
"Ayah! Kau sudah sadar?" Tanya Alvain ketika ia bergabung.
Dewan Edenwood menyeringai, mengerahkan dua buah tornado besar pada sosok di depan "Maaf ayah sudah merepotkanmu Alvain dan terima kasih karena telah percaya pada ayah" Balasnya sembari menghindari Fayheart yang tiba-tiba melempar sebuah puing-puing bangunan besar. Puing-puing bangunan tersebut jatuh di belakang, menciptakan getaran besar seperti sebuah gempa disertai suara menggelegar. Untung saja tak ada orang-orang di sana, kalau tidak, mungkin mereka tak lagi berbentuk.
Tak jauh di depan, Fayheart meraung keras, membiarkan amarah mengambil alih dirinya untuk mendapatkan dorongan tambahan. Dalam satu langkah tersebut, ia muncul di samping Alvain, berniat menghantam tubuhnya menggunakan kepalan tangan kanan yang kini diselimuti aura ungu-kehitaman. Sang ayah bergerak cepat, muncul tepat di antara mereka dan menciptakan sebuah lingkaran sihir. Hantaman terjadi, membentuk sebuah ledakan energi besar yang mampu mendorong pepohonan keluar dari tanah. Di atas sana, tampak sosok dewan Edenwood sementara mempertahankan lingkaran sihir yang perlahan mulai pecah sementara pukulan tersebut makin lama makin menguat, ditandai dari aura yang makin membesar dan mengamuk.
Begitu dihentak, lingkaran sihir tersebut pecah menjadi serpihan-serpihan kecil. Dewan Edenwood terhempas ke belakang karenanya, jatuh menghantam puing-puing bangunan. Alvain menoleh ke belakang, meneriakkan Sang ayah, ingin segera ke sana untuk mengecek keadaannya. Tetapi, dia kembali fokus di depan karena sedetik lagi dia terkecoh, pukulan yang kini berada di samping kepala, sudah menghantam kuat wajahnya. Alvain berhasil menghindar, namun juga tak sempat menyerang karena Fayheart tak hanya diam sampai disitu saja. Dia lanjut menyerang secara membabi-buta, mengerahkan segala kemampuan bertarung sehingga kombinasi dari kekuatan dan kecepatan tersebut tak mampu ditahan oleh Alvain yang harus menggunakan pedang.
Sebuah pukulan berhasil lolos, masuk menghantam Alvain tepat di tulang rusuk. Dapat terasa beberapa tulang rusuknya patah dari serangan yang kini mengirimnya terbang ke bawah dalam kecepatan tinggi. Tepat ketika Fayheart akan memberi sebuah tendangan pada tubuh Alvain yang masih berada di udara, dewan Edenwood muncul di samping, menggunakan bor pada tangan kanan untuk menghempasnya jauh ke belakang, membuat luka dari daging yang tercabik-cabik. Sayangnya, bor tersebut tak berhasil memberi luka dalam, hanya luka luar yang takkan menghentikan monster di depan. Dia bahkan sudah kembali bangkit berdiri setelah terlempar cukup jauh.
Dewan Edenwood buru-buru ke bawah, mengecek keadaan Sang anak dan menemukannya sudah berdiri tegap meski darah mengalir dari kedua sisi mulut. Alvain mengusap cairan merah itu menggunakan punggung tangan, menggenggam erat pedang lalu mengerahkan lebih banyak mana hingga cahaya putih-keemasan pada pedang menjadi jauh lebih terang hingga sedikit menyilaukan. Dewan Edenwood bangga melihatnya, berdiri di samping Alvain dan memberi dia beberapa tepukan di pundak. Sebuah apresiasi atas keberhasilannya.
"Yah, kita takkan bisa menghadapinya seorang diri. Kita harus bekerja sama atau ini akan terus terjadi dan aku tak yakin apakah aku bisa menerima serangan lagi" Sarannya sembari berusaha menarik napas dalam-dalam karena dada yang terasa sesak oleh rasa nyeri. Genggaman tangan pada gagang pedang menguat, memberinya sebuah semangat untuk mengalahkan sosok di depan.
Dewan Edenwood mengangguk setuju, menciptakan lebih banyak bor angin di belakang, siap diluncurkan "Ayah bangga padamu Alvain. Tak hanya berhasil meyakinkan para bangsawan, tetapi juga menangkap basah Fayheart. Ayah masih tak menyangka dia akan melakukan ini"
"Apa kalian berdua pikir ini adalah sebuah piknik?!"
__ADS_1
Ia tiba-tiba muncul, menghantam tanah tempat kami berpijak tak sampai sedetik yang lalu. Fayheart menggertakkan gigi, mengerang marah sembari memutar tubuh menggunakan tangan sebagai tumpuan. Kedua kaki besarnya itu hampir saja mengenai mereka, untungnya Theora muncul dan menarik mereka berdua ke belakang sehingga tak terkena serangan terakhir dari kaki yang berhasil menghancurkan jalan tersebut, membentuk sebuah retakan panjang, menjalar jauh hingga tempat mereka berada.
Fayheart kembali berdiri, memutar-mutar pundaknya sembari menyengir lebar, menampakkan sebaris gigi putih yang sekarang memiliki empat buah taring "Apa hanya seperti ini saja? Kalian mengecewakanku, terutama kau Alva. Dulu aku selalu mengagumimu, namun sekarang.. Kau menyedihkan" Ia mulai melangkah, menimbulkan hempasan-hempasan energi disertai angin kencang yang seakan membuat gravitasi menjadi lebih berat "Kau lebih memilih untuk menyerah pada mereka, Codes dan kau berani menganggap dirimu sebagai seseorang yang selalu mengutamakan kerajaan? Omong kosong. Kau takut pada mereka, memilih untuk menyerah ketimbang berusaha. Kau adalah sebuah kekecewaan Alva"
"Aku tahu dan sadar itu. Namun, apa kau punya hak untuk berbicara seperti itu ketika kau sendiri menjadi budak?"
Mendengarnya, seringai Fayheart menghilang, tergantikan dengan sebuah gertakan gigi penuh emosi.
"Apa kau tak melihat dirimu sekarang? Kau bukan lagi seorang elf melainkan demon. Berhentilah berbicara mengenai kekecewaan jika kau sendiri lebih memilih untuk meninggalkan ras hanya demi sebuah kekuatan. Aib terbesar kami adalah dirimu, Fayheart. Kau terlalu termakan oleh kesedihan sehingga membiarkan jiwamu dikuasai oleh kegelapan yang berakhir dimanfaatkan. Jujur saja, aku merasa kasihan padamu"
Tepat begitu selesai mengucapkannya, Fayheart maju menerjang, mengumpulkan kekuatan pada tangan kanan, siap untuk dihantam pada wajah Sang sahabat yang sudah membuatnya merasa tak berguna semenjak dulu. Sayangnya, itulah yang diincar oleh dewan Edenwood. Theora melangkah maju, menghunuskan pedang ke bawah, membentuk delapan buah pedang di udara yang kemudian mengelilingi sosok Fayheart, mengurungnya di dalam sebuah medan energi transparan. Tubuh dia tak dapat bergerak, terhenti di tempat seakan sebuah rantai mengikat kuat.
"Kau adalah penghianat Alva" Balas Fayheart sembari menatap tajam sosok sahabatnya di depan "Mereka sama sekali tak pernah memberikan bukti bahaya itu apa dan tiba-tiba mengambil alih dunia kita seakan mereka adalah penciptanya. Sebagai penghuni dunia ini, kita seharusnya melindunginya! Bukan takluk pada mereka!"
"Kau tak salah Fayheart. Namun, demi melindungi dunia ini, kita juga harus menerima sebuah perubahan baru dan bukan menolaknya, lalu menyesal di kemudian hari. Apa kau melihat ada yang setuju denganmu? Bukalah matamu Fayheart. Jika kau menyerah sekarang, sebagai sahabat yang telah berada di sampingku dari kecil, aku akan memaafkanmu dan membantu untuk membersihkan namamu. Sulit, tetapi bukan berarti tak bisa. Bagaimana?"
Sebuah tawa keluar dari dalam mulutnya, tawa keras penuh kebencian hingga aura ungu-kehitaman tersebut kembali muncul. Darah keluar dari dalam mulut Theora, tak kuat menanggung beban dari kekuatan yang tiba-tiba menjadi begitu besar hingga Fayheart perlahan-lahan dapat menggerakkan tubuh meski hal tersebut membuat tulangnya patah dan sembuh berulang kali. Theora mengerahkan lebih banyak mana, memaksanya jatuh berlutut di tanah disertai suara benturan keras. Namun, Fayheart masih belum menyerah. Ia kembali berusaha bangkit, membuat elf tersebut terbatuk memuncratkan tanah dan posisi mereka terbalik. Kini, Theora lah yang sedang berlutut, berusaha menenangkan kepala dengan pandangan berkunang-kunang. Sementara, Fayheart berdiri tegak, seringai lebar tampak pada wajah.
__ADS_1
"Akan kuperlihatkan, seperti apa kekuatan dari orang yang mengecewakan ini"
Ia akhirnya berhasil lolos, tak hanya memecahkan medan transparan, tetapi juga kedelapan pedang hingga Theora merasakan sakit luar biasa dalam dada. Theora mencengkramnya kuat, berusaha menahan rasa sakit tersebut sembari menatap sosok di depan yang kini mengumpulkan kekuatan pada tangan kanan.
Edenwood datang menyerang, berusaha menghentikannya, tetapi terlambat. Fayheart tertawa keras dan menghantamkan tangan pada jalan, membentuk sebuah ledakan besar. Di saat-saat terakhir tersebut, Edenwood menggunakan sihir teleportasi untuk membawa mereka menjauh lalu menciptakan sebuah kubah lingkaran sihir besar, melindungi mereka bertiga dari serangan yang berhasil membersihkan area hingga kini tak lagi terlihat puing-puing bangunan, melainkan hanya berupa dataran luas dan kosong.
Fayheart berdiri di sana, terkejut melihat sebuah kubah hijau tranparan. Awalnya amarah dia akan memuncak, tetapi tergantikan oleh sebuah seringai lebar yang sama saat melihat kubah tersebut sudah penuh akan retakan, hanya butuh sebuah sentuhan kecil untuk membuatnya menjadi serpihan-serpihan kecil.
Mereka bertiga tak tinggal diam. Begitu kubah transparan dihilangkan, mereka bersama-sama maju ke depan, mengerahkan segala sesuatu yang mereka miliki untuk dapat mengalahkan monster tersebut tanpa memedulikan nyawa sendiri. Jika mereka gagal, maka nyawa tiap orang dalam dunia ini akan berada dalam bahaya besar. Mereka tak bisa membiarkan hidup.
Fayheart harus mati.
Namun, meskipun sudah menggunakan kekuatan penuh dari dua Tier 8 hingga kawah-kawah besar dan cerukan dalam pada tanah terbentuk di sekitar, mereka masih belum dapat membuat sebuah luka dalam pada badan yang bagaikan Mythril tersebut. Terlalu sulit untuk ditembus. Sedangkan Fayheart terlihat seperti sedang bersenang-senang saja dan bukannya berada dalam pertarungan hidup atau mati. Bahkan ketika Theora menggunakan kekuatan yang sama seperti yang digunakannya pada Mercenary besar itu, pedang-pedangnya cuma berhasil masuk beberapa senti. Bukannya membuat Fayheart merasa sakit, tetapi justru memancing emosinya keluar sehingga mereka bertiga terpukul mundur sesudah menerima sebuah hantaman telak pada masing-masing tubuh. Darah mengalir keluar dari mulut mereka akibat organ dalam yang terluka oleh tusukan tulang-tulang rusuk.
Fayheart merasa puas, bebas, seakan berada di puncak dunia. Ia tak menyangka dirinya baru saja menang menghadapi dua Tier 8 yang takkan pernah terpikirkan oleh dirinya tiga puluh menit yang lalu. Tawa tersebut kembali terdengar, menggema keras seakan langit sedang ikut menertawakan mereka bertiga atas kegagalan ini. Apa yang akan terjadi sekarang? Apakah Alfheim pada akhirnya akan menghilang?
Penyesalan mulai merambat naik, perlahan mengisi hati hingga membuatnya terasa nyeri oleh kekecewaan pada diri sendiri. Tetapi, begitu sebuah kilatan cahaya merah lewat di depan dalam kecepatan tinggi hingga meninggalkan cerukan tanah yang bahkan lebih luas dan dalam dari serangan mereka, sebuah rasa penasaran muncul. Sebuah ledakan energi terjadi, membentuk angin berkali-kali lipat lebih kuat di banding tadi. Di pusatnya, tampak sosok X yang kini terdiam dengan sebuah kepalan tangan kiri menyentuh tubuh Fayheart, di mana terdapat sebuah cerukan dalam di sana.
__ADS_1
Darah hitam mengalir turun, jatuh menetes layaknya sebuah keran air, membentuk sebuah genangan di bawah mereka. Alvain dan Theora terdiam di tempat, syok, tak dapat percaya dengan mata sendiri.
X baru saja berhasil memberi luka serius pada monster tersebut, sesuatu yang benar-benar mustahil dilakukan seorang manusia. Namun, tak butuh waktu lama bagi Alvain untuk menyadari kalau kini tak satupun kulit tampak pada tubuh Sang M3RC dan pandangannya pada X berubah tajam.