Archsoul

Archsoul
I'll Wait For U


__ADS_3

"Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita masih harus mencari Anti Matter" Tukas Atraz.


"Apa yang akan kau lakukan Xera?" Tanya Alvain setelah berpikir sejenak "Tak masalah jika kau ingin kembali dan membawa seseorang atau dua orang bersamamu"


Kuhela napas panjang, mempersiapkan diri "Kalian pergilah, aku akan kembali sendiri. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya, kalian yang lebih membutuhkan bantuan.


Ada kemungkinan juga kalau Zeon sementara bersembunyi karena itu mematikan FP mereka. Beberapa dari mereka belum mendapatkan upgrade sehingga tak bisa menggunakan FP agar tak terlacak oleh Codes, jadi aku masih memiliki bantuan di sana" Jelasku.


Mereka saling berpandangan, lalu menoleh pada Alvain yang akhirnya mengangguk setuju "Baiklah jika memang itu yang kau inginkan. Kami akan memberi kalian waktu" Ucapnya kemudian membawa pergi yang lain.


"Jangan sampai kau mati! Kau mengerti Xera!" Seru Theora yang kubalas dengan sebuah anggukan kepala.


Zena datang mendekat.


Senyum tampak di sana, senyum yang berusaha menyembunyikan kesedihan.


"Hei" Kugenggam tangannya, mengangkat dagu dari seorang wanita tercantik yang kini menunduk.


Dapat terlihat air mata menggenang, membuat hati terasa perih melihatnya.


Kuangkat tangan, mengusap air mata tersebut dan memberinya sebuah ciuman lembut.


"Maaf karena kita harus berpisah lagi"


Zena menggeleng pelan, menarik napas dalam dan menghembuskannya. Dia balas menatap, memberiku sebuah senyum hangat "Tak apa-apa. Justru aku yang seharusnya meminta maaf-


"Tidak Zena, tak apa-apa. Aku jauh lebih suka jika kau jujur padaku tanpa menahan sesuatu. Karena, aku ada di sini tak hanya untuk menjadi pendampingmu, tetapi juga sandaranmu" Potongku lembut sembari membelai pelan kepalanya.


Kutarik dia mendekat, masuk dalam dekapan, di mana dapat kurasakan tubuh hangat dan nyaman itu untuk terakhir kali.


Tak satupun dari kami berbicara, meluapkan isi hati dengan kerinduan yang tahu-tahu sudah datang mengambil alih.


Angin dingin berhembus kencang, membawa pergi dedaunan ke sebuah tempat yang baru, terpisah jauh dari pohon asalnya.


Kurangkul Zena lebih erat, melindungi dia dari udara dingin sekaligus meluapkan rindu yang aku tahu akan terus terkumpul begitu jarak terbentuk di antara kami.


Tak satupun dari kami tahu kapan bisa bertemu kembali.


Tentunya aku berharap tak terlalu lama, terutama sesudah menghabiskan waktu sebulan penuh bersama dirinya, tidur didampingi olehnya, makan bersamanya, bermain bersamanya, bercanda dan tertawa bersama Zena.


Di saat aku sedih, dialah yang datang menarikku dalam pelukan, memberiku sebuah ketenangan.


Ataupun sebaliknya.


Namun setelah ini, kami lagi-lagi harus terpisahkan.


Saling berjauhan, berada di dunia yang berbeda.


Berat rasanya untuk melepaskan pelukan.


Bahkan..

__ADS_1


Aku tak mau.


Namun, kukeraskan hati sembari menggigit bibir, berusaha menahan tangis yang juga akan keluar.


Berbagai bayangan buruk bermain dalam kepala.


Bayangan kalau aku takkan lagi menemuinya.


Tapi, dia bersama mereka, teman-teman yang aku percaya. Jadi Zena pasti aman. Aku percaya mereka akan melindunginya.


Lagipula, dia adalah seseorang di atas Tier 10, hanya segelintir saja yang mampu membuatnya terluka.


Namun..


Rasa takut tersebut masih tak menghilang, justru bertambah makin besar.


Zena melepaskan rangkulannya, menarik diri dengan sebuah senyum menghias wajah.


Dia menatapku, meraba kedua pipiku begitu lembut, penuh kasih sayang "Aku takkan kenapa-napa sayang. Mereka ada untuk menjagaku dan aku percaya kau akan baik-baik saja"


Zena mendekatkan wajah, memberiku sebuah ciuman panjang dan membuatku terkejut ketika dia menggigit bibir bawahku.


Tawa kecil khas dirinya terdengar, begitu manis seperti madu.


"Aku akan menunggumu, berjanjilah kau akan kembali"


Senyumku terbentuk melihat jari kelingkingnya "Aku berjanji"


Kukaitkan jari telunjuk kami, saling menyentuhkan ibu jari dan menciumnya bersama.


Salah satu alasannya adalah agar aku tak lagi melihat ke belakang karena tahu aku takkan dapat menahan diri untuk tak kembali padanya.


Zena berdiri di sana, memerhatikan hingga cahaya kemerahan itu menghilang di depan. Air mata mengalir turun, rasa takut memenuhi hati, khawatir takkan melihat kekasihnya kembali.


Dirasakannya tangan seseorang menyentuh pundak.


Dia mengangkat kepala, menemukan Yuna sedang berdiri di samping sembari menyunggingkan senyum hangat.


"Kita harus beristirahat" Ajaknya.


Zena menghapus air mata, mengangguk mengatakan "Kau benar"


Untuk terakhir kalinya dia berbalik, mengucapkan "Berhati-hatilah Xera"


Tak jauh dari sana, memakai sebuah teropong canggih, seorang Zeros berbicara pada FP "Dia telah pergi"


Laki-laki yang berada di balik telepon tersebut tersenyum lebar, tak sabar melihat rencananya berhasil, rencana yang akan membuat mereka berdua kembali teringat oleh masa lalu dan merusak keduanya.


"Segera laksanakan misi"


Aku terus berlari dan berlari, tak berhenti walau hanya sedetik.

__ADS_1


Dapat kurasakan energi pada tubuh berkurang cepat, tetapi nyawa adikku masih jauh lebih penting. Dia memang hanyalah adik angkat, seseorang yang kurawat atas dasar kasihan.


Namun rasa kasihan itu sudah lama berubah menjadi kasih sayang dan takkan kubiarkan seorang pun merebutnya dariku.


Takkan kubiarkan kejadian di masa lalu kembali terulang.


Tapi, meskipun menggunakan energi penuh, jarak markas yang begitu jauh membuatku mau tak mau harus beristirahat untuk sejenak, setidaknya sampai energi cukup untuk kembali ke dalam markas.


Kembali terputar dalam benak, bayangan-bayangan mengerikan mengenai adikku.


Bayangan-bayangan yang terbentuk atas trauma masa lalu, trauma yang membuatku dan Zena begitu menderita sampai harus terpisahkan.


Laki-laki itu adalah seseorang yang bahkan tak lagi dapat dikatakan kejam.


Dia adalah seseorang yang akan menggunakan segala cara untuk meraih keinginannya, meskipun harus mengorbankan kawan sendiri.


Laki-laki tersebut kini sedang berjalan mendekati sebuah hologram.


Dalam hologram berukuran kecil itu, tampak sebuah foto dari tiga orang remaja yang sementara memakan es krim sembari melihat ke kamera.


Dirinya versi remaja berada di sana, berdiri tak jauh di belakang, tersenyum riang sama seperti kedua orang di depan.


Dirabanya hologram yang tak dapat tersentuh, sama seperti masa lalu yang sudah tak lagi dapat dirinya rasakan.


Bukan karena ingatan hilang ataupun tersegel.


Melainkan karena dialah yang menginginkannya.


"Betapa bahagianya kita bertiga saat itu. Selalu tersenyum bersama, tertawa bersama, bersenang-senang bersama sampai akhirnya hal tersebut terjadi. Sebuah pilihan bodoh yang membuatku malu memiliki teman seperti kalian, yang membuatku begitu TERSIKSA!"


Dihantamnya dinding besi di depan hingga terbentuk kepalan tangan di sana.


Dia menghela napas panjang, menenangkan diri dari amarah "Takkan kubiarkan kalian berdua bahagia. Akan kubuat kalian sama menderitanya seperti diriku dan akan kubuktikan jika perasaan kalian itu bukanlah apa-apa di hadapan mahluk tersebut!"


"Yeza, dilaporkan Xera sudah tiba dalam markas Zeon dan akan tiba di bumi sekitar dua menit kemudian" Ucap seorang perempuan yang buru-buru masuk ke dalam ruangan sembari memegang sebuah FP berukuran besar, dinamakan FT (FutureTab).


Laki-laki itu tersenyum mendengarnya, bergerak keluar dari dalam ruangan diikuti oleh dia.


"Akan kubuktikan pada kalian seperti apa kekuatan asli itu, bukan omong kosong takdir yang kalian berdua miliki"


"Maksudmu Twin Soul?"


Yeza menghela napas panjang, lelah menghadapi sekretarisnya yang terus bertanya seperti seorang anak kecil tiap kali dia berbicara "Ya, Vanessa. Twin Soul. Sesuatu yang tak masuk akal seperti itu hanya cocok berada dalam cerita saja"


"Bukankah kita memang berada dalam sebuah cerita?"


Langkah Yeza terhenti mendengarnya "Apa? Hal tak masuk akal apalagi yang kau katakan?"


"M-maksudku, bukankah hidup kita ini adalah sebuah cerita? Jadi pada dasarnya Twin Soul tetap bisa muncul di dunia ini karena hidup kita adalah cerita!" Serunya riang seolah baru saja menemukan sebuah fenomena menggemparkan.


Yeza menggeleng kepala lemah, tak sanggup menghadapi Vanessa. Dia juga tak tahu kenapa tiga tahun lalu memilihnya sebagai asisten. Seharusnya dia memilih seseorang yang tak banyak bicara.

__ADS_1


Namun tak dapat dirinya pungkiri kalau berkat Vanessa, semua rencananya dapat berjalan dengan lancar sampai terkadang dia bertanya, apakah mungkin Vanessa berasal dari masa depan?


Tapi dia tahu itu tak mungkin mengingat mereka membutuhkan kesepuluh dewan agar mesin waktu dapat diaktifkan. Tanpa persetujuan dari mereka, mustahil untuk menggunakan mesin waktu.


__ADS_2