
Alvain menuntun kami ke sebuah bangunan kecil yang terletak di pinggiran kota, cukup jauh dari pusat kerajaan, sehingga para penduduk di sini tak sebanyak di sana dan menjadi tempat yang sempurna bagi kami untuk menyelinap masuk. Tentunya sesudah menjawab pertanyaan Theora.
"Mengapa kita harus menyelinap katamu?" Ulang Alvain "Karena kita adalah dua orang yang dilarang untuk keluar dari dalam istana dan sekarang pastinya menjadi daftar cari utama. Kita memang bukan kriminal, tapi keberadaan kita yang terlalu penting membuat kita seakan-akan menjadi kriminal jika tak menaati perintah. Kenapa saat di kerajaan dark elf kau menjadi pintar dan kembali seperti biasa saat berada di sini?" Keluh Alvain frustasi dan melanjutkan langkah melalui gang sempit di antara dua bangunan yang terhubung langsung pada area di luar dinding. Salah satu jalan rahasia kerajaan.
Kami seketika menunduk ketika seorang prajurit terbang menggunakan sebuah kendaraan seperti motor dari bebatuan putih dengan tanda tribal biru terang di sisi kiri dan kanan, sedang menjalankan patroli. Melihat kendaraan tersebut, mengingatkanku pada Hoverbike yang ada dalam film-film Sci-fi, namun disini mereka menyebutnya sebagai Windglide.
Ketika dia telah menghilang di balik bangunan, barulah kami melanjutkan perjalanan, menghembuskan napas, tak sadar sudah menahannya semenjak tadi. Butuh sebuah kesabaran tinggi dan ketajaman mata untuk dapat menyusup dalam kerajaan elf, terlebih karena angin pada dasarnya adalah teman mereka sehingga para prajurit patroli tadi dapat merasakan jika ada yang tak biasa dengan hembusan angin hari ini terutama jika mereka sedang berada dalam jarak lima meter darimu. Karena mereka pada dasarnya menggunakan hembusan angin layaknya sebuah sonar kapal yang dapat mendeteksi pergerakan dalam air. Untung saja ada Alvain sebagai penunjuk jalan, kalau tidak akan membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan bangunan kecil tersebut dan yang dimaksud bangunan kecil itu adalah sebuah rumah tiga lantai berhias ukiran indah dalam warna hijau tosca pada dinding batu putih.
"Kau menyebut ini kecil?" Tanya Theora ketika kami sudah berada di dalam, dapat bernapas lega tanpa perlu merasa waspada akan adanya saksi mata "Aku mengira tempat persembunyianmu adalah sebuah rumah kecil satu lantai dengan sebuah kamar tidur, dapur dan ruang tengah. Itu saja. Bukannya sebuah rumah liburan"
Alvain tertawa kecil, masuk ke dalam salah satu pintu yang terletak di lorong samping tangga "Aku memiliki uang, kenapa aku tak memanfaatkannya?" Seru dia dari dalam sana sehingga terdengar sedikit teredam disertai suara dentingan gelas dan rak yang ditarik terbuka.
Theora mengangguk paham, mengambil tempat duduk di salah satu sofa panjang dalam warna krem yang entah mengapa membuatku sangat ingin memakannya "Kau tak salah, tapi bukankah lebih baik kau menggunakan uang itu untuk hal lain? Dibanding menghabiskannya demi bangunan sebesar ini"
__ADS_1
Terdengar suara gelas dari belakang, aku menoleh melihat Alvain sedang membawa baki berisi tiga gelas transparan tinggi serta sebuah kendi berisi cairan berwarna ungu disertai serbuk-serbuk cahaya cantik dan meletakkannya di atas meja sebelum menuangkan satu untuk Theora yang kedua matanya langsung berbinar-binar, kemudian untuknya dan terakhir untukku. Aku menerima minuman tersebut, berusaha tak memedulikan sosok Alvain yang seakan baru saja bertemu denganku pertama kali, melirik sana-sini, berupaya agar mata kami tak bertemu.
Alvain kembali dari dapur, duduk di sofa seberang, berhadapan dengan Theora yang sudah menenggak minuman itu hingga sisa setengah "Baiklah, kita akan menyusup ke dalam istana begitu hari telah gelap. Kita tak mungkin melakukannya saat matahari masih bersinar terang seperti ini. Apa yang dapat kita lakukan sekarang adalah mengumpulkan bala bantuan dari siapapun yang menurut kita dapat membantu dan bergabung untuk bersama-sama mengusir keluar Rebels dari Alfheim"
"Kenapa tak sekalian membunuh mereka saja seperti Mercenary sebelumnya? Mereka juga takkan benar-benar mati, hanya muncul kembali di tubuh asli mereka" Balas Theora tanpa adanya keraguan membuat kami berdua sedikit terkejut mendengarnya.
Alvain diam sejenak, berpikir apakah itu dapat dilakukan, lalu menggeleng tak setuju "Tidak bisa. Itulah alasannya, mereka akan datang kembali ke Alfheim sambil membawa dendam besar yang di mana akan menciptakan lebih banyak masalah. Kita harus membuat mereka menjauh dari Alfheim dan menganggap Alfheim sudah takkan menerima mereka lagi atau mereka akan terus kembali"
"Oh, itu benar juga" Ia menenggak habis minumannya dan meraih kendi kaca untuk mengisi gelas kembali "Berbicara soal Rebels, apa yang terjadi pada kawah semalam? Aku tahu tubuh Mercenary dan pedang artifisialku itu akan menghilang, tetapi seharusnya tidak dengan kawah bukan?" Tanya dia penasaran, telah selesai mengisi gelas dengan sebuah senyuman menghias wajah, layaknya seorang anak kecil untuk pertama kali merasakan enaknya sebuah coklat.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan di pintu. Alvain tersenyum, bangkit berdiri dan beranjak ke sana. Dibukanya pintu, mempersilahkan seorang perempuan bertelinga serigala masuk ke dalam dengan rambut merah panjang, tergerai bebas, bergerak sesuai ritme langkah kaki yang penuh akan kepercayaan diri. Alvain menutup pintu, berdiri di sampingnya, memperkenalkan seseorang yang sudah kukenal, terlalu kenal namun tidak dalam maksud yang baik "Perkenalkan, dia adalah Ciara Bloodfang, Rogue-
"X!" Sahutnya dengan penuh amarah ketika melihat ke arahku dan tahu-tahu sudah maju menerjang yang untungnya ditahan oleh Alvain sebelum cakar panjang tajamnya itu menggores diriku "Lepaskan aku! Aku harus memberi pelajaran padanya!!" Bentak dia.
__ADS_1
"Ciara! Ingat perjanjiannya!" Balas Alvain keras membuat sosok Werebeast itu mau tak mau menenangkan diri meski amarah belum hilang dari wajahnya, bahkan makin bertambah "Jadi Mercenary yang kau maksud adalah dia?"
"Tentu saja! Siapa lagi? Hanya satu orang saja menggunakan nama samaran X dan memakai Face Distortion tapi tak mengubah warna rambut asli serta suara! Seakan dia tak peduli orang mengenalnya atau tidak, dia hanya tak ingin wajahnya dikenali. Entah seburuk apa wajahnya itu"
Kalimat terakhir tadi membuat Theora tanpa sengaja tersedak oleh minumannya, menarik perhatian kami pada sosok elf yang kini terburu-buru menuju dapur untuk membersihkan diri sembari menyahut "Aku tak apa-apa! Kalian lanjutkanlah!"
"Ada apa dengan dia? Apa ada yang salah dengan perkataanku?" Tanya Ciara tak mengerti.
Alvain melirikku tak lebih dari dua detik lalu berdeham beberapa kali "Tidak, bukan apa-apa" Ia menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan "Begini, sebelumnya aku minta maaf padamu karena aku tak tahu jika Mercenary yang kau maksudkan adalah dirinya. Namun, aku yakinkan padamu kalau dia takkan berani melakukan hal tersebut, aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri dan kami membutuhkan kemampuanmu untuk dapat menyusup dalam istana. Kau juga membutuhkan sesuatu di dalam sana bukan? Jadi untuk sementara anggap saja dia Mercenary bayaran lain, setuju?"
Ciara melirik padaku dengan lirikan setajam silet lalu menghela napas kasar dan melipat lengannya di saat bersamaan Theora kembali dari dapur "Baiklah, hanya sekali ini saja dan aku peringatkan padamu, jangan pernah mempercayainya atau kau akan mengalami hal yang sama sepertiku dan kau tahu bagaimana menderitanya diriku saat itu bukan? Tetap awasi dia, hanya itulah permintaanku"
Mengapa semenjak semalam aku terus dihadapkan dengan masa lalu? Apakah ini karma dari apa yang sudah kulakukan? Aku benar-benar berharap semoga ini tak menjadi sebuah masalah.
__ADS_1
Alvain menoleh pada mereka berdua, takjub sekaligus takut pada X yang tampaknya selalu memiliki musuh. Dimulai dari Mercenary semalam, kini Rogue kepercayaannya. Dia berharap semoga X tak memiliki musuh seperti Angel ataupun Demon. Kalau iya, dia tak tahu lagi harus bereaksi seperti apa.