Archsoul

Archsoul
Part 75


__ADS_3

"Tunggu? Bukankah kau bilang mereka datang sesudah perang?" Tanyaku tak mengerti.


"Tak ada timeline yang sama Xera, aku hanya memprediksinya dan ternyata mereka datang lebih cepat dari yang kita duga" Jawab Zena. 


Lalu apa yang harus kami lakukan? Tak mungkin kami menghentikan pertarungan dua orang di depan. Mendekat saja kami ragu. 


"Ada apa Xera? Mengapa wajahmu terlihat seperti itu?" Tanya Alvain khawatir. 


"Mereka akan datang" 


"Mereka.. Maksudmu monster-monster itu?" Alvain menghela napas panjang, melipat lengan lalu mulai berpikir apa yang mungkin mereka lakukan  "Mereka akan menyerang siapa saja bukan? Bagaimana kalau kita membuat mereka hanya fokus pada Azrael?" Sarannya sembari memerhatikan sosok yang kini sementara bertahan dari serangan Atraz.


"Tidak, kalian tak bisa melakukan itu. Bahkan kalian harus bertarung bersamanya kalau kalian bisa" Balas Zena yang tiba-tiba menampakkan diri. Untung saja perhatian orang-orang masih tertuju pada dua orang di depan kalau tidak kehebohan akan terjadi.


"Kenapa?" Tanya Alvain penasaran. 


"Karena kalian akan mati, benar-benar mati" 


Seketika kami terdiam mendengar itu. Tak menyangka akan mendengar hal semacam itu. Para elf dan dark elf memang sudah dipastikan mati seandainya mereka mati di sini. Tetapi mendengar kalau kami yang menggunakan tubuh buatan juga bisa mati, aku yakin tak seorang pun siap mendengarnya. 


Termasuk diriku.


Membayangkan kalau aku akan mati, membuat sekujur tubuh gemetaran yang harus kutahan agar rasa takut tak datang mengendalikan. 


"Jadi, Xera, Ciara, Atraz dan mereka semua yang berasal dari dunia lain akan mati?" Tanya Theora masih terperangah "Sebenarnya mereka adalah apa sampai mampu melakukan hal semacam itu?"


"Seperti yang kukatakan, mereka adalah pasukan dari mahluk yang akan datang. Kami tak tahu mereka ras apa dan dari mana asalnya. Tapi yang pasti, mereka dapat mengambil jiwa kalian sebagai kekuatan tambahan. Semakin kuat jiwa yang mereka terima, maka semakin kuatlah mereka. Seberbahaya itulah mahluk-mahluk tersebut. Karena itu, kita harus menghabisinya sebelum mereka berhasil membunuh seseorang atau mereka akan terus bertambah kuat dan kita semua berakhir di tangan mereka" Jelas Zena yang kemudian menepuk tangan. 


Sebuah hempasan energi kuat tercipta, berhasil menarik perhatian semua orang termasuk Azrael dan Atraz yang terkejut melihat sosok Codes dengan mata kepala sendiri. Azrael datang mendekat, terbang ke samping Zena yang kini sementara berada di udara.


"Apa kalian datang untuk menjemputku? Aku harus menghabisi mereka semua terlebih dahulu-


"Diamlah!" 

__ADS_1


Balasan ketus itu dapat terdengar hingga ujung kerajaan dark elf, menggema di udara dan membenturkan Azrael pada tanah. Qeina berlari mendekat, berteriak marah hanya untuk dihentikan oleh Sang suami yang meminta dia untuk tetap diam di tempat dan tak melakukan apa-apa sampai diperintahkan. 


"Sekarang aku akan memberitahu pada kalian sesuatu yang mungkin membuat kalian ingin segera melarikan diri dari sini. Tak lama lagi kita kedatangan mahluk baru, mahluk yang datang tanpa di undang. Kau bisa menganggap mereka sebagai 'Ravager'. Kalian tahu kalau sekarang kalian menggunakan tubuh buatan bukan?" 


Semua orang mengangguk.


"Mereka tetap dapat membunuh kalian meski kalian memiliki tubuh tersebut. Mereka juga dapat bertambah makin kuat menggunakan jiwa yang mangsa dan semakin kuat mangsa tersebut, maka semakin kuatlah mereka" 


Zena berhenti sejenak, membiarkan hal tersebut meresap masuk dalam kepala mereka sebelum kembali melanjutkan "Satu hal lagi. Ke manapun kalian pergi, di mana pun kalian berada, mereka dapat terus berpindah dunia dan penyerangan kali ini tak hanya terjadi pada Alfheim saja, melainkan seluruh dunia yang ada. Jadi, satu-satunya cara untuk selamat dari mereka adalah dengan menghadapi mereka sekarang sebelum mereka mengambil jiwa seseorang dan memakainya sebagai sumber kekuatan"


Perlahan pacarku turun dari sana, melangkah pelan di atas permukaan tanah sembari melihat kiri lalu kanan, memerhatikan tiap pasang mata yang kini tertuju padanya "Kalau kalian ingin pergi dan membantu keluarga serta orang tersayang kalian di dunia masing-masing, kusarankan kalian pergi sekarang. Tinggalkan dunia ini, kembali dan bantu mereka yang berada dalam dunia  kalian terlebih kekuatan utama tiap dunia kini berada dalam Archsoul yang juga akan diserang. 


Pilihlah, tetap bersama kami di sini, kembali ke dunia masing-masing atau pergi membantu mereka yang berada dalam Archsoul. Lalu ingatlah, tiap pilihan yang kalian tentukan, menjadi penentu masa depan kita semua" 


"Mengapa Codes tak menghentikan mereka?" Tanya seseorang. 


"Kalau kami bisa, apakah kami harus turun tangan meminta bantuan?" 


Aku ingin datang mendekatinya, lalu teringat kalau hubungan kami masih harus disembunyikan dari semua orang atau Zena kembali berada dalam bahaya. Tetapi yang terjadi berikutnya justru membuatku bertanya-tanya. 


Zena datang mendekat, senyuman hangat tampak di wajah. 


Pandangan tiap orang kembali padanya, memerhatikan apa yang sedang ingin dia lakukan dan tiap pasang mata tersebut melebar ketika melihatnya datang merangkulku begitu erat. 


Aku sendiri tak mampu berkata-kata, hanya bisa diam di tempat menjadi sebuah patung terutama dengan begitu banyak mata mengarah pada kami. 


"Kau tak akan membalas pelukanku?" Bisiknya mesra. 


"Kau bisa berada dalam bahaya Zena" Jawabku berbisik. 


"Kalau aku berada dalam bahaya, apakah aku akan melakukan ini?" Tanyanya yang lalu mengambil jarak. 


Mata kami saling bertemu, violet dan abu-abu sebelum akhirnya menutup, merasakan pertemuan dari dua buah bibir. 

__ADS_1


Pada saat itu, aku tak lagi merasakan tatapan mereka. Aku hanya fokus pada perasaan hangat di dalam hati yang menyelimuti kami. Hanya ketika bibir kami berpisah, barulah aku sadar pada apa yang baru saja terjadi. 


Aku melihat sekitar, dapat merasakan tatapan cemburu mereka. Lalu tanpa sengaja aku melihat Azrael diam di tempat dengan mulut terbuka. Siapa sangka kalau ternyata manusia yang dilawannya justru menjadi incaran seorang Codes. 


Zena tersenyum bahagia, mengangkat tangan meraih Face Distortion lalu menonaktifkannya.


Aku ingin bertanya apa yang sedang dia lakukan, tapi memilih diam dan percaya padanya. 


Dapat kurasakan jemari halus itu bergerak ke depan, meraba pipiku dengan lembut sebelum akhirnya membuka tudung kepalaku, membiarkan wajahku terlihat oleh mereka semua yang seketika terkesiap. 


"Mulai sekarang, aku takkan pergi ke mana-mana. Aku akan selalu berada di sampingmu, menemanimu dan menjadi pendampingmu" Zena datang mendekat, menyatukan kedua tangan kami di depan dada "Kita akan kembali menghadapi mereka semua bersama, menghadapi bahaya bersama bahkan kematian sekalipun. Sudah saatnya kita berhenti melarikan diri" Ucapnya dengan tatapan penuh keteguhan hati. 


Kami balik menghadap mereka semua yang kini sementara terperangah, menguatkan genggaman tangan di mana dapat kurasakan kehangatan tangan Zena yang membuatku begitu nyaman.


"Mulai sekarang adalah awal baru kita semua! Awal dari terbentuk era baru, sebuah garis start, sebuah buku baru, berhalaman kosong yang akan kita tulis menggunakan air mata perjuangan, darah pengorbanan serta harapan kebebasan! Saat inilah kita akan menyatakan perang terhadap mahluk-mahluk tersebut serta perang terhadap Codes!"


Tepat di saat Zena selesai, beberapa Codes menampakkan diri, melayang di udara sebelum akhirnya turun ke samping kami. Jumlah mereka mencapai delapan orang, ditambah Zena menjadi sembilan. 


Ini adalah pertama kalinya Codes menampakkan diri sebanyak ini. Sesuatu yang tak kami sangka akan kami saksikan dan tentunya dengar dari Codes itu sendiri. 


"Codes! Berniat memanfaatkan kalian sebagai sebuah eksperimen! Mereka sengaja membuat kalian semua berperang, mengambil tiap perasaan yang kalian keluarkan sebagai bahan untuk membuat pasukan terkuat! Mereka tak pernah benar-benar ingin menyelamatkan kalian! Mereka menggunakan kalian! Mereka bahkan ingin membunuh satu-satunya yang bisa membawa kalian pada keselamatan!"


Zena mengangkat tangan kami ke atas. 


"Inilah orangnya! Xera! Dialah adalah seorang Waymaker, seseorang yang telah ditakdirkan pada kita semua untuk menjadi seorang penyelamat! Dan mereka berniat membunuhnya karena ingin membangun pasukan terkuat!"


FP tiba-tiba berbunyi, menandakan sebuah notifikasi.


"Kami telah mengirim file mengenai takdir seorang Waymaker dan jangan terkejut ketika menemukan seharusnya terdapat lima Waymaker yang sayangnya telah tidak ada bersama kita. Mereka semua diburu oleh Codes karena Codes takut kehilangan kedudukan mereka sebagai ras yang terkuat!" Zena berhenti sejenak, membiarkan kepala semua orang mendingin untuk sesaat sebelum melanjutkan "Kami tahu untuk sekarang kami sulit dipercaya. Kalian mungkin menganggap file yang kami berikan adalah sebuah kebohongan belaka. Namun, jangan datang meminta tolong ketika penyesalan datang belakangan. Silahkan kalian memilih, Codes atau kami.. "


Zena diam, menghela napas dan meneguhkan hati untuk menyatakan sebuah perang. 


"Zeon"

__ADS_1


__ADS_2