Archsoul

Archsoul
Part 42


__ADS_3

"Alvain, apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanyaku padanya sesudah Z pergi sehabis memperbaiki zirah besi dan tangan kiri hanya dalam dua menit yang semenjak kemunculannya tadi terus tersenyum bersama Theora sambil mencuri-curi pandang seakan aku tak dapat menyadarinya.


Mereka sudah pasti melihat kami berdua. Kalau tidak, apalagi yang dapat menjelaskan wajah seperti lobster rebus tersebut? "Dengar, kita memiliki hal yang jauh lebih penting yang harus segera kita selesaikan. Demi Alfheim bukan?" Desakku, namun hanya membuat mereka mengangguk-angguk sembari saling menyenggol menggunakan sikut.


Alvain berdeham beberapa kali, berusaha mempertahankan pesona seriusnya meski aku tahu dia sangat ingin tertawa sekarang "Jadi.. EHEM!"


Apa-apaan..


"Kita akan menemui para bangsawan yang sebelumnya sudah setuju akan memberikan bantuan begitu bukti diberikan" Lanjutnya, kali ini tampak lebih serius meski niat tertawa itu masih membuat sudut bibirnya berkedut-kedut "Namun, agar aman, kita harus..


"Pfft.. " Buru-buru Theora menepuk mulut, memperbaiki posisi tubuh dan mengucapkan "Maaf, silahkan lanjut" Yang justru memancing seringai Alvain untuk terbentuk sampai dia harus mengerahkan seluruhnya agar seringai tersebut tak berubah menjadi sebuah tawa.


"Namun.. " Ulangnya "Agar lebih aman, kita akan mengunjungi tiga bangsawan elf bersama dibanding sendirian karena seperti yang sudah kita lihat, Mercenary mampu memukul mundur kita, terlebih X adalah M3RC sehingga tak mungkin baginya untuk masuk dalam mansion bangsawan seorang diri dan Theora terkenal sebagai biang kerok. Kemungkinan, kini telah terjadi masalah dengan prajurit elf karena keributan serta kekacauan yang mereka timbulkan. Tetapi, mengenal ayahku, dia pasti dapat membuat para prajurit mengambil sisinya, jadi kita harus bergerak cepat sebelum itu terjadi atau semakin kecil kemungkinan untuk menang menghadapi Mercenary " Jelasnya.


"Hmmm, namun apakah menurutmu bukti ini kurang kuat untuk dapat membuat mereka bergerak menghadapi Mercenary? Bagaimana kalau ternyata ras kita menyetujuinya karena tak ingin repot?" Tanya Theora ragu.


Alvain menoleh pada sahabatnya itu dengan raut wajah tampak tersinggung "Jadi maksudmu, kita lebih memilih untuk bermalas-malasan?" Ia menggeleng "Itu tak mungkin. Meskipun ini sedikit ironis keluar dari mulut seorang elf, tapi ras kita memiliki harga diri yang terlalu tinggi sampai mereka lebih memilih untuk repot ketimbang tampak seperti ras yang tak berguna. Itulah kenapa aku yakin ini pasti berhasil, terlebih, para Mercenary baru saja membuat kekacauan dan penduduk kerajaan tak mungkin diam saja. Apalagi pelakunya adalah manusia yang pada dasarnya.. " Alvain menoleh padaku, memutuskan untuk tak melanjutkan perkataan demi menghormati diriku yang adalah ras manusia.


"Terima kasih" Kataku singkat.

__ADS_1


Alvain mengangguk "Tapi, itu jugalah yang kini menjadi pertanyaan. Jika ayahku ingin menarik hati penduduk kerajaan, mengapa ia membiarkan Mercenary membuat kekacauan? Aku sama sekali tak dapat menemukan jawabannya dan membuatku merasa ada yang hilang, kepingan terakhir dari susunan teka-teki ini"


Theora melangkah mendekat, menepuk pundak Sang sahabat untuk memberinya dukungan batin "Tenang saja, apapun itu kita bertiga pasti bisa menanganinya. Namun, apakah kau tak apa-apa? Maksudku, ayahmu.. "


Helaan napas khasnya kembali keluar, terdengar begitu lelah oleh semua yang terjadi hingga sekarang "Aku tahu. Tapi, aku tak dapat membiarkan perasaan pribadi mengambil alih. Tujuan kita adalah menyelamatkan Alfheim dan jika ayahku adalah salah satu akar masalah, maka itu jugalah yang harus dicabut" Alvain diam sejenak, kembali mengingat sosok Sang ayah di ruangan Miracle Nectar.


Meskipun mereka tak begitu dekat, Alvain tahu dan mengenal sepasang mata hijau tersebut. Namun, yang dilihatnya sama sekali bukanlah warna hijau cerah indah layaknya sebuah zamrud, melainkan warna hijau pucat, terasa hampa tanpa kehidupan. Alvain sadar dia tak memiliki bukti, tapi dia percaya kalau ayahnya sedang dikendalikan oleh seseorang ataupun sesuatu, sementara para elf tak memiliki sihir gelap seperti itu, begitupun dark elf.


Ia buru-buru menggelengkan kepala, berusaha untuk kembali fokus pada masalah utama "Yang dapat kukatakan pada kalian saat ini adalah aku yakin ayahku dikendalikan. Namun, itu masalah nanti. Sekarang kita harus bergegas menuju mansion milik keluarga Fayheart dan berharap semoga mereka memberikan bantuan- tidak, aku yakin mereka pasti memberikan bantuan" Alvain bangkit berdiri, berjalan menuju pintu namun menghentikan langkahnya ketika aku menghadang di depan "X, apa yang kau lakukan?"


"Bukankah kalian baru saja diracuni?" Tanyaku khawatir.


Tak hanya dapat menggunakan sihir, tetapi juga menetralisir racun tanpa perlu melalui usaha keras dan panjang melalui berbagai macam penelitian. Betapa beruntungnya lahir menjadi salah satu dari mereka.


"Alvain, bagaimana dengan Ciara?" Tanyaku lagi, meskipun sebenarnya aku tahu Ciara takkan bermacam-macam untuk sementara mengingat kondisi kakinya. Tapi, tak butuh waktu lama bagi Werebeast untuk menyembuhkan tubuh mereka berkat kemampuan regenerasi cepat ras tersebut.


"Ada apa dengannya?" Balas Alvain geram dengan sepasang mata setajam silet "Aku tak peduli apa yang terjadi pada seorang penghianat dan jika dia datang kembali, maka biarkanlah. Kita tinggal memberinya pelajaran untuk tak lagi mencari masalah" Jawabnya ketus yang lalu segera menyesali perbuatannya itu "Maaf, tak seharusnya aku melampiaskannya padamu"


Aku menggeleng "Tak apa-apa" Jawabku.

__ADS_1


Kami meneruskan perjalanan sembari menghindari para prajurit serta Mercenary yang seenaknya berkeliaran sesudah membuat kekacauan. Beberapa penduduk elf tampak di luar rumah mereka karena keributan sebelumnya, merasa was-was oleh kehadiran Mercenary yang begitu banyak tetapi tak merasa takut karena mereka tahu manusia takkan pernah bisa mengalahkan elf yang kami harap semoga tak terjadi ssbuah masalah atau untuk pertama kalinya, ras elf akan merasakan keputusasaan oleh para manusia.


Diriku yang dulu mungkin menginginkan hal tersebut, tetapi sekarang.. Aku tak tahu. Di satu sisi aku merasa bangga karena pada akhirnya umat manusia dapat bangkit dari keterpurukan. Tetapi, di saat bersamaan, aku khawatir mereka akan menggunakan ini untuk membalas dendam dan pada akhirnya kebencian di antara kedua ras makin membesar hingga perang kembali terjadi, perang yang sama seperti sebelumnya. Cukup hanya sekali saja kami merasakan hal tersebut, tak perlu membuat elf ikut merasakan penderitaan yang sama. Oleh karena itu, semoga kami dapat menyelesaikannya dengan cepat sebelum terlambat.


Perjalanan menuju mansion keluarga Fayheart membutuhkan waktu sedikit lebih lama dari yang diperkirakan karena sempat terjadi keributan antara Mercenary dan beberapa warga elf. Kami berjaga-jaga di sana seandainya keributan tersebut berubah menjadi sebuah pertarungan yang dapat membuat kekacauan besar. Untungnya, Mercenary memilih untuk mundur ketika prajurit elf datang menengahi. Tampaknya, trauma dari masa lalu masih belum menghilang, sehingga mereka memilih untuk mundur oleh rasa takut tanpa adanya pertikaian.


Kami dapat menarik napas lega karenanya. Namun, mempercepat pergerakan karena kami tak tahu sampai kapan para Mercenary menahan diri. Hanya membutuhkan satu kesalahan kecil saja untuk kerajaan yang masih damai ini, berubah menjadi medan peperangan.


Begitu tiba di depan sebuah mansion besar berwarna putih, dua orang ksatria maju mendekat, memberi hormat pada Alvain dan juga Theora, lalu menatap tajam padaku dengan tangan siap di gagang pedang "Tolong lepaskan tangan kalian, dia adalah seseorang yang ku sewa" Kata Alvain membuat kedua elf di depan merasa curiga "Jauh lebih baik membuat mereka bertarung satu sama lain dibanding ras kita yang melakukannya bukan?"


Tampaknya pernyataan tersebut menambahkan rasa hormat mereka pada Alvain dan segera membuka pintu pagar. Tentunya tak lupa menendang diriku hingga terjatuh ke tanah. Theora berbalik akan maju menerjang mereka yang untungnya dihentikan oleh Alvain dengan cengkraman kuat pada lengan kanan dan tatapan tajam yang seolah berkata 'Tahan dirimu!'. Theora menarik keluar gagang pedang, mengarahkan ujung senjata tersebut tepat pada leherku sembari berkata "Sekarang kau ingat di mana tempatmu berada bukan? Di tanah, bersama para cacing. Camkan itu baik-baik, kau manusia rendahan!"


Kami semua terdiam di tempat melihat sikapnya yang berubah drastis, seakan menjadi sosok yang benar-benar berbeda. Bahkan mulut Alvain sampai terbuka setengah, tak menyangka sahabatnya itu memiliki sisi tersebut dalam dirinya.


Theora melangkah pergi meninggalkan kami, menyarungkan kembali pedang dan menyahut "Apa kau hanya akan diam di sana mahluk rendahan!" Dengan begitu kasar, sampai aku merasa dia benar-benar memiliki dendam kesumat padaku.


Namun, saat kami menyusulnya dan akan mengatakan sesuatu. Sepasang mata biru tersebut sudah berair. Mulutnya gemetar menahan isak tangis yang sedikit lagi akan keluar membuat Alvain kembali melakukan helaan napas khasnya.


"Sudah kuduga"

__ADS_1


__ADS_2