
"Jadi, kau hanya akan mengurungku di sini tanpa melakukan sesuatu?" Tanyaku sembari melempar bantal kepala ke atas dan menangkapnya lagi.
Kenapa kau tanya?
Sebosan itulah berada dalam ruangan yang benar-benar hampa tanpa kehidupan ini. Entah bagaimana bisa aku bertahan sampai sekarang. Aku bahkan tak tahu sudah berapa lama waktu terlewati semenjak terbangun.
Sementara itu Yeza terus datang mengunjungi tiap beberapa saat. Dia hanya diam di depan sana, memerhatikanku sebelum kemudian menghilang seolah-olah aku adalah ikan dalam akuarium.
"Kenapa? Kau ingin aku melakukan sesuatu padamu?" Tanyanya balik sembari melipat lengan disertai seringai lebar "Aku tahu aku menarik Xera, tetapi ayolah"
Aku menoleh ke sana, terbentur oleh bantal kepala karena lupa menangkapnya, terkejut sekaligus jijik dengan pernyataan barusan "Kau orang paling delusional dan narsistik yang pernah kutemui"
"Bilang saja kau terpesona"
Kuhela napas, menggeleng lemah lalu lanjut melempar-lempar bantal.
"Kau tahu? Melihatmu seperti ini membuatmu terlihat seperti peliharaan-
Bantal membentur dinding tepat di depan wajahnya.
Yeza mendengus geli, berjalan menjauh dan menghilang di balik dinding yang sudah kembali seperti semula, menampilkan pantulan dari seorang laki-laki yang kini duduk bersandar pada dinding dengan tatapan kosong.
Ingin rasanya aku keluar dari sini.
Aku tak tahu bagaimana kabar mereka, apa yang sedang mereka lakukan, apakah mereka masih baik-baik saja.
Tiap kali menutup mata, selalu terbayang bayangan buruk mengenai mereka dan membuatku tak dapat tidur.
Bukan berarti Codes butuh tidur- Maksudku Zeon..
Ah sudahlah.
Hanya beberapa saat di dalam sini dan aku sudah merasa akan gila. Apakah mungkin ini yang dirinya incar?
Melihatku perlahan-lahan rusak dari dalam.
Karena kalau iya, aku tak tahu seberapa lama lagi aku bisa bertahan.
Aku takkan bisa tenang sebelum melihat wajah mereka menggunakan mata kepala sendiri. Jangan sampai begitu aku keluar, mereka justru sudah tak lagi berada di dunia.
Tidak tidak tidak.
Aku tak boleh berpikir seperti itu. Aku harus percaya pada mereka. Aku yakin mereka bisa.
Mereka tak selemah itu Xera dan Zena ada bersama mereka.
Zena..
Bagaimana kalau sesuatu yang buruk.. AH TIDAK!
Berhenti berpikir pesimis! Kuatkan hatimu!
"Ah Xera, maaf karena mengganggu waktu menyendirimu lagi" Yeza kembali menampakkan diri di tempat semula, kali ini membawa sebuah FT. Diperhatikannya layar hologram tersebut dan menyeringai lebar "Sepertinya mereka berada di kaki pegunungan"
__ADS_1
Dengan cepat aku bangkit berdiri, menggunakan kekuatan dan menghantam dinding. Aku tahu aku hanya akan terpental kuat ke belakang.
Tapi apa yang harus kulakukan? Hanya diam mendengarnya berbicara seperti itu?
"Jangan menyentuh mereka" Ancamku sembari meringis.
Yeza tertawa kecil "Tenang saja kawan. Aku takkan membunuh mereka, aku akan merusak mereka secara perlahan" Dia datang mendekat, menumpukan lengan pada dinding "Benar Xera, perlahan. Aku akan membuat mereka menderita, menjerit memohon pengampunan.
Mereka harus membayar atas yang telah mereka lakukan pada kami bukan? Tenang saja, aku takkan mengambil nyawa mereka sebelum mempertemukannya denganmu. Namun begitu kalian bertemu kembali, mereka sudah takkan mengenalimu lagi"
Tawanya keluar, tawa yang terdengar begitu kejam tanpa perasaan.
Lalu di sanalah diriku, hanya dapat diam di tempat tanpa melakukan apa-apa. Cuma melihat dirinya menghilang di balik dinding, kembali meninggalkanku seorang diri di sini, mempertanyakan diri sendiri apa yang harus kulakukan.
Aku tak tahu jika dia hanya berpura-pura atau benar-benar menemukan mereka. Yang aku tahu adalah aku harus mencari jalan keluar sekarang.
Kuperhatikan sekitar, mencari jika ada kelemahan pada dinding karena aku yakin segala sesuatu memiliki kelemahan. Tak ada yang benar-benar sempurna.
Kemudian aku menemukannya, sebuah retakan yang tercipta dari hantaman tadi.
Retakan tersebut tampak begitu kecil hingga sulit ditemukan jika kau tak memerhatikannya dengan baik.
Namun berkat mata ini, aku bisa melihatnya.
Aku rasa Yeza tak tahu betapa bagus tubuh asliku sehingga berpikir dia bisa begitu saja memerangkapku di sini menggunakannya.
Akan kutunjukkan kalau dia sudah bermain-main dengan Black Swan.
Begitu energi sudah terkumpulkan, kuhantam kuat dinding tersebut. Kembali kulihat diriku terpental ke belakang, membentur dinding dengan keras.
Kuhantam sekali lagi, kembali mengalami hal yang sama berulang kali sampai akhirnya dinding tersebut hancur berantakan membentuk sebuah lubang besar.
Meski kepalaku kini terasa pening dengan pandangan berkunang-kunang, senyumku tetap mengembang.
Aku berjalan ke sana, memerhatikan sekitar seandainya ada yang datang menyerang. Namun tak menemukan siapa-siapa. Hanya berupa ruangan kosong yang kurang lebih sama seperti ruangan tempatku ditahan, cuma berukuran lebih besar saja.
Karena itu aku melanjutkan langkah menyusuri lorong panjang yang seolah tiada akhirnya.
Terus kutelusuri sampai menemukan sebuah ruangan di sebelah kiri yang penuh oleh layar-layar hologram berwarna kebiruan.
Aku masuk ke dalam, memerhatikan apa yang sedang ditampilkan di sana dan terkejut menemukan mereka berada di dalam layar.
"Zena!" Panggilku yang tentu saja tak didenngar.
Kugelengkan kepala, merasa betapa bodohnya diriku.
Kemudian dari ujung layar, kapal Codes muncul tak jauh dari mereka, menurunkan begitu banyak pasukan, termasuk dirinya.
Yeza.
Dia berdiri di belakang, memerintahkan Codes untuk menangkap mereka melalui sebuah perlawanan yang telah diketahui siapa pemenangnya. Tak mungkin mereka menghadapi Codes sebanyak itu. Zena sekalipun akan kalah.
Dan itulah yang terjadi.
__ADS_1
Dapat terlihat di sana, bagaimana mereka dipaksa tidur di atas tanah, tangan dilipat ke belakang dan diborgol menggunakan sesuatu yang tampak seperti tali dari cahaya dalam warna keunguan.
Senjata ditodong ke kepala masing-masing dan di saat bersamaan, wajah Zena ditendang oleh salah satu Codes karena memberontak.
Darah mengalir turun dari sisi mulut.
Rambutnya ditarik, dipaksa menatap Yeza yang kini berdiri tak jauh di depan sembari menyeringai lebar, mengucapkan "Aku akan merusaknya Zena, kau dengar? Aku akan merusaknya"
Zena mengamuk, berusaha bangkit berdiri meski dihantam dan ditendang berulang kali sampai akhirnya kepala belakang dia dipukul memakai pangkal senjata.
Tubuhnya terjatuh lemas, kehilangan kesadaran.
Aku menghantam meja, berlari keluar, mencari di mana letak pod mereka berada karena Codes sekalipun membutuhkan pod untuk masuk dalam Archsoul. Mereka tak bisa begitu saja pindah memakai tubuh fisik seolah mereka memiliki teleportasi.
Tetapi sudah begitu lama aku berlari, aku sama sekali tak dapat menemukan jalan keluar selain ruangan yang penuh oleh layar serta labolatorium.
Aku mulai berpikir kalau tempat ini hanyalah sebuah tempat untuk mengawasi segala sesuatu yang terjadi dalam Archsoul, tak lebih dari itu.
Kemudian seorang Codes keluar dari salah satu ruangan, tersentak kaget ketika melihatku, penuh tanda tanya "X-Xera? Bagaimana bisa kau berada dalam sini? Bukankah kau seharusnya.. Yeza"
"Maaf, apa aku mengenalmu?" Tanyaku penasaran karena entah mengapa aku merasa dia familiar.
"Oh! Ingatanmu belum sepenuhnya kembali?" Dia mengulurkan tangan sembari tersenyum riang "Aku tahu ini bukan saat yang tepat untuk sebuah perkenalan, tetapi aku rasa tak ada salahnya bukan? Terlebih kita akan bekerja sama"
"Apa maksudmu?" Tanyaku tak mengerti.
Kedua matanya melebar, seolah bingung kenapa aku mempertanyakan sesuatu yang sudah sepantasnya dia lakukan "Sekarang aku benar-benar yakin kau tak mengingat apa-apa. Ini aku, Cassandra, kau bisa memanggilku Cass seperti yang dulu kau lakukan. Aku adalah sahabatmu, otak udang"
Sahabat?
Apakah aku memiliki teman dekat selain Yeza?
"Kau tak perlu mengingatnya sekarang. Masih ada hal yang jauh lebih penting lagi yang harus kita lakukan" Dia melihat sekitar, mencari jika ada yang menguping, lalu kembali padaku "Oke, jadi kita harus membawamu dalam pod yang tentu saja sulit karena dijaga ketat. Namun begitu kita menciptakan keributan, aku yakin kau memiliki kesempatan"
Keributan.. Keributan.. KERIBUTAN!
"AHH! CASS! Kau adalah anak yang selalu membuat masalah dalam HQ!" Seruku bahagia.
Buru-buru dia menutup mulutku sembari berdesis "Diamlah! Kau gila? Kau tak ingin ditangkap lagi bukan?"
"Ah kau benar, maaf"
Ditariknya kembali tangan, menghela napas lega "Baiklah, kita harus bergegas sekarang. Kau tak memiliki banyak waktu, terutama begitu seseorang menemukan ruanganmu terkurung sudah hancur"
"Bagaimana kau tahu aku ada di dalam sebuah ruangan?"
"Yeza selalu menempatkan seseorang di sana untuk membuat mereka kehilangan tujuan hidup"
"Dan itu berhasil?" Tanyaku tak yakin.
Cass mengangkat bahu "Entah. Kami tak pernah lagi mendengar mereka. Kemungkinan besar berhasil, kemungkinan besar Yeza membunuh mereka di tempat. Tak ada gunanya membicarakan psikopat itu"
"Baik, kau benar" Kuhela napas panjang, mempersiapkan hati untuk kembali melakukan hal yang sama seperti yang kami lakukan di masa lalu "Kau siap Cass?"
__ADS_1
Senyumannya mengembang mendengar itu "Kau bercanda? Aku sudah menunggu ini semenjak kau menghilang" Di angkatnya kepalan tangan "Selamat datang kembali rival"
Kubenturkan kepalanku di sana sama seperti yang kami lakukan sebelumnya "Tentu saja, rival"