Archsoul

Archsoul
Valley of Souls (Part 2)


__ADS_3

"Alvain, jangan bergerak dan tetap diam di sana" Balasku cepat "Kita tak tahu apa yang akan dia lakukan"


"Itulah kenapa kalian harus menyelamatkanku!" Geramnya.


"Kau tak mau bermain bersama kami?" 


Mendengar suaranya yang terdistorsi bagai dua orang berbicara secara bersamaan, gabungan dari suara anak kecil dan suara berat tak manusiawi, membuat Alvain mematung di tempat. 


Dia memberi kode untuk melakukan sesuatu pada bocah laki-laki tersebut menggunakan bola mata dengan wajah yang memohon sebuah pertolongan. 


"Lakukan saja apa yang dia minta" Tukas Zena begitu santai seolah hal ini sama sekali tak mengganggunya.


"Ya ya! Bermainlah bersama kami!"


Tahu-tahu Alvain sudah ditarik olehnya, di bawa ke salah satu rumah di mana kami kemudian mendengar jeritan keras yang tak kami sangka dapat keluar dari sosok serius seperti Alvain. 


Pintu ditendang terbuka, dia berlari keluar dan bergegas menancapkan pedang menciptakan sebuah barrier untuk menghalangi para Phantom. Alvain terengah-engah, kesulitan mengambil napas sampai harus menggunakan gagang pedang sebagai tumpuan agar tak terjatuh lemas ke bawah. 


"Kalian hanya menontonku?" Tanyanya pelan. 


"Apa yang harus kami lakukan? Semua terjadi begitu cepat!" Balas Theora.


"Kau.. Tak tahu apa yang sudah kulihat di dalam sana" 


Tiba-tiba tempat ini berubah gelap. Sama sekali tak cahaya. Hanya terdapat kegelapan pekat dengan bayang-bayang pepohonan tak jauh di depan.


Dapat kurasakan jantung berdegup makin kencang. 


Hawa dingin datang kemari. 


Bisikan-bisikan tersebut terdengar makin kencang. 


Kemudian suasana berubah hening mencekam. 


Tak ada yang terjadi selama beberapa detik berikutnya.


Tak satupun bergerak.


Tak satupun bersuara. 


"KEPARAT!! SIALAN!! **** **** ****" 


Aku bergegas mencari Zena, menarik lengannya dan berlari ke arah Theora yang kini tak kalah pucat seperti Alvain. Pedang dalam genggaman gemetar kuat, diarahkan pada satu arah dengan wajah penuh rasa takut sampai membuat kami khawatir dia akan terkena serangan jantung. 


"Apa yang terjadi?!" Tanya Alvain. 


"A a a a a-


"Apa!?"


"Ada nenek!"

__ADS_1


"Nenek?! Kau berteriak karena nenek?"


"Dia tak memiliki mata sialan! Mulutnya dipenuhi gigi-gigi tajam besar! Dengan wajah yang setengahnya tak memiliki kulit!" Teriak Theora cepat, lalu memerhatikan sekitar, mencari-cari di mana letak si nenek "Kau bayangkan saja dia tiba-tiba menyentuh pundakmu dan begitu kau berbalik kau melihat sesuatu seperti itu!" 


"Kita sudah sering berperang! Kita sudah melihat yang jauh lebih buruk!" 


"Kau tak lihat kedua kakimu sekarang?!"


Kami melihat ke sana, menemukan kaki yang seolah sedang berdiri di atas gempa dan berusaha kuat menahan tawa padahal kami juga sedang gemetar kuat sambil terus melihat kanan-kiri. 


"Xera, itu siapa?"


Mataku melebar mendengarnya.


Aku melirik ke bawah, melihat tangan yang digenggam oleh tangan kiriku sekarang bukanlah tangan Zena. Tangan tersebut berwarna putih pucat, tampak begitu mulus tanpa noda. 


Mataku menelusuri tangan tersebut secara perlahan, mempersiapkan hati untuk sebuah kejutan, kejutan yang aku yakin akan kubenci setengah mati. Begitu sudah mencapai lehernya, aku berhenti di sana. 


"Tolong bilang padaku seperti apa wajahnya" 


Namun tak seorangpun berbicara. 


"Hei! Seperti apa wajahnya!" 


Aku masih dapat melihat mereka dari sudut pandangan, tetapi entah karena apa mereka justru terdiam di tempat yang membuatku semakin panik. 


Kukuatkan hati, menghela napas panjang dan perlahan membuka genggaman tangan hanya untuk tangan kiriku digenggam olehnya.  


Hatiku seolah jatuh ke dalam jurang terdalam merasakan tangan yang begitu dingin. Seketika niat untuk lari menghilang, tergantikan dengan niat untuk pingsan di tempat. 


Aku buru-buru menoleh padanya, merasa tenang karena akhirnya pacarku berada di sini. Namun kedua mata itu justru membuatku mematung di tempat. 


Warnanya hitam. 


Hitam pekat bagaikan melihat langit malam. Bedanya langit malam masihlah indah. Mata itu! Mata itu sama sekali tak ada indahnya. Bahkan kalau bisa aku ingin melupakannya. 


"Ada apa Xera.. Mengapa kau terdiam.. Apakah ada yang salah.. "


Kugelengkan kepala pelan dan melirik pada yang lain. 


Mereka juga sama. Mata mereka berubah hitam pekat sama seperti warna urat di sekitarnya. 


"Ada apa Xera.. Apa kau menemukan sesuatu yang salah.. " Ucap mereka berbarengan, menciptakan suara yang benar-benar tak manusiawi. 


"Xera.. Xera.. Xera.. XERA.. XERA! XERA!!" 


Tiba-tiba aku sudah berada di atas tanah, memerhatikan langit kelabu dengan wajah Zena tepat berada di depan. 


Aku bergegas bangkit berdiri, mengaktifkan mode bertarung BPZ hingga cahaya kemerahan menerangi area tempat kami berada "Jangan bermain-main denganku. Aku akan membunuh kalian di tempat"


Alvain buru-buru berjalan mendekat sembari mengangkat tangan, memperlihatkan kalau dia sama sekali tak berniat buruk "Xera, Xera, hei tenanglah. Ini kami. Kau pingsan selama dua menit tadi. Aku tak tahu apa yang kau lihat di sana, tapi ini kami" 

__ADS_1


Zena bangkit berdiri, berjalan mendekat dengan wajah khawatir namun segera menghentikan langkahnya ketika melihat percikan listrik makin mengamuk "Sayang, ini aku. Ini benar-benar diriku. Aku mendekat ya?" 


Langkah demi langkah, Zena datang secara perlahan. Dua tangan terangkat, sebelum akhirnya menyentuh lenganku di mana dapat kurasakan kehangatan di sana. Dia meremasnya sedikit, tangan kiri naik meraba pipi dan akhirnya kuputuskan untuk menonaktifkan BPZ. 


Kuhela napas lega, tak sadar sudah menahannya semenjak tadi yang dibantu oleh Zena dengan mengelus pelan dadaku. 


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanyaku tak mengerti. 


Alvain menurunkan tangan, ikut menghela napas "Saat kegelapan itu tiba-tiba muncul, kita mendengar Theora menjerit keras dan tak lama kemudian kau jatuh pingsan. Kami juga tak mengerti apa yang terjadi, termasuk Zena yang ternyata adalah pencipta dari tempat ini" 


Aku menoleh padanya, tak percaya kalau pacarku sendiri adalah pencipta dari tempat mengerikan.. "Ahhh! Pantas saja kau tak merasa takut dan meminta kami untuk datang ke sini"


"Tidak! Tidak seperti itu!" Jawab Zena cepat dengan wajah memerah "Xera, aku sama sekali tak memiliki niat untuk membuatmu merasa ketakutan bahkan sampai pingsan. Kita hanya mengikuti Anti Matter. Itu saja. Aku bersumpah atas hubungan kita" 


"Hei!"


"Kenapa takut? Aku sama sekali tak memiliki niat seburuk itu.. Sedikit" Zena tertawa gugup dan memberiku sebuah kecupan di pipi "Maaf, aku ingin kau melihat karyaku. Keren bukan?" 


"Ya ya ya, karya mu keren, bagus, luar biasa dan kami tahu kalian berdua saling mencintai" Cibir Theora sembari berjalan mendekat "Tapi kita harus segera pergi dari sini. Tanpa bermaksud menghina karya mu Zena, aku sudah tak dapat menahan begitu banyak pasang mata menatap ke arah kita" 


"Apa maksudmu?" 


Theora terdiam, lalu melihat ke belakang di mana dia berulang kali mengecek sesuatu yang seharusnya berada di balik kabut. Begitu kembali menghadap kami, tampak jelas kepanikan di sana "Kau tak bercanda bukan?" 


"Aku benar-benar hanya memasukkan Phantom saja dan mereka hanya berbentuk seperti kita, tak dapat memiliki bentuk seperti mahluk lain" Jawab Zena menegaskan dan sedikit panik melihat reaksi Theora yang seolah baru saja menemukan sesuatu yang menyeramkan. 


"Kita harus pergi sekarang. Aku tak tahu apa yang kulihat atau apa yang terjadi, tapi kita harus pergi sekarang" Balasnya dalam satu helaan napas. 


Kami akhirnya kembali melanjutkan perjalanan, beberapa kali melihat ke belakang untuk memastikan kami tak sedang diikuti namun sama sekali tak ada apa-apa di belakang sana. Hanya sebuah kabut. 


Tapi tak dapat dipungkiri, kami merasakan sesuatu terus mengawasi. 


Kami melewati desa kecil tersebut, berusaha menghiraukan pandangan berwarna oranye itu dan bertanya-tanya ke mana perginya bocah tersebut. Kenapa dia tiba-tiba menghilang begitu saja?


Namun memilih untuk tak mempertanyakannya karena lagipula dia sudah tak lagi mengganggu.


Perjalanan di dalam Valley of Souls ternyata memakan waktu lebih lama dibanding yang kami kira, terutama dengan Anti Matter yang ternyata berputar-putar sengaja membuat kami pusing dan lelah.


Sehingga matahari pun mulai terbenam di barat, menandakan malam akan tiba dan kami benar-benar tak ingin berada di dalam sini saat hari telah malam atau dijamin kami takkan tidur tenang selama beberapa hari. 


Bahkan Zena yang adalah pencipta dari tempat ini juga mulai panik, terus melihat ke arah matahari yang perlahan-lahan menghilang.


"Kalau kita bertemu dengan jiwa itu, aku akan menginjaknya sampai puas!" Tukas Theora kesal. 


"Biasanya aku takkan setuju denganmu, tapi kali ini biarkan aku bergabung" Balas Alvain tak kalah kesalnya dengan wajah yang tak sedap untuk dipandang sampai putri Yuna harus menenangkannya karena khawatir melihat wajah Alvain yang dipenuhi amarah itu. 


"Oke, kita harus mencari tempat untuk bersembunyi" Ucap Zena tiba-tiba, menghentikan langkahnya. 


"Umm.. Kenapa?" Tanya Theora pelan, tak siap mendengar jawaban.


"Karena aku.. Aku mungkin sudah menaruh hal-hal yang akan membuatku takut"

__ADS_1


"Permisi, kenapa?" Tanya Theora lagi. 


"Untuk membuatnya lebih menarik, hehe"  


__ADS_2