Archsoul

Archsoul
Part 44


__ADS_3

"Sekarang, apa yang akan kita lakukan?" Tanya Theora begitu kami selesai memberi bukti pada bangsawan terakhir, sesudah Alvain meminta waktu untuk berbicara empat mata dengannya.


"Beristirahat, meskipun kita dikejar oleh waktu, tak ada baiknya untuk masuk dalam peperangan dengan tubuh dan jiwa yang lemah. Kita akan bergerak besok pagi, sesuai yang direncanakan dan aku yakin, kalian juga sudah tak sabar melompat ke atas kasur" Jawabnya sembari tersenyum, senyum yang kali ini terlihat tulus.


Theora tertawa, mengangguk mengiyakan dan akan mengatakan sesuatu, tetapi buru-buru menurunkan kepala kami bersama dirinya untuk bersembunyi dari Mercenary yang tiba-tiba muncul dari ujung jalan. Untungnya mereka tak memiliki alat yang dapat membuat penglihatan mereka menembus objek, jika tidak, mungkin kami akan ketahuan karena hanya bersembunyi di balik sebaris semak-semak berbentuk balok.


"Sialan, tempat ini penuh akan sihir. Sudah berapa kali kita gagal menangkap karena mereka menggunakan sihir teleportasi?" Keluh salah satunya dengan senapan disandarkan pada pundak.


"Tenanglah Cole, semuanya akan selesai besok dan dendam kita terbalaskan. Jika Alfheim hancur maka elf takkan memiliki jalan pulang, lalu apa yang dapat mereka lakukan di Archsoul tanpa adanya dukungan? Jadi tenang saja, tuan Azrael telah memikirkan semuanya. Yang perlu kita lakukan hanyalah menjalankan perintah dan posisi kita aman" Balas Mercenary lain sembari menghisap sebuah rokok yang lalu dibuangnya begitu saja di atas jalan.


Theora hampir melompat keluar jika tidak ditahan oleh Alvain yang juga tampak begitu marah. Aku khawatir kalau sekali lagi mereka melakukan hal yang tak disukai elf, kedua elf di sampingku ini melompat keluar dan menyerang mereka.


"Kita termasuk beruntung dapat bergabung dalam kelompok Alfheim. Dapat kau bayangkan yang bergabung dengan kelompok Avrath? Mereka akan kesulitan menghadapi para Werebeast tersebut. Belum lagi Arthuria dan Alvaroz. Meskipun dengan bantuan kekuatan khusus milik tuan Azrael, kesempatan menang tetap kecil menghadapi ras Angel dan Demon. Jadi berhentilah mengeluh" Lanjut Mercenary ketiga yang lalu menenggak habis sodanya.


Kaleng soda tersebut dibuang ke bawah, kemudian ditendang oleh Mercenary perokok, terbang dan menghilang entah ke mana. Mereka tertawa, meregangkan badan lalu Mercenary bernama Cole itu mengatakan "Kurasa kau benar. Dibanding kelompok lainnya, kita termasuk beruntung menghadapi ras elf yang hanya beda setingkat dalam hal kekuatan. Mereka yang berada di Alshen juga belum tentu dapat selamat menghadapi para petarung wuxia itu. Jika mereka memiliki kekuatan yang sama seperti yang kubaca dalam komik, maka mereka akan menjadi lawan yang sulit"


"Hmm? Apa kau belum pernah masuk dalam Archsoul?" Tanya si peminum soda penasaran.


Cole menggeleng "Belum, ini pertama kalinya aku berpindah dunia. Aku baru saja mendapatkan izin untuk menggunakan pod, jadi ya. Aku belum pernah menyentuh Archsoul" Jawabnya dengan wajah begitu polos layaknya seorang remaja yang belum pernah melihat kekejaman perang.


Si perokok mengangguk-angguk mengerti, kemudian melipat lengannya dan berlagak seperti seorang pelatih "Kau beruntung anak muda. Apa yang dirimu lihat di balik layar dan dengan mata kepala sendiri adalah dua hal berbeda. Mungkin saat ini kau menganggap itu luar biasa, namun begitu mengalaminya, kau akan merasakan putus asa. Kita adalah yang terlemah dari mereka semua, ras terinjak hingga tak layak untuk dianggap sebagai sampah"

__ADS_1


Si peminum soda menepuk pundak Cole, memberinya semangat pada remaja yang kini tampak kehilangan kepercayaan diri "Tak perlu khawatir Cole. Selama ada tuan Azrael, ras-ras itu bukanlah apa-apa dihadapan kita, manusia. Bersemangatlah"


Kami lalu menyelinap pergi dari sana karena tak ada lagi hal menarik yang dapat kami dengar dari mereka dan untungnya perjalanan menuju tempat persembunyian mulus-mulus saja tanpa adanya halangan sehingga kami dapat sampai lebih cepat dari perkiraan.


"Jadi, para Rebels itu tak hanya mengincar kita tetapi juga dunia lainnya.. Apa tujuan mereka?" Tanya Theora tak mengerti begitu kami sampai. Duduk di atas sofa untuk merilekskan tubuh sejenak sebelum naik ke lantai dua.


Alvain menggeleng "Aku tak tahu. Yang jelas mereka berniat menghancurkan tiap dunia yang di mana menurutku itu gila. Anggap saja mereka mampu menghancurkan Alfheim, tapi Arthuria? Alvarez? Kami saja tak berani menyentuh mereka. Dan jika mereka berniat untuk mengurangi lawan, mengapa tak fokus pada satu ras saja? Mereka justru menyebarkan anggota mereka dan membuat mereka menjadi lebih mudah untuk dihadapi" Jawabnya, lalu menenggak habis Silvermoon dari dalam gelas "Sudahlah, aku tak memiliki energi lagi untuk berpikir. Aku akan tidur terlebih dahulu"


Theora ikut menenggak habis minuman miliknya, menyusul Alvain yang sudah berada di tangga sesudah mengucapkan "Begitupun diriku. Kau juga sebaiknya beristirahat X. Jangan lupa kalau dirimu masih terluka dan terima kasih. Maaf aku telat mengatakannya, juga bersabarlah untuk giliran Alvain. Kau tahu dia seperti apa"


Kini tinggal diriku sendiri di ruang tamu, berdiri bersandar pada dinding sembari memerhatikan tangan kiri yang telah diperbaiki oleh Z. Aku diam sejenak, berpikir apakah aku benar menginginkan ini dan berakhir berlari masuk dalam kamar, menyiapkan hati dan pikiran untuk menyambut kedatangan Z yang tahu-tahu langsung muncul di depan mata.


"Maaf, aku yakin kau sudah lelah dan ingin beristirahat, tapi.. " Dia memalingkan muka, berusaha menyembunyikan rona merah pada wajah sembari mengumpulkan keberanian "Aku.. um, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu sebelum perang" Lanjutnya yang lalu berubah sedih "Karena aku takkan bisa menghubungimu ketika itu terjadi. Jika aku melakukannya, mungkin aku takkan pernah bisa bertemu denganmu lagi"


Aku melangkah maju, menarik ia masuk dalam dekapan sembari membelai pelan rambutnya yang terasa begitu halus dan harum, memberiku ketenangan yang tak kusangka begitu kudambakan "Jujur, aku juga ingin memanggilmu"


"Benarkah?" Tanyanya sembari menatapku, membuatnya terlihat begitu menggemaskan dengan pipi yang minta dicubit.


Aku mengangguk dan menarik pelan pipi tersebut, tak dapat menahan diri "Tapi ternyata kau sudah mendahuluiku"


Z mengangkat tangan kanannya, meraba tanganku yang sedang memegang pipinya dan ia tekan untuk lebih merasakan kehangatan sambil menutup mata "Apakah kau merasa tak aneh dengan ini?" Tanya dia, kembali menatapku "Bagimu, kita baru saja bertemu, belum memiliki kenangan bersama"

__ADS_1


"Apakah itu penting?" Tanyaku balik dengan suara yang entah mengapa menjadi lebih berat dan serak.


"Aku tak ingin membuatmu merasa tak nyaman" Jawabnya sesudah terdiam untuk sesaat. Rona merah pada wajah itu kini makin memerah yang untungnya tersembunyi oleh gelapnya ruangan dan hanya terlihat sedikit oleh pantulan cahaya dari jendela.


"Tak nyaman?" Sebuah senyum terbentuk pada wajahku, senyum yang hanya muncul ketika aku sedang menghabiskan waktu bersamanya "Z.. Semenjak kehadiranmu, aku kembali merasakan yang namanya 'rumah'. Aku kembali memiliki tempat untuk pulang. Entah mengapa, meskipun kita baru bertemu, aku merasa begitu nyaman, begitu tenang. Ada sebuah kerinduan di dalam hati yang terus meminta untuk bertemu denganmu, menghabiskan waktu bersamamu dan itu membuatku kembali merasakan hidup. Aku juga tak mengerti mengapa, ini begitu sulit untuk dijelaskan. Tapi, satu hal yang pasti, kita akan memiliki kenangan bersama. Sehingga kau tak perlu lagi merasa khawatir jika aku akan terganggu dan semacamnya"


"Apa hanya itu yang kau janjikan padaku?" Tanya dia dengan senyum yang mulai melebar perlahan.


"Apakah kau menginginkan yang lebih?"


Dia menggeleng "Cukup hanya dirimu tetap berada dalam pelukanku seperti ini"


"Ohh.. Jadi kau sudah mulai berani merayu ya? Sudah kembali merasa nyaman nona Codes?" Godaku membuatnya tertawa lepas, tawa yang terdengar begitu manis dan lembut layaknya madu.


Z mengangkat naik tangannya, meraba kedua pipiku yang lalu dielusnya lembut sebelum menjalar perlahan ke belakang, mengalungkannya pada leher dan maju memberiku sebuah ciuman.


Apa yang kurasakan saat itu, benar-benar tak dapat kujelaskan menggunakan kata-kata. Sesuatu yang begitu menegangkan, namun di saat bersamaan penuh akan kebahagiaan dan misteri.


Begitu kami berpisah, Z menuntunku naik ke atas tempat tidur, berbaring di sebelah di mana kami saling bertatapan cukup lama sampai akhirnya aku jatuh tertidur dengan dia berada dalam pelukan.


Z melihat ke atas, memerhatikan sosok yang telah dicintainya sejak lama, meraba wajah tampan tersebut dan menggeser naik beberapa helai rambut ke belakang telinga sebelum memberi sebuah ciuman terakhir untuk malam ini "Aku akan menyelamatkanmu kali ini Xera, aku berjanji"

__ADS_1


Ia tersenyum, masuk kembali ke posisi nyaman di mana ia meletakkan kepala dalam leher Xera dan memeluknya dengan erat.


__ADS_2