
Pedang besar itu kembali diayunkan, menciptakan energi merah besar dengan tinggi mencapai 4 meter, bergerak cepat ke arah kami, menimbulkan retakan panjang pada tanah yang kini tampak berwarna merah menyala seperti sebuah bara api. Kami menghindar, bersiap untuk menghadapi Mercenary tersebut yang tahu-tahu tak lagi berada di depan. Reflek kami saling membelakangi, bersiap jika seandainya dia berniat menyerang dari belakang. Namun, siapa sangka dia ternyata muncul dari atas, menghantam kuat tanah hingga terbentuk hempasan energi merah besar disertai suara menggelegar dan tanah bergetar. Retakan-retakan besar muncul dari sana, menjalar memanjang oleh warna merah yang semakin terang kemudian memancarkan energi merah yang dapat membelah kami menjadi dua jika kami telat menghindar sedetik saja.
Mercenary tersebut tersenyum lebar, melempar pedangnya ke arah Alvain lalu dalam satu hentakan kaki, muncul di hadapan Theora yang telat menghindar karena mengira dia akan maju menerjang Alvain. Sebuah hantaman keras mengenai tubuhnya, mengirim ia terbang ke belakang dalam kecepatan tinggi, menerobos hancur pepohonan dalam satu garis panjang.
Alvain yang marah, bergerak maju untuk menghadapinya, melakukan backflip ketika pedang besar tersebut kembali melayang di udara, berputar cepat menuju tangan Sang pemilik, tak menyadari itulah yang diinginkan Mercenary tersebut. Sebelum pedangnya berjarak lebih dari dua meter dari Alvain yang masih berada di udara, dia sudah muncul di sana, menggenggam gagang pedang, tersenyum lebar pada Alvain yang terbelalak, tahu dirinya takkan dapat menghindari ini. Dalam satu hantaman keras, ia mengirim Alvain ke belakang, terbanting beberapa kali sebelum membentur sebuah batu besar hingga retak. Sosok itu bersiul, bangga pada pencapaiannya "Tak kusangka para Rebels benar-benar membuatku mampu menghadapi dua elf sekaligus. Kalau tanpa mereka, sampai sekarang aku takkan mau mengirim diri sendiri ke gerbang kematian. Namun sekarang! Aku akan mengirim mereka ke gerbang kematian-
Sebelum dia dapat menyelesaikan kalimat menggelikannya itu, aku sudah muncul di samping, memberinya hantaman kuat di pipi dan menyaksikan tubuh besar tersebut terbangun beberapa kali ke samping sembari menyerukan "Ingatlah umurmu! Kau bukan anak smp lagi"
Ia bangkit berdiri, menggunakan pedang sebagai tumpuan tangan lalu kembali menyandarkannya pada pundak "Black Swan.. Apakah itu caramu? Menyelinap secara diam-diam dan menyerang dari dalam kegelapan? Sungguh cara seorang pengecut. Pantas saja kau bisa menjadi seorang M3RC, kau ternyata hanyalah seseorang yang tak berani menghadapi bahaya secara langsung"
"Oh? Tapi aku merasa kalau kau tak berhak menjadi lawanku, itulah kenapa lebih baik bagi kita untuk mengakhiri ini dibanding kau mempermalukan diri lebih jauh. Kau tentu tak ingin menjadi samsak tinju bukan?" Balasku sembari menyeringai, mengerahkan lebih banyak energi pada tangan kiri hingga percikan listrik kini bertambah makin besar dan banyak.
Mercenary tersebut tertawa kecil sambil mengangguk-angggukkan kepala "Sepertinya kabar mengenai kau yang memiliki mulut setajam belati memang benar" Ia mengayunkan pedang ke samping dan memasang ancang-ancang "Baiklah, akan kubuktikan kalau aku dapat memaksamu menjadi serius, kuharap kau tak menyesal" Ancamnya dan lebih cepat dibanding sebelumnya, ia muncul di depanku, tersenyum lebar sembari mengayunkan pedang besar tersebut yang kutahan menggunakan tangan kiri dengan kuat tetapi masih berhasil membuatku terbang ke samping.
Ia tak berhenti hanya sampai disitu, ia lanjut berlari di bawahku, bersiap untuk menyerang kembali, telat menyadari kehadiran Alvain yang menembakkan energi sihir putih-keemasan besar. Ledakan besar terjadi tak jauh di bawah dengan Mercenary itu melompat ke samping dan berdecak kesal. Tampak bekas ledakan pada sisi kanan tubuhnya. Beberapa bagian terlihat rusak parah, masih menyala oleh bara api.
"Jangan lupakan kami, otak besi! Kami juga masih berada di sini!" Seru Theora, melompat ke samping Alvain yang kini menggeleng kecewa.
__ADS_1
"Otak besi?"
"Seluruh badannya merupakan besi tersisa kepala dia saja. Karena itu aku membaliknya dan memberi dia nama otak besi, pintar bukan?" Jawabnya bangga yang justru membuat Alvain kembali menghela napas, tak tahu lagi harus bagaimana terhadap sahabatnya yang satu ini.
"Apa kalian sebegitu lemahnya sampai harus bekerja sama?" Tanya Mercenary kesal.
Sebelum Alvain dapat menjawab, Theora melangkah maju, tak memedulikan mata Alvain yang seketika melebar di belakang "Aku. Akulah yang terkuat. Terkuat bagimu tentunya. Karena kedua orang di belakangku berada di level yang benar-benar berbeda dan tak pantas untuk seseorang sepertimu" Aura keemasan mulai terbentuk perlahan di sekitar tubuh Theora, mengelilinya dalam bentuk spiral yang bergerak pelan layaknya sebuah aliran air, begitu tenang dan damai, tak seperti milik Alvain yang penuh akan semangat.
Mercenary itu menanggapi undangan pertarungan satu lawan satunya, meraung mengerahkan tiap energi yang dia miliki hingga aura merah besar terbentuk, bergerak ke atas dengan cepat layaknya sebuah air terjun terbalik. Bebatuan kecil, ranting dan segala sesuatu yang ringan di sekitarnya seketika terangkat naik disertai retakan tanah besar yang perlahan menjalar.
Begitu keduanya mengambil sebuah langkah, tanah seketika hancur tak dapat menahan tekanan kekuatan mereka berdua yang begitu besar. Angin kencanf tercipta dalam hembusan tak berarah, kacau layaknya sebuah badai. Keduanya berteriak, mengeluarkan hingga energi pada masing-masing tubuh terkuras habis, menambah kekuatan serangan mereka berkali-kali lipat sampai saat keduanya berbenturan, aku dan Alvain harus mengambil jarak untuk tak terkena ledakan besar yang menyapu area luas tersebut dan aku yakin dapat dirasakan getarannya hingga desa sebelumnya.
Begitu ledakan mereda, meninggalkan sebuah kawah besar penuh akan asap serta serbuk-serbuk cahaya berwarna keemasan, kami bergegas ke bawah, di mana Theora masih berdiri tetapi dengan tubuh tertekuk ke bawah. Kedua tangannya memegang erat gagang pedang yang digunakan sebagai pegangan agar dirinya tak jatuh ke depan. Di depan dia, Mercenary itu masih berdiri tegap, senyum penuh kemenangan menghias wajah dengan medan pelindung rusak parah sampai kedua tangan tambahan di belakang terlihat seperti sebuah lilin meleleh. Masih menyala terang oleh cairan besi panas.
"HAHAHAHA!! Sudah kuduga, akulah yang terbaik! Aku menang! Aku menang dari seorang elf! Seluruh dunia akan mendengarkan namaku!" Serunya bangga, mengarahkan ujung pedangnya pada sosok elf muda di depan yang tampak sudah tak mampu berdiri "Akan kuberikan kau kematian cepat sebagai hadiah. Berterima kasihlah karena aku tak menyiksamu sesudah apa yang kalian lakukan pada kami"
"Ini belum berakhir.. " Ucap Theora lemah.
__ADS_1
"Apa?"
Tanpa sepatah kata lagi yang keluar, tiap serbuk emas bercahaya berkumpul, membentuk lebih dari sepuluh pedang dengan ujung mengarah tepat ke Sang Mercenary yang kini terbelalak takut, sadar medan pelindungnya tak akan dapat melindungi dirinya lagi "Sampaikan salamku pada dewa kematian" Theora menjentikkan jari, dengan cepat mengirim tiap pedang yang kemudian menusuk tubuh Sang Mercenary tanpa ampun hingga dia tak lagi bernyawa. Darah mengalir dari saja, jatuh menetes membentuk sebuah genangan yang membuat Alvain bergidik ngeri.
"Bagaimana? Aku yang terkuat bukan?" Tanya Sang sahabat sebelum akhirnya jatuh lemas ke depan, ditangkap oleh X dan Alvain.
"Sekarang kau mengerti kenapa aku tak khawatir kan? Inilah alasannya. Theora adalah seseorang yang telah menyentuh tingkat 7 akhir, hanya masalah waktu sebelum dia menyentuh tingkat 8 dan menjadi seimbang dengan Angel maupun Demon"
Aku terdiam melihatnya, tak menyangka kalau seseorang yang tampak begitu lugu dan naif, ternyata menyimpan kekuatan sebesar ini. Sekaligus membuatku berpikir..
Apakah aku akan bisa berdiri berdampingan dengan mereka?
Buru-buru kugelengkan kepala, membantu Alvain mengangkat Theora dan menggotongnya kembali ke kemah yang entah sudah menjadi apa, berpura-pura tak tahu pada pandangan Alvain yang bingung melihat tingkahku barusan.
Apa yang kau pikirkan X? Kau hanyalah seorang M3RC dan mengemban tugas yang berbeda dibanding mereka. Tak ada tempat bagimu untuk tetap bersama para elf ini.
...KAU DITAKDIRKAN UNTUK SENDIRIAN...
__ADS_1