Archsoul

Archsoul
Part 41


__ADS_3

Berkat bantuan Z, kami dapat tiba kembali di tempat persembunyian. Entah bagaimana caranya, namun Z melakukan sesuatu sehingga para Mercenary tak dapat melihat kami bahkan ketika kami lewat di depan mereka. Jika tanpa dirinya, aku tak tahu apa yang akan terjadi. Kemungkinan besar kami sudah tak hidup sekarang.


Sesudah membaringkan Alvain dan Theora di atas kasur dalam kamar lantai dua, Z buru-buru mendatangiku yang diperintahnya untuk berbaring telungkup di atas sofa. Ia berhenti sesaat ketika memerhatikan luka di belakang, lalu bergegas berlutut di samping, menciptakan sebuah cahaya ungu terang pada ujung jari telunjuk dan menatapku "Tolong bertahan, ini akan terasa menyakitkan" Pintanya, meremas lengan kananku kemudian mulai memotong baju besi di belakang untuk dapat melihat seberapa parah luka di baliknya.


Tanpa perlu kutanya, aku rasa aku sudah bisa menebaknya melalui Z yang terperanjat, menutup mulut, tak siap melihat pemandangan di depan. Tiga buah lempengan besi masuk menusuk tubuh disertai beberapa luka goresan yang cukup dalam. Dia menghela napas, meneguhkan hati dan mulai bekerja.


Aku tak dapat menghitung, berapa banya diriku menggeram keras berusaha menahan tiap rasa sakit tersebut. Seandainya dua elf di atas masih sadar, mungkin ini takkan terlalu menyakitkan berkat sihir mereka. Namun, setidaknya nyawaku tak lagi dalam bahaya yang justru membuatku khawatir pada Z. Apakah dia takkan terkena masalah? Aku memang tak begitu tahu dengan peraturan mereka, tetapi bukankah mereka dilarang campur tangan?


"Bahkan ketika dirimu terluka parah, kau masih saja mengkhawatirkan orang lain" Ucapnya lemah sembari menutup luka di belakang menggunakan cahaya keunguan yang sama "Maaf, aku tanpa sengaja mendengarmu"


"Apakah kau bisa tak melakukannya? Aku tahu kau sudah turun tangan membantu kami meski dapat membahayakan nyawamu sendiri, tetapi aku merasa tak tenang jika kau terus membaca pikiranku" Jelasku berusaha terdengar baik-baik saja, namun justru terdengar seakan aku berada di ambang kematian, layaknya sebuah bisikan serak dari seorang perokok berat "Maaf, aku tahu aku meminta terlalu banyak-


Z menggeleng, lalu menampilkan sebuah senyuman lembut "Aku mengerti Xera. Tak masalah, aku bisa melakukannya. Aku dapat membuatnya terdengar hanya ketika kau menginginkanku untuk mendengarnya"


Seperti ini?


Codes tersebut mengangguk mengiyakan, duduk di samping dan menurunkan hoodie hitam sekaligus Face Distortion. Senyumnya makin melebar begitu melihat wajahku yang kuyakin tampak berantakan "Kau jauh lebih tampan jika dilihat secara langsung.. "


'Aku merindukan ini Xera, aku merindukan saat-saat kita menghabiskan waktu bersama. Aku.. Merindukanmu'.


Tunggu? Apakah aku baru saja membaca isi pikiran Z??

__ADS_1


"Ada apa? Apakah masih ada yang perlu kuobati ataukah kau merasa tak nyaman atau.. "


"Aku baik-baik saja Z. Tak perlu khawatir. Aku takkan ke mana-mana, lagipula apa yang dapat diriku lakukan di kondisi seperti ini" Candaku berusaha menenangkannya yang tiba-tiba panik sampai berbicara terlalu cepat. Aku masih tak mengerti mengapa seorang Codes bisa jatuh cinta padaku, tapi mendengarnya tadi, aku rasa kami adalah sesuatu di masa lalu yang kembali membuatku bertanya-tanya. Apakah mungkin aku kehilangan ingatan atau semacamnya?


Z masih terduduk diam di sana, membelai pelan rambut putihku dengan tatapan penuh rindu dan tangan kanan yang tak hentinya meremas lengan kananku seakan takut diriku menghilang "Xera.. "


"Hmm?"


"...Aku ingin mengatakan sesuatu, benar-benar ingin mengatakannya padamu. Tapi.. " Kedua mata indah tersebut tertutup rapat oleh dua sisi yang kini saling bertarung dalam dirinya. Aku rasa, Z ingin memberitahukan sesuatu yang begitu penting, namun di saat bersamaan, hal buruk dapat terjadi seandainya kalimat tersebut keluar dari dalam mulutnya.


Melihatnya yang seperti itu, entah mengapa membuat dadaku terasa sesak sehingga tanpa sadar, aku sudah menariknya mendekat, membelai pelan kepalanya dengan pipi kami saling bersentuhan "Aku akan mencari tahunya sendiri Z, tak perlu menambah bebanmu lagi hanya untukku. Kali ini, biarkan aku menanggungnya bersamamu" Ucapku lembut sembari berusaha menghiraukan napas hangatnya pada telinga.


Ia makin mendekatkan diri, menyembunyikan wajahnya pada leherku dengan sebuah "Hm.. " Sebagai balasan yang terdengar begitu penuh perasaan meskipun begitu simpel di saat bersamaan.


Oleh karena itu, mereka berbalik badan, berusaha untuk tak menimbulkan suara sedikitpun saat kembali ke dalam kamar dan menutup pintu secara perlahan layaknya dua anak kecil bangun di jam tiga pagi untuk mengambil cemilan dari kulkas sebelum Theora tiba-tiba berteriak bahagia dan mulutnya dengan cepat di tahan oleh Alvain.


"Kau akan merusak momen mereka!!" Bisiknya geram, berharap semoga kedua merpati di bawah tak mendengarnya.


"Maaf.. " Desis Theora yang lalu tersenyum penuh arti "Jadi kapan bagianmu bersama Yuna?" Dan menerima sebuah hantaman oleh Alvain menggunakan sebuah bantal.


Di saat bersamaan, Z sementara membantu Xera membuka zirah besi hitamnya yang diletakkan di atas meja tepat di samping jaket hitam miliknya. Z mengira dia telah siap untuk kembali melihat sosok laki-lakinya itu tanpa pakaian namun dengan cepat memalingkan muka ketika melihat roti sobeknya. Tetapi, hanya untuk sesaat karena setelahnya dia terdiam oleh bukti nyata betapa keras kehidupan yang telah dilalui oleh Xera. Begitu banyak bekas luka di tubuh tersebut, penuh akan jahitan dan bekas sayatan yang takkan pernah menghilang, menjadi sebuah noda bagi tubuh yang juga telah setengah besi tersebut.

__ADS_1


Z maju mendekat, meraba dada kiri besinya, merasakan betapa dingin dan keras bagian tubuh tersebut, layaknya sebuah mesin, bukan sesuatu yang bernyawa. Lalu perlahan bergerak menyusuri lengan kiri Xera. Kerusakan tampak di sana-sini akibat pertarungan, tetapi yang lebih kontras adalah pada bagian siku, kerusakan yang diterima ketika menghadapi Werebeast sebelumnya.


Z merasa sangat bersalah karena tak memberitahu Xera mengenai Ciara yang telah meracuni minuman mereka karena Z selalu mengawasi dari balik layar. Tugas dia sebagai salah satu dari 'Observator'. Tetapi, dia juga tak dapat berbuat banyak atau nyawa Xera akan berada dalam bahaya jauh lebih besar ketimbang ini karena dia harus menghadapi seorang Codes dan bukan Codes biasa, melainkan salah satu dari petinggi mereka.


Kedua tangannya terkepal kuat menahan amarah sekaligus kekecewaan pada diri sendiri yang seketika menghilang ketika Xera menggenggam kedua tangannya tersebut, membawanya mendekati mulut untuk diberi sebuah ciuman pelan yang berhasil membuat jantung berdegup begitu cepat.


"Bukankah baru saja kukatakan untuk membagi bebanmu?" Ucapku pelan, tak menyangka akan melihat seorang Codes tersipu malu seperti sekarang "Mungkin ini akan terdengar aneh mengingat kita baru saja bertemu, tapi.. Izinkan aku menjadi tempatmu bersandar kali ini. Jika itu terlalu berlebihan, maka anggap saja ini sebagai caraku untuk membalas budi"


"Apa kau yakin? Aku adalah seorang Codes dan kita-


"Apa aku terbata-bata?"


"Kau selalu saja seperti itu"


"Seperti apa-


Z tahu-tahu sudah mengalungkan kedua lengannya di belakang, merangkulku begitu erat yang aku yakin kini dia dapat ikut merasakan degup jantung yang bagaikan sebuah genderang perang. Aku tak mengerti mengapa, tapi bersama dirinya, aku merasa seperti kembali menemukan bagian dari diriku yang telah lama hilang, seolah aku menjadi sempurna. Mungkinkah kami memang memiliki sesuatu sebelumnya?


Kedua tangan Z lalu menjalar naik ke atas, mengalungkannya pada leher dengan tatapan yang tak pernah lepas dari mataku sedetikpun. Senyum kebahagiaan tampak di wajahnya yang baru saja kusadari, tampak begitu cantik dengan hidung mungil dan bibir penuh sehingga hampir membuatnya seperti sebuah boneka hidup. Kami bertatapan cukup lama, lalu dia bersuara "Apa kau menunggu sesuatu?" Rayunya.


Tanpa dapat kukendalikan, senyumku melebar dengan perasaan yang kini berkobar-kobar dalam dada. Sesuatu yang tak kusangka, dapat kurasakan dalam hidup penuh kekacauan ini.

__ADS_1


Kau tahu? Aku tak peduli jika kami memiliki sebuah hubungan atau tidak di masa lalu karena aku akan membuatnya kembali terjadi mulai sekarang.


__ADS_2