
"Apakah kita tidak akan menyusulnya?" Tanya Atraz khawatir.
Alvain yang kini sementara berbaring di atas pangkuan Yuna, menggeleng pelan "Xera jauh lebih mampu dari yang kau pikirkan. Jika ada seseorang yang berani macam-macam dengan orang terdekatnya, siap-siap saja menghadapi badai mengamuk"
"Alvain benar!" Seru Theora penuh semangat sembari mengingat pertarungan tiga bulan lalu "Saat aku dan Alvain berada dalam bahaya, dialah yang datang menyelamatkan kami, bertarung seperti seseorang yang tak sayang nyawa. Dia benar-benar seperti ibu harimau"
"Ibu harimau? Video apalagi yang kau tonton?" Tanya Alvain.
Theora menoleh, menggeleng "Oh tidak ada. Aku hanya membaca fakta mengenai harimau dan merasa kalau Xera kurang lebih sama"
Zena menghela napas mendengarnya, sulit menahan rindu yang kini terasa begitu menyiksa "Semenjak kami kecil, Xera sudah seperti itu. Saat ada yang menggangguku, dialah yang maju menghadapi mereka, tak peduli jika dirinya sendiri terluka. Begitu para pengganggu itu berlari, dia hanya akan berbalik padaku dengan sebuah senyum riang"
Theora merangkak ke depan, berbaring telungkup menggunakan kedua tangan sebagai tumpuan kepala "Oooohh.. Apakah karena itu kau jatuh cinta padanya?" Tanyanya penasaran, tanpa sadar menggerakkan dua kaki ke bawah dan ke atas seperti seorang anak kecil.
"Kau tahu zirahmu akan kotor bukan?"
"Shh, aku mau mendengar masa kecil Xera" Balasnya cepat, melirik tajam pada Alvain yang hanya dapat mengalah.
Zena terdiam sejenak, berpikir kapan pertama kali dia tertarik pada Xera "Kalau bertanya seperti itu, aku tak tahu harus menjawab apa. Aku rasa perasaan itu tumbuh dengan sendirinya, perlahan membesar dan membesar sampai akhirnya aku sadar, aku mencintainya"
"Tak ada kejadian tertentu yang membuat kalian berdua jatuh cinta atau semacamnya?" Desak Theora yang langsung menerima ceramah dari Alvain.
"Tak semua cerita bermula seperti itu Theora. Kau pikir aku jatuh cinta pada Yuna karena sesuatu se cliche itu?"
"Kau jatuh cinta pada Yuna karena dialah satu-satunya perempuan yang kau temui"
"WOAHHH!!" Seru Atraz kemudian tertawa keras.
Alvain bangun dan menghentakkan kaki, menghempaskan energi yang juga mendorong Theora beberapa meter ke depan.
Dia terguling-guling di sana, kotor oleh rerumputan sebelum akhirnya bangkit berdiri, membersihkan zirah yang kini tampak dipenuhi rumput dan tanah "Apa harus kau melakukan itu?!"
"Kau yang memulainya kawan. Yang kau bilang, secara tak langsung mengatakan aku takkan memilih Yuna seandainya mengenal perempuan lain. Kau tahu itu tak benar. Aku hanya memiliki mata padanya, tidak yang lain" Balas Alvain ketus.
Diangkatnya dagu, menantang Sang sahabat untuk membalas.
Theora berdecak kesal, membersihkan rerumputan dari rambut panjang yang sekarang kusut "Tak perlu menggunakan kekerasan! Aku hanya bercanda"
Alvain menggeleng tak terima "Kelewatan Theora, kelewatan"
Yuna berlari mendekat, menggenggam lengannya, tahu Alvain sedang tak bercanda sekarang "Alvain, Theora cuma bercanda. Tak perlu terlalu marah. Aku juga tak kenapa-napa, jadi kumohon, tenanglah ya?" Pintanya pelan.
Suara yang selembut madu itu memadamkan hatinya yang sempat membara oleh amarah. Alvain menghela napas panjang, menyesal sudah terbawa oleh emosi begitu cepat dan merusak suasana "Maafkan aku. Tak seharusnya aku bersikap seperti itu"
Theora menggeleng pelan, ikut menghela napas dengan raut wajah terlihat sedih "Tidak, akulah yang seharusnya meminta maaf. Aku sudah kelewatan dengan candaanku. Maaf aku sudah membuatmu tersinggung Alvain" Dibentangkannya tangan, tersenyum lebar.
"Theora, kita sudah dewasa"
"Ayolah.. Aku tahu kau menginginkan ini"
__ADS_1
"Tidak Theora, aku benar-benar tak mau"
"Hmmm.. Aku yakin kau menginginkannya"
Dia berjalan mendekat dan tahu-tahu sudah melompat merangkul Alvain dengan senyum riang. Alvain yang telat menghindari, mau tak mau diam di tempat menerimanya dan di akhir menyerah.
Alvain membalas rangkulan Theora, menepuk-nepuk punggung Sang sahabat.
"Umm, Theora, ini sudah terlalu lama"
"Biarkan aku seperti ini beberapa saat lagi, aku kesepian"
"HEY!"
Berusaha kuat dia mendorong Theora seperti seekor gurita yang sudah terlanjut lengket. Alvain sampai harus mengerang keras hanya untuk mengerahkan seluruh tenaga tanpa melukai Theora.
Atraz dan Yuna tertawa karenanya, ikut bahagia melihat dua sahabat yang sudah bagaikan saudara itu kembali berbaikan.
Namun semua berhenti ketika terdengar suara benturan.
Mereka berbalik ke sana, menemukan Zena sementara berdiri diam dengan tubuh tegang dan FP yang tergeletak di tanah.
Yuna datang mendekat, memungut FP tersebut sembari bertanya "Apa yang terjadi Zena?"
"X-Xera.. "
"Mereka mendapatkannya"
"Bagaimana bisa!?" Teriak Theora yang buru-buru menggelengkan kepala sambil meminta maaf.
"Ketika Xera sudah masuk dalam pod, Zeon yang berada dalam markas menghubungi Zeon di bumi dan mereka bisa terhubung. S-saat akan memberitahu Xera, pod telah aktif dan tubuhnya di bumi masih berada di dalam.. Pod" Jelas Zena lemah.
Napasnya mulai tak beraturan, dada naik-turun cepat merasakan panik mulai datang menguasai.
Tak dapat dibayangkan apa yang akan mereka lakukan pada Xera. Mereka kemungkinan besar akan merusaknya sampai tak lagi dapat berfungsi dengan baik.
"Kita harus mencarinya!" Jerit Zena takut.
"Tenanglah Zena, dengan kau seperti ini-
"MEREKA AKAN MERUSAKNYA ALVAIN! MEREKA AKAN MERUSAK XERA!" Teriaknya berurai air mata.
Dada Zena terasa begitu perih bagaikan teriris oleh beribu pisau. Berbagai bayangan buruk bermain dalam kepala, mengisinya dengan rasa sakit yang teramat sangat, takut kehilangan satu-satunya sosok yang dapat dia sebut sebagai rumah.
"Aku tahu Zena, tapi kita harus memikirkan ini matang-matang sebelum ikut terjatuh dalam jebakan. Mereka sengaja memberitahu ini pada kita untuk memecah-belah kita, membuat kita berjauhan dan dengan mudah dikalahkan. Aku tahu kau khawatir pada Xera, tetapi kita salah langkah maka Zeon berakhir" Jelasnya pelan, berusaha menenangkan Zena yang kini terkena serangan panik.
"Alvain benar Zena, tolong tenangkan dirimu terlebih dahulu. Kau adalah pemimpin kami, pilar dari Zeon. Kami tak bisa membiarkanmu dalam bahaya" Lanjut Yuna sembari mengeluk punggungnya.
"T-tapi, Xera.. "
__ADS_1
"Kami tahu dan oleh karena itu kamilah yang akan mencarinya" Balas Alvain tegas.
Zena memerhatikan keempat orang di depan, menggeleng pelan dengan raut wajah kecewa "Kalian takkan bisa datang ke dunia kami. Tak satupun jiwa dari dunia lain dapat ke sana kecuali.. Anti Matter itu"
Wajahnya berubah serius.
Tatapan Zena tak lagi dipenuhi rasa takut, tetapi oleh amarah dan ambisi besar.
Ditatapnya keempat orang di depan "Kita harus mencari Anti Matter sekarang sebelum terlambat. Hanya dengan portal itu maka kita bisa menyelamatkan Xera"
Mereka saling bertatapan, mengangguk lalu membiarkan Alvain mengambil alih situasi "Kalau begitu, pimpin jalan kami Zena"
Dengan begitu, mereka tak jadi beristirahat dan melanjutkan perjalanan mencari jiwa yang nyasar tersebut, tanpa menyadari kalau jiwa itu sementara memerhatikan mereka sembari berbicara pada diri sendiri.
Rambut putihnya bergerak mengikuti arah tiupan angin dengan sepasang mata merah menyala di bawah kegelapan malam.
"Apa kau yakin ini benar-benar dibutuhkan?"
"Apakah ini tak terlalu kejam?"
"Aku tahu aku tak berperasaan, tapi mereka adalah orang-orang baik yang berusaha menyelamatkan dimensi mereka"
"Kalau sampai hal buruk terjadi pada mereka, aku benar-benar akan membunuhmu Z"
"Kenapa aku berbicara? Karena aku bosan dan butuh mengeluarkan suara, puas?"
Terus diperhatikannya kelima orang yang kini sudah memasuki daerah hutan, melihat mereka menghilang di sana dan memutuskan untuk bersantai di atas tebing tempatnya berpijak sembari menikmati indahnya langit malam.
Sudah cukup lama semenjak dia tanpa sengaja berpindah dunia karena mengikuti permintaan aneh dari kedua sahabatnya. Menurut mereka, dia harus mempelajari ini agar dapat menyentuh Prime Immortal, padahal sebagai pemegang Glory dia tak terlalu butuh.
Siapa sangka jiwanya justru terlempar ke dimensi lain, sesuatu yang tak pernah sekalipun lewat dalam kepala.
Dan di sinilah dia, duduk seorang diri kembali berbicara pada diri sendiri karena merindukan kontak dari teman-temannya, terutama dari Celine.
Karena itu dia bisa bersimpati pada perempuan berambut putih tadi. Merindukan belahan jiwamu adalah sebuah penyiksaan.
"Sampai kapan lagi kita berada di sini?" Tanyanya, berbaring santai dengan kaki bergelantungan dari bibir tebing.
"Tentu saja aku merindukannya Z. Aku sampai berbicara menggunakan mulut padamu"
"Aku tahu mereka pasti baik-baik saja. Cuma aku tetap khawatir kau tahu? Bagaimana pun dia sementara mengandung"
"Yaa.. Katanya seperti itu. Aku masih tak tahu apakah itu benar atau tidak"
"Apakah aku menginginkannya? Entahlah"
"Bagaimana pendapatku soal mereka berdua? Siapa? Tokoh utama dalam dimensi ini?"
"Tidak ada, aku tak memiliki pendapat sama sekali kecuali mereka berdua benar-benar seksi. Sungguh pasangan yang tercipta saat kau sedang bermimpi indah. Aku hanya berharap mereka baik-baik saja, terutama si laki-laki"
__ADS_1