Archsoul

Archsoul
Part 21


__ADS_3

Dibarengi batu bara yang memercik, Theora bercerita dengan penuh penghayatan hingga membawaku masuk dan ikut merasakannya. Ia juga menggunakan sihir sebagai bantuan visual untuk membentuk karakter-karakter dalam cerita, terbentuk dari ribuan partikel cahaya mungil, membentuk sosok Alvain yang kini sedang bersembunyi di balik sebuah rak buku sembari memerhatikan tuan putri yang tak jauh di depan dalam warna emas sesuai warna sihir milik Theora.


"Tak pernah terpikirkan padaku kalau seseorang seperti Alvain bakalan bertingkah seperti ini"


Sebuah tawa terlepas dari mulut Theora mendengar ucapanku itu, memainkan jarinya, menggerakkan tuan putri mini yang kini berjalan mendekati Alvain dan layaknya seorang Alvain, ia bergegas berpura-pura membaca sebuah buku. Putri Yuna muncul di samping, melambai padanya dan berjalan mendekat membalik buku tersebut. Sesudah bergerak layaknya orang tertawa, putri Yuna melambai untuk ikut dengannya bergabung bersama yang lain, namun Alvain pergi begitu saja tanpa berbalik.


"Alvain selalu merasa kalau dirinya tidak pantas untuk menjadi pendamping tuan putri, sementara putri Yuna tak pernah berpikir seperti itu sama sekali dan terus berusaha membuka matanya, membuat dia sadar bahwa Alvain tak perlu melakukan apapun, cukup berada di sampingnya saja"


Saat Theora mengatakan itu, model mini di depan menghilang, tergantikan oleh model mini yang sekarang tampak dewasa. Berkali-kali putri Yuna datang pada Alvain, berusaha melakukan sesuatu yang diharap dapat membuat Alvain setidaknya memperhatikan dia. Tetapi, sama seperti saat mereka kecil, Alvain hanya akan pergi tanpa bereaksi sedikitpun cuma untuk menangis di malam hari ketika sedang membaca buku.


"Dari mana kau tahu dia menangis?" Tanyaku.


"Setiap pagi, matanya bengkak. Di saat itulah aku mengerti kalau mereka berdua saling mencintai, tetapi karena status dan harga diri, mereka justru saling menghancurkan satu sama lain"


Adegan kembali berubah, kali ini menunjukkan mereka berdua berada di atas sebuah balkoni dengan seorang laki-laki lain "Aku masih mengingat jelas memori ini, sesuatu yang kalau bisa, kuharap tak terjadi. Saat itu adalah hari ulang tahun tuan putri yang ke-170, hari di mana mereka berdua akhirnya lepas kendali dan bertengkar meluapkan isi hati. Semuanya karena sosok laki-laki ini, sosok yang cukup menyebalkan, mengajak putri Yuna berdansa bersama. Jika kau menganggap ras elf angkuh, maka dia berada di atasnya. Dia adalah putra dari salah satu dewan, sehingga memiliki kedudukan yang sama seperti Alvain, tetapi dia berlagak seakan-akan dia seorang raja, berlaku seenaknya tanpa memedulikan orang lain hingga akhirnya dia di buang oleh kami, di usir pergi dari kerajaan karena sifat buruknya itu"

__ADS_1


"Pada saat inilah hubungan Yuna dan Alvain berantakan. Dengan tangis menghias wajah masing-masing, mereka saling berteriak pada satu sama lain sampai keesokan harinya mereka benar-benar seperti dua orang asing, bukan teman masa kecil. Di pagi itu, Alvain ingin meminta maaf, namun tentu saja karena dia Alvain, dia mengurungkan niat sementara tuan putri tak lagi mengharapkan apa-apa meski jauh di dalam hati, keduanya masih saling mencintai"


Partikel-partikel cahaya itu bergabung, membentuk dua orang yang kini berjalan dari arah berlawanan dan lewat begitu saja seakan mereka adalah dua orang di tengah jalan yang tak saling mengenal, tak memiliki memori maupun kenangan, asing tanpa sebuah perasaan.


Theora menarik kembali sihirnya tersebut, menghela napas dan bersandar pada kedua tangan yang lurus di belakang, berpijak pada tanah sebagai tumpuan "Itulah yang akan kau dapatkan karena tak jujur pada perasaan sendiri. Sama seperti Alvain yang menyukai dongeng dan semacamnya, tetapi berlagak tak suka untuk tampil dewasa di hadapan putri Yuna. Sudah kukatakan, imajinasi adalah segalanya"


"Apa hubungannya ini dengan imaninasi?"


Elf tersebut kembali menghembuskan napas panjang, menatapku tak percaya "Kau juga tak paham? Kalau saja dia mengisi kepalanya dengan imajinasi positif mengenai putri Yuna, dia akan merasa lebih berani dan percaya diri sehingga hal seperti ini takkan terjadi" Jelasnya seakan itu adalah hal yang sudah umum dan diketahui banyak orang.


Theora menyeringai dan menjentikkan jarinya padaku "Tepat sekali! Berlagak menjadi dewasa dengan membaca buku-buku pengetahuan sementara yang disukainya adalah dongeng. Itulah Alvain teman kita yang terhormat" Serunya bangga aku berhasil menebaknya.


Tak dapat menahan tawa, kami tertawa bersama mendengar hal absurd yang sekaligus menggemaskan itu. Mengingat kembali bagaimana Alvain bertindak dan bertingkah, bisa kau bayangkan? Seseorang yang begitu dingin dan angkuh ternyata menyukai hal-hal lucu. Aku benar-benar tak menyangka akan bertemu seseorang seperti itu yang kukira hanya ada di balik layar saja.


Dark elf muda terbangun, mengusap matanya sembari melihat sekitar dengan mata sayu setengah sadar, lalu menatapku dengan wajah polos menggemaskannya "Kita berada di mana?" Tanyanya bingung.

__ADS_1


"Kita sudah dekat dengan rumahmu, tidurlah kembali, akan kubangunkan jika hari telah pagi" Jawabku pelan sembari membelai lembut kepalanya, membiarkan ia kembali ke dunia mimpi dengan tenang.


"Aku masih tak percaya kau bisa menarik hati anak-anak, terlebih membuat mereka merasa aman dan nyaman berada di dekatmu. Bagaimana kau melakukannya?"


"Aku.. Memiliki seorang adik"


Theora tersenyum ketika sadar aku takkan bicara lebih lanjut. Dia bangkit berdiri, membersihkan celana panjangnya "Aku akan melihat keadaan dua orang itu. Kita tak ingin menjalankan misi dengan empat pasang mata bengkak bukan?" Candanya, lalu berjalan keluar, meninggalkanku sendiri bersama dark elf muda yang sudah kembali tertidur lelap.


Melihatnya yang tampak begitu tenang, begitu damai, tanpa sadar membuat tanganku kembali mengusap-usap pelan rambut putihnya, terlihat kontras dari warna kulit abu-abu kebiruan mereka. Seandainya saja Ja- Tidak, lupakan saja. Itu adalah masa lalu X, kau sudah berjanji padanya untuk terus melangkah ke depan.


Tapi.. Seandainya dia berada di sini, mereka mungkin dapat menjadi teman baik. Mungkinkah mereka akan jatuh cinta begitu mereka besar?


Sebuah tawa kecil keluar karenanya, membayangkan adikku itu dapat jatuh cinta, sementara yang ada dalam pikirannya hanyalah game dan game. Mana mungkin dia bisa menemukan seseorang.


Kuhela napas panjang, menguatkan hati yang hampir saja pecah kembali "Seandainya saja aku dapat memutar waktu... Kuatkan dirimu X, aku tahu kau bisa. Tidak, kau harus" Ucapku tegas pada diri sendiri, mengubur kembali perasaan yang hampir saja naik ke permukaan, sadar kalau itu terjadi, aku mungkin takkan dapat berdiri kembali.

__ADS_1


__ADS_2