Archsoul

Archsoul
Part 27


__ADS_3

Sang tuan putri terkejut sekaligus merasa lega Alvain datang menyelamatkannya. Ia mengira hanya sampai sini sajalah dirinya dapat berjuang, mati di tanah ras lain. Putri Yuna tentu tak menginginkan itu. Misinya belum selesai, nasib seluruh ras elf kini berada di tangannya terlebih sesudah mempelajari bahwa Rebels lah akar dari masalah ini. Mereka harus segera kembali ke kerajaan dengan harapan, semoga mereka belum telat.


Putri Zorya tampak tak sadarkan diri, berada dalam pegangan tuan putri agar tubuh kecil tersebut tak terjatuh menghantam lantai ruang bawah tanah yang keras dan dingin. Di depan sana, Alvain sementara menghadapi prajurit dark elf sekuat tenaga, mengerahkan segalanya untuk dapat mengalah sosok yang tiba-tiba memiliki kekuatan tambahan sehingga terasa seperti melawan seseorang di Tier 7, lebih tinggi setingkat dari dirinya.


"Fokuslah terhadap segel! Aku akan menahannya!" Seru Alvain sembari menebas sebuah energi sihir, tak membiarkan prajurit itu datang mendekat, membuatnya berteriak penuh amarah "Jangan harap kau bisa menyentuhnya lagi selama aku berada di sini. Lebih baik kau fokus padaku sebelum kau kehilangan nyawa" Tantang Alvain.


Tuan putri berterimakasih pada Alvain dalam hatinya sambil berjanji akan memberi rasa terima kasih secara langsung begitu semua ini berakhir. Ia bergegas kembali membaca rune pada segel, berusaha sekuat mungkin untuk tak jatuh pingsan karena serangan balasan yang diberikan terutama setelah pertarungan tadi yang cukup membuatnya merasa lelah. Tuan putri menarik napas dalam-dalam, berusaha tetap fokus. Sekali saja fokusnya terganggu seperti tadi, jiwanya berada dalam bahaya dan dia tak bisa membiarkan itu terjadi, tidak sebelum Seed of Life kembali ke tangan mereka!


Alvain melirik ke belakang, menemukan segel tersebut hanya tersisa sedikit saja dan kembali berbalik ke depan untuk menahan serangan si prajurit elf yang kini menyerang secara membabi buta. Ia tak dapat membiarkan orang-orang ini berhasil atau tak hanya dark elf maupun elf saja, namun Aflheim akan berada dalam bahaya besar. Masih dapat terdengar dengan jelas bagaimana suara tersebut mengatakan "Kau berhasil, duniamu selamat. Kau gagal, ucapkan selamat tinggal"


Tiba-tiba Alvain dipukul mundur oleh kekuatan yang kembali naik setingkat, kini hampir menyentuh Tier 8, sedikit lagi menyamai Angel maupun Demon. Elf tersebut berdecak kesal, merasa dirinya tak mungkin bisa menahan sosok di depan lebih lama, terutama dengan tambahan kekuatan yang entah dari mana asalnya. Tadinya Alvain masih bisa menebas tiap serangan, namun sekarang yang dapat dilakukannya hanyalah menghindar dan menghindar dengan harapan semoga prajurit itu tak menyerang ke belakang.


Sayang sekali, harapan Alvain kini tak terjawab. Sebuah energi ungu-kehitaman besar ditembakkan ke arah tuan putri. Alvain yang tahu tak mungkin bagi putri Yuna untuk melindungi diri, memilih untuk menghadapi energi besar yang tampak mengerikan tersebut, melompat ke depan dan dengan tubuh diselimuti oleh mana serta tiga buah perisai mana tercipta di depan tubuh Alvain, sebuah ledakan besar terjadi, membuat seluruh bagiang ruangan bergetar hebat hingga pasir tampak berjatuhan dari langit-langit.


Tubuh Alvain terlempar menghantam kontrol panel, darah terciprat keluar dari dalam mulut dengan tubuh yang kini terasa lemas tanpa energi. Dari pandangan berkunang-kunang, Alvain berusaha mencari sosok prajurit itu, perlahan bangkit berdiri menggunakan pedang sebagai tongkat agar tubuhnya tak terjatuh ke samping dan kembali memasang kuda-kuda meski sekujur tubuh terasa begitu sakit sampai dia ingin menjerit.


"Apa yang kau lakukan? Membuang nyawamu? Lebih baik kau dan putri Yuna segera pergi dari sini dibanding mengorbankan nyawa dengan sia-sia. Dunia ini masih membutuhkan orang-orang seperti kalian, jauh lebih baik-

__ADS_1


"Karena itulah kami memilih untuk bertahan, memilih untuk berjuang ketimbang jatuh ke dalam kegelapan sepertimu. Kalian, orang-orang yang telah menyerah dan memilih untuk berhianat, tak lagi memiliki harga di mataku!"


Pedang Alvain tiba-tiba bercahaya terang oleh imbuhan mana keemasan, tanda dari seseorang yang sudah mencapai Tier 7. Aura keemasan merembes keluar dari dalam tubuhnya, menyelimuti ia dalam cahaya terang dan hangat, bergerak ke atas layaknya sebuah api membara. Sepasang mata tersebut, kini juga tampak memancarkan cahaya terang oleh warna yang sama, warna dari mana milik para elf, warna yang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka semenjak lahir. Warna emas, warna keagungan.


Prajurit dark elf itu tersentak, mengambil langkah mundur, sadar kekuatan tambahan yang tak murni ini tak dapat mengalahkan kekuatan milik Alvain sekarang. Namun, kata-kata tersebut kembali terdengar dalam kepala, memaksanya untuk kembali berusaha meskipun tak ada jalan selain...


"Haha.. "


"Hahaha!"


"HAHAHAHA!!"


"Sialan!" Bentaknya dengan sebuah seringai hampa "Jadi aku hanyalah pion dalam rencana besarmu bukan? Berpura-pura menganggapku penting dan menggunakanku seperti ini.. " Ia menghela napas, menatap tajam sosok elf di depan dan melepaskan semua kekuatan tambahan tersebut secara sekaligus meski tahu nyawa adalah bayarannya "Baiklah, jika memang itu keinginanmu. Tapi, setidaknya, akan kutunjukkan usaha dari pionmu ini sehingga kau terpaksa memujiku walau hanya sekali!!"


Dia muncul di depan Alvain, melayangkan sebuah pukulan yang ditahan menggunakan pedang dan didorong ke belakang oleh elf yang kini bergantian menyerang, mengayunkan pedang dalam ayunan indah namun tegas, sebuah teknik khusus dalam ras elf yang hanya dapat dipelajari oleh Tier 5 ke atas.


Prajurit itu telah menyaksikannya beberapa kali, bagaimana teknik ini tampak begitu memukau hingga begitu menarik perhatian. Tetapi, semua yang telah dilihatnya tak dapat mengalahkan apa yang sekarang dilihat dia di depan mata. Sebuah ayunan anggun, seperti sebuah tarian mematikan memperlihatkan tak hanya keagungan tetapi juga keindahan dari pohon kebanggaan mereka, Yggdrasil.

__ADS_1


Tak mau kalah, prajurit tersebut juga mengerahkan segala yang dirinya miliki, mengumpulkan serangan tersebut dalam satu titik membentuk sebuah bola energi seukuran telapak tangan yang lalu didorongnya ke depan, menembakkan energi hitam-keunguan besar, jauh lebih besar dibanding serangan sebelumnya.


Begitu Alvain selesai, membuka mata dan menghunuskan pedang ke depan, energi emas terang yang tak kalah besarnya menghantam energi hitam dengan percikan listrik tersebut. Getaran kuat terjadi akibat benturan itu, menciptakan sebuah kerusakan besar pada lantai tempat kedua energi bertemu sebelum akhirnya energi gelap berhasil terdorong mundur, kalah oleh energi murni milik Alvain yang lalu menghancurkan tubuh prajurit dark elf hingga tak bersisa dengan kalimat terakhirnya "Apakah, aku sudah melakukan yang terbaik tuan Azrael?"


Alvain terjatuh lemas ke bawah, menggunakan pedang sebagai penahan agar tubuhnya tetap berdiri meski tak lagi tegap, seakan sebuah beban besar sementara menariknya ke bawah.


Sebuah suara layaknya barang pecah terdengar di belakang bersamaan dengan cahaya oranye terang yang kemudian menghilang. Alvain berbalik ke sana, menemukan Sang kekasih yang kini sementara menjerit bahagia, tak menyangka akan berhasil mematahkan sebuah segel Ancient yang tak lagi dapat ditemukan, tak menyadari, setetes cairan merah jatuh ke lantai dari hidungnya.


Saat melihat cipratan tersebut barulah tuan putri menyentuh bawah hidung, terkejut melihat jari telunjuknya kini terasa basah oleh darah. Tak sampai dua detik kemudian, ia terjatuh ke samping, ditangkap oleh Alvain yang terus memanggil namanya. Keputusasaan terdengar jelas dari teriakan elf tersebut, berusaha memanggil kembali Sang kekasih yang kini terbaring lemas dengan tubuh sedingin es.


"Sialan! Andai saja kita bisa lebih cepat menghadapi monster itu!" Sahut Theora kesal sembari menuruni tangga.


"Tenangkan dirimu, Alvain dan tuan putri adalah dua orang terkuat yang pernah kutemui. Aku yakin mereka mampu mengatasi apapun yang sedang terjadi di bawah sana" Balasku berusaha menenangkan elf yang telah gelisah semenjak kepergian Alvain sampai lengannya kini memiliki luka padah yang harus segera ditangani tapi dia bersikeras untuk menemui kedua sahabatnya terlebih dahulu.


Langkah kaki kami makin cepat ketika getaran besar terjadi disertai suara menggelegar. Tak lama setelahnya, wajah Theora berubah panik ketika mendengar teriakan Alvain yang terus-menerus memanggil nama putri Yuna sampai Theora menggunakan sihir anginnya untuk bergerak lebih cepat lagi padahal telah dilarang oleh Antra yang kebetulan adalah dokter prajurit.


Begitu sampai di depan ruangan yang kini terbuka lebar dan tampak begitu berantakan seakan badai baru saja terjadi, Theora sudah menghilang di dalam sana, meneriakkan nama Sang kedua sahabat dengan isak tangis yang kurasa sudah cukup lama ditahannya.

__ADS_1


Saat kami mencapai ruangan tersebut, barulah aku merasa seperti hati ini baru saja menerima sebuah tikaman. Tak jauh di depan, tampak sosok Alvain sedang menangisi putri Yuna yang terbaring lemas dengan darah mengalir dari hidung. Theora berada di samping mereka, mengerahkan segenap kemampuannya untuk menggunakan sihir penyembuhan meski mengakibatkan rasa sakit teramat sangat sampai Antra mengambil alih meski entah karena alasan apa, ditolak mentah-mentah oleh Alvain dengan tak hanya penuh amarah, tetapi juga kebencian.


__ADS_2