
Kuakui, pemandangan di depan memang begitu tak nyaman untuk dilihat. Sekali kau melihatnya, kau dapat merasakan hawa dingin merayap naik secara perlahan, seolah memberitahu kalau kau telah datang ke tempat yang salah.
Jantung berdegup kencang, napas tak teratur dan kegelisahan menguasai hati.
Aku juga tak ingin masuk ke dalam sana kalau aku bisa. Sayangnya, sisa-sisa Anti Matter bergerak ke dalam sana, jadi apa yang dapat kami lakukan selain masuk ke dalam?
"Mengapa tempat seperti ini bisa berada dalam Archsoul?" Tanya Theora tak mengerti. Tampak begitu jelas kalau dia tak menyukainya "Kenapa harus ada tempat seperti ini dalam sebuah medan perang? Codes macam apa yang melakukannya?"
Zena melirik ke arah Theora dengan cepat lalu balik menatap pemandangan mengerikan di depan dan melipat lengan "Tak terlalu buruk menurutku. Lagipula, apa yang kalian takutkan? Mereka tak lebih kuat dari Tier 5. Bagi kita, mereka bukan apa-apa, mereka bahkan bukan mahluk hidup"
"Itu dia! Kenapa?! Kenapa mereka harus ada? Tujuan mereka berada di sini hanyalah untuk mengganggu Contractor! Tanpa mereka, kita bisa terus berjalan santai ke pegunungan di depan!" Desak Theora yang masih tak mau menerima alasan mahluk-mahluk bernama Phantom itu harus ada di dunia ini.
Aku juga sebenarnya tak setuju. Entah sudah berapa kali diriku tanpa sengaja masuk ke dalam sana dan hampir jantungan tiap kali berbalik ke belakang.
Bisa kau bayangkan wajah menyeramkan tanpa bola mata, menatapmu begitu intens dengan kegelapan pekat di mana darah mengalir keluar dari sana?
Aku tak bisa tidur dua malam karena itu.
"Tujuan mereka adalah untuk memperkuat mental kalian. Kalau menghadapi sesuatu seperti ini saja kalian tak bisa, maka lenyap harapan kita untuk bertahan dari Soulreaver" Balas Zena juga tak ingin kalah.
Tahu Theora akan terus membalas, Alvain melangkah maju tanpa menghiraukan panggilan Theora yang memintanya untuk memikirkan ini terlebih dahulu.
"Kita bisa terbang! Atau kita bisa memutar! Atau apapun selain masuk ke dalam sana!" Jeritnya sembari melihat ke kami meminta dukungan.
"Aku rasa dia benar Alvain. Kita tak perlu masuk ke dalam sana kau tahu? Kita bisa menggunakan jalan lain yang tak merepotkan ketimbang tiap malam kita harus terjaga karena mereka akan tiba-tiba muncul di sampingmu" Tukasku memberi bantuan yang membuat senyum Theora mengembang lebar penuh harapan.
Langkah Alvain terhenti. Dia melirik ke kami dengan tatapan yang membuatku merasa ingin melemparinya dengan sepatu "Jujur saja, kalian takut bukan?"
Andai saja kedua kakinya tak gemetaran, mungkin aku akan percaya kalau dia benar-benar berani "Berhentilah sok berani. Kau tak lihat kedua kakimu itu? Putri Yuna masih jauh lebih.. "
Aku tak jadi mengatakannya melihat Tuan putri yang sudah terduduk di atas tanah. Mata dia terus menatap ke depan tanpa dapat mengalihkan pandangan dari mahluk-mahluk menyeramkan yang kini sementara terbang menembus pepohonan kering.
"Seharusnya aku tak mengatakan ini karena akan memperburuk reputasi Dragonoid. Namun, aku akui area di depan itu membuatku tak pernah tenang. Serangan mereka memang seperti sebuah gelitikan, tetapi serangan mental yang kuterima tak dapat dibayangkan" Kata Atraz sembari melipat lengan, dagu terangkat dan sepasang mata tampak teguh, tampil begitu agung.
Padahal tubuhnya gemetaran.
Kurasa hanya diriku saja yang masih memiliki sedikit keberanian. Tubuhku tak gemetar seperti mereka-
"Sayang, kau pucat"
Sialan.
"A-aPa? T-tiDaK! Aku bAik-baIK sAja! Aku memang takut, tetapi tak terlalu" Balasku cepat dengan suara yang membuatku ingin menguburkan kepala dalam tanah.
__ADS_1
Zena menghela napas, kembali memerhatikan Valley of Souls "Akan jauh lebih cepat jika kita melewati area ini. Kita tak pernah tahu sampai kapan Anti Matter akan terus berada di sini karena mereka perlahan-lahan kehabisan energi. Kita tentu tak ingin kehilangan jejak dari jiwa tersebut" Dia kembali menghela napas panjang melihat kami semua ketakutan dan melangkah mendekati kabut di depan "Aku tahu sebuah jalan, ikuti aku"
Mendengarnya sudah seperti itu, kami tahu tak seorang pun bisa menghentikannya. Mau tak mau, kami memaksa kaki melangkah ke dalam meski dalam tiap langkah dapat terasa jantung ini seperti akan meledak.
Tak menyadari kalau Theora tertinggal di belakang.
"E.. Eh?"
Buru-buru dia berlari dan mengambil posisi tepat di tengah-tengah, berhimpitan antara aku-Zena dan Alvain-Yuna.
Begitu kami masuk ke dalam kabut, tak dapat dijelaskan betapa tak nyamannya perasaan kami terutama ketika merasakan dingin yang tidak menusuk, tetapi juga tak menenangkan. Seolah-olah kami sedang disentuh oleh sesuatu yang tak terlihat, namun sedang menatap kami. Mengawasi dalam diam.
Tak dapat dijelaskan berapa kali aku harus menarik napas dalam, berusaha meneguhkan hati. Tak mungkin aku dikalahkan oleh Zena yang terus melangkah tanpa adanya perasaan takut.
Sebagai pendampingnya, aku tentu harus bisa berjalan di sampingnya dengan lapang dada.
Ayolah Xera, ini bukan apa-apa. Anggap mereka sebagai sebuah halusinasi.
Tidak jangan. Kau justru akan terus memikirkan mereka.
Um.. Anggap mereka sebagai..
Anggap mereka sebagai..
Ayooo, anggap mereka sebagai apa?! Sedikit lagi kita masuk dalam hutan!
Namun, begitu kaki menginjak area tersebut, aku sama sekali tak dapat memikirkan hal positif selain keinginan untuk kabur.
Zena menoleh padaku yang tak dapat bernapas dengan benar, mendekat dan menggenggam tanganku, memberi ketenangan. Tanpa sebuah kata-kata, dia menyunggingkan senyum lembut dengan sepasang mata yang seakan berkata..
'Aku di sini'.
Merasakan itu membuatku dapat bernapas lega untuk sesaat sebelum mendengar suara seperti sebuah bisikan angin lewat di samping telinga kiri. Seluruh bulu kuduk berdiri tegak, memberitahu untuk segera berlari.
Namun kehangatan dari tangan Zena membantuku mengendalikan diri.
Sayangnya, tidak dengan mereka yang tiba-tiba menjerit.
Kami berbalik, menemukan mereka sudah saling berhimpitan memperebutkan tempat di bagian tengah yang pada akhirnya diambil alih oleh Alvain dan Yuna. Theora dan Atraz mau tak mau kembali ke belakang sambil terus celingak-celinguk memerhatikan pepohonan kering di sekitar, mencari di manakah para Phantom berada.
"Mengapa mereka menghilang?" Tanya Theora panik.
"Karena seperti itulah mereka bergerak. Begitu telah menemukan target, hal pertama yang mereka lakukan adalah menghilang dari pandangan, kemudian muncul di mana tak seorang pun melihatnya" Jelas Zena santai.
__ADS_1
Theora bergegas memutar tubuh layaknya sebuah baling-baling untuk terus memerhatikan sekitar agar mereka tak muncul, tetapi dia justru berteriak dan melompat pada Atraz ketika salah satunya menampakkan diri untuk sesaat.
"Kau tahu bagaimanapun caranya, kita takkan pernah bisa melihat ke belakang maupun kiri-kanan secara langsung bukan?" Tukas Zena sembari menahan tawa.
"Bentuk lingkaran!"
"Siapa yang akan melihat bagian tengahnya?" Balas Atraz yang juga mulai panik.
"Kau yang akan melihat bagian tengah!"
"Siapa yang melihat belakangku?!"
Theora mengangkat bahu.
Alvain menghela napas panjang, menggelengkan kepala, menerima sebuah keberanian yang entah datang dari mana "Sudahlah, lebih baik kita mempercepat langkah untuk segera pergi dari tempat ini"
Alhasil, Zena menuntun kami lebih cepat dari sebelumnya, masuk makin dalam sembari berusaha menguatkan hati dan menghiraukan suara-suara seperti ranting patah, kepakan sayap burung serta bisikan lemah yang terus lewat setiap kali menemukan kesempatan.
Tak butuh waktu lama sampai kami tiba di sebuah desa kecil yang membuat suasana semakin terasa mencekam.
Kenapa kau tanya?
Di saat pertama kami tiba, sudah terdapat beberapa pasang mata dalam warna oranye menyala menatap ke arah kami dari jendela-jendela gelap berwarna hitam pekat yang perlahan menghilang dalam kegelapan.
Alvain menarik keluar pedang miliknya bersiap untuk menghancurkan tiap rumah kayu tua di depan yang dengan cepat dihalangi oleh Zena.
"Jangan melakukan itu. Kau ingin memberitakan kemunculan kita di sini pada para Zeros dan Codes?"
"Kau tak lihat apa yang menunggu kita di dalam tiap bangunan itu!?" Sahutnya sembari menunjuk ke depan "Kau tak lihat cara mereka perlahan-lahan menghilang? Dan kau ingin kami masuk ke sana?"
"Setidaknya kalian tak datang di malam hari"
"Ada apa dengan malam hari?" Tanya Theora cepat, tak dapat menahan rasa penasarannya meski sudah gemetar kuat.
Zena mempertimbangkan apakah dia harus memberitahu yang terjadi begitu malam tiba pada elf yang kini gemetaran seperti baru saja keluar dari dalam kolam renang di hari berangin.
"Sebaiknya kau tak tahu"
Kami semua serentak berbalik ketika mendengar suara langkah kaki seperti seorang anak kecil yang sedang berlari.
Tiba-tiba, dari arah samping muncul seorang anak kecil tepat di hadapan Alvain yang memutih seolah darah dalam tubuh hilang begitu saja. Ditatapnya anak kecil di bawah, anak kecil dengan muka bagian atas sama sekali tak dapat terlihat, tertutupi oleh rambut berponi panjang.
Terdapat sebuah boneka beruang dalam dekapan.
__ADS_1
"Maukah kau bermain denganku?"
Tanpa sempat membalas, anak kecil itu sudah memegang jari Alvain yang seketika mematung, menatap pada kami meminta sebuah pertolongan.