
"Jadi kau takkan melakukan apa-apa?" Tanya Z.
Memangnnya aku harus melakukan apa? Mereka dapat membunuhku dengan mudah. Aku tak memiliki Glory sekarang.
"Inilah kenapa Zhao Feng ingin kau belajar menggunakan kekuatan lain. Kau sudah terlalu tergantung terhadap Glory, Zent"
Zent hanya menghela napas sembari memerhatikan dirinya sementara di bawa menjauh dari lembah, melewati pepohonan tinggi dan sebuah lapangan rumput yang begitu luas.
Angin berhembus, di saat bersamaan dengan matahari mulai terbit, memberi mereka kehangatan dari cahaya oranye indah.
Ditutupnya mata, menikmati perasaan nyaman yang sudah cukup lama tak dirinya rasakan semenjak perang besar dimulai. Di mana tiap pagi, dia harus berlari dan berlari, menyelamatkan orang-orang sembari melindungi teman-temannya.
Dia tak ingin hal yang sama kembali terjadi. Tidak untuk kedua kalinya.
Cukup sekali saja dia kehilangan seorang kawan seperjuangan.
"Ada apa denganmu? Kalau aku boleh bertanya" Tanya Atraz yang sudah memerhatikan laki-laki di dalam kurungan mereka.
Raut wajah tersebut adalah raut wajah dari seseorang yang telah melihat neraka kehidupan. Seseorang yang benar-benar berada di dalam medan peperangan, telah melihat berbagai macam hal mengerikan hingga jiwa mereka sudah tak lagi sama. Tertinggal dalam peperangan.
"Ada apa denganku?" Tanya Zent bingung.
Tiap pasang mata melihat ke arah mereka, penasaran terhadap pembicaraan mereka.
"Tatapanmu, ras ku mengatakan, tatapan seperti itu adalah tatapan dari mereka yang telah kehilangan semuanya. Telah melihat bagaimana medan perang yang sebenarnya, kehilangan sesuatu yang begitu berharga, tetapi entah apa" Jelas Atraz.
"Wah! Aku tak menyangka kau bisa..
Zent tak mendengar sisanya.
Ia di bawa kembali oleh ingatan saat, satu persatu orang yang dia kenal mati hanya untuk menyelamatkannya. Dia yang adalah pemegang Glory, diselamatkan oleh orang lain.
Menyedihkan.
Masih dapat terbayang jelas bagaimana mereka mati di depan mata. Masih dapat terdengar jelas tiap perkataan mereka yang memintanya untuk tak pernah menyerah dan terus melangkah, terus berusaha.
Tiap perkataan tersebutlah yang membuatnya mampu bertahan.
Tanpa mereka, mungkin dia telah mengambil nyawa sendiri untuk semua yang telah terjadi. Hanya untuk memutar waktu, menyelamatkan mereka semua.
"Kalau kau bertanya aku kenapa.. Aku baik-baik saja" Jawabnya pelan "Tapi, itu hanyalah mulutku yang menjawab, bukan hatiku. Kalau kau sudah tahu alasan tatapanku kosong, seharusnya kau sudah bisa menebak apa yang terjadi"
"Mungkin saja kau ingin menceritakannya pada seseorang, tetapi menahan diri karena tahu itu hanya akan memberatkan orang lain. Karena kami berasal dari dimensi lain, aku rasa tak ada salahnya untuk mengatakannya pada kami. Jika kau ingin tentunya"
Zent terkejut mendengar laki-laki berbadan kekar tersebut mengatakan sesuatu yang dirinya harap dapat dikatakan oleh seseorang di dimensinya.
__ADS_1
Dia tahu dia tak bisa banyak memintanya, terutama sesudah dunia berubah menjadi sebuah neraka hidup. Dia hanya bisa diam menutup mulut, mengubur semuanya dengan dalam agar tak satupun keluar dan mengganggu hati yang telah memiliki begitu banyak luka.
"Kalau kau memaksa, tentu saja aku akan menceritakannya. Aku tak tega melihatmu menderita karena rasa penasaran" Canda Zent riang.
Dia memerhatikan langit yang kini perlahan-lahan mulai menerang dengan setengah dari matahari mulai menampakkan diri.
Dihembuskannya napas panjang, mempersiapkan diri untuk membuka hati yang telah terlindungi oleh dinding es tebal.
Namun, dia tak membuka semuanya, hanya sebagian kecil. Sebagian kecil yang sudah terasa begitu perih hingga air mata akan mengalir keluar.
"Bagaimana mengatakannya ya? Aku tak ingin membuat kalian merasa tak nyaman ketika kalian sendiri sementara berada dalam situasi genting"
"Tak apa-apa. Kami juga lebih memilih untuk mengenalmu sebelum kita bekerja sama" Tukas Alvain.
"Sifatmu sama seperti Zhao Feng"
Zent menghela napas sekali lagi.
"Baiklah, jika kalian benar-benar ingin mendengarnya. Tapi, apa kalian yakin-
"AHHH! Kau terlalu lama! Berhenti membuat kami makin penasaran!"
Tawa Zent keluar mendengarnya, mengingatkan dia akan salah satu anggota kru "Kau mirip seperti Armon!"
"Kalau ingin dibandingkan, bagiku, dunia ini masih lebih tenang. Di sini, aku masih dapat merasakan bagaimana nikmatnya udara pagi dan siraman hangat dari cahaya matahari. Di sana, aku hanya bisa menghirup asap dan dihujani oleh sihir serta panah.
Di mana pun kau berjalan, kau akan menemukan tubuh-tubuh tak bernyawa bergeletakan begitu saja. Di mana pun kau berjalan, kau akan melihat anak-anak berusaha bertahan hidup tanpa orang tua. Di mana pun kau berjalan, kehancuran akan selalu menemani.
Tak ada ketenangan. Tak ada kehangatan.
Semuanya terasa begitu.. Aku tak tahu harus mengatakannya seperti apa.
Neraka?
Aku yakin neraka masih jauh lebih nyaman ketimbang dunia tersebut. Dunia yang awalnya begitu indah, penuh akan warna, seketika berubah menakutkan bagai sebuah mimpi buruk yang menjadi kenyataan.
Tak ada lagi warna, tampak kelabu dan hampa.
Sudah terlalu banyak nyawa terbuang. Terlalu banyak pengorbanan.
Entah sudah berapa banyak orang yang kukenal di sana, tak lagi dapat kudengar suaranya. Hanya sebagai sebuah kenangan indah yang sekaligus terasa begitu perih.
Kalau bisa, aku ingin memutar waktu, menyelamatkan mereka semua dari takdir kejam. Sayangnya, sekeras apapun aku mencoba, aku takkan pernah bisa menyelamatkan mereka. Aku takkan bisa memutar waktu.
Yang dapat kulakukan hanyalah datang ke pemakaman, duduk di sana menghabiskan waktu untuk bercerita. Jika aku memiliki waktu. Yang sekarang sudah tak lagi kumiliki.
__ADS_1
Mereka membutuhkanku untuk melanjutkan tugas, melanjutkan takdir demi menyelamatkan dimensi ku dari mahluk yang kurasa juga sama dengan kalian.
Tapi bukankah begitulah hidup?
Ada yang datang dan ada yang pergi.
Kita tak bisa begitu saja melupakan tujuan hanya karena sebuah halangan. Kita harus terus melangkah maju.
Kalau tak mampu melakukannya, anggap saja membayar pengorbanan mereka. Pengorbanan yang terjadi karena kebodohanku sebagai seorang pemimpin. Terlalu meremehkan sesuatu. Hingga anggotanya kehilangan nyawa.
Bodoh bukan?"
Zent tertawa. Sebuah tawa kosong yang terdengar begitu perih hingga membuat suasana terasa mencekam meski mereka kini berada di bawah sinar mentari hangat yang seharusnya terasa begitu nyaman.
Namun, mereka justru merasa hampa.
"Aku rasa, itulah yang membuat mataku berubah menjadi seperti sekarang. Kalau bisa, aku ingin menutupnya, tak merasakan apa-apa. Hanya terbaring diam, melayang di alam mimpi tanpa perlu merasa terganggu oleh apapun.
Hanya melayang di dalam kegelapan, membiarkan jiwaku merasa jauh lebih tenang. Tenang tanpa gangguan. Tidur selamanya, sehingga aku tak perlu lagi merasakan rasa sakit tersebut.
Kurang lebih seperti itulah. Maaf sudah membuat pagi kalian terasa buruk, tapi aku sudah memperingatkan kalian sebelumnnya"
Tak satupun membuka mulut, tak tahu harus mengatakan apa terhadap sesuatu yang terasa begitu berat hingga tiap langkah mereka bagaikan mengangkat sebuah beban.
"Aku..
"Tak perlu meminta maaf. Jujur saja, aku juga membutuhkannya, butuh untuk sedikit mengeluarkan ini. Jadi, terima kasih" Ucap Zent dengan sebuah senyum ramah.
Mereka tentu terkejut melihatnya, tak menyangka kalau sosok yang sedikit berwajah angkuh itu ternyata memiliki sisi seperti ini di dalam dirinya, di mana dia terlihat benar-benar seperti seseorang yang berbeda.
Perjalanan kembali dilanjutkan, kali ini giliran Zent yang menanyakan begitu banyak pada mereka mengenai dunia tempat mereka berada.
Dia terkejut ketika mendengar dunia ini hanya untuk para jiwa saja dan bukannya tubuh asli. Dia mengira dirinya telah berada di surga para pejuang, seperti Valhalla.
Namun, saat mendengar penjelasan lebih lanjut, dia akhirnya mengerti.
"Untung saja aku berada di sini. Jika dari penjelasanmu tadi, seandainya saja aku muncul di dunia kalian, aku tak dapat membayangkan kehancuran yang dapat terjadi" Tukasnya.
"Yah, bisa dibilang kami termasuk beruntung" Balas Alvain "Kita telah sampai"
Zent melihat sekitar, bingung karena mereka hanya berada di sebuah dataran luas tanpa ada bangunan. Bahkan tenda sekalipun tidak ada.
Tapi, saat dia di bawa masuk ke dalam, matanya melebar tanpa dapat berkedip. Tak menyangka akan merasakan sesuatu yang hanya ada dalam film.
Dia berjanji pada diri sendiri, dia harus mempelajari ini nantinya untuk digunakan ketika telah kembali.
__ADS_1