
Dapat kami rasakan, angin berhembus kencang, membawa perasaan tenang dan nyaman disertai suara gemerisik dari pepohonan. Burung-burung terbang tinggi, di langit cerah berawan dalam warna biru indah memanjakan mata. Matahari bersinar terang di baliknya, memancarkan cahaya kehangatan membuat mata tertutup merasakannya.
Pegunungan tampak di depan sana, tersembunyi di balik kabut tebal di mana terdapat pulau-pulau melayang tinggi di udara, menciptakan siluet besar pada lahan luas berhias rerumputan, bergoyang pelan terlihat begitu damai, mengikuti arah tiupan angin.
"Ingin rasanya aku melompat ke sana"
Itu benar, ingin rasanya-
Aku membuka mata, menarik baju Theora karena dia sudah berada di tepi tebing siap untuk melompat ke bawah "Kau gila!? Kau masih belum puas sesudah jatuh dari atas sana?" Tanyaku sembari menunjuk lubang pada tebing tinggi di seberang.
Theora melihat ke sana lalu melihat ke bawah dan mulai berpikir.
"A ah! Jangan coba-coba membandingkannya. Hanya karena kau selamat dari sana, bukan berarti kau bisa selamat dari sini" Tukasku cepat.
"Oh ayolah, kau tak lihat padang rumput luas di bawah? Begitu indah, begitu tenang, begitu damai.. Aku yakin kau juga ingin melompat ke bawah sana, ikut merasakan keindahan yang diberikan oleh alam" Jawab dia sembari membentangkan tangan.
Kuhela napas, menoleh pada Alvain namun air mata yang mengalir turun pada pipi Zena menarik perhatianku. Aku melepas Theora yang menjerit karena hampir saja terjatuh ke bawah, bergegas mendekatinya dan menghapus air mata dari kedua pipi menggemaskan itu.
Theora berteriak di belakang sana, kesal karena aku hampir saja membuatnya mati terkena serangan jantung yang di balas dengan Alvain dan perdebatan dimulai.
"Kau tak apa-apa?" Tanyaku khawatir.
Zena menggeleng, menatapku lalu datang merangkul dengan erat "Aku mengingatnya. Aku mengingat tempat ini"
"Hm? Ini tempat apa?"
"Ini adalah tempat kita berdua menghabiskan waktu saat kecil"
"Apa?"
Saat itu juga, sebuah memori muncul dalam kepala.
Di dalam sana, memori yang sama seperti yang saat itu aku lihat kembali terulang. Namun kali ini jauh lebih detail dibanding sebelumnya, di mana kami berdua tak hanya menghabiskan waktu di sini, tetapi tempat ini beserta isinya adalah milik kami, ciptaan kami.
Kamilah yang menciptakannya saat masih kecil. Inilah bayangan kami mengenai dunia yang sempurna, dunia yang damai tanpa sebuah masalah, tanpa adanya rasa takut dan kebencian.
Benar-benar dunia penuh kedamaian, sebuah tempat peristirahatan terakhir.
Aku menoleh ke depan, kembali mengingat saat kami berdua duduk di atas tebing yang sama, merancang ide-ide kami bersama, diiringi canda-tawa.
Lalu, aku teringat oleh sesuatu.
Kami saling menatap, tahu isi pikiran masing-masing dan melompat ke bawah.
Mereka berteriak memanggil nama kami, berlari ke bibir tebing, melihat pasangan tak waras yang kini sementara berseluncur turun menggunakan batu pipih besar. Setelah mereka cari-cari dan tak menemukan apa-apa, akhirnya Theora memutuskan untuk ikut melompat turun.
Dia menjerit keras, takut akan kehilangan nyawa.
Tetapi begitu kakinya menyentuh lereng tebing, sebuah batu pipih terbentuk dari kumpulan kubus-kubus biru kecil.
Senyumnya mengembang dan Theora ikut berseluncur turun ke bawah sembari bersorak penuh semangat.
__ADS_1
Alvain, putri Yuna serta Atraz tak tinggal diam.
Mereka melompat bersama, berseluncur turun sambil tertawa dan saling mengejar.
Seperti biasa, Atraz dan Theora sudah memulai perlombaan lain padahal tak sampai lima menit sebelumnya mereka bertengkar.
Kami sampai lebih dulu di bawah, turun dari batu yang kemudian menghilang kembali menjadi kumpulan kubus yang lalu menyatu bersama tanah.
Aku dan Zena tersenyum bersama, kembali merasakan kenangan lama.
Lalu berbalik ke belakang mendengar suara Theora yang begitu besar karena dia memilih sebuah lereng yang mencuat keluar, melompat tinggi di udara dan mendarat seolah dia adalah seorang pahlawan.
Dia bangkit berdiri, dibentangkannya tangan dan berbalik ke belakang menundukkan badan sebagai penutup.
"Kau beruntung kali ini Theora, aku takkan kalah lagi berikutnya" Tantang Atraz.
Seringai Theora mengembang mendengarnya "Oh kau yakin? Bukankah dari awal kau terus mengatakan itu?"
Alvain menghela napas, tak tahu apa yang sudah terjadi pada Sang sahabat sampai berubah seperti ini dan memilih untuk tak ikut dalam perdebatan mereka berdua yang takkan selesai sampai seseorang menghentikan atau sesuatu terjadi.
"Kau mengingatnya" Ucap Zena pelan.
"Tentu saja aku mengingatnya. Bagaimana bisa aku tak mengingat kenangan kita yang begitu berharga" Balasku lembut yang dibalas dengan tatapan curiga.
"Bukankah kau baru saja mengingatnya? Aku yang menyegel ingatanmu kau tahu?"
Aku tertawa kecil, lupa kalau Zena adalah orang yang sudah menyegel ingatanku agar aku tak mendekati Codes karena khawatir aku akan berada dalam bahaya besar "Maaf, tapi kalau kau tak menyegelnya, aku yakin aku pasti mengingat ini. Apa? Kau tak percaya padaku?"
Kupegang pergelangan kanannya itu, membawanya dekat pada mulut dan memberinya sebuah kecupan lembut tanpa mengalihkan pandangan dari sepasang mata indah di depan "Apa kau pernah melihatku melakukan ini pada wanita lain? Aku tahu kau mengawasiku Zena"
"EHEM!"
Kami berbalik, kembali menemukan Alvain yang berusaha menyembunyikannya rona merah di wajah.
"Aku tahu kalian berdua saling mencintai, tapi kita masih harus mencari tahu di mana kita berada sebelum Anti Matter menghilang" Tukasnya dengan wajah dipalingkan.
Senyumku mengembang melihatnya, kembali menatap Zena yang juga sudah kembali menatapku.
Kudekatkan wajah pada telinga, berbisik "Kita lanjutkan nanti"
Zena mengangguk pelan.
Tanpa kulihat sekalipun, aku tahu wajahnya pasti semerah tomat.
Namun baru saja aku berjalan selangkah, dia sudah datang menarik pundakku, balas berbisik "Aku menunggunya" Dengan suara yang membuatku mematung untuk sesaat di tempat.
Seolah terkena Stun Grenade berisi hati, aku terdiam merasakan degup jantung menjadi begitu kencang, tak dapat menahan seringai yang melebar dengan sendirinya sembari menatap Zena berjalan di depan.
Dia melirik ke belakang, memberiku sebuah tatapan penuh arti lalu kembali melihat ke depan.
Kukepalkan tangan dengan kuat, berusaha menekan perasaan yang kini bergejolak dalam hati dan menyusulnya untuk menuntun mereka menjelajahi tempat yang tak hanya bagian dari kenangan, tetapi juga hidup kami.
__ADS_1
Sulit menjelaskan berapa banyak waktu kami habiskan di sini hanya untuk saling memberi ide, merancang pemandangan serta membuat tempat-tempat rahasia yang sudah tak lagi kuingat semuanya. Hanya beberapa.
"Jadi, maksudmu tempat ini adalah dunia impian kalian saat kalian masih kecil?" Tanya Theora yang masih terperangah mendengarnya "Kalian Co- Zeon, benar-benar luar biasa. Di saat kecil kalian sudah menciptakan dunia sendiri, sementara yang kulakukan saat kecil hanyalah membuat masalah dalam istana"
"Tak sesulit yang kau pikirkan" Aku memikirkan apa yang mungkin dapat membuat Theora mengerti tanpa perlu memutar otak dan menjentikkan jari "Kau masih ingat dengan Lifecraft?"
Mata Theora melebar.
"Kurang lebih seperti itu. Bedanya ini sedikit lebih kompleks dan detail" Jelasku.
Theora mengangguk-angguk mengerti, melipat lengannya dan mulai membayangkan dunia yang ingin dia ciptakan "Jadi.. Apakah aku juga bisa melakukannya?"
"Semua bisa melakukannya selama mereka punya kesabaran"
"Dengan kata lain tak cocok untuk seseorang seperti Alvain" Ucapnya sembari melirik ke arah elf yang seketika langsung berbalik.
"Apa kau bilang? Aku tak cocok?" Dia mendengus, menyeringai lebar dan berubah serius "Aku jauh lebih sabar dibanding dirimu Theora. Kau yang kalah berulang kali dan langsung keluar dari dalam game sebaiknya menutup mulut"
Kini giliran Theora yang tak terima dengan tangan terkepal "Kau yang curang! Apa-apaan itu? Tetap diam dalam markas tanpa ingin maju dan terus menggunakan sniper. Tentu saja aku akan mati!"
"Itulah yang dinamakan strategi"
"Itulah yang dinamakan tak memiliki skill"
Sebelum mereka berdua saling menerjang, putri Yuna berdiri di antara mereka, membentangkan tangan. Wajah kesal tampak di sana yang berarti mereka benar-benar dalam masalah besar "Kalian berdua hentikan! Kenapa kalian harus seperti anak kecil yang sama sekali tak mau mengalah? Kalian berdua sama-sama tak memiliki skill!
Yang satu hanya tahu bersembunyi di markas, yang satu hanya tahu berlari dan melompat! Hanya akulah yang mampu melakukannya keduanya" Ucapnya bangga.
Kutepuk kening, melarikan jemari pada rambut, merasakan penyesalan luar biasa melihat tiga elf yang telah sepenuhnya berubah menjadi manusia "Aku seperti melihat diri sendiri di masa lalu"
Zena menyikut pelan lenganku sembari tersenyum "Biarkan saja mereka. Melihatnya membuatku kembali mengingat saat aku mengalahkanmu berulang kali"
"Permisi, apa? Kau mengalahkanku berulang kali?" Tawaku keluar mendengarnya "Maaf Zena, aku memang mencintai dan menyayangimu, tetapi kalah darimu? Bermimpilah"
Alisnya terangkat.
Dia menghentikan langkah, sepenuhnya menghadap padaku "Kau yakin? Bagaimana kalau kita mengulangnya lagi?"
"Apakah harus kita melakukannya?"
Dimajukannya badan "Kenapa? Kau takut tampan?"
"Oke! Jangan menyesal karena sudah menantangku"
Atraz yang semenjak tadi diam menonton akhirnya bersuara "Kenapa kalian begitu terobsesi dengan game? Aku masih tak mengerti apa yang membuat kalian sampai tergila-gila dengannya"
Seringai Theora terbentuk. Dia datang mendekat, melingkarkan lengan pada pundak Atraz, menjelaskan "Saat itu, kau tak berada di markas"
Didekatkannya wajah, berbisik layaknya seorang pengedar narkoba sembari melihat kanan-kiri sebelum melanjutkan "Kuberitahu padamu, kau sebagai seseorang yang menyukai kompetisi, akan jatuh cinta dengan game.
Itu adalah hal terbaik yang pernah tercipta"
__ADS_1