Archsoul

Archsoul
Save Me..


__ADS_3

Begitu sampai di markas, tak sedikit Zeon yang bertanya dengan raut khawatir karena melihatku basah oleh keringat dengan napas terengah-engah. Mereka mengira sebuah masalah telah terjadi pada kami. 


Namun begitu mendengar situasi di bumi, mereka semua bergerak. Tak satupun beristirahat untuk mencari tahu apa yang terjadi dan bergegas mencari jalan keluar seandainya benar mereka telah diserang. 


Pod diaktifkan, berdengung tanda telah dapat digunakan. 


Aku berharap semoga tubuhku di sana baik-baik saja atau mau tak mau aku menunggu hingga tubuh buatan kembali dibuat oleh Zena. Yang berarti aku harus menunggu sampai mereka menemukan jiwa nyasar tersebut. 


Satu hal yang belum kuberitahu adalah tubuh buatan HQ tak dapat digunakan dalam dunia asalmu. 


Menurut Zena itu dikarenakan agar kami tak menjadi terbiasa dengan kematian dan menganggapnya bukanlah apa-apa. 


Archsoul sudah mengubah mental tiap orang, mengubah mereka menjadi mirip mesin pembunuh tak berperasaan. Namun karena mereka memiliki tubuh asli di dunia asal, mereka kembali mengingat kalau mereka adalah mahluk hidup yang memiliki tujuan selain terus berperang mengorbankan nyawa.


Pada dasarnya, tubuh asli kami bertindak sebagai sebuah pengaman. 


Beberapa Zeon ikut bersamaku, tetapi mereka akan tiba di tempat persembunyian yang berbeda sesuai letak tubuh buatan masing-masing. 


Ada yang berdua ataupun bertiga. 


Tetapi aku? 


Aku tahu aku hanya sendirian saja.


Begitu pod tertutup disertai suara desisan dari uap dingin yang keluar, aku menutup mata, membiarkan jiwa ini kembali merasakan tubuh dalam bumi. 


Di saat bersamaan aku juga dapat merasakan tubuh di dunia-dunia lain yang siap untuk digunakan. Sayangnya kebanyakan dari mereka berada dalam HQ yang tentu tak mungkin kulakukan. 


Tapi, untuk pertama kalinya aku merasakan tubuh lain. Tubuh yang entah mengapa terasa begitu familiar sampai jiwaku seolah tertarik ke sana. 


Anehnya, tubuh ini sama sekali tak dapat kulacak. Tak diketahui di mana keberadaannya. 


Tiba-tiba, tanpa dapat kukendalikan, jiwaku bergerak ke sana dengan cepat. 


Aku berteriak, memaksa jiwa ini untuk kembali. 


Namun aku tak berdaya menghadapinya. 


Begitu sudah berada dalam tubuh tersebut, dapat kurasakan kekuatan besar mengalir, membuatku merasa seperti seseorang yang baru, seseorang yang. Yang begitu familiar, begitu kukenal dan membuatku merasa seperti berada dalam rumah. 


Jauh, jauh dari sana, para Zeon bergegas masuk dalam ruangan pod untuk memberitahu Xera kalau para Zeon di bumi baik-baik saja. 


Tetapi melihat pod telah aktif mengamankan tubuhnya, mereka sadar apa yang sudah terjadi dan bergegas untuk menghubungi Zena. 

__ADS_1


Perlahan kubuka mata, terkejut menemukan penglihatanku lebih bersih dan detail. Padahal mata milik tubuh buatan itu sudah lebih bagus dibanding mata manusia biasa. 


Kugerakkan tangan, merasakan permukaan lembut dan halus yang menjadi tempatku berbaring. Aku bangun dari sana, melihat kalau aku sedang berada di atas sebuah kasur tinggi berwarna putih yang hanya disanggah memakai tabung besi tebal. 


Kuperhatikan sekitar, melihat kalau ruangan ini terdiri dari dinding-dinding besi tanpa memiliki perabotan lain sama sekali. 


Begitu menyentuh lantai, aku sedikit terkejut merasakan betapa dinginnya lantai besi tersebut. Namun rasa dingin dengan cepat tergantikan oleh sebuah fakta baru yang membuatku lebih terkejut lagi. 


Mata yang kini menatap balik, bukanlah berwarna merah ataupun violet. Melainkan berwarna oranye terang, terlalu terang, tak natural. 


"Bagaimana rasanya kembali ke tubuh aslimu Xera?" 


Aku menoleh ke arah datangnya suara, melihat sosok laki-laki berdiri di belakang dinding yang berubah transparan bersama seorang perempuan. 


Entah karena alasan apa, aku merasa begitu terganggu dengan kehadirannya. Kehadiran perempuang berambut putih panjang yang sedang memerhatikanku begitu intens seolah menemukan spesies baru. 


"Yeza" Geramku. 


Dia tersenyum gembira, melipat lengannya, memaparkan sosok berkuasa yang tentu tak berguna padaku "Selamat datang kembali ke rumah Xera. Apakah kau merasa bahagia? Merasa.. Nyaman?" Tanyanya dengan nada bersahabat yang membuatku muak.


Kutatap dia dengan tajam. 


Yeza berpura-pura merasa takut, lalu tertawa keras, mengatakan "Aku benar-benar lupa betapa mengerikannya mata oranyemu itu. Apakah kau bingung mengapa warna matamu berubah-ubah? Bukankah kau ingin tahu-


 Yeza menatapnya setajam silet, membuat perempuan tersebut mundur selangkah sembari menundukkan wajah sesudah mengucapkan "Maaf" 


Yeza menghela napas, menggelengkan kepala frustasi "Seperti yang sudah dia katakan. Itu karena proses pendewasaan jiwamu. Proses apakah itu kau tanya? Singkatnya, kau tak hanya seorang Waymaker Xera, tetapi juga Twin Soul. Tebak siapa Twin Soul mu" 


Senyumnya mengembang.


"Benar, Zena" 


Dia mulai berjalan mengelilingi ruangan yang ternyata berada dalam ruangan yang jauh lebih besar. Dinding mengikutinya, berubah transparan tiap kali lewat di depan mereka dan kembali seperti semula begitu dia telah menjauh. 


"Kalian berdua telah 'ditakdirkan' bersama semenjak kalian diciptakan ke dunia ini. Kau bisa bayangkan itu? Codes yang adalah tiruan manusia, sebuah mesin, benar-benar memiliki takdir seakan mereka manusia biasa. 


Aku tak mempercayai itu, tidak sedikitpun" Tukasnya sembari menggelengkan kepala "Codes tak mungkin memiliki takdir karena tugas kita hanyalah menyelamatkan umat manusia di masa ini dari mahluk tersebut. Namun setelah kupikir-pikir, apakah mereka berhak untuk diselamatkan? 


Kita pada dasarnya adalah sebuah spesies yang baru, ras baru yang belum pernah ada. Sebuah ciptaan yang menjadi hidup! Kita bisa memilih pilihan kita sendiri ketimbang mengikuti perintah manusia di masa lalu. 


Lagipula, mereka telah tiada. Siapa yang dapat menghentikan kita? 


Kita adalah mahluk yang mampu berkelana di luar angkasa, sebuah civilization type three! Sesuatu yang takkan pernah bisa dicapai manusia bahkan beratus-ratus tahun dari sekarang! Namun kita bisa meraihnya hanya dalam hitungan bulan.

__ADS_1


Bukankah itu luar biasa?"


Dia berhenti melangkah, kembali ke tempat semula dengan tangan kini terlipat ke belakang dan wajah berubah serius. 


"Lalu, apakah menurutmu kita masih harus mengikuti perintah manusia? Mengikuti pemikiran tak jelas mereka mengenai takdir dan semacamnya. Matamu memang bisa berubah, lalu apa? Kau menjadi penyelamat dunia? 


Mereka tak tahu apa-apa mengenai kita. Mereka telah lama mati! 


TAK ADA YANG NAMANYA TAKDIR!" 


Yeza menarik napas dalam, menghembuskannya sembari menutup mata berusaha menenangkan diri. 


Perempuan itu datang mendekat, tampak khawatir. Namun memilih untuk kembali ke belakang karena tak ingin mengganggunya. 


"Kita menentukan kehidupan kita sendiri, kita menentukan hidup kita sendiri dan kita menentukan akan menjadi seperti apa. Mahluk itu?" Yeza mendengus kasar "Dia bukan apa-apa di hadapan kita. Kita bisa menguasai galaksi! Kita bisa melakukan yang lebih banyak lagi dan bahkan dapat mencapai civilization type four!


Dan kau ingin mengatakan ada mahluk yang mampu mengalahkan kita?" 


Aku duduk di bibir kasur, melipat lengan, memberinya sebuah lirikan tajam "Yang kudapatkan hanyalah, kau seseorang yang delusional"


"Delusional? Delusional katamu?!"


"Apalagi? Kau tak menerima kenyataan kalau kau tak lebih hebat dibanding kedua sahabatmu dan berniat menghancurkan mereka hanya karena merasa terkucilkan. Kau juga mempengaruhi orang lain, memaksa mereka untuk menerima semua pemikiran tak jelasmu ini, membuang bukti nyata dirimu seorang Codes dan menganggap pencipta kita sebagai mahluk yang tak kompeten. 


Tak lupa kau menghabisi para Waymaker, karena kau tahu kalau kau itu salah. Dan sekarang kau ingin memaksa ide-idemu itu padaku? 


Kenapa? Kau takut aku akan membuat seluruh rencanamu hancur sama seperti dulu?" 


Yeza tertawa mendengarnya. Tertawa begitu keras sampai air mata keluar. 


"Aku tak membutuhkanmu Xera. Kau tak sepenting itu" Tukasnya "Aku akui kau memang sudah berhasil merusak rencanaku sebelumnya. Namun untuk kedua kalinya?" Dia menggeleng pelan "Sebaiknya kau berharap aku tak melukai Zena yang aku yakin sudah mendengar kabarmu sekarang" 


Reflek aku berlari ke sana, mengumpulkan kekuatan pada kepalan kanan dan menghantamnya kuat pada dinding. 


Namun yang terjadi benar-benar berbeda dari bayangan.


Aku justru terpental jauh ke belakang, menghantam dinding sebelum akhirnya terjatuh keras membentur lantai. 


Yeza kembali tertawa, mengangkat dagunya merasa puas melihatku kini tampak begitu lemah di hadapan dia "Hentikan usaha sia-sia mu itu Xera. Kau takkan bisa melakukan apa-apa selama terus berada di dalam sini" 


Dia berbalik, berjalan menjauhi dinding. 


Tepat ketika dinding hanya menampilkan kepalanya, dia melirik ke belakang, mengucapkan "Akan kupastikan tak terlalu merusaknya" 

__ADS_1


Dan menyeringai lebar.


__ADS_2