
"Apa yang kau katakan itu benar? Tak semua Codes memiliki kekuatan?"
"Apakah ini waktu yang tepat untuk membicarakannya!?"
Mengikuti insting, force field kudorong ke depan, menghancurkan pesawat tersebut "Apakah sekarang bukan waktu yang tepat?"
Cass menghela napas, menggenggam lenganku dan membawa kami berdua pergi dari jalanan di mana sudah begitu banyak pasang mata menatap.
Aku tak tahu apa bedanya berbicara di sini dengan tempat yang akan kami kunjungi. Kita berada di dunia Codes, begitu banyak mata melihat kami berlari, bukankah mereka bisa saja memberitahu di mana kami berada?
"Kau tak perlu khawatir, mereka pasti menutup mulut"
"Terkadang aku bertanya-tanya apakah kau bisa membaca pikiranku atau tidak"
"Kau terlalu mudah dibaca Xera"
Kami tiba di bawah sebuah jembatan besar, melayang di udara tanpa membutuhkan pilar-pilar besar di bagian bawah. Arus air terlihat sedang mengamuk hingga menciptakan suara berisik yang sedikit mengganggu dan membuatku merasa was-was untuk berada di bawah sini.
Belum lagi dengan warnanya yang hitam pekat karena tak ada cahaya.
Aku bukanlah seseorang yang nyaman berada di dekat laut. Hanya mendengar ombak saja sudah mampu membuatku merasa ketakutan akan terbawa oleh arus dan akhirnya harus tenggelam di lautan dalam.
"Kenapa kau terus melihat air di depan?" Tanyanya bingung begitu pintu sudah tertutup.
Lampu kuning menyala di atas, sebuah lampu yang sudah begitu tua dan pastinya tidak diciptakan oleh Codes.
"Aku tak suka melihatnya"
Cass membuka mulut, berkata "Aaa.. " Lalu mengangguk-angguk mengerti.
Kami kini berada dalam sebuah ruangan kecil dengan sebuah meja kayu yang tak kalah tuanya dari lampu tersebut. Di sisi lain dinding, terdapat sebuah rak buku penuh akan sarang laba-laba dan debu.
Cass meraih salah satu buku di sana, meniupnya dan terbatuk-batuk karena kepulan debu yang begitu tebal hingga sedikit menghalangi pandangan.
Dia berjalan ke mari, membuka buku tersebut ke halaman tertentu kemudian meletakkannya di atas meja.
Baru kusadari ketika melihatnya dari dekat, kalau buku tersebut bukan hanya sebuah buku tua biasa, melainkan memiliki sesuatu yang tampak seperti sihir. Dapat kau lihat dari tiap tulisan, butiran-butiran cahaya keemasan, melayang pelan sebelum akhirnya menghilang.
Gambar pada buku juga sedikit bergerak, melakukan gerakan yang sama berulang kali.
Gambar tersebut adalah dua orang anak kecil, laki-laki dan perempuan yang saling menyentuhkan telapak tangan, menatap satu sama lain dalam warna biru transparan.
Dalam tubuh mereka, tepatnya pada bagian dada, sebuah bola kebiruan bercahaya terang.
__ADS_1
"Twin Soul"
Cass duduk di atas meja, menunjuk gambar yang menerang, menggelap dan menerang lagi.
"Kau dan Zena, Twin Soul. Dua jiwa yang saling terhubung dan dapat merasakan satu sama lain. Itulah alasan Zena masih dapat kembali seperti semula meskipun Link kalian hancur. Juga, salah satu alasan kami mempercayai kalau Twin Soul itu nyata"
"Bolehkah kau menjelaskannya dari awal? Aku benar-benar tak mengerti semua ini. Begitu banyak pertanyaan dalam kepalaku yang tak bisa kudapatkan jawabannya. Aku ingin kau menjelaskannya satu per satu, dari awal" Pintaku.
Cass turun dari meja, memerhatikan jendela di samping pintu, memeriksa jika seandainya ada sesuatu dari arah jembatan tak jauh di samping kanan "Selama mereka belum menemukan kita"
Dia berbalik, bersandar pada pintu dan menghela napas panjang.
"Baiklah, akan kujelaskan dari awal.
Seperti halnya Codes, kalian berdua juga diciptakan. Keduanya tak memiliki perasaan, hanya bagaikan sebuah robot biasa yang bekerja melalui sebuah perintah. Sehingga kalian juga membutuhkan Link untuk mengekspresikan perasaan. Yang mungkin sudah kau tahu, kami dapatkan dengan cara membangun Archsoul.
Lagipula, itulah tugas pertama dari pencipta kita. Mereka meminta kita untuk mengerti arti sebenarnya dari perasaan dan mengapa perasaan itu penting untuk yang namanya kehidupan.
'Hidup bukanlah apa-apa tanpa perasaan'.
Begitulah kata mereka. Kebetulan, Codes bertugas untuk membimbing tiap dunia menuju dimensi lain, Archsoul diciptakan.
Seperti yang mungkin telah dijelaskan oleh Zena, Archsoul bertujuan untuk memperkuat jiwamu dalam perjalanan sekaligus memberi perasaan bagi kita, Codes. Sebab tanpa perasaan, kita hanyalah sebuah robot biasa yang tak memiliki kehidupan.
Tiap dimensi berbeda. Mereka bisa saja sudah musnah atau justru menjadi dunia yang paling berkuasa di dalam sana. Kita tak pernah tahu karena kita juga tak memiliki cara berkomunikasi dengan mereka dalam dimensi tersebut.
Kami bahkan tak tahu cara menyampai dimensi lain tanpa bantuan Waymaker dan kita masih tak mengerti bagaimana pencipta kita memberi Waymaker kode khusus tersebut. Bertahun-tahun kita telah mencoba, tetapi tak pernah berhasil.
Banyak yang menganggapnya sebagai 'sentuhan' manusia yang takkan pernah bisa kita miliki. Meskipun kita adalah versi sempurna dari mereka, tetap saja ada beberapa hal yang tak bisa kita dapatkan.
Seperti jiwa"
Tunggu, jadi maksudnya tak satupun Codes benar-benar hidup?
Cass mengangguk mengiyakan, membuatku tersentak kaget.
Tawanya keluar, sebuah tawa yang membawa kehangatan atas kenangan lama "Aku tak bisa membaca pikiran Xera. Sudah kubilang, kau terlalu mudah dibaca"
Dia kembali menghela napas.
"Kami tak memiliki jiwa Xera. Tak satupun dari kami memilikinya. Alasan kami hidup seperti sekarang hanya karena kode-kode rumit dalam kepala. Bahkan perasaan kami tidaklah nyata. Kami hanya men-sample perasaan dari dalam Archsoul dan menggunakannya pada diri sendiri.
Itupun kami membutuhkan dua Codes untuk dapat memilikinya karena tampaknya, hanya seorang diri saja dapat merusak kami. Percayalah, kami sudah mencobanya"
__ADS_1
Cass menggeleng pelan dengan sebuah senyuman sedih terbentuk di sana.
"Jadi.. Hanya aku dan Zena yang memiliki jiwa?" Tanyaku memastikan.
"Benar. Hanya kalian berdua, yang kami juga tak tahu bagaimana caranya. Tak satupun tahu bagaimana.
Jiwa kalian berdua juga bukanlah jiwa biasa. Jiwa kalian saling terhubung. Manusia sering mengatakannya 'seperti koneksi batin antara ibu dan anak', namun ini berkali-kali lipat lebih kuat sampai apa yang kalian rasakan juga dapat dirasakan satu sama lain.
Twin Soul, sebuah kemisteriusan yang masih belum terjawab.
Kami bahkan tak tahu bagaimana bisa kalian memiliki kekuatan sedangkan kami tidak, seolah kalian berdua adalah dua orang yang berbeda. Dua orang yang berada di atas Codes dan itulah yang membuat kalian berdua diburu.
Kau pikir kalian diburu hanya karena Zena seorang Observer dan kau bukan?"
Cass mendengus geli.
"Mereka sengaja memburu kalian berdua karena perasaan yang kalian keluarkan, jauh lebih kuat dibanding Codes lainnya. Berada di atas batas dan tak pernah terjadi sebelumnya.
Pada saat itu, Twin Soul hanyalah sebuah omong kosong belaka. Lagipula sudah beratus-ratus tahun dan tak pernah terjadi. Tentu saja tak seorang pun akan menganggapnya nyata.
Kalian berdualah yang membuat kesepuluh dewan merasa was-was, memburu kalian untuk melihat sampai mana kalian rela menghiraukan protokol bahkan melawannya sementara Codes lain takkan bisa melakukan hal tersebut.
Ketika kalian kabur keluar dari dalam kota, beberapa dari mereka mulai percaya kalau Twin Soul benar adanya. Tetapi, beberapa masih belum percaya. Mereka memutuskan untuk mendorong kalian ke titik terakhir.
Kau tahu apa yang terjadi sesudahnya"
"Aku melindungi Zena"
Cass mengangguk "Tepat sekali, kau melindunginya, membantah perintah kesepuluh dewan, sebuah perintah mutlak yang takkan bisa dilakukan oleh Codes lain. Di saat bersamaan, perasaan Zena kembali tanpa sebuah Link.
Tentu saja terjadi sebuah kehebohan besar. Tak sedikit dari kami yang datang menghadapi kesepuluh dewan meski tahu kami takkan pernah bisa melawan mereka. Tetapi apa yang kalian berdua lakukan, menimbulkan sesuatu dalam diri kami. Sesuatu yang tak kami sangka ada, namun ternyata selama ini berada di dalam sana"
Lalu kenapa orang-orang tadi justru mempertanyakan kenapa aku masih hidup? Bukankah seharusnya mereka bahagia?
Cass tersenyum melihat raut wajahku.
Dia datang mendekat, meraih buku di atas meja yang dia putar menghadapnya untuk mencari sebuah halaman. Sesudah menggantinya dengan cepat, Zena memutar buku tersebut, menunjuk sebuah gambar di dalam sana.
Kuperhatikan gambar yang tampak hidup tersebut, terkejut saat membaca penjelasan yang tertera di bagian bawah.
"T-tunggu, jadi.. "
Cass kembali mengangguk mengiyakan "Itu benar. Kita bukanlah Codes"
__ADS_1
"Kita manusia" Lanjutku, masih tak dapat percaya.