Archsoul

Archsoul
Part 18


__ADS_3

"Kapan kita sampai? Ini sudah terlalu lama, harusnya kita menyelinap melalui kerajaan saja dibanding mengambil jalan memutar seperti ini" Keluh si rambut abu-abu yang tampak sudah tak kuat untuk berdiri dengan keringat sudah membasahi badan.


Itu benar, kami terpaksa mengambil jalan memutar yang cukup jauh demi menghindari kejaran pasukan elf serta memberi sebuah kejutan pada dark elf yang takkan menduga tiga elf dan seorang manusia akan menyusup dari belakang. Kenapa? Karena dark elf takkan berpikir bahwa elf mau menggunakan cara yang pada dasarnya merendahkan martabat mereka. Sebuah serangan dari belakang, benar-benar bukanlah gaya para elf, mungkin itu jugalah salah satu alasan putri Yuna memintaku ikut bersama mereka, agar hal tersebut ditimpakan padaku dan nama mereka tetaplah baik.


Tentu saja aku takkan terkejut jika memang itulah yang direncanakannya. Apakah aku peduli? Tidak. Selama aku bisa mendapatkan bayaran serta informasi mengenai Alfheim, ini bukanlah apa-apa.


"Hey lihat di atas!" Seru Gorg, menunjuk pada dua ekor penyu raksasa yang kini tampak kecil di langit, terbang dalam gerakan mengayun pelan layaknya sedang berada dalam laut.


"Ah, dua ekor Levlonia. Penyu raksasa yang bagaikan sebuah benteng melayang berkat tempurung yang bahkan lebih keras dibanding Mythril. Sudah lama semenjak terakhir kali aku melihat mereka" Jelas Alvain sembari tersenyum, sebuah keajaiban dunia.


"Kau benar" Balas Yuna. Senyum hangat menghias wajah cantiknya itu "Terakhir kali aku melihat mereka adalah di ulang tahunku yang ke-117. Mereka benar-benar mahluk yang menawan, penuh akan misteri serta tampak tak terganggu oleh dunia, hidup tenang di atas sana, berenang di antara kelembutan awan"


"Secara teknis, mereka terbang tapi ya, kau bisa menyebutnya seperti itu. Namun, aku lebih penasaran terhadap daratan kecil yang cukup luas untuk menampung sebuah desa di atas tempurung mereka itu. Entah mengapa, cerita mengenai sesuatu tersembunyi di dalam sana selalu membuatku tertarik untuk menjelajahinya. Bayangkan saja jika cerita 'The Lonely Prince' itu benar!" Sahut si rambut-rambut penuh semangat. Sepasang mata berwarna sama itu ikut berbinar-binar menatap dua mahluk yang tampak makin menjauh hingga kini hanya berupa sebuah titik saja "Yahh, mereka pergi. Aku benar-benar berharap mereka mengizinkan kita untuk naik di atas mereka"


Alvain mendegus geli mendengarnya "Mengizinkan? Kau benar-benar percaya pada dongeng anak-anak itu? Kita sudah dewasa Theora. Tak ada gunanya hidup dalam imajinasi yang jauh berbeda dari dunia nyata"


"Dan apa? Menjadi sepertimu yang kaku tanpa sebuah kehidupan? Mohon maaf saja, aku lebih memilih mempertahankan imajinasi ketimbang hidup dalam dunia kelabu tanpa warna" Balas si rambut abu-abu yang ternyata memiliki sebuah nama, tak mau kalah dari Sang sahabat yang juga tampak berapi-api.


"Ilmu pengetahuan adalah segalanya, bukan cerita hasil karangan seseorang"

__ADS_1


"Ilmu pengetahuan pun ditemukan karena imajinasi seseorang, imajinasi yang dirimu sebut sebagai karangan itu. Jadi, imajinasi berada pada tingkat lebih tinggi dasar kau pecinta ilmu pengetahuan rendahan"


"Imajinasimu dapat membangun kerajaan hingga sekarang?"


"Ilmu pengetahuanmu dapat membahagiakan rakyat seperti sekarang?"


"Oh tentu saja, kau tak lihat bagaimana kehidupan telah meningkat dibanding awal mula peradaban? Itu berkat ilmu pengetahuan"


"Melalui banyak pengorbanan tentunya daj kau pikir apa yang membuat kita masih dapat bertahan tanpa menjadi gila? Kebahagiaan kawan, darimana? Dari imajinasi"


Yuna menghela napas panjang, menghempaskan kekuatan miliknya yang sudah mampu menciptakan angin kencang hingga membuat dedaunan beterbangan "Berhenti kalian berdua. Kita sedang dalam misi. Fokus terhadap-


"Sepertinya mereka lumayan kuat. Apakah kita masih akan melawan mereka?" Tanya salah satu dari mereka, seorang manusia dengan tinggi di bawah rata-rata, mengenakan sebuah kacamata penerbang dan rambut berdiri tegak layaknya sebuah landak. Dua buah bola besi berukuran bola tenis, berwarna hitam dengan lambang tengkorak digital tampak pada kedua sisi berada dalam genggaman tangan, sementara dilempar-tangkapnya.


Sang Mercenary berbadan besar seperti sebuah beruang, mengarahkan tangan kanan ke depan, menarik kembali kapak tersebut menggunakan medan magnet lalu menyandarkannya pada pundak sembari tersenyum lebar "Tentu saja, kau tak lihat peralatan mereka. Semua menggunakan Mythril, bahan termahal dalam Alfheim yang dapat memberi kita sebanyak 1000 poin dan ada tiga di depan mata. Apa kau tak menginginkan harta karun tersebut?"


Mercenary perempuan dengan rambut panjang lurus tergerai bebas dalam warna ungu, maju selangkah, meregangkan kedua telapak tangan, mengeluarkan lima buah cakar panjang dan tajam dalam warna ungu neon terang layaknya seekor kucing "Elf rambut putih itu milikku, tak seorangpun boleh merebutnya"


"Tentu saja Cara, kau boleh memilikinya" Balas si badan besar yang kini memerhatikan Yuna secara seksama, membuat Alvain berdiri di depan tuan putri dan mengarahkan pedangnya "Oh? Sepertinya mereka berdua adalah sepasang kekasih. Sungguh mengharukan. Tenang saja, kami akan mempertemukan kalian kembali di surga"

__ADS_1


"Kenapa Mercenary bisa berada di sini!?" Tukas Alvain marah. Buku-buku jarinya sudah memutih akibat menggenggam gagang pedang terlalu erat.


"Mengapa kami harus memberitahu mayat?" Tepat setelah ia menyelesaikan kalimat tersebut, si badan besar tahu-tahu muncul di hadapan Alvain, memberinya sebuah hantaman telak pada tubuh hingga elf tersebut terpental ke belakang yang ditangkap oleh Gorg dengan cepat, lalu diturunkan perlahan "Ohh, kalian memiliki budak yang berguna, tak seperti budak kami di belakang itu" Tunjuknya pada seorang dark elf muda yang jika dalam umur manusia, belum di atas 12 tahun.


Dark elf? Mungkinkah...


Si badan besar kembali maju menerjang Theora yang telat bereaksi. Untungnya Gorg bergerak cepat, menggenggam kepala Mercenary tersebut dan menghantamkannya ke tanah. Mata kuning Gorg menghilang, tergantikan oleh sepasang mata merah menyala, mode yang membuatku lebih memilih untuk mundur ketimbang melawan mesin pembunuh tak berperasaan.


Gorg tak berhenti hanya sampai di sana, ia menghantamkan wajahnya itu berulang kali hingga tanah tempat mereka berada rusak parah, membentuk sebuah kawah kecil sampai si pendek melempar dua buah bom yang dihadapi Gorg dengan melempar tubuh si badan besar sehingga serangan tersebut terkena kawan sendiri. Si pendek tersentak, ragu apakah dia harus lanjut menyerang.


Cara, tanpa banyak bicara, meraung keras seperti seekor kucing marah, berlari ke depan dalam kecepatan tinggi berniat untuk melukai Forest Guardian dengan sepasang cakar yang bahkan takkan dapat menggores Mythril.


Aku hanya dapat menghela napas melihat yang terjadi selanjutnya. Gorg menggenggam lengannya seperti sebuah boneka dan membanting dia berulang kali tanpa ada niatan untuk berhenti sampai Yuna maju menghentikan dirinya, berusaha agar Gorg kembali seperti semula.


"Gorg! Gorg! Hentikan! Dia sudah tak sadar!" Golem tersebut berhenti, menoleh padanya "Iya, ini aku, Yuna temanmu. Kau sudah dapat berhenti Gorg, tak perlu melukainya lebih jauh, ya?"


Kukerahkan energi pada tangan kiri, bersiap jika yang kubayangkan terjadi. Untungnya, mata Gorg kembali kuning. Ia memerhatikan sosok manusia yang masih di pegangnya, melepas lengan manusia tersebut, membiarkan dia jatuh tergeletak di atas tanah lalu memerhatikan si pendek di depan yang kini gemetaran melihat kedua anggota tim nya sudah tak sadarkan diri "Kau masih ingin menyakiti teman Gorg?"


Dia menggeleng cepat, terlalu cepat sampai membuatku khawatir dia tanpa sengaja mematahkannya sendiri "T-tidak! AKU MENYERAH!" Jeritnya dengan air mata bercucuran.

__ADS_1


"Baiklah!" Balas Gorg riang lalu kembali menoleh pada kami yang hanya dapat terdiam di tempat, syok "Apa kita takkan melanjutkan perjalanan?"


__ADS_2