Archsoul

Archsoul
Twin Souls


__ADS_3

"A-Apa ini benar terjadi?" Tanya Theora tak percaya. 


Dia yang selalu tampak riang bagaimanapun situasinya. Kini terlihat begitu terguncang hingga jatuh terduduk. 


Dalam kepala, masih dapat jelas terbayang bagaimana dunia hancur begitu saja tanpa sebuah perlawanan.


Tak hanya dirinya.


Bahkan Alvain yang selalu bisa mengendalikan diri meski di tengah medan perang, hanya bisa terdiam. Ketakutan tampak jelas di sana, pada sepasang mata yang masih sulit menerima kenyataan jika mahluk seperti itu benar adanya. 


Atraz, ras Dragonoid, ras yang tak pernah sekalipun merasa takut. Untuk pertama kali, merasakannya, membuat tubuh ras agung tersebut gemetar kuat. Napasnya terengah-engah, baru saja merasakan kematian. 


Sementara putri Yuna.. 


Mungkin seharusnya aku tak memperlihatkan itu secara tiba-tiba. 


Dia kini terisak, tak dapat menahan air mata yang telah mengalir turun. 


Untungnya Alvain berada di sini, memberikan sandaran sembari membelai pelan rambut Sang tuan putri. 


Kalau tidak, aku tak tahu harus melakukan apa. 


'Xera.. '.


Zena.. 


Andai saja aku berada di sana, aku juga akan memberikan tempat baginya untuk bersandar, untuk menenangkan diri. 


'Maafkan aku Zena, aku tak berada di sini untuk menjadi sandaranmu. Seharusnya aku berada bersamamu, terutama di saat-saat seperti ini, ketika kita semua merasa begitu.. '.


Aku tak dapat melanjutkan kata-kata, terdiam oleh fakta bahwa kita bukanlah apa-apa. 


Kita yang telah memiliki kekuatan di atas Tier 7, kekuatan yang termasuk kuat, hampir berada di puncak, justru bukanlah apa-apa di hadapan mahluk tersebut. 


Aku merasa seperti semut di hadapan sebuah kapal luar angkasa. 


Aku tahu itu terdengar terlalu berlebihan. Namun, itulah yang kami rasakan sekarang. Yang membuat kami merasa putus asa, seolah tak lagi memiliki tujuan hidup. Seolah hidup kami ini, hanya sebuah butiran debu yang tak begitu berarti. 


Pemandangan tersebut.. 


Merupakan pemandangan... 


Aku tak tahu harus menyebutnya apa.


Itu bukanlah rasa takut, melainkan sesuatu yang lain. Sesuatu saat kau tahu, inilah akhirnya. 


Inilah akhir dari kehidupan. 


Seluruh energi menghilang begitu saja. Meninggalkan tubuhmu yang seketika terasa begitu berat, hingga untuk bernapas sekalipun, kau akan kesulitan. 


Kau merasa jiwamu seperti tiba-tiba terhisap masuk, menghilang, meninggalkan tubuh yang kini hampa. Hanya menunggu kematian untuk datang menjemput. 


Apa yang kusaksikan.. 


Sial.


Aku ingin menangis memikirkannya. 


'Xera.. '.


Meskipun dia tak berada di sini sekarang, cuma berupa sebuah jiwa. Aku dapat merasakannya, merasakan kehangatan dari jiwanya yang kini merangkulku begitu erat, memberikan tempat bagiku untuk bersandar dan menenangkan diri.

__ADS_1


'Aku rasa, akulah yang membutuhkan sandaran' Candaku, berusaha meringankan suasana. 


Aku tak ingin Zena juga harus merasakan apa yang harus kurasakan. Dia terlalu berharga untuk itu, terlalu penting hingga ingin aku bawa menjauh dari semua ini, membiarkannya tetap aman dan damai.


Di mana, aku dapat terus melihat senyuman penuh cinta.


'Aku ada di sini kau tahu? Bukankah kau sendiri yang mengatakan, kalau kita harus saling berbagi dan menyediakan sandaran untuk satu sama lain?' Ucapnya lembut. 


'Aku hanya tak ingin kau tersiksa karena ini Zena. Kau tahu kau terlalu berharga bagiku. Aku tak mungkin ingin membuatmu merasakan hal yang sama'.


'Dan karena itulah aku mencintaimu. 


Namun, jangan lupa kalau aku juga ada di sini untukmu. Aku bukan hanya sekedar hiasan saja Xera, bukan seseorang yang cuma akan ada di waktu kau bahagia. 


Aku akan selalu berada di sampingmu, mendukungmu, memberikanmu pelukan seperti yang kulakukan sekarang. Tak peduli di saat kau sedih, marah, kecewa ataupun di hadapan kematian.


Aku selalu ada untukmu Xera, akan selalu ada dan selamanya hidup dalam hatimu'.


Mendengar itu.. 


Aku dapat mengatakan kalau akulah pria paling berbahagia di dunia ini, bahkan di alam semesta. Mengetahui jika ada seseorang yang begitu mencintaiku, begitu memedulikanku sampai rela melakukan semua itu.. 


Ini jugalah alasan aku jatuh cinta padanya. 


'Love you Zena'.


'Love you too baby'.


Perasaan putus asa tersebut perlahan menghilang, tergantikan oleh sebuah kenyamanan, ketenangan. Walau hari esok kami akan menghilang, selama aku bersamanya, aku tahu, aku akan menerima apapun yang terjadi. 


Selama aku bersama Zena, aku yakin aku akan mampu menghadapi apapun yang dunia ini berikan. 


Selama dia berada di sampingku, kematian sekalipun, akan kuhadapi hanya demi dirinya. 


Tanpamu, mungkin aku sudah menyerah. Mungkin aku sudah akan membuang takdirku yang tak jelas itu. 


Berkatmu, aku kembali mendapatkan kepercayaan diri. 


Mungkin inilah alasan kami menjadi Twin Souls. 


Hubungan yang kami miliki, jauh lebih kuat dari kekuatan manapun. Sesuatu yang hanya dimiliki oleh kami.


 Sesuatu yang khusus untuk kami.


'Zena, aku tahu ini waktu yang kurang pas. Tapi aku tak tahu kapan lagi aku bisa memiliki waktu untuk mengatakannya'.


Kuhela napas panjang, mempersiapkan diri untuk mengatakan sesuatu yang selama ini hanya berupa mimpi semata.


'Maukah-


'Aku mau'.


Dapat kurasakan rangkulannya makin erat dengan kehangatan yang kini sedikit bertambah panas, seolah menggambarkan kebahagiaannya. 


'Aku belum selesai bicara' Balasku sembari tertawa. 


'Aku tahu apa yang ingin kau katakan'.


'Apa yang ingin kukatakan?'.


'Kau ingin menikahiku bukan?' Zena tersenyum makin lebar 'Asal kau tahu sayangku, Twin Souls, pada dasarnya, kita telah dinikahkan bahkan sebelum kita lahir. Sama seperti saat kedua orang tua kita, saling menunangkan kita ketika kita masih dalam perut'.

__ADS_1


'Kita tak memiliki orang tua'.


'Aku tahu. Tapi, bukankah seperti ini rasanya?'.


Ah, aku tak tahu apa yang harus kulakukan tanpa dia. 


Tiga tahun yang kujalani sebelumnya, terasa begitu monoton, begitu kelabu tanpa sebuah warna maupun cahaya. Hanya saat kami bertemu dalam HQ, itulah saat pertama aku benar-benar merasakan yang namanya hidup. 


Dunia yang tadinya kelabu, berubah, penuh akan warna. 


Terlihat begitu indah dengan jantung yang berdegup kencang, seolah aku dilahirkan kembali. 


Aku berjanji padamu Zena. 


Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia, membuatmu dapat hidup nyaman tanpa perlu merasa khawatir akan masa depan. Akan kuperbaiki kehidupan kita ini, sebuah lembaran baru bagi kita berdua yang tak lama lagi menjadi pasangan sehidup-semati. 


'Bukankah sekarang kita adalah pasangan sehidup-semati?'.


'Kau dapat mendengarku?'.


Zena menggoyangkan kepala, yang kemungkinan adalah sebuah gelengan. Namun karena dia masih merangkulku dan tak ingin melepasnya, itulah yang terjadi 'Tidak. Aku tak bisa mendengar yang kau katakan dalam pikiranmu. Aku bisa merasakannya'.


'Apa yang kau rasakan?'. 


'Hangat, nyaman, Xera. Laki-lakiku'. 


'Oh, sekarang kau menggodaku?'.


'Apakah itu tak diperbolehkan?'.


'Hanya saat kita berdua saja. Kau tak sadar kalau mereka sudah melihat kita semenjak tadi bukan?'.


'Hm?'.


Alvain menggelengkan kepala dengan sebuah senyum lemas "Aku tahu kalian berdua saling mencintai, tapi apakah kalian bisa sedetik saja tak saling merayu? Kami tak dapat mendengar kalian, namun wajah Zena sudah dapat menjelaskan apa yang sedang kalian berdua bicarakan"


"Hei, siapa yang memintamu untuk melihat Zena?"


"Karena aku tahu itu kau, Xera, maka aku melihatnya. Lagipula, wajah kalian berbeda. Dan sekarang, wajah yang muncul di depan kami adalah wajahmu versi perempuan. Dengan mata yang sedikit.. Berbeda?" 


Theora mengangguk cepat "Ya! Dan mata itu benar-benar keren! Apakah itu mata aslimu?" Tanyanya penuh semangat. 


Sepertinya, mereka semua telah kembali seperti semula. Meskipun, masih terlihat kelelahan di wajah masing-masing. Setidaknya, sekarang mereka sudah tak seperti sebelumnya.


'Apa aku boleh mengambil alih tubuhmu untuk beberapa saat? Ada yang harus kubicarakan'.


Zena mengangguk 'Hm. Aku masih ingin memelukmu seperti ini'. 


Astaga. Aku benar-benar tak kuat melihatnya semenggemaskan ini. 


'Terima kasih' Balasnya riang, merangkulku makin erat kemudian menghembuskan sebuah napas panjang. 


Aku benar-benar curiga dia dapat mendengarku. 


Kuhela napas, mempersiapkan diri untuk memberitahu mereka rencana yang sudah kurancang dalam kepala. Kuharap rencana ini dapat membuat mereka lebih cepat menemukan jiwa nyasar tersebut dan bergegas menghentikan Yeza. 


"Aku tahu kalian semua masih terguncang. Namun, karena itulah kalian harus bergerak lebih cepat lagi. Jika kita telat, hal yang sama dapat terulang kembali di dimensi ini dan kita tak menginginkan itu. 


Seperti yang kalian tahu, mahluk tersebut sama sekali tak dapat di ukur menggunakan nalar. Dia adalah sesuatu yang benar-benar berada di luar kemampuan berpikir kita. Yang berarti, Yeza sudah dipastikan gagal menghadapinya. 


Untuk mencegah itu terjadi, kalian harus bergegas mencari jiwa tersebut dan segera rebut kotak penyimpanan jiwa. Jangan sampai dia memilikinya atau kesempatan kita menghadapi Codes hilang. 

__ADS_1


Dan aku rasa, aku tahu bagaimana agar kalian lebih cepat menemukan jiwa nyasar itu".


__ADS_2