
"Hei! Hei!! X!! KITA AKAN MENABRAK DINDING!!!"
Benar sekali.
Melalui mode inframerah, aku dapat melihat tubuh kedua Mercenary yang kini sementara melompat. Aku tersenyum melihatnya, karena kebetulan searah dengan kami. Oleh karena itu, bukannya melambat, aku justru menambah lebih banyak energi pada kedua kaki, meluncur dalam kecepatan tinggi dari atap sebuah bangunan hingga sebuah ledakan sonic terbentuk di belakang.
"Theora! Gunakan perisai sihirmu sekarang!!"
Meskipun sembari menjerit, lingkaran sihir emas terbentuk di depan kami, menjadi sebuah pengaman ketika kami masuk menghancurkan dinding dengan perisai sihir yang kini juga hancur berkeping-keping. Target berada di depan, sudah akan mengirim Alvain menuju gerbang kematian. Namun sayangnya, kalian telat sedetik. Kuarahkan tangan kiri ke depan, siap menghadapi body armor mereka dan apa yang terjadi berikutnya benar-benar tampak seperti sebuah hayalan semata. Begitu cepat dan menegangkan.
Aku dapat merasakan kilas balik dari benturan tersebut, merasakan sekujur tubuhku ikut gemetar karenanya. Kedua Mercenary yang kini tertanam dalam dinding, telah tak lagi bernyawa. Tak seorangpun dapat hidup dengan dada yang hancur seperti ini. Aku menarik keluar tangan kiri, melihat darah ikut terciprat keluar membuat jaket hitam favoritku sedikit kotor oleh noda merah, lalu melompat turun ke bawah demi Theora yang tampaknya sudah akan kehilangan kesadaran.
Kuregangkan tubuh, merasakan tiap adrenalin tersebut mengalir cepat ke sekujur tubuh, tak sabar untuk segera bertarung seperti yang biasa kulakukan. Akhir-akhir ini aku hanya bertarung demi misi dan bukannya bersenang-senang, tetapi melihat ada M3RC, tampaknya aku dapat mengusir rasa bosan karena hanya merekalah yang pantas diperlakukan sebagai mesin, bukan mahluk hidup. Sebagai M3RC, aku tahu hal-hal macam apa saja yang sudah mereka lakukan demi meraih gelar tersebut, jadi bukan sebuah masalah untuk membuat tubuh ini sedikit bergerak bukan?
"X! Theora! Apa yang kalian lakukan? Mengapa kalian tahu aku ada di sini?" Tanya Alvain yang anehnya terlihat gembira, sesudah mengambil kembali pedangnya.
"Tanyakan pada Theora. Dialah yang menebak keberadaanmu, aku hanya mengantarnya saja" Jawabku singkat, lalu menoleh pada sosok elf tak jauh di samping "Kau fokuslah terhadap ayahmu, biarkan aku dan Theora menghadapi para Mercenary yang akan datang ke sini"
"Mereka akan datang ke sini?" Ulang Theora.
__ADS_1
Aku mengangguk "Apa kau lupa dengan para Mercenary kemarin? Setelah keributan yang kita ciptakan, tak mungkin mereka hanya tinggal diam. Tak masalah, aku juga sudah tak sabar untuk segera memberi mereka pelajaran"
"Mengapa?" Tanyanya lagi.
"Entah. Aku hanya tak senang melihat cara mereka memperlakukan kalian" Jawabku singkat dan segera mengerahkan lebih banyak energi pada tangan kiri karena dari penglihatan infra merah, para Mercenary tersebut telah berada di koridor dengan jumlah yang sesuai dugaan. Melebihi puluhan orang.
Begitu mereka berlari masuk dan mengelilingi ruangan ini, Theora menutup mata, mengalirkan mana pada pedang yang lalu memancarkan sinar keemasan terang dan memasang kuda-kuda, siap untuk menyerang "Serahkan mereka pada kami Alvain, kami takkan membiarkan satupun mengganggumu dan dewan Edenwood"
Alvain mengangguk, menguatkan genggaman pada pedang dan mulai mengalirkan mana. Sang ayah di depan, menyerigai, mengangkat kedua tangan dan menghentaknya. Seketika, lima buah pusaran angin tajam terbentuk dengan pusatnya mengarah tepat pada Alvain, siap mencabik-cabik tubuh elf tersebut.
Kedua orang itu sudah mulai bertarung di belakang, memastikan tak satupun Mercenary dapat mengganggu pertarungan antara ayah dan anak, memberi Alvain waktu untuk dapat menenangkan diri sebelum menghadapi seseorang yang pada dasarnya telah menjadi sosok idola semenjak dia masih kecil.
Ia menghembuskan napas, membuka mata dan maju menerjang. Kelima buah pusaran angin itu ditembakkan, meluncur cepat, menghancurkan lantai di samping layaknya sebuah bor besar seukuran elf dewasa. Sesudah menghindari serangan kedua, Alvain dengan penuh keyakinan, menebas pusaran angin ketiga, terkejut ketika berhasil melakukannya, namun tak membiarkan keterkejutan itu mengendalikan diri dan lanjut menebas dua yang tersisa. Dewan Edenwood tersentak kaget, tak menyangka Sang anak mampu melakukan hal tersebut dan tak ingin kalah darinya.
Sadar oleh pertarungan yang mungkin takkan pernah berhenti ini, keduanya mengambil jarak di saat bersamaan, saling menjauh untuk mengerahkan lebih banyak lagi mana yang lalu membuat tebasan pedang Alvain membentuk energi-energi putih-keemasan tajam. Dewan Edenwood menyeringai lebih lebar dengan dua buah tornado mini terbentuk sehingga menciptakan angin kencang dalam ruangan. Para Mercenary merasa ragu untuk datang mendekat karena sadar tornado mini tersebut pada dasarnya sama seperti sebuah blender yang siap mencabik-cabik tubuh mereka. Sehingga mereka berhenti menyerang dan memilih untuk menjaga jarak.
Kami berdua yang kini tak memiliki pekerjaan, berbalik menonton pertarungan di depan. Kami hanya akan bergabung ketika Alvain memintanya, tetapi kami yakin Alvain mampu menghadapi ini, terlebih ketika dia sedang tersenyum gembira seperti sekarang yang justru membuatku bertanya-tanya. Apakah tak ada yang normal di antara kami?
"Tampaknya kau sudah semakin kuat Alvain, kau membuat ayah merasa bangga" Seru dewan Edenwood, tak tampak seperti seseorang yang sedang dikendalikan pikirannya.
__ADS_1
Seringai Alvain melebar mendengar itu dengan jantung berdegup makin cepat oleh semangat "Kau belum melihat semuanya yah. Akan kubuktikan janjiku pada ayah beberapa tahun lalu!"
Mereka saling menerjang, menyerang seakan ini adalah pertarungan terakhir sebelum mereka akhirnya berpisah. Ayah dan anak itu mengerahkan segalanya, menghabiskan hingga tetes terakhir mana. Namun, keduanya terlihat menikmati apa yang sedang mereka lakukan. Seolah-olah, ini sebuah latihan semata dan bukannya pertarungan hidup-mati.
Dua tornado mini itu kini bergabung menjadi satu, menciptakan sebuah tornado yang sampai menghancurkan ruangan di atas. Kaca-kaca jendela pecah oleh tekanan angin, layaknya sebuah badai mengamuk. Beberapa Mercenary tak mampu menahan hisapan dan tertarik masuk, berubau menjadi serpihan-serpihan daging serta besi kecil dengan darah yang menyebar ke sana-ke mari. Mereka yang tersisa, bergegas keluar dari dalam ruangan meski harus melompat keluar dari jendela padahal kami berada di ruangan yang cukup tinggi. Tetapi, kesempatan mereka hidup jauh lebih tinggi dibanding jika mereka tinggal diam di dalam sini seperti kami berdua yang tetap diam di tempat, berlindung di balik lingkaran sihir keemasan Theora.
Begitu Alvain mengayunkan serangan terakhirnya, sebuah tebasan energi keemasan berbentuk bulan sabit tercipta, bergerak lebih lambat dibanding sebelumnya, tetapi dengan daya hancur besar hingga apapun dengan jarak lima meter, ikut hancur begitu ia melintas. Di saat bersamaan, tornado tersebut bergerak mendekatinya, mengamuk menghancurkan apapun yang menghalangi jalan layaknya sebuah amukan binatang buas.
Kami berdua terdiam di tempat, bersiap untuk menghadapi benturan yang ketika terjadi, mengirim kami terbang ke luar bersama puing-puing bangunan. Ledakan besar tersebut sampai menciptakan badai yang berhasil mengangkat bangunan-bangunan di sekitar dan membawanya pergi bersama tiupan angin kencang sehingga area di sekitar istana, terutama yang berhadapan dengan ruangan tersebut, menjadi hancur berantakan.
Aku berharap semoga tak ada korban jiwa, walaupun itu mungkin kecil kemungkinannya melihat kehancuran besar yang dihasilkan.
Perlahan, aku bangkit berdiri bersama Theora. Dia terlihat benar-benar kotor oleh debu yang aku yakin, begitupun diriku. Kami diam sejenak, memerhatikan keadaan sekitar, lalu menghela napas, siap untuk menghadapi kenyataan kalau perbuatan kami baru saja membuat banyak jiwa melayang.
"Kalian berdua tenang saja, kami sudah mengevakuasi warga sesuai permintaan Alvain"
Kami berbalik, menemukan sosok bangsawan yang kami kunjungi dan jauh lebih terkejut lagi ketika melihat sudah tampak begitu banyak ksatria elf siap untuk berperang dengan pemimpin masing-masing berdiri tegap di depan mereka.
"Kalian telah melakukan yang terbaik, sisanya, serahkan pada kami" Ucap tuan Fayheart yang tahu-tahu muncul di samping sembari melipat lengan dan sudah dalam zirah besi miliknya. Sesuatu yang benar-benar langka karena zirah tersebut adalah zirah khusus milik elf yang ringan meski tampak besar dan berat.
__ADS_1
Seorang elf takkan menggunakan zirah besi yang dapat menganggu kemampuan utama mereka. Kecepatan dan kegesitan.
Para ksatria di belakang juga menggunakan zirah yang sama sembari menatap ke depan, di mana para Mercenary juga ikut menampakkan diri oleh body parts Z masing-masing dalam warna merah terang, tanda energi telah dikerahkan hingga titik tertinggi. Yang berarti, bagian utama dari acara ini akan dimulai.