu indah.


Air terjun tampak mengalir turun dari atas sebuah tebing curam, jatuh mengisi sebuah kolam besar di mana terdapat beberapa teratai hijau cantik berukuran besar hingga dapat memuat tiga orang di atasnya. Pada tiap teratai tersebut, sebuah bunga teratai indah tumbuh dalam warna ungu cantik, memancarkan cahaya hangat berwarna sama yang membuatku terhipnotis selama beberapa detik sebelum disadarkan oleh seruan elf berambut abu-abu, menunjuk pada sebuah bebatuan indah berwarna putih dengan permukaan tampak seperti sebuah kaca. Pada tiap permukaan tersebut, sebuah cahaya biru dalam pola asing berpijar. Mungkin inilah yang dimaksud oleh Gorg melihat bebatuan tersebut tersusun rapi di atas sebuah batu datar besar.


Saat elf itu mengambil salah satunya, pola biru pada batu berukuran genggaman tangan pria dewasa tersebut semakin menerang hingga kemudian sebuah sinar terbentuk, memancar pada dinding tebing yang mengelilingi tempat ini, menyalakan beberapa pola lain yang tadinya tak berada di sana.


Tak lama kemudian, tumbuhan di sekitar juga ikut mengeluarkan cahaya terang dengan sekumpulan kunang-kunang tiba-tiba datang menghampiri dari luar tebing, terbang ke dalam, membentuk sebuah lingkaran di atas kolam sembari berputar pelan layaknya mereka adalah satu bagian. Tiap teratai di bawah, bergerak mengikuti aliran air yang membawa mereka ke pinggir kolam, membentuk sebuah lingkaran lebih besar yang kemudian memancarkan sinar ungu pada kunang-kunang tersebut.


Di bagian tengah, terbentuk sebuah pusaran air besar dengan sesuatu muncul secara perlahan dari dalamnya. Saat mahluk itu menampakkan diri, kami sama sekali tak dapat membuka mulut, terpana oleh keindahan serta kecantikannya, sesuatu yang tak mungkin dimiliki oleh mahluk hidup biasa.


Sayap hijau transparan berlekuk-lekuk elegan dengan garis silver menghias tiap pinggiran lekukan tersebut, mengepak pelan dalam gerakan lembut yang membuat mata sulit untuk berpaling. Rambut hijau panjang bergelombang, tergerai bebas mengikuti arah tiupan angin yang tercipta, membuat sosoknya makin terlihat penuh keagungan, layaknya seseorang yang memiliki sebuah kuasa besar dan sepasang mata lembut namun tegas itu, menatap kami, lalu menatapku cukup lama hingga membuat jantung berdegup cepat karenanya.


Perlahan, ia datang mendekat, mendarat di atas tanah tanpa menimbulkan sedikitpun suara dan melangkah dengan tatapan mata terus terfokuskan padaku seakan menemukan sesuatu yang begitu menarik perhatiannya, sesuatu yang begitu berharga, sesuatu yang sudah lama dinantikan.

__ADS_1


"Seorang anak manusia.. Jadi itu maksudnya" Ucap dia, menutup mata kembali mengingat sesuatu yang telah lama terjadi "Bolehkah aku tahu alasan kedatanganmu di sini, anak manusia?" Pintanya kepadaku dengan nada lembut seperti seorang ibu, namun juga tegas layaknya seorang ratu.


"Aku- Tidak, kami memohon maaf telah mengganggu waktu peristirahatan anda Yang Mulia, tetapi kami membutuhkan sebuah tempat persembunyian yang- mohon maaf, tidak saya ketahui karena saya hanyalah seorang Mercenary yang disewa oleh mereka" Jawabku layaknya seorang prajurit menghadap pemimpin mereka.


Perempuan itu menoleh pada ketiga elf yang kini juga menundukkan badan, mengangguk mengerti lalu kembali padaku "Kalau begitu, izinkan aku mengganti pertanyaan. Apakah dirimu merasakan sesuatu dan akhirnya memutuskan untuk ikut bersama mereka? Meskipun dari matamu, kau tak dibayar secara adil oleh mereka"


"Mohon maaf Yang Mulia, tapi kami berniat untuk membayarnya ketika semua telah selesai" Ucap Yuna berusaha menjelaskan dengan kepala yang masih tertunduk ke bawah.


"Tapi bukan itulah yang kalian janjikan padanya bukan?" Balas sosok di depanku yang lalu menggeleng pelan "Untuk pertama kalinya, aku melihat elf tak menepati kata-katanya sendiri. Jangan sampai hal ini terulang kembali, mengerti?" Perintahnya.


Aku masih tak tahu sosok di depanku ini siapa, namun yang pasti, dia adalah sosok penting yang memiliki kuasa besar. Tapi, mengapa aku tak pernah mendengar mengenai sosok sepertinya? Bukankah Mercenary memiliki akses ke tiap informasi? Ataukah kami masih kurang dalam menggali?


"Anak manusia, aku sadar kau bingung terhadap situasi sekarang, terutama dengan keadaan Alfheim yang sedang kacau. Oleh karena itu, bolehkah aku menjelaskannya padamu?"


Alvain melangkah maju ingin menolak tawaran tersebut yang langsung dihentikan oleh Yuna, menggenggam tangannya dengan kuat dan menariknya ke belakang untuk kembali ke posisi semula.


Aku mengangguk mengiyakan ketika mereka akhirnya kembali tenang.

__ADS_1


"Baiklah, sesuai permintaanmu" Ia menjentikkan jari, mengirim tiap kunang-kunang untuk terbang menutupi sisi atas tempat ini layaknya sebuah kubah bercahaya kuning hangat dan indah. Tiap teratai juga terangkat dari kolam, berputar pelan ke udara sebelum terbang menghilang dari pandangan melalui bukaan yang diberikan oleh kunang-kunang pada bagian atas sebelum tertutup kembali.


Kalau aku tak salah menebak, dari gaya berputar dan gerak teratai tersebut, sepertinya itu adalah drone versi dunia ini. Drone yang benar-benar jauh berbeda dengan drone kami, tetapi memiliki fungsi yang sama. Yaitu untuk memusnahkan apapun yang mengganggu jalan bekerja sistem.


Aku masih terpukau melihatnya, menyaksikan secara langsung bagaimana dunia lain bekerja dengan berbeda dari dunia sendiri, meskipun telah menghabiskan waktu yang cukup lama pada dunia-dunia berbeda. Aku berterimakasih pada para Codes untuk ini.


Ia menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya dengan panjang sebelum kembali menatap padaku "Bolehkah aku meminta satu hal padamu sebelum aku menceritakannya?"


"Tentu saja Yang Mulia"


"Tolong bukalah tudungmu dan nonaktifkan Face Distortion itu"


Aku terkejut mendengarnya, terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan karena tanpa perlu ku cari tahu, sosok di depanku ini kuat, sangat kuat kemungkinan berada di Tier 9 mendekati 10. Seseorang seperti itu dapat membunuhku hanya dengan sebuah kibasan tangan dan tatapan mata sendu yang tampaknya menyimpan begitu banyak kesedihan itu, membuatku tak mampu menolak.


Kedua tanganku terangkat ke atas, memegang tudung kepala lalu menariknya ke belakang, membiarkan rambut bergelombang platinum blonde tergerai bebas dalam gaya Korean Style yang dulu menjadi sebuah trend. Kemudian, tangan kananku mengarah pada sebuah alat yang terletak di pelipis kanan, sebuah segitiga hitam kecil yang memancarkan Face Distortion ke pada pasangannya di pelipis kiri. Aku berhenti sejenak, mengumpulkan keberanian lalu menekannya.


Sedetik kemudian, dapat kudengar ketiga elf di samping terkesiap tak percaya sementara sosok di depanku tersenyum hangat "Sekarang aku mengerti kenapa kau menyembunyikan wajah itu anak manusia. Wajahmu dapat menarik banyak masalah" Ia tertawa kecil sembari memerhatikan tiga elf dengan wajah semerah tomat, terutama Yuna yang tak hentinya menatap.

__ADS_1


__ADS_2