
Perjalanan menuju kerajaan dark elf, seperti yang kukatakan, tidaklah lama. Seharusnya seperti itu. Namun keributan di depan menghalangi jalan dan aku tak mungkin menggunakan kuda ini melalui hutan di kiri-kanan. Terlalu sempit, tak memiliki cukup ruang bagi kuda untuk bergerak dan hanya akan menjadi sebuah masalah lain ketika ia tersangkut di antara tanaman. Mau tak mau, aku harus segera menyelesaikan masalah di depan atau aku takkan pernah sampai dalam kerajaan dark elf.
Aku berjalan mendekat, melihat apa yang menyebabkan kekacauan di depan dan menemukan sosok Forest Guardian sementara tidur di jalan entah karena alasan apa. Tak sedikit orang yang menggenggam senjata masing-masing, siap menyerang. Namun, melihat bercak darah tak jauh di samping serta pada sisi Forest Guardian yang kini berupa batu biasa itu, aku rasa tak perlu menanyakan apa yang terjadi. Salah mereka menantang mahluk yang pada dasarnya kedua terkuat dalam Alfheim.
Salah seorang dari mereka maju ke depan, seorang Orc dengan wajah penuh keyakinan. Palu besar tergenggam dalam kedua tangan, bersiap memberikan hantaman kuat pada monster yang kini terlelap. Aku ingin berteriak, memintanya untuk tak melakukan hal tersebut. Sayangnya, aku terlambat.. Tidak, aku berbohong. Aku hanya diam di belakang, ingin menyaksikan apa yang seandainya terjadi jika kedua mahluk itu bertarung. Mungkinkah bagi Orc menggunakan palu buatan Dwarf menang? Atau mereka justru berakhir sama seperti gumpalan daging di balik semak-semak, tak jauh di samping kanan?
Forest Guardian terbangun, bangkit berdiri memperlihatkan ukuran tubuh yang lebih besar dibanding Orc dengan tinggi mencapai dua meter tersebut. Mata kuning itu berubah merah, menatap tajam pada sosok Orc yang kini sedang berlari, melompat dan mengayunkan palu besar miliknya. Forest Guardian yang tak terasa asing ini mencengkram palu seakan itu hanyalah sebuah mainan anak-anak, menghancurkannya menjadi serpihan-serpihan kecil. Sebelum ia melanjutkan serangan yang dapat mengirim Orc ke alam kematian, aku berlari ke depan menahan ayunan tangannya menggunakan tangan kiri di mana listrik kemerahan mulai memercik.
Sebuah gelombang energi terjadi, mengirim orang-orang tersebut ke belakang, tak dapat mempertahankan keseimbangan. Hanya Orc itulah yang berhasil bertahan, berlutut di depan dengan wajah tampak tak percaya terhadap pemandangan yang sedang disaksikan. Seorang manusia biasa, menahan serangan Forest Guardian meski dia tadinya menghancurkan senjata buatan Dwarf. Sebelum serangan berikut diberikan, aku buru-buru menarik tudung ke belakang, memperlihatkan rambut putih indah, berkilau di bawah cahaya rembulan. Forest Guardian tersebut terdiam, sebelum akhirnya meraih ke depan, menarikku masuk dalam dekapan.
Sudah kuduga.
"X! Kau ke mana saja? Gorg mencarimu selama tiga hari ini. Alvain dan yang lain mengatakan kalau kau telah tiada! Gorg tentu tak mempercayai itu. Oh, Gorg meminta maaf karena Gorg tanpa sengaja ketiduran saat kalian mengunjungi dark elf. Saat Gorg bangun, Alfheim sudah menjadi tempat yang kacau, dipenuhi oleh orang-orang berniat buruk ini. Itulah alasan Gorg melarang mereka mendekati kerajaan dark elf. Mereka berniat tak baik" Jelasnya cepat seperti seorang anak kecil yang baru saja bertemu kembali dengan orang favorit mereka.
"Tenanglah Gorg. Kau baru saja mengatakan kalau kau bertemu dengan mereka? Apa kau tahu di mana mereka berada sekarang?" Tanyaku penasaran, tetapi melihat begitu banyak pasang mata menatap pada kami, membuatku sedikit was-was untuk membicarakan hal ini.
__ADS_1
Tetapi, Gorg mengerti. Ia menjauh sesudah menghantam tanah, membentuk sebuah dinding tanah besar yang aku yakin akan sulit dihancurkan bahkan oleh senjata seorang Dwarf. Mari berharap semoga tak ada Angel maupun Demon datang atau mereka dapat menghancurkannya dengan mudah menggunakan kekuatan di luar akal mereka tersebut. Gorg membawaku lumayan jauh dari dinding di belakang sebelum akhirnya kembali menurunkanku ke bawah "Maaf, Gorg terpaksa. Gorg harus melakukannya untuk melindungi kerajaan dark elf. Dark elf bukanlah orang jahat, tak seperti yang dikatakan Druid kejam itu"
"Kau bertemu Qeina?" Tanyaku kaget.
Gorg menggeleng "Tidak, Gorg tak bertemu dengan wanita tak waras. Gorg mendengar suaranya dalam kepala. Kami Forest Guardian dapat mendengarkan perintah mereka, Druid tanpa perlu berbicara langsung. Mereka dapat berbicara menggunakan pikiran mereka seperti Gorg berbicara pada diri sendiri saat bosan"
"Mengapa Gorg tak menjalankan perintahnya?"
"Karena itu salah. Gorg tak yakin dengan Forest Guardian lain, tetapi Gorg tak setuju. Dark elf tidaklah jahat, tak seperti yang dia katakan. Gorg tahu karena Gorg sudah bertemu dengan mereka" Jelasnya.
Apapun itu, dia terlihat menggemaskan.
"Oh! Ya, Gorg bertemu dengan mereka. Mereka berada di kerajaan dark elf. Kalau Gorg tak salah ingat, Alvain mengatakan mereka harus melindungi tuan putri dark elf. Si gadis kecil lucu yang entah mengapa takut pada Gorg. Gorg ingin meminta maaf padanya nanti"
Aww.. Aku tak tega melihatnya sedih seperti ini. Untung saja, seperti biasa, aku selalu membawa snack kebanggaanku. Saat aku menariknya keluar dari dalam jaket, kedua mata Gorg bersinar terang. Aku memberikan cokelat tersebut padanya, ikut tersenyum bahagia saat Gorg menikmati tiap bagian dari cokelat-cokelat di dalam plastik kemasan. Begitu selesai, aku mengambil kembali plastik tersebut, berniat membuangnya saat sudah berada di bumi karena Alfheim tak pantas untuk dikotori. Dunia ini terlalu indah untuk sesuatu seperti plastik.
__ADS_1
"Gorg akan mengantar X ke sana! Ayo! Mereka pasti sudah menunggu!" Serunya bersemangat.
Berkat Gorg, aku yakin perjalanan menjadi jauh lebih cepat dibanding sebelumnya. Ah, bagaimana nasib kuda yang kucuri? Semoga saja dia baik-baik saja. Lagipula, seharusnya dia sudah bebas sekarang, tak perlu lagi berada dalam sebuah kekangan, harus menuruti perintah Sang penunggang.
Tanpa X ketahui, kuda tersebut memang telah mendapatkan kebebasan, berlari bahagia merasakan segarnya udara ketika tak ada lagi beban di atas badan. Sayang sekali kebebasan itu tak berlangsung lama. Ia harus ditangkap oleh seorang Werebeast yang langsung mengendus pelana dan tersenyum lebar karenanya. Kuda menghela napas panjang, tak menyangka kebebasan begitu singkat. Selama dirinya hidup, akan terus ada tantangan demi meraih sebuah impian. Ia meneguhkan hati, berjuang untuk kembali merasakan kebebasan tersebut meski kini harus menjadi tunggangan demi seorang Werebeast perempuan.
Ciara yang masih setengah mabuk, menghancurkan bagian kecil hutan di sebelah kiri untuk memutari dinding tanah. Entah bagaimana caranya dia bisa lolos dari sihir milik Gorg yang tak aktif begitu dia menginjaknya. Mereka pun mengikuti, merasa dengan perginya Forest Guardian tersebut, maka sihir perangkap juga menghilang. Sayangnya, nasib berkata lain. Tubuh mereka berubah menjadi onggokan daging tak berbentuk. Mereka yang tersisa akhirnya memilih untuk menyerah, menunggu sosok yang dapat menghancurkan dinding ini dan memberi mereka jalan pada kehancuran kerajaan dark elf yang terasa sudah berada dalam genggaman tangan. Tinggal selangkah lagi sebelum mereka mendapatkan poin yang begitu banyak dan membeli peralatan terbaik, buangan Codes. Kemudian menjadi sosok terkuat dalam Archsoul yang akan mengguncang medan peperangan.
Dalam perjalanan, terus terbayang bagaimana X mematahkan kakinya, meninggalkan dia sendirian seakan dia hanyalah alat yang tak lagi dibutuhkan. Entah mengapa, hatinya terasa perih mengingat kenangan tersebut, membuat dada terasa sesak hingga dia ingin mencabik-cabiknya dan membuat dia menyesal telah melakukan hal sekejam itu. Ia takkan memaafkan X, tidak akan pernah.
Namun, keraguan muncul dalam diri. Bagaimana kalau nanti begitu mereka bertemu, Ciara justru tak dapat melakukan yang dia inginkan? Bagaimana kalau nanti dia hanya terdiam tanpa dapat mengeluarkan sepatah kata? Bagaimana kalau dia membeku di tempat, terhipnotis dalam sepasang mata merah yang begitu indah hingga terus membuatnya bermimpi..
Ciara dengan cepat menepuk pipi, menggelengkan kepala dan kembali fokus pada jalan. Ia tak menyangka dirinya baru saja memikirkan hal tersebut. Sudah berulang kali dia katakan pada diri sendiri kalau itu hanyalah sebuah mimpi. Bukan sesuatu yang harus dianggap serius. Dia hanyalah mantan partner, tak lebih.
Werebeast tersebut tak yakin, merasa ragu akan perasaan yang mulai bergejolak di dalam hati. Padahal laki-laki itu sudah mematahkan kaki, bagaimana bisa dia seperti ini? Seharusnya dia merasa dendam dan penuh oleh amarah bukan merasakan sebuah perasaan asing yang membuatnya menjadi tak karuan seperti sekarang.
__ADS_1
"Apa yang sudah kau lakukan padaku X?" Adalah pertanyaan terakhir sebelum ia menghilang di balik kegelapan malam, menuju kerajaan yang kini tersembunyi dalam bayang-bayang.