Archsoul

Archsoul
Part 64


__ADS_3

"Bagaimana caramu.. Tidak, seharusnya aku sudah tahu. Kau yang dengan mudah mengalahkan Fayheart di Tier 10, tentu bisa mengalahkanku. Tapi, mengapa kau menahan diri?! Kau bisa saja menghancurkannya lebih cepat! Dapat mengalahkanku dari awal!! Mengapa kau menahan diri sialan! Apakah kami begitu tak berartinya di matamu!!" 


"Justru karena kalian berarti aku menyembunyikan diri! Aku tak ingin kalian berada dalam bahaya brengsek! Kau pikir aku mau terus seperti ini? Aku juga merasa tak nyaman keparat! Tapi apa yang bisa kulakukan selain diam! Kau sama sekali tak mengerti yang kualami sekarang!" 


"Kalau begitu jelaskan! Bukan hanya diam! Kau pikir kami bisa membaca pikiranmu?! BICARA!!"


"KALIAN BISA MATI!"


Dadaku naik turun dengan cepat karena amarah. Sulit menahan untuk tak melampiaskannya pada Alvain yang terus mendesak. Apa dia tak mengerti kalau ada beberapa hal yang tak dapat dikatakan? Aku juga melakukan ini untuk mereka, bukan karena diriku mau. Sialan, sejak kapan aku menjadi begitu peduli dengan pendapat orang! Tak sampai semenit yang lalu aku kembali seperti dulu dan sekarang aku sudah menjadi seperti ini lagi. 


Semua berubah ketika aku bertemu dengannya di HQ. Semenjak Z menampakkan diri dan mengajakku bicara untuk pertama kali, hati yang tadinya sudah tertutup oleh dinding, seketika kembali terbuka, memberi ruang untuk rasa sakit datang menyerang. Dan terjadi sekarang. Perasaan tak nyaman ini terus memaksaku untuk mengatakan semuanya pada mereka, mengatakan kalau mereka pasti mengerti. 


Bukan itu masalahnya! Aku tak tahu seberapa bahaya jika informasi mengenaiku dan Z keluar. Nyawa mereka bisa saja terancam dan tak satupun dari kami berdaya di hadapan Codes! Apa harus ada lagi yang mati hanya karena kesalahanku? Aku tak ingin kejadian yang sama terulang kembali! Sulit untuk bangkit dari sana, kembali berjalan ke depan tanpa merasa kematian terus datang memintaku untuk bergabung. Aku tak mau merasakan hal itu lagi, sudah cukup. Aku tak yakin jika diriku kuat menghadapinya untuk keempat kali. 


Kunaikkan tudung kepala, mengaktifkan Face Distortion dan akan berjalan pergi, namun segera ditahan oleh Alvain yang tahu-tahu sudah berada di belakang, memegang lengan kiriku "X- Tidak, Xera! Apapun yang kau pikirkan sekarang, kami takkan pernah meninggalkanmu seperti yang terjadi sebelumnya. Maaf, aku mencari tahu masa lalumu selama tiga hari ini untuk mengerti dirimu jauh lebih baik. Aku tak tahu apa yang terjadi pada saat itu, tetapi aku berjanji padamu, hal yang sama takkan terulang karena kami juga ada di sini untuk membantumu. Awalnya, kau hanyalah seorang M3RC yang kami sewa. Tetapi, seiring berjalannya waktu, kami merasa kalau kau adalah bagian dari kami, seseorang yang harus kami jaga dan kami pedulikan. 


Waktu yang kita habiskan hanyalah sebentar, tetapi hubungan yang kita bangun bersama, sudah jauh lebih kuat dari sekedar teman biasa. Kau adalah saudara seperjuangan kami Xera. Kami siap membagi semuanya bersamamu, jadi kami harap kau juga melakukan hal yang sama. Namun, kalau kau merasa lebih baik sendiri sesudah ini, maka aku takkan mengganggumu lagi" Alvain melepaskan genggaman, menarik kembali tangannya dan berbalik badan "Kapanpun kau membutuhkan kami, kami selalu siap Xera. Tolong ingat kalau kini kau tak hanya bertarung sendirian, ada kami di sisimu" Ucapnya sebelum berjalan menjauh, kembali pada Sang kekasih yang telah menunggu di depan. 


Theora menghilangkan kubah, menggeleng-gelengkan kepala memerhatikan keadaan sekitar yang sudah tak lagi dapat dikatakan sebagai sebuah taman. Ia menepuk tangan beberapa kali, lalu dengan sendirinya halaman ini kembali seperti semula, seolah tak pernah terjadi sebuah pertarungan besar. Bahkan, terlihat jauh lebih cantik dan indah dibanding sebelumnya yang aku yakin memakan banyak mana. Terutama sesudah dia mempertahankan kubah besar sebelumnya. 


Aku jadi makin penasaran terhadap kekuatan Theora. Apakah benar dia hanya Tier 8? Aku merasa dia jauh dari itu. Dan aku baru saja ingat. Aku sama sekali belum pernah mendengar cerita masa lalu mengenai Theora. Aku hanya tahu dia adalah sahabat kecil Alvain dan tuan putri. Tetapi, selain itu, mereka sama sekali tak pernah berbicara lebih lanjut mengenainya. Apakah mereka sengaja menyembunyikannya dariku atau terdapat sesuatu yang lain yang belum kumengerti?


Sebuah helaan napas panjang keluar memikirkannya. Aku tak dapat membayangkan berapa banyak misteri yang masih belum terjawab. Mari berharap, semoga tak ada lagi misteri lain sesudah ini atau kepalaku bisa pecah memikirkannya. 

__ADS_1


Sayang sekali kenyataan berkata lain dengan kemunculan seorang Angel, Demon serta Dragonoid yang kini berjalan mendekatiku. Alvain dan yang lain merasa was-was di belakang, tetapi memutuskan untuk tak mengganggu karena ketiga orang ini juga tak terlihat ingin mencari masalah. 


Si Angel mempercepat langkah, berlari lalu tahu-tahu sudah menarik tanganku menggunakan kedua tangannya dan didekatkan pada wajah yang kini tampak memerah oleh rasa malu "A-apakah kau memiliki waktu sesudah ini? Aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu"


Tepat sesudah dia mengatakan itu, si Demon menghantam kepalanya dengan wajah kesal "Kau adalah Angel tapi bersikap seperti Succubus" Lalu matanya mengarah padaku "Maafkan sikap temanku yang satu ini. Dia sedikit tergila-gila padamu yang di mana aku mengerti kenapa, tapi dia sedikit kelewatan" Dia berdeham beberapa kali, melangkah ke depan sekali dan memajukan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa senti saja "Bagaimana kalau kita makan malam berdua? Aku ingin mengetahui darimana kekuatanmu itu-


Kini giliran dia yang menerima sebuah hantaman dari si Dragonoid. Dia menggelengkan kepala, merasa malu karena sikap kedua temannya yang sekarang jatuh berlutut sembari memegang kepala masing-masing "Aku minta maaf untuk keduanya. Bolehkah diriku bertanya?" 


Aku mengangguk mengiyakan, berusaha memasang wajah datar, lupa kalau aku sudah menggunakan Face Distortion. 


"Apakah mungkin kau salah satu dari Codes?"


Saat mendengar pertanyaan tersebut, dapat terasa jantungku berhenti berdetak untuk sesaat. Tiba-tiba tubuhku kehilangan tenaga hingga sulit rasanya untuk tetap berdiri dengan kepala bergoyang dan pandangan yang mulai kabur. Muncul beribu pertanyaan, bertabrakan antar satu sama lain membuat kepala terasa seperti akan pecah. Aku berusaha kuat menahan diri untuk tak muntah di tempat karena sedikit saja aku kehilangan kendali, aku dipastikan muntah di depan mereka. 


Untung saja mereka lebih khawatir pada kondisiku yang tahu-tahu kehilangan keseimbangan. Mereka berpikir aku sudah terlalu banyak menghabiskan kekuatan untuk menahan serangan barusan dan membutuhkan sebuah istirahat sesegera mungkin sampai rela mengangkatku masuk dalam istana tanpa memedulikan tatapan yang lain serta sahutan mereka. 


Angel dan Demon tersebut membaringkanku dalam sebuah kamar, mengucapkan perpisahan dan berjanji akan menemuiku begitu sudah baikan sebelum akhirnya buru-buru keluar dari dalam kamar. Dari sini, aku dapat mendengar mereka berdebat bersama Alvain yang merasa curiga mereka telah melakukan sesuatu padaku. 


Aku tak dapat mendengar yang terjadi setelahnya karena entah mengapa, merasakan kelembutan bantal mengundangku untuk menutup mata dan tenggelam dalam kegelapan. Terasa begitu menenangkan dan nyaman sampai sulit rasanya untuk kembali bangun menghadapi kenyataan. Kalau bisa, aku ingin terus berada di sini, mengambang diam tanpa perlu memedulikan apapun yang akan terjadi di masa depan. 


Tetapi, ketenangan itu hanya sebentar karena kemunculan Z dengan wajah tampak begitu dekat dan terbalik. Dia tersenyum, memutar badannya kemudian memberikanku sebuah ciuman panjang serta lama yang kali ini aku yakin benar-benar panjang dan lama. Kedua tangan memegang lembut leher dengan tiap jari meraba pipi, menarikku makin dekat dengannya. 


Begitu dia menjauh beberapa senti dariku, kedua lengannya kini dikalungkan di belakang leher bersamaan dengan kening yang saling bersentuhan. Sepasang mata abu-abu indah tersebut balas menatap. Dapat terasa cinta mendalam di sana, sesuatu yang sudah tak perlu dikatakan dan dapat dimengerti oleh kami berdua. 

__ADS_1


Meskipun ini adalah mimpi, aku merasa hangat oleh kehadirannya yang begitu kurindukan. Seandainya saja kami dapat terus bersama, aku akan menjadi laki-laki paling bahagia di muka dunia. 


"Jangan mencariku untuk sementara. Demi keamananmu" Ucapnya, membuat hatiku seketika merasa sakit. 


"Apa kau berada dalam situasi berbahaya?" Tanyaku pelan yang langsung menariknya masuk dalam dekapan saat dia mengangguk "Berjanjilah padaku kau akan melakukan yang terbaik untuk membuat dirimu tetap aman" 


Zena kembali mengangguk.


Aku membelai pelan kepalanya, merasakan betapa halus rambutnya itu. Setelah beberapa saat, dia menarik diri, kembali menatapku dengan kesedihan tampak di sepasang mata indah tersebut.


"Kita akan menjelaskan situasi kita pada mereka" Ucapnya tiba-tiba. 


"Tunggu, apa kau yakin?"


Aku merasa bersyukur mendengarnya karena aku tak yakin dapat menanggung ini sendiri terutama sesudah mendengar kami tak dapat bertemu untuk sementara. Namun, di saat bersamaan, aku merasa begitu khawatir. Tak hanya pada Zena, tetapi juga mereka.


Zena mengangguk pelan "Iya, justru aku merasa ini harus dilakukan" Ekspresinya berubah serius "Kau akan membutuhkan bantuan sayangku, terutama sesudah perang ini selesai. Sesuatu yang besar akan terjadi dan untuk menghadapi itu, kau akan membutuhkan bantuan mereka. Karena itu.. " Ia kembali datang mendekat, melingkarkan lengan pada punggung dan menempelkan wajah pada pundak kiriku "Bersama, kita akan menjelaskannya pada mereka, terutama.. "


Tiba-tiba rangkulannya tersebut menjadi begitu erat hingga membuatku terbatuk-batuk dan kesulitan bernapas. Aku melirik ke bawah, menemukan Zena juga sedang menatapku dengan sepasang mata setajam silet berhias senyuman mematikan. 


"Aku hanya menghilang sesaat dan kau sudah menarik begitu banyak perhatian. Aku harus membuat mereka mengerti kau milik siapa bukan?" 


Ahh.. Dia cemburu. 

__ADS_1


__ADS_2