
"Apa yang harus kita lakukan padanya?" Tanya Theora melihat dark elf muda yang kini bersembunyi di balik sebuah batang pohon, gemetar ketakutan terutama saat melihat Gorg.
Ahh.. Sepertinya kami telah membuatnya trauma. Aku benar-benar merasa seperti sampah. Seharusnya kami melakukan sesuatu sebelum dia menyaksikan semua yang terjadi tadi.
"Apa.. Apa kalian bisa menghapus ingatan?" Tanyaku pelan, merasa sangat bersalah hingga ingin rasanya aku memutar waktu dan menutup mata dark elf muda itu.
"Kenapa kita mem- Oh" Alvain terdiam ketika menyadari arah pandanganku dan berdecak kesal "Sial, kita benar-benar lupa" Geramnya dengan pelan agar tak didengar oleh dark elf tersebut.
Inilah salah satu alasan aku tak ingin ikut bersama mereka. Aku tahu akan ada jiwa-jiwa muda terseret masuk dan aku tak yakin jika diriku masih dapat menanggung perasaan bersalah karena tak dapat memberikan mereka sebuah tempat tinggal yang jauh lebih baik.
Aku menoleh ke Yuna, menggigit bibir menahan amarah ketika dia menggeleng dengan raut wajah penuh penyesalan, tak dapat membantu. Kuhela napas panjang, berusaha menenangkan diri dan menarik tudung ke belakang, menonaktifkan Face Distortion, lalu perlahan berjalan mendekati dark elf yang tersentak kaget hingga terjatuh ke bawah. Ketakutan tampak jelas pada wajah menggemaskan yang kini meneteskan air mata meminta sebuah pertolongan. Kurendahkan badan hingga akhirnya berlutut di hadapan dia, menatapnya lembut dengan sebuah senyuman hangat "Maaf"
Hanya itulah kata yang dapat kuucapkan sekarang. Sebuah kata yang kuharap dapat kudengar beberapa tahun lalu, di saat aku masih syok terhadap perubahan dunia dan tersesat dalam kegelapan tanpa sebuah jalan pulang.
Si dark elf muda terkejut, menatapku dalam diam sebelum akhirnya menangis kencang. Dengan penuh hati-hati, aku maju mendekat, membawanya masuk dalam sebuah pelukan hangat, sesuatu yang dibutuhkannya sekarang. Tanpa sepatah kata, kubelai pelan rambut panjangnya itu, ingin memberitahu padanya kalau tak apa-apa jika ingin menangis. Aku akan selalu berada di sini sebagai sebuah sandaran untukmu meluapkan segala perasaan yang terpendam.
Kalau kau bertanya, mengapa aku yakin ini dapat menenangkannya. Karena.. Aku juga berharap seseorang melakukan hal yang sama padaku, saat aku sendirian berjuang menghadapi dunia yang kejam.
__ADS_1
Setelah dark elf tersebut tenang, kami melanjutkan perjalanan dengan diriku berada di posisi paling depan agar dia merasa aman dari Gorg. Akan membutuhkan waktu baginya untuk dapat mempercayai Forest Guardian tersebut yang kuharap tak begitu lama, meski sepertinya itu tak mungkin. Trauma di masa kecil adalah trauma yang paling sulit untuk disembuhkan, bahkan hampir mustahil mengingat itu terjadi ketika kita masih begitu polos dan tak mengerti apa-apa. Semoga saja aku dapat menemukan cara agar dia setidaknya mampu berada di sekitar Gorg tanpa perlu merasa waspada.
"Aku tak menyangka kau bisa menangani anak kecil" Ucap Theora bangga dengan suara yang sedikit dipelankan karena dark elf tersebut sementara tidur dalam gendonganku.
"Karena aku seorang Mercenary?" Sarkasku balik, bercanda untuk memecahkan situasi hening yang sudah berlangsung terlalu lama, membuatku merasa sedikit tak nyaman.
Theora maju mendekat, mengusap kepala dark elf dengan lembut, membuatnya bergerak perlahan menyesuaikan posisi di pundakku "Bukan. Kau hanya tak terlihat sebagai seseorang yang dekat dengan anak kecil. Bagaimana cara mengatakannya ya? Umm, kau seperti memancarkan aura dingin dari dinding-dinding es tebal yang kau pasang mengelilingi hati dan menurutku, anak kecil takkan menyukai itu karena mereka lebih tertarik pada sesuatu yang terasa hangat dan menenangkan. Namun, siapa sangka kau ternyata memiliki kehangatan tersebut di balik tiap dinding es tersebut"
Perkataannya itu membuatku tersenyum mendengarnya "Karena itulah kalian seharusnya bersyukur dapat melihat sisi lainku itu. Tak sembarang orang bisa memiliki kesempatan seperti yang kalian dapatkan dan aku yakin orang-orang akan membayar mahal untuk mendengar lebih jauh"
Alvain mendengus geli, dengusan yang kali ini lebih ke arah candaan dibanding hinaan "Kau bahkan bukan orang terkenal di garis depan. Berhentilah menghayal, kau saja selalu menyembunyikan wajahmu itu. Kalau kau selalu memamerkannya, maka aku percaya"
Tawaku keluar ketika melihatnya memperagakan Backman, memasang wajah serius yang justru terlihat aneh, berlagak seakan sebuah kamera sedang merekam "Kalian tahu Backman? Aku tak tahu kalian para elf tertarik dengan budaya pop manusia. Bukankah kalian lebih menyukai sesuatu seperti Petertan? Sang peri yang berjemur di bawah matahari untuk mengisi kekuatannya menghadapi pelaut jahat?"
"Kau bercanda? Itu untuk anak-anak dan Backman? Pfft, ayolah. Takkan ada seseorang sebaik dirinya. Seseorang dengan kekayaan seperti itu akan lebih memilih untuk menggunakannya demi diri sendiri. Aku pribadi menyukai Demon Eater " Seru Alvain bangga.
"Kau baru saja mengatakan Petertan untuk anak-anak" Balas Theora tak terima.
__ADS_1
"Hey, Demon Eater adalah kartun klasik dan jauh lebih gore dibanding Petertan yang jelas adalah sebuah dongeng" Debatnya.
Baru saja akan membalas, perkataan Yuna membuat kami memandang ke depan secara serentak, memerhatikan sebuah tempat yang sering kau dapatkan dalam cerita fantasy. Sebuah kerajaan dengan warna serba hitam, berhias cahaya ungu terang seolah-olah menyahut 'Kamilah tokoh jahatnya!'.
Awan-awan badai tampak berkumpul di atas sana, bergemuruh lalu mengeluarkan suara menggelegar dari petir yang menyambar. Area di sekitar kerajaan tersebut juga berubah hitam sehingga tampak kontras perbedaan antara tanah para elf dengan dark elf. Layaknya putih dan hitam, cahaya dan kegelapan. Kedua ras ini seakan menggambarkan sebuah yin dan yang.
Angin berhembus pelan, membawa rasa dingin menusuk yang cukup mengejutkan. Aku mengira hanya akan merasakan angin sejuk layaknya angin musim semi, siapa sangka aku justru dihadapkan dengan angin musim dingin yang membuat sekujur tubuh merinding hingga tiap bulu kuduk berdiri tegak.
Secara reflek, aku mendekap dark elf itu lebih erat, berusaha melindunginya dari angin tersebut yang lalu membuatku sadar. Bukankah ini cuaca yang biasa dirasakan olehnya? Sehingga aku melonggarkan tangan, memberinya lebih banyak ruang dan benar saja, dia tertidur jauh lebih nyaman dengan sebuah senyuman menghias wajah seakan sadar bahwa dirinya tak lama lagi pulang.
"Kita akan melanjutkan perjalanan di esok hari, saat matahari belum menampakkan diri dengan langit yang sudah mulai terang. Itulah saat terbaik bagi kita untuk menyusup masuk, ketika dark elf berada di titik terendah mereka" Jelas Yuna.
"Kenapa tidak sekarang? Bukankah lebih mudah menyusup di malam hari?" Tanya Theora yang tampak sudah tak sabar meski perjalanan masihlah lumayan panjang.
"Apa kau tak pernah belajar?" Balas Alvain "Malam hari adalah waktu terburuk untuk menghadapi dark elf. Kekuatan mereka akan bertambah dua kali lipat. Hanya di saat perubahan dari malam ke pagilah mereka berada di titik terlemah dan menjadi sebuah kesempatan besar bagi kita untuk menyusup masuk"
"Tapi itu sudah begitu dekat!" Keluhnya.
__ADS_1
"Dekat? Kita berada di atas sebuah tebing! Apa yang mau kau lakukan? Melompat ke bawah sana? Nyawamu sudah melayang sebelum kau menginjakkan kaki di area mereka" Jawab Alvain ketus, tak mengerti mengapa sahabatnya itu tidak sabar untuk segera sampai.
Theora menendang sebuah batu ke bawah, berusaha mengusir kekesalannya sebelum kembali melanjutkan perjalanan mencari tempat berlindung sekaligus beristirahat, tak menyadari, yang dilakukannya tadi membangunkan sosok monster yang telah lama tidur dan kini menjadi sebuah legenda dalam Alfheim.