
Mereka datang menyerang, memborbardir kerajaan dark elf dengan senjata manusia pemberian para Rebels. Kami yang tadinya tertidur, seketika bangkit dari kasur, bergegas menuju dinding di mana dapat terlihat sekelompok Mercenary menembakkan mortar tepat di luar area dark elf. Ledakan-ledakan dari mortar tersebut memang tak begitu berarti bagi kami, tetapi bagi para dark elf, serangan yang telah diberi tambahan kekuatan oleh Rebels tersebut membuat dark elf seolah menjadi manusia biasa di hadapan mortar.
Bangunan-bangunan hancur di belakang, serpihan-serpihan kayu terbang di udara dengan asap sudah mulai mengepul. Getaran-getaran kuat tercipta, mengguncang kerajaan dan membangunkan semua orang yang kini bersiap terhadap serangan. Para penduduk berlari ke istana, hanya para laki-laki saja yang tetap tinggal, bersiap seandainya para pasukan membutuhkan bantuan.
Kita termasuk beruntung kendaraan berat manusia tak dapat muncul di sini. Jika kendaraan seperti tank, helikopter dan pesawat juga dapat menerima kekuatan tambahan Rebels, maka sebelum pasukan mereka menyerang, kami sudah pasti kalah. Dinding ini tak mungkin kuat menghadapi ledakan-ledakan besar tersebut.
Antra memerhatikan para Mercenary, berdecak kesal saat menyadari kalau mereka lupa mempertimbangkan senjata manusia. Dia mengira Mercenary hanya akan menggunakan PBZ. Siapa sangka mereka ternyata menggunakan senjata militer biasa. Sebuah perintah dikeluarkan pada para pasukan yang kini sedang menyiapkan panah masing-masing, memberinya imbuhan sihir dan dilepaskan.
Tetapi, seakan sudah menebak apa yang akan kami lakukan, para Mercenary tersebut berlari menjauh, meninggalkan kami yang kini bertanya-tanya apa yang mungkin mereka lakukan. Alvain berdiri di samping, melipat lengannya tanpa mengalihkan pandangan "Mereka berniat membuat mental kita kelelahan, mempermainkan kita hingga tiba kesempatan bagi pasukan utama mereka untuk menyerang"
"Apa yang akan kita lakukan? Apa kita mengejar mereka?" Tanya Theora bingung.
Alvain menggeleng pelan "Aku yakin mereka telah menyiapkan regu untuk menyergap. Kalau tidak, tak mungkin mereka berlari sejauh itu. Jangan termakan dengan pancingan mereka. Siapapun yang menjadi komandan perang di sana adalah seseorang yang telah berpengalaman dalam medan perang"
Jauh dari kerajaan dark elf, di depan tenda. Berdiri seorang laki-laki dari ras manusia. Sekujur tubuhnya dipenuhi oleh PBZ, tertutupi oleh seragam tentara berwarna hitam. Dia melipat lengan, memerhatikan kalau para dark elf tak memakan pancingan mereka dan mulai tersenyum lebar "Tampaknya, lawan kita juga memiliki seorang ahli strategi. Mari kita lihat siapa yang akan membawa kemenangan"
Kami menunggu di atas dinding selama lima belas menit, tetapi masih tak ada tanda-tanda kalau mereka akan datang menyerang. Para pasukan dark elf mulai merasa kalau mungkin mereka memang takkan menyerang lagi dan tadi hanyalah sebuah peringatan saja. Antra tetap meminta mereka mempertahankan posisi meski dia sendiri ragu apakah yang mereka lakukan ini benar atau tidak. Sudah lama ras dark elf tak berperang dan ini juga adalah pertama kalinya dia memimpin sebuah peperangan sehingga dia tak yakin apakah yang dilakukannya ini benar. Dia tak ingin mengecewakan mereka yang telah menaruh kepercayaan padanya.
Alvain berjalan mendekat, menepuk pundak pria tersebut, membuatnya kembali sadar dari lamunan "Tegarkan dirimu. Sebagai seorang pemimpin, kau adalah sosok yang paling penting. Jangan pernah memperlihatkan kalau kau sedang kesulitan, sesulit apapun situasinya. Terus pertahankan sosokmu yang tenang dan pintar itu, anggap saja musuh di depan sebagai sebuah latihan. Kau juga tak sendirian, ada kami di sini yang siap membantu" Ucapnya tegas, lalu berjalan ke atas gerbang, menyahut "Pemanah! Siapkan panah kalian dan gunakan sihir kegelapan, kita akan membuat mereka berpikir mereka telah memilih lawan yang salah!"
__ADS_1
Begitu perintah diteriakkan, ratusan anak panah dilepaskan, menancap tepat di depan area dark elf dan menutupinya menggunakan asap hitam tebal. Hal ini memang dapat menjadi sebuah pedang bermata dua, tetapi karena sekarang dia memimpin dark elf, Alvain tak perlu ragu untuk memerintahkannya.
Saat asap sudah meninggi dan menyebar jauh, Alvain segera memberi perintah bagi para pasukan darat untuk bersiap mengambil posisi pada pos masing-masing, lalu memberi perintah pada para pemanah untuk menyiapkan asap kedua.
Mereka mengikuti perintahnya meski mempertanyakan apa yang sedang dirinya lakukan. Anak panah kembali ditembakkan saat asap di depan mulai menghilang. Para pasukan musuh yang telah bersiap seketika menunda penyerangan mereka dan hal tersebut terus berulang sampai tiga kali lagi.
Ras Werebeast yang sudah tak sabar, mendesak komandan mereka untuk memberikan perintah atau mereka akan maju sendiri menghadapi para dark elf yang hanya tahu bersembunyi itu. Mereka tak takut pada ras yang dapat dengan mudah mereka hadapi "Kami tak mungkin kalah dari mereka! Mari tunjukkan seperti apa kekuatan Werebeast!!" Sahut pemimpin ras tersebut yang didukung oleh bawahannya dengan sorakan keras.
Begitu asap mulai menghilang, mereka berlari maju ke depan, menghiraukan perintah. Komandan mereka berdecak kesal sembari berpikir apa yang mungkin dark elf itu lakukan.
Kelompok Werebeast tersebut masuk dalam area dark elf tepat ketika asap keenam ditembakkan. Alvain sengaja menahan para Nightmare untuk tak bergerak sampai asap tersebut menyebar. Begitu dia yakin kalau mereka tak dapat dilihat dari arah tenda, ia menurunkan lengan, memberi tanda bagi para Nightmare untuk bersenang-senang.
"Antra, apakah kau bisa mengatakan padaku kapan pasukan mereka bergerak?" Perintahnya.
"Tunggu, kau tahu kami bisa melihat melalui asap tebal di depan?" Tanya Antra terkejut.
"Fokus pada situasi Antra, kita sedang berperang sekarang"
Antra terdiam sejenak, lalu memutuskan untuk melakukan perintah Alvain sambil terus mengingatkan diri sendiri agar tak lupa menanyakan hal tersebut pada Alvain begitu perang selesai.
__ADS_1
Dia melihat ke depan, memerhatikan sekelompok Orc maju ke depan sembari membawa perisai besar. Di belakang mereka, tampak dua buah balista putih milik elf didorong oleh empat Orc sementara beberapa elf mengikuti dari belakang, anak panah berada dalam genggaman. Antra menjelaskan semuanya pada Alvain yang langsung berpikir cara terbaik bagi mereka untuk menghentikan dua balista tersebut sebelum menembakkan anak panah raksasa yang mampu menghancurkan dinding.
Sedangkan di sisi lain, Sang Komandan menyeringai lebar melihat rencananya "Dia pasti takkan mengira kalau di balik para Orc, pasukan mortar juga ikut bersama mereka. Dia akan kewalahan menghadapi pasukan ini, terfokuskan pada dua balista yang sebenarnya hanyalah pancingan sekaligus kunci utama. Begitu para pasukan mortak menembak, para dark elf itu akan kocar-kacir menghadapi ledakan-ledakan sama seperti sebelumnya.
Melalui perisai buatan Dwarf yang dipegang oleh Orc, mereka akan menjadi sebuah perisai tak tertembus, sehingga apapun yang menanti kami di balik asap hitam tersebut akan menjadi pijakan bagi kami untuk menghancurkan dark elf. Sungguh sebuah rencana yang brilian!"
Alvain lalu tersenyum, mengetahui rencana ahli strategi mereka yang memang dapat berhasil seandainya mereka tak memiliki Nightmare. Itulah salah satu kelemahan mereka, mereka terlalu meremehkan ras dark elf sampai tak berniat untuk mencari informasi, sementara Alvain sudah tahu ras apa saja yang bergabung bersama Qeina. Mereka tentu takkan tahu jika mahluk Ancient penjaga kerajaan dark elf telah muncul kembali. Dia sendiri tak tahu jika mahluk tersebut ada kalau tak bertemu dengan salah satunya. Entah mengapa tak pernah tertulis dalam buku.
"Menurutmu apa yang akan mereka lakukan Alvain?" Tanya Antra sembari memerhatikan pasukan yang sedang menuju ke mari, tak lagi tertarik melihat pertarungan sia-sia para Werebeast di bawah.
"Mereka akan membentuk formasi dalam huruf 'U' dengan para Orc mengelilingi tiap balista tersebut. Sesuatu yang mungkin dapat berhasil seandainya tak ada Nightmare karena sulit bagi kita menembus perisai buatan Dwarf serta menghadapi fisik Orc yang berada di Tier 5. Namun kau tak perlu khawatir, kita memiliki mahluk Ancient yang akan menembus perisai tersebut seperti memotong tahu" Jelasnya penuh semangat, sudah tak sabar melihat mereka gagal menjalankan rencana.
"Tahu itu apa?" Tanya Antra lagi.
Alvain terkejut, lupa kalau ras dark elf belum pernah menginjakkan kaki di dalam Archsoul. Mereka tentu tak tahu dengan makanan manusia itu "Umm, aku sulit menjelaskannya padamu. Yang pasti itu adalah makanan yang begitu lembut sampai dengan mudah hancur walau hanya kau tekan sedikit"
"Ahh.. " Antra mengangguk-angguk, membayangkan para Nightmare menembus perisai Dwarf tanpa sebuah kesulitan sama sekali "Kalau kau mengatakannya seperti itu, aku setuju padamu. Cakar besar mereka begitu tajam. Kita termasuk beruntung mereka menahan diri saat menyerang istana karena mereka tahu itu rumah tuan mereka"
Alvain selalu merinding mengingat kembali kalau mereka bisa saja sudah terbelah-belah sekarang. Betapa beruntungnya mereka menghadapi Nightmare yang hanya memiliki setengah dari kekuatan mereka karena berhadapan dengan tuan sendiri. Seandainya saja para Nightmare itu menggunakan seratus persen kekuatan mereka, mungkin dia, Xera, Theora dan Yuna sudah tak lagi hidup sekarang.
__ADS_1