
"Baiklah, kau dapat menutupnya kembali" Ucapnya, menungguku selesai memasang Face Distortion dan tudung jaket sebelum kembali melanjutkan "Seperti yang dirimu tahu, Alfheim sedang berada dalam sebuah masalah, masalah yang tak pernah kami sangka akan terjadi secepat ini. Kami, penduduk Alfheim, sadar suatu saat nanti hal ini akan terjadi, tetapi sesuatu membuat malapetaka tersebut lebih cepat menghampiri" Sebuah helaan napas panjang keluar "Seed of Life telah dicuri"
Mataku terbelalak mendengarnya, meskipun dia tak dapat melihat ekspresiku, mulutku yang terbuka sudah menjawabnya, membuat dia tersenyum sedih, lalu berbalik menoleh pada sebuah pohon besar yang tampak dari sini, Yggdrasil.
"Seperti yang dirimu tahu anak manusia, tanpa Seed of Life, Yggdrasil akan kehilangan kekuatannya dan jika itu terjadi, Alfheim juga akan hancur secara perlahan. Bahkan di saat kita berbicara, di suatu tempat, telah tampak kehancuran tersebut, berupa sebuah lubang besar layaknya pecahan kaca, sebuah kegelapan pekat tanpa cahaya di mana di dalamnya, kau takkan menemukan apa-apa, melayang-layang tanpa sebuah tujuan di dalam kegelapan abadi, menyiksa jiwa yang rindu akan sentuhan cahaya. Sekarang, belum ada korban jiwa, namun kita tak pernah tahu kapan korban jiwa pertama diberitakan" Ia kembali menghadap padaku "Anak manusia, kedatanganmu ke sini bukanlah hanya karena kebetulan saja. Bukti bahwa kau merasakan sesuatu, mungkin ini sulit dipercaya, tapi kaulah penyelamat kami, seseorang yang ditakdirkan untuk merebut kembali Seed of Life dan menyelamatkan Alfheim. Kami akan sangat berterimakasih padamu dan tentu akan memberikan apapun yang kau minta sebagai hadiah"
"Apa ada alasan kalian tak dapat mencarinya sendiri?" Tanyaku penasaran karena seharusnya ras elf adalah yang terbaik dalam melacak sesuatu mengingat itu adalah salah satu kemampuan yang dibanggakan oleh mereka.
__ADS_1
"Kami tak dapat melakukannya seorang diri karena Seed of Life, SoL, direbut oleh para Dark Elf. Dark elf menggunakan elemen kegelapan untuk melawan sihir kami sehingga elf yang bangga akan kemampuan melacak sekalipun, tak dapat melakukan apa-apa ketika masuk ke dalam area kekuasaan mereka. Kami tentu dapat berperang demi merebut SoL, tetapi keadaan di garis depan juga dalam masa kritis yang membuat kami tak dapat melakukan apa-apa selain bergantung pada takdir yang telah ditentukan" Ia menghela napas lagi, menoleh pada tiga elf di samping yang kini berusaha kuat untuk menahan kesedihan, terutama Yuna dengan mata yang telah berair "Jujur saja, kami penduduk Afheim sendiri tak tahu apakah takdir itu benar atau tidak mengingat itu awalnya hanyalah sebuah cerita semata yang kami temukan dalam perpustakaan besar. Tetapi, seperti yang kau tahu anak manusia, perpustakaan besar selalu menyimpan ilmu penting yang dapat dibandingkan dengan sebuah benda Tier 8, ilmu-ilmu di dalamnya diturunkan langsung oleh Yggdrasil untuk kami gunakan sebagai penunjang penduduk Alfheim sampai akhirnya Codes tiba dan membuat kami sadar bahwa kami masihlah jauh dari kata sempurna. Jadi, kami mencoba untuk percaya pada cerita tersebut, sebuah buku yang bahkan diriku tak tahu datang dari mana, tiba-tiba berada di sana, dalam ruangan teraman dunia Alfheim"
"Aku tahu yang kau pikirkan, mempercayai sebuah buku aneh, sebuah cerita untuk menyelamatkan dunia. Namun, saat dirimu dihadapkan pada kematian, kau akan melakukan apa saja demi menemukan sebuah harapan bukan? Jadi.. " Tanpa sempat kucegah, beliau sudah berlutut di hadapanku memohon pertolongan, membuat tangis Yuna yang semenjak tadi ditahan, akhirnya lepas, mengalir turun dengan isak tangis menyayat hati "Tolong bantu kami anak manusia, kami tak tahu lagi harus melakukan apa"
Aku turun berlutut di samping, mengangkat tubuh beliau bersamaku dan menyunggingkan senyum hangat "Tenang saja, aku pasti membantu kalian. Namun, aku juga ingin meminta tolong, bolehkah kalian para elf tak membenci manusia? Kami sama sekali tak pernah melakukan hal buruk pada kalian dan kami juga telah mengerahkan segala cara untuk dapat menyatukan kedua dunia. Setidaknya.. Aku ingin melihat kedua ras dapat bersatu dan bekerja sama di garis depan karena dua lebih baik dibanding satu bukan?" Pintaku yang kemudian ditolak oleh Alvain mentah-mentah.
"Berteman bersama kalian? Kalian adalah mahluk hina yang membuang tubuh sendiri demi mencapai yang kalian inginkan! Bagaimana kami tahu kalian takkan membuang kami sama seperti kalian membuang tubuh yang adalah bagian terpenting dalam hidup?" Tukasnya dengan geram, jijik terhadap perbuatan tersebut.
__ADS_1
"Apa yang dapat dilakukan manusia sepertinya? Dia hanya akan menjadi sebuah beban! Kesempatan kita melawan para dark elf tak tahu diri itu lebih tinggi ketimbang bersamanya!"
Beliau dalam diam, berjalan mendekati mereka yang seketika mematung di tempat dengan tubuh sedikit gemetaran yang membuatku benar-benar penasaran, beliau ini siapa? Karena aku tahu raja dan ratu elf, tapi aku tak tahu kalau ada sebuah kekuatan lain dalam Alfheim yang setara dengan Angel maupun Demon.
"Namamu Alvain? Anak dari Alva dan Loraine Edenwood? Anak muda, aku mengenal kedua orang tuamu dengan sangat baik, dua orang anak yang begitu tulus dan selalu mengedepankan ras ketimbang masalah pribadi. Mengapa kau justru jauh berbeda dari mereka? Apakah kebencianmu terhadap umat manusia terlalu dalam sampai kau tak dapat melihat bahwa manusia yang kau anggap hina itu memiliki hati lebih terang dibandingkan milikmu? Mereka memang tak dapat dimaafkan karena mengganti tubuh dengan sebuah besi. Namun, jika dirimu berada di posisi mereka, apa yang akan kau lakukan dalam menghadapi ras-ras yang jauh lebih kuat darimu? Yang mampu menggunakan kekuatan di luar nalar mereka? Aku yakin kita para elf mungkin sudah lenyap dari muka dunia ini jika kita tak memiliki sihir karena kita terlalu bergantung pada yang namanya idealisme. Tak buruk, tetapi jangan sampai karena idealisme mu itu, kau kehilangan pandangan terhadap dunia. Apa kau tak berpikir bahwa mereka, umat manusia, juga tak menginginkan hal ini? Apakah kau sudah mencoba melihat dari sudut pandang mereka? Berusaha setidaknya untuk mengerti ketimbang menindas. Bukalah matamu anak muda, dunia ini takkan berbelas kasihan meski kau memegang kuat prinsip idealisme mu itu karena ajaran utama elf adalah keseimbangan. Apa kau yakin telah memahami yang dinamakan keseimbangan itu? Keseimbangan antara idealisme dan realistis. Kalau sekarang kau sadar, masih belum terlambat untuk memperbaiki diri sebelum dirimu hilang di dalam kegelapan, berusahalah untuk lebih mengerti ketimbang membenci dan kau akan menemukan kedamaian"
Beliau berjalan meninggalkan Alvain yang kini tertunduk diam, memberiku sebuah senyuman hangat "Aku rasa, kau masih belum mengetahui siapa diriku bukan?" Senyumnya melebar, lalu menunduk, memberikanku sebuah penghormatan layaknya seorang bangsawan "Perkenalkan, namaku Qeina Eldenwein, ras Druid terakhir"
__ADS_1
Oh Druid... DRUID!?
Beliau bangkit berdiri, memberikanku sebuah seringai yang seolah mengatakan 'Hehe, aku mengejutkanmu bukan?'.