Archsoul

Archsoul
Part 15


__ADS_3

"Kau.. Siapa?"


"Black Swan" Jawabku, lalu dalam kedipan mata, sudah berada di depan tuan putri, memberikannya sebuah hantaman pada tubuh. Yuna Sang tuan putri ras elf, terlempar jauh ke belakang. Namun, sayangnya itu masih belum cukup untuk menghentikan seseorang di Tier 7 sepertinya.


Ia balas melempar tombak yang melesat cepat dalam kecepatan sama, jatuh menghantam tanah tempatku tadi berpijak dan merubahnya menjadi sebuah kawah besar. Aku berdecak kesal melihatnya, melihat kekuatan sesungguhnya dari Tier 7. Kami, umat manusia, tak mungkin dapat menghadapi sesuatu seperti itu, tidak sekarang. Tapi nanti! Kau akan melihat bagaimana umat manusia bangkit!


Aku balas menerjang, memberinya sebuah tendangan kuat pada lengan yang berusaha melindungi tubuh dan melancarkan sebuah kombo yang bertujuan untuk sedikit melemahkan dirinya. Kombo tersebut berhasil dengan tendangan pada kepala sebagai akhir. Zirah miliknya tampak memiliki retakan, begitu pula pada body parts milikku yang benar-benar akan rusak jika ini diteruskan.


"Tak kusangka, ras rendahan seperti kalian ternyata memiliki seseorang semengerikan dirimu" Dia bangkit berdiri, menggunakan tombak sebagai penyeimbang dari pandangannya yang masih berkunang-kunang "Sayangnya, inilah batas kalian, sedangkan kami.. " Aura hijau besar tiba-tiba meluap dari dalam tubuhnya, memancarkan kekuatan luar biasa hingga membuat tubuhku terasa berat untuk digerakkan seakan sesuatu memaksaku untuk berlutut padanya "Oh? Hebat juga. Kau masih dapat bertahan meski aku telah mengeluarkan kekuatanku, tapi mari kita lihat, sampai kapan kau dapat terus berlagak bahwa kalian adalah ras yang kuat" Kini, giliran dia maju menerjang, menghantam tubuhku dengan kuat menggunakan tombak berkali-kali.


Meskipun telah berusaha menghindar, beberapa serangan masih mengenaiku dan melukaiku dengan serius. Belum lagi dia sengaja menargetkan luka yang kuterima dari rantai para prajurit elite sehingga benar-benar membuatku terpojok dan diakhirinya dengan sebuah tembakan mana yang berhasil membuatku terhempas ke belakang.

__ADS_1


Saat aku berusaha bangkit berdiri, ia melempar tombak tersebut menusuk tangan kiriku, merusak body parts. Sang tuan putri kemudian melompat, mendarat di samping, menggenggam tombak dan menekannya masuk lebih dalam "Apa hanya ini yang ingin dirimu tunjukkan? Cuma segini saja kemampuan kalian, para manusia. Mengecewa-


Sebelum dirinya menyelesaikan kata tersebut, kuangkat tubuh mendekatinya, tak peduli pada tangan kiri yang kini terpisah, tergeletak di atas tanah dan meraih wajah angkuhnya itu, menghantamkannya dengan keras ke tanah "Hanya segini saja kemampuan para elf? Kalian pikir tekad kami selemah kalian? Mengecewakan" Kulempar dirinya ke atas, memberi tubuh tersebut sebuah tendangan keras yang sengaja kuarahkan ke barisan para Mage dengan lingkaran sihir yang sudah akan selesai.


Tuan putri menyadarinya, namun terlambat bertindak dan menghantam kuat barisan, mengacaukan rapalan mereka. Lingkaran sihir di atas seketika gagal, pecah menjadi serpihan-serpihan kecil sebelum menghilang di udara. Sebuah seringai puas terbentuk pada wajah, melihat usaha mereka hancur berantakan namun tuan putri justru tertawa keras, terlalu keras seakan sosok elegan itu telah menghilang seluruhnya.


"Kau pikir hanya itu saja yang kami punya! Akan kuperlihatkan! INILAH KEKUATAN KAMI!"


Dari barisan pasukan elf paling belakang, tak hanya satu, melainkan sebaris lingkaran sihir yang sama muncul, telah dalam bentuk sempurna, siap untuk melancarkan serangan. Tuan putri bangkit berdiri, mengangkat tangan kanan dan dengan sebuah seringai angkuh, ia menyahut "MUSNAHKAN MEREKA!"


Tubuhku terasa lemas, tak berdaya. Aku bukan hanya gagal, tetapi membuat keadaan jauh lebih buruk dibanding sebelumnya. Sang tuan putri tertawa di belakang, langkah kakinya dapat kudengar, perlahan bergerak mendekat sebelum berhenti dengan dentuman tombak pada tanah "Kau lihat? Kau lihat kekuatan kami? Apa kalian masih berani untuk menentang kami? Menghianati kami? Ingatlah ini manusia, kami ras elf takkan pernah memaafkan mereka yang telah menusuk kami dari belakang. Kalian seharusnya bersyukur kami masih ingin bekerja sama dengan ras rendahan tak tau diri. Anggap ini sebagai sebuah pembelajaran"

__ADS_1


Aku mendengus geli mendengarnya, tertawa, sebuah tawa yang kosong tanpa perasaan di dalamnya. Tuan putri menghentikan langkah, berbalik ke arahku dengan wajah penuh tanda tanya "Pembelajaran? Kalian baru saja memusnahkan kami dan seenaknya kalian menganggap ini sebuah pembelajaran? Ras elf yang damai dan adil.. Omong kosong. Hanya memikirkan diri sendiri, bertindak karena ego! DAN MENGANGGAP KALIAN AGUNG KARENA TELAH MEMBERI PEMBELAJARAN!?" Aku bangkit berdiri, berbalik menatapnya "Pembelajaran?" Aku kembali mendengus kasar "Kalian benar-benar membuatku muak. Kalian terlalu mencintai ego kalian sampai tak sadar kalian baru saja dimanfaatkan. Kami tak berniat mengambil Seed of Life, kami bahkan tak tahu itu ada sampai kalian sendirilah yang menyebutkannya sembari membunuh kami tanpa ampun. Tak ingin mendengarkan, tak hanya menutup mata dan telinga, tetapi juga hati. Kalian memang lebih unggul dalam berbagai aspek, tapi jiwa kalian jauh lebih busuk. Rico.. Maafkan aku. Aku gagal.. Lagi"


"Apa maksudmu? Kami telah mengeceknya dan- Hei! KAU! BERHENTI!"


"Setidaknya, biarlah aku membayar dengan ini" Kukerahkan semua energi yang tersisa pada jantung, membuatnya bekerja makin cepat dan cepat sebelum akhirnya tercipta sebuah ledakan besar yang disebut sebagai sebuah bom nuklir.


Aku tentu tahu mereka hanya akan kembali ke tubuh asli mereka di dalam HQ Alfheim, tetapi mereka akan merasakan penderitaan sementara sesuai apa yang dialami di sini dan basis mereka juga telah kami rebut. Aku tahu ini bodoh untuk dilakukan, tetapi ini hanyalah mimpi semata, sesuatu yang terkadang muncul tiap aku tertidur. Aku tak tahu apakah ini karena trauma yang kualami atau hal lain, tetapi setiap kali aku mencoba, aku selalu gagal dan gagal. Segala cara yang kugunakan, tak pernah berhasil seakan telah ditakdirkan seperti itu. Namun, untuk pertama kalinya, tuan putri muncul dalam mimpiku. Aku tak mengerti mengapa, tetapi, kali ini mimpi itu terasa begitu nyata, tak sama seperti sebelumnya yang bagaikan melihat dari balik kabut tebal.


Mataku perlahan terbuka, menatap langit biru cerah yang tersembunyi di balik dedaunan keemasan indah. Sinar mentari tampak masuk dari sela-sela, memberikan kami sebuah kehangatan menenangkan di pagi hari yang baru.


Saat aku duduk di matras sesudah meregangkan tubuh, aku merasakan sebuah tatapan yang semenjak mata terbuka, terus mengarah padaku. Sembari berusaha menyembunyikan rasa kesal, aku melihat ke arah datangnya tatapan itu dan menemukan tuan putri dengan keringat membasahi tubuh. Rasa takut tampak terlihat jelas pada wajahnya, rasa takut yang sudah sering kulihat. Ketakutan yang muncul ketika dirimu dihadapkan pada kematian.

__ADS_1


Kematian.. kematian.. Tunggu!


Mataku melebar ketika menyadarinya. Mungkinkah, mungkinkah tuan putri benar-benar berada di dalam mimpiku? Tetapi, bagaimana bisa?


__ADS_2