
"Kita harus segera memberitahu mereka!" Sahut tuan putri, sadar ketiga orang itu berada dalam bahaya besar. Mereka tak mungkin menghadapi seorang Druid bahkan jika seluruh elf bersatu sekalipun. Kekuatannya terlalu besar, menyamai para pemimpin Angel dan Demon. Tak seorangpun dalam Alfheim dapat menghadapi sesuatu seperti itu. Terlalu mustahil bahkan jika mereka menerima sebuah kekuatan tambahan
Antra mengerti mengapa putri Yuna khawatir, tetapi ia juga tak bisa meninggalkan putri Zyora seorang diri di sini. Tak ada yang tahu kapan putri kecil itu akan terbangun dan bisa saja berkeliaran lagi karena tak menemukan siapapun di dalam istana. Mau tak mau, putri Yuna harus kembali sendirian. Antra tahu hal tersebut membuat citra dark elf menjadi benar-benar buruk, membiarkan seorang tuan putri dari kerajaan tetangga kembali seorang diri tanpa sebuah pengawalan. Namun, situasi yang tak memungkinkan memaksa. Jika mereka menunggu putri Zyora untuk terbangun, semakin banyak waktu yang termakan dan jauh lebih berbahaya kalau putri Zyora ikut ke sana.
Tuan putri menyadari kegelisahan Antra dan tersenyum karenanya "Terima kasih karena telah mengkhawatirkanku, tetapi aku akan baik-baik saja. Meskipun aku seorang tuan putri, aku tetap seseorang yang berada di Tier 7. Aku selalu berlatih kau tahu? Aku tentu takkan membiarkan Alvain menjadi kuat seorang diri karena aku tak ingin dilindungi. Aku ingin ada di sampingnya, berjuang bersama, saling mengandalkan satu sama lain" Tukas tuan putri yang lalu menepuk pundak Antra, memberinya kepastian dan ketenangan.
Tanpa melakukan itupun Antra sudah dapat melihat keyakinan pada sepasang mata indah tersebut. Ia menyeringai, sedikit merasa iri pada Alvain yang berhasil mendapatkan seseorang seperti putri Yuna "Baiklah kalau begitu. Aku akan mengharapkan yang terbaik untuk kalian" Sebuah helaan napas terdengar dan untuk sesaat, tampak kesedihan di wajahnya itu "Kalian mengingatkanku terhadap masa lalu, ketika aku dan istriku masih hidup bersama"
"Tunggu, kau sudah menikah?" Tanya tuan putri tak percaya pada pendengarannya.
Sebuah tawa kecil lepas dari mulutnya. Antra telah sering mendapatkan reaksi seperti ini tiap kali mengatakan hal tersebut "Apakah karena aku terlihat terlalu muda?" Candanya "Iya, aku sudah menikah. Umurku sudah menyentuh 290 tahun meskipun memiliki tampang seperti 210 tahun. Siera namanya, sosok seorang perempuan yang kurang lebih mirip seperti tuan putri. Berani, kuat, tak kenal kata menyerah. Sosok yang berhasil menarikku keluar dari dalam kegelapan dan memberi warna pada kehidupanku yang kelam. Sayangnya, kematian telah datang memanggil lebih cepat dari yang kami perkirakan. Setidaknya, dia telah tenang bersama jiwa-jiwa yang lain, tak perlu merasakan kekacauan yang terjadi pada Alfheim sekarang"
"Aku turut berduka cita" Balas tuan putri sedih.
__ADS_1
Antra menggeleng pelan sembari memasang sebuah senyum hangat dengan kepala yang masih terbayang oleh sosok perempuan tersebut "Terima kasih, namun tak apa-apa. Aku sudah belajar untuk terus hidup sesuai yang dia inginkan. Terus berusaha melangkah maju, berjalan menghadapi tantangan" Helaan napas panjang kembali terdengar, kali ini membuat wajah Antra yang seakan menanggung beban berat, terlihat bebas "Sudah waktunya bagi tuan putri untuk pergi. Selamatkanlah mereka dan begitu semua ini selesai, mari merayakannya bersama"
Putri Yuna mengangguk setuju, mengucapkan perpisahan dan bergegas menuju rumah menggunakan kuda pemberian Antra sebagai hadiah awal pertunangannya dengan Alvain. Tuan putri telah mengatakan kalau mereka bahkan belum menjadi pasangan, tetapi Antra mengatakan kalau itu akan terjadi tak lama lagi, hanya tinggal menunggu waktu. Terlebih sesudah melihat Alvain tampak begitu khawatir yang tentu tak diceritakan semua karena rahasia para lelaki. Tuan putri memaksa, namun akhirnya memilih untuk menyerah sesudah melihat Antra takkan mau menghianati janji tak tertulis para laki-laki.
Dalam perjalanan, tuan putri berharap semoga saja dia belum terlambat. Dia masih sulit membayangkan Qeina yang tampak begitu lemah lembut dan baik, ternyata adalah otak di belakang semua ini. Sulit dibayangkan seseorang seperti itu memiliki sisi gelap tersebut, membayangkan kalau Qeina rela membuang nyawa demi membangkitkan kembali Sang pujaan hati tercinta. Tetapi, putri Yuna dapat sedikit bersimpati padanya karena dia mungkin juga akan melakukan hal yang sama seandainya Alvain harus mengorbankan diri. Jauh lebih sulit membayangkan hidup tanpa laki-laki tersebut. Dia memang memiliki kekurangan dan tampak dingin dari luar. Namun, Yuna tahu seberapa sayangnya Alvain pada dia sampai rela mengubur perasaan sendiri karena merasa dia masih belum cukup pantas untuk menjadi pendampingnya.
Di malam mereka bicara, beberapa hari yang lalu, Yuna akhirnya mengerti mengapa Alvain selalu menghindar tiap kali ia berusaha membahas soal hubungan mereka. Alvain ingin menjadi sosok yang pantas untuk berdiri di sampingnya, menjadi pendamping yang tak hanya dapat memberi Yuna kasih sayang tetapi juga ketenangan. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal tersebut jika dia masih belum berdamai dengan diri sendiri? Itulah alasan utamanya. Alasan yang akhirnya terjawab ketika Yuna mengatakan kalau Alvain yang sekarang sudah sempurna baginya. Ia tak menginginkan Alvain yang lain. Dan hal tersebut akhirnya menjadi sebuah awal dari hubungan baru mereka yang masih menjadi sebuah tanda tanya karena Alvain meminta waktu untuk menjawab pernyataan Yuna. Itulah sebabnya, Yuna takkan memaafkan dia jika Alvain sampai meninggalkannya tanpa sebuah jawaban.
Tak butuh waktu lama baginya untuk tiba, terutama berkat kuda pemberian Antra. Hanya beberapa jam perjalanan saja, tak membutuhkan dua hari seperti sebelumnya. Tetapi, dalam beberapa menit terakhir ini, dia terus merasakan getaran-getaran kuat pada tanah, seakan gempa sedang terjadi. Tetapi, itu tak mungkin terutama karena akar Yggdrasil mencengkram kuat tanah Alfheim.
Pertanyaannya tersebut terjawab saat menyaksikan ledakan-ledakan besar tak jauh di depan. Dinding kerajaan sudah tampak di sana, terlihat hancur berantakan di beberapa bagian disertai kepulan asap tebal dari dalam kota dengan jumlah melebihi sepuluh. Perang besar telah terjadi antara elf dan Mercenary, membuat degup jantung putri Yuna berdetak makin kencang dengan beragam bayangan buruk. Ia sudah menguatkan diri beberapa jam sebelumnya, tetapi semua itu mulai retak ketika tubuh-tubuh tak bernyawa berserakan di sana yang kebanyakan adalah milik para Mercenary.
Ia tak tahu apa yang sudah terjadi sampai membuat tubuh mereka tak lagi utuh, bahkan tercabik-cabik seolah dimakan oleh hewan buas. Darah menggenang, mewarnai jalan oleh sebuah pemandangan menyeramkan. Terlihat para ksatria di depan, berdiri lemas menggunakan pedang sebagai tumpuan. Para bangsawan pun terduduk di atas tanah, terengah-engah dengan wajah bagaikan tawanan yang tak diberikan makan selama beberapa hari.
__ADS_1
Mereka mendengar suara derap langkah kuda dan berbalik ke arahnya, terkejut saat menemukan Sang tuan putri masih baik-baik saja. Mereka berusaha bangkit berdiri, ingin bergerak mendekati Sang tuan putri, tetapi tubuh yang tak bertenaga datang menghianati. Tuan putri mengangkat tangan, memberi mereka tanda untuk tetap diam di tempat dan membiarkannya mendatangi mereka.
"Apa yang terjadi di sini?" Tanyanya tegas, tak ingin menampilkan kesedihan di dalam hati karena sekarang mereka membutuhkan sebuah harapan, bukan sebuah rasa penyesalan.
"Kami berhasil menghadapi para Mercenary yang tersisa. Namun, kami tak yakin dengan keadaan tuan Alvain, tuan Theora dan M3RC yang kalian sewa. Mereka menghadapi Fayheart. Elf tersebut sudah menjadi monster, jatuh dalam kegelapan dan berusaha menghancurkan Alfheim hanya karena kami tak sejalan dengan pemikirannya yang berniat membebaskan Alfheim dari Codes. Sungguh sebuah hal bodoh" Jelas salah satu bangsawan di umurnya yang sudah mendekati 700. Ia terlihat tua, tetapi masih tampak kegigihan pada sepasang mata tersebut, tak tertutupi oleh usia.
"Fayheart?" Ulang tuan putri, sulit percaya yang didengarnya, terutama ketika ia tahu Fayheart bukanlah seseorang seperti itu. Qeina pasti telah melakukan sesuatu sehingga dia menjadi seperti sekarang "Baiklah, terima kasih karena telah memberitahuku. Segera pergi dari sini, jalani pengobatan dan sebelum kami memberi tanda kemenangan, jangan pernah mendekati kerajaan. Kita tak tahu seberapa parah dampak pertarungan yang sedang terjadi"
Tiba-tiba dari kejauhan, sebuah energi besar datang menghempas mereka, mendorong dan menjatuhkan tuan putri dari kuda, tak siap menghadapi energi yang datang mengamuk tersebut. Perlahan ia bangkit berdiri, berusaha melawan energi gelap yang membuat seluruh bulu kuduknya berdiri tegak oleh rasa takut akan keselamatan mereka bertiga. Dia kembali naik ke atas kuda, memacunya mendekati ledakan energi tanpa memedulikan panggilan para bangsawan yang memintanya untuk pergi bersama mereka ketimbang membahayakan nyawa. Tuan putri berterima kasih dalam hati, tetapi mustahil baginya untuk meninggalkan tiga orang yang sementara bertarung mengorbankan diri demi Alfheim. Terutama, saat Sang kekasih juga berada di sana.
Namun, begitu sampai apa yang dilihatnya justru membuat tuan putri terdiam di tempat. Ia tak percaya X lah yang justru masih berdiri tegak di hadapan Fayheart. Tetapi, dia terlihat sedikit berbeda sekarang. Namun, pikirannya itu teralihkan saat ia menyaksikan sebuah sulur tanaman perlahan terbentuk tak jauh di belakang, menjalar dan masuk menembus dada Fayheart dalam kecepatan tinggi. Rasa takutnya datang mengambil alih, membuat seluruh tubuh gemetaran.
Qeina muncul di sana, mengucapkan beberapa kalimat pada X dengan senyuman hangat yang justru membuat hati Yuna merasa tak nyaman. Ia berlari, berusaha memperingatkan X. Sayangnya, dia telat. Salah satu sulur tanaman bergerak dalam kecepatan yang sama, masuk menembus tubuhnya sebelum kemudian keluar, meninggalkan X yang kini jatuh lemas ke atas tanah. Tuan putri meneriakkan namanya, tak peduli hal tersebut menarik perhatian Druid di depan dan dengan pedang dalam genggaman tangan, ia datang melompat memberikan sebuah serangan.
__ADS_1