
"Tunggu, bukankah kau sudah mati?" Tanya Ciara bingung dengan wajah masih semerah tomat.
Sudah kuduga dia akan menanyakan itu. Dia berada di dalam kerajaan ketika peperangan terjadi. Dia pasti mendengar mengenai seorang M3RC yang mati dan siapa lagi selain diriku yang berada di sana.
Aku tak tahu harus menjawab apa. Aku masih tak bisa memilih untuk mempercayainya sesudah yang terjadi pada kami bertiga. Sebuah keberuntungan racun tersebut bekerja ketika kami berada dalam ruangan bawah tanah. Kalau saja bekerja lebih cepat, mungkin kami sudah tiada.. Tidak, lebih tepatnya Alvain dan Theora lah yang tiada. Sedangkan aku masih dapat kembali hidup. Aku tak ingin Z berada dalam bahaya karena Ciara menyebar hubungan kami berdua. Aku tahu Z meminta itu pada Alvain dan Theora, tapi aku yakin dia tak serius. Kalau tidak, takutnya dia dinonaktifkan kembali.
Ck! Dia berada di mana sebenarnya!? Aku tak bisa kalau tak mendengar informasi mengenai keadaannya. Bagaimana kalau dia kenapa-napa? Bagaimana kalau ternyata sekarang dia dalam bahaya?
AHHH! Aku benar-benar tak suka ini.
"X? Kau tak apa-apa? Kau terlihat berada di tempat lain" Ucapnya mengejutkanku.
Kuhela napas panjang, menggeleng pelan lalu menjawab "Aku baik-baik saja Ciara. Bolehkah aku menanyakan satu hal?"
"Kau ingin menanyakan mengapa aku menyelamatkanmu bukan?" Tebaknya, kemudian tersenyum "Aku juga tak mengerti kenapa. Tubuhku tahu-tahu saja sudah berlari ke arahmu. Jantungku berdetak begitu cepat oleh rasa takut, membayangkan aku tak lagi dapat melihatmu, terlebih sesudah rumor sialan itu beredar.. Aku, entah, aku tak tahu" Jelasnya.
Hmm, apakah mungkin itu alasan dia minum begitu banyak bir? Karena mengira telah kehilangan mantan partner? Aku tahu kami memang dekat dulunya sampai sudah seperti saudara. Tapi, bukankah itu sudah sedikit berlebihan? Terutama sesudah yang terjadi pada kita berdua. Aku meninggalkannya, dia menghianati kami dan aku mematahkan kaki Ciara. Bukankah itu sebuah formula yang pas untuk membuat musuh abadi?
Namun, yang kulihat di wajahnya sekarang bukanlah benci, melainkan bingung dengan sepasang mata yang terus mencuri-curi pandang. Tangan kanannya memegang dada, berusaha mencari sesuatu yang mungkin berada di dalam sana tanpa dirinya sadari. Aku rasa, hanya waktu yang bisa menjawab. Sekarang, bukanlah waktu yang tepat. Kita harus segera menuju kerajaan dark elf sebelum terlambat.
Ngomong-ngomong mengenai kerajaan dark elf, kau mungkin takkan mempercayai ini, tetapi dua mahluk Ancient di depan sedang menuntun kami ke sana. Atau lebih cocok kukatakan, Nightmare itu sementara menuntun sambil berbicara bersama Gorg. Aku tak pernah menyangka mereka bisa berbicara. Aku mengira mereka cuma tahu meraung dan menggeram. Siapa sangka suara mereka seperti seorang perokok berat bercampur bisikan sehingga terdengar cukup mengerikan. Bayangkan saja kau mendengar suara seperti itu di malam hari tanpa siapa-siapa, aku yakin seluruh bulu kudukmu berdiri.
Dan alasan mereka berteman? Keduanya sadar tak satupun dari kita memiliki niat membunuh. Bahkan niat jahat sekalipun tak ada. Keduanya sama-sama hanya berniat melindungi sesuatu sehingga terpaksa bertarung. Kedua ras mereka memang saling bermusuhan. Dulu. Sekarang, mereka sudah tak begitu peduli terutama sesudah jumlah mereka berkurang banyak karena kadar mana yang terus makin menipis. Jauh lebih baik bekerja sama dibanding saling berperang, terlebih ketika sebuah perang besar akan dimulai yang dapat menjadi kehancuran Alfheim.
__ADS_1
Menurut Nightmare, bayangan yang kami lihat sebelumnya hanyalah sebuah ilusi pertahanan kerajaan. Itulah mengapa kami berakhir di depan sebuah jurang besar yang Nightmare sendiri tak tahu isinya apa. Jurang tersebut sudah berada di sana sebelum mereka muncul di dunia dan masih menjadi sebuah misteri. Rumor mengatakan sesuatu sedang tertidur di dalam, tetapi sampai sekarang tak pernah ada tanda-tanda kehidupan.
"Di sanalah kerajaannya, kalian hanya perlu berjalan kaki lurus ke depan dan kalian akan menemukan gerbang utama. Prajurit di sana pasti membukakan pintu gerbang karena kalian sampai dengan selamat tanpa luka, sesuatu yang seharusnya tak terjadi jika aku dan kawan-kawanku berjaga"
Mendengar itu membuatku sedikit merinding membayangkan nasib mereka yang berniat buruk. Satu Nightmare saja sudah membuat kami kewalahan, bagaimana kalau lebih dari satu? Semoga saja mereka diberi kematian cepat. Kalau tidak, mungkin mereka harus menderita untuk sementara.
"Namun, untuk berjaga-jaga, ucapkan saja 'Moonlight'. Seorang elf meminta kata tersebut menjadi kata sandi"
Ah. Tak perlu ditanyakan lagi siapa.
Sesudah mengucapkan perpisahan karena Nightmare harus kembali berjaga, kami berjalan ke depan sesuai arahan. Aku berharap semoga Nightmare itu selamat hingga perang berakhir agar kami dapat berkumpul kembali dan menikmati waktu bersama. Terutama demi Gorg yang sepertinya tampak riang semenjak berbicara pada Nightmare tersebut.. Ah benar. Kami lupa menanyakan namanya.
Begitu sampai di depan gerbang yang membuat bernostalgia ketika datang bersama Alvain, Theora dan tuan putri, dua orang dark elf melompat turun, mengarahkan pedang hitam mereka pada kami dengan ujungnya hanya berjarak beberapa senti saja dari leherku. Mata Gorg berubah merah melihat itu, tetapi aku mengangkat tangan dan menggeleng padanya. Sementara Ciara tetap waspada, membiarkan aku mengambil alih situasi.
Kedua prajurit di depan saling berpandangan, balik pada kami dan mengangguk mengerti. Salah satunya bersiul, memberi tanda bagi yang di dalam untuk membuka gerbang. Di dalam ternyata sudah tampak begitu banyak pasukan dark elf dalam zirah hitam mereka, siap untuk berperang. Mereka menatap kami, bukan sebuah tatapan bersahabat, melainkan tatapan tajam menusuk. Mungkin karena kami terdiri dari seorang M3RC, Forest Guardian dan Werebeast.
Mereka membukakan jalan dengan tangan siap pada gagang pedang seandainya sesuatu terjadi dan terus memerhatikan bahkan ketika kami sudah jauh dari gerbang sampai dapat begitu terasa tatapan-tatapan tersebut pada punggung. Seperti seseorang yang terus mengikuti dari belakang. Untungnya, perasaan tak nyaman tersebut menghilang begitu kami berbelok dan menghela napas panjang. Tak menyadari kalau ternyata semenjak tadi sudah menahannya.
"Apa-apaan mereka? Bukankah mereka seharusnya tahu kita adalah kawan karena menggunakan kata sandi?" Keluh Ciara tersinggung. Dia memang tak begitu suka menjadi pusat perhatian meski tanpa disadari, dia selalu menjadi salah satunya karena penampilan dia yang memang cantik. Hanya tertutupi oleh sifat kasar seorang Werebeast.
"Mereka sebentar lagi berperang Ciara. Tentu mereka akan waspada, terutama pada kita yang berasal dari luar dan bukan salah satu dari mereka" Jelasku pelan pada seorang Werebeast yang kini melipat langan sembari memalingkan wajah.
"Mereka melihat Forest Guardian itu. Apakah kurang cukup sebagai bukti kalau kita bukan lawan?" Balasnya kesal.
__ADS_1
Kuhela napas sambil bertanya-tanya apakah mungkin sekarang adalah 'waktunya' bagi dia? Dia sedikit lebih sensitif dibanding biasanya "Ciara, Forest Guardian adalah pelindung di area elf. Tentu saja mereka lebih curiga lagi. Kita berdua juga adalah kombinasi yang tak begitu baik untuk sekarang. Justru sudah merupakan hal baik mereka mengizinkan kita masuk mengingat aku adalah M3RC dan kau adalah Werebeast"
Ciara akan membuka mulut, memulai sebuah perdebatan. Namun tiba-tiba memilih untuk berhenti, menghela napas panjang dan kembali berjalan menuju istana yang masih cukup jauh di depan.
Awalnya aku ingin memuji, tetapi begitu melihat sekitar, aku paham kenapa dia ingin segera pergi. Entah sudah berapa banyak pasang mata melihat ke mari. Aku yakin ini akan menjadi sebuah pembicaraan yang beredar dengan cepat. Terlebih ketika beberapa sudah saling berbisik sembari melayangkan tatapan curiga pada kami. Aku tak menyalahkan mereka, tetapi tetap saja rasanya sedikit mengesalkan terutama saat menyadari kalau kau adalah salah satu yang menyelamatkan kerajaan mereka dari kehancuran.
Kalau saja Theora ada di sini, dia mungkin sudah menyahut kalau kami sama sekali tak memiliki niat buruk dan hanya ingin membantu. Dengan sifatnya riang serta mudah senyum itu, aku yakin bukan sebuah masalah besar untuk membuat para penduduk dark elf mengerti. Tetapi dengan hanya diriku dan Ciara? Lebih baik berharap sebuah pertarungan terjadi. Kami berdua bukanlah orang yang tepat untuk tugas semacam itu.
Di dalam istana, Alvain, Theora, putri Yuna dan Antra sementara duduk mengitari sebuah meja di mana terdapat peta tiga dimensi kerajaan dark elf yang berbeda dari butiran cahaya keemasan milik Theora. Peta ini terbentuk dari butiran cahaya abu-abu, sehingga terlihat lebih redup namun lebih mudah untuk dimengerti ketimbang warna keemasan tersebut.
Mereka sedang merencanakan pertahanan kerajaan dark elf untuk menghadapi perang yang diperkirakan akan terjadi dalam dua hari. Seluruh persiapan telah selesai, tinggal mengatur mereka dengan efisien agar dapat bekerja dengan sempurna menghadapi pasukan gabungan tak hanya dari elf dan Mercenary yang sudah sekuat elf, tetapi juga dari ras Werebeast, Dwarf, Vamp, Ghoul, Orc, Angel dan Demon. Hampir separuh dari ras yang berada dalam Archsoul ikut serta.
"Jujur saja, ini merupakan sebuah misi bunuh diri" Ucap Alvain sembari melihat peta di depan. Dia memang mengatakan itu, tetapi dalam suaranya tak terdengar kata menyerah. Justru dia terdengar bersemangat "Namun, karena ini adalah hal yang benar untuk dilakukan, maka kita akan melakukannya. Ini adalah terakhir kali aku menanyakan, apakah kalian yakin? Tak apa-apa jika kalian ingin keluar dan melarikan diri. Aku mengerti. Tak satupun dari kita siap menghadapi kematian"
"Kau bercanda? Sesudah apa yang kita alami hingga sekarang? Ini kecil bagiku" Seru Theora tak kalah bersemangatnya, membuat suasana tegang dalam ruangan seketika berubah cerah seolah sinar mentari baru saja masuk menyinari, memberi mereka sebuah harapan.
Antra menggeleng dengan sebuah seringai tampak di wajah "Ini adalah rumahku, tempat tinggalku. Aku tentu bertanggung jawab untuk melindunginya dan kami para dark elf juga takkan mundur. Apapun yang terjadi, kami siap menghadapinya bersama. Lagipula, kami memiliki kalian. Kalian masih hidup sesudah melawan Druid, Druid! Aku tahu kalian kalah, tapi bukan berarti kedua kalinya akan berakhir sama kan?"
"Tentu saja! Kami pasti memberinya pelajaran kali ini" Balas Theora mantap.
"Aku.. Akan mengikuti ke manapun Alvain pergi. Jadi, selama Alvain memimpin perang ini, maka aku akan berdiri di samping, memberinya dukungan. Sekaligus sebagai tuan putri ras elf, aku harus memberitahu kalau yang mereka lakukan salah dan Qeina bukanlah seseorang yang dapat dipercaya hanya karena dia seorang Druid. Aku tak dapat turun tangan langsung di sana karena kerajaan kini dipegang olehnya, tapi begitu kami bertemu di medan perang, aku yakin ras elf mengerti betapa busuknya Druid tersebut"
Dengan begitu, Alvain mengangguk mengerti. Dia bangkit berdiri, mengatakan "Mulai hari ini, kita akan berperang melawan Qeina Sang Druid"
__ADS_1