
Mereka tak tahu? Bagaimana bisa?
"Apakah ingatan kalian tersegel atau semacamnya? Sama sepertiku?" Tanyaku memastikan.
Blake menghela napas kasar "Kami-tak-tahu. Mengerti? Kami tak tahu. Bukan ingatan yang tersegel atau semacamnya, kami hanya tak tahu"
"Kau ingin aku percaya itu?"
"Maaf Xera, tetapi Blake benar. Kami sama sekali tak tahu. Tak ada informasi apapun mengenai itu di dalam kepala kami. Tak ada apa-apa, kosong" Lanjut Cass "Kami telah berusaha mencarinya, tetapi tak bisa menemukan apa-apa mengenai orang ini"
Herald mengetik pada meja, menunjukkan sebuah gedung pencakar langit yang begitu besar dengan salah satu lantai berwarna oranye "Di sanalah kami menyimpan jiwa-jiwa kalian. Tapi, kalau kau ingin ke sana dan mengeceknya, kusarankan tidak. Kecuali jika kau tak sayang nyawa, ingin mengulang kematianmu, maka silahkan"
"Kau memang memiliki kekuatan Xera. Namun, bukan berarti kau bisa begitu saja menerobos bangunan dengan penjagaan terketat dalam planet ini" Balas Cass.
"Dalam planet ini, bukan dalam galaksi ini bukan?"
"Yaaa.. Kau benar, tapi-
"Maka bukan sebuah masalah... Tunggu, ini.. Kita, kita bukan berada di bumi bukan?" Tanyaku tak mengerti.
Kalau ini bumi, lalu apakah itu berarti aku sudah pindah ke masa depan?
Tapi, Yeza justru muncul dalam layar dan menangkap mereka.
Mereka kembali berpandangan, seolah masih menyembunyikan sesuatu dariku, berkomunikasi melalui tatapan masing-masing yang membuatku benar-benar kesal.
"Tolong jelaskan padaku, apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang"
"Aku tak yakin jika kau-
"Jelaskan padaku!"
Cass menghela napas, menoleh pada Herald dan mengangguk mengiyakan.
Herald dengan penuh berat hati, menekan meja.
Ruangan ini naik ke atas, terus meninggi hingga keluar dari dalam bawah tanah, bahkan keluar dari bangunan yang ikut terbuka, memberi jalan bagi kami.
Begitu akhirnya kami mencapai lima belas meter dari permukaan tanah, di mana dapat terlihat kota seberang dengan jelas, aku sama sekali tak dapat berkedip memerhatikan pemandangan di depan.
Kota yang tadinya begitu megah, begitu futuristik, kini adalah sebuah reruntuhan. Tak ada lampu sama sekali, gelap gulita dengan begitu banyak bekas ledakan. Gedung-gedung pencakar langit masih berdiri tegak, tetapi beberapa bagiannya telah hancur berantakan, menampakkan sebuah lubang besar.
__ADS_1
Aku berjalan mendekati jendela yang tanpa kusadari juga sudah pecah, merasakan tiupan angin dingin yang entah mengapa terasa begitu hampa.
Tak jauh di sebelah kiri, di mana terdapat laut seluas mata memandang, sebuah kapal luar angkasa rusak parah di sana. Kapal yang sama dengan yang pertama kali kulihat begitu keluar dari dalam gedung.
Saat melihat ke atas, aku hampir saja jatuh ke bawah oleh kaki yang tiba-tiba melemas, memerhatikan planet tersebut kini sudah tak lagi tampak seperti sebuah planet, melainkan bongkahan-bongkahan batu besar, melayang diam, gelap, tak lagi memiliki cahaya.
Tak sedikit kapal luar angkasa di atas sana, tak bergerak dalam kondisi yang rusak parah.
Segera kuraih kerangka jendela di sebelah kiri, masih tak mampu memproses apa yang sebenarnya telah terjadi.
Aku menoleh ke belakang, menemukan kalau tiga orang Zeon itu ternyata hanyalah sebuah hologram, bukan Codes asli yang masih hidup.
"Karena inilah kami tak ingin memberitahumu. Kami khawatir kau akan menjadi seperti sekarang" Ucap Cass dengan suara yang sekarang tak lagi terdengar begitu hidup. Lebih seperti sebuah rekaman.
"Apa yang terjadi?" Tanyaku pelan.
Blake melangkah mendekat, memerhatikan pemandangan di depan dengan kesedihan tampak jelas di wajah angkuh yang telah sepenuhnya berubah "Setelah mengetahui kalau kau adalah Twin Soul, Codes terbagi menjadi dua faksi. Zeon dan Codes.
Seperti yang kau tahu, Zeon mendukungmu serta Zena. Sedangkan Codes, berniat menghancurkan kalian karena mereka tak ingin posisi mereka sebagai ras nomor satu dalam semesta direbut oleh kalian berdua.
Mereka khawatir jika nantinya akan lebih banyak lagi dari kalian yang muncul, itulah alasan utama kedelapan dewan membunuh kalian. Hanya ada dua dewan di pihak kami, yang di mana tak terlalu membantu, terutama ketika dewan militer berada di pihak musuh.
Kami sampai terbuang di salah satu planet dan memulai semuanya dari awal. Kami tentu takkan menyerah begitu saja, sudah terlambat untuk kata menyerah. Perjuangan yang kami berikan, tak lagi menerima kata tersebut.
Seperti yang kau lihat, kami melakukan perlawanan berat, menghancurkan tiap basis Codes hingga akhirnya mencapai tempat ini, bumi. Rumah kami, tempat pencipta kami tinggal dan merupakan basis utama Codes"
Herald berjalan ke sebelah kiri, ikut memerhatikan pemandangan. Namun matanya menatap jauh ke sana, kembali mengenang masa lalu "Peperangan besar itu menghancurkan kami semua.
Jumlah Codes yang begitu banyak, kini tersisa kurang dari seribu orang saja. Kami tak tahu jika masih ada dari kami di belahan lain galaksi ini. Yang pasti, mereka takkan bisa bertahan terlalu lama tanpa cairan HQ yang adalah penunjang kehidupan Codes.
Codes bisa mencerna makanan ataupun minuman biasa, tetapi bukan berarti akan dapat mempertahankan jantung kita yang adalah mesin, untuk terus berdetak. Kita membutuhkan cairan khusus dari HQ, cairan yang dinamakan 'Life Essence'.
Tanpanya, jantung kita takkan bisa terus bekerja"
Herald menoleh padaku.
"Alasan kami membawamu ke sini adalah untuk memberitahu kalau kami akan terus mendukungmu meski kematian telah menjemput. Zeon masih tetap berada di sini, terus mengawasi kalian berdua"
"Kami masih belum menyerah Xera" Tukas Cass "Kami masih terus berperang dan takkan pernah berhenti sampai dapat melihat kalian berdua menyelamatkan tiap dunia dari dimensi yang sudah tak dapat diselamatkan ini"
Kutegakkan badan, menarik napas panjang dan menghembuskannya untuk meneguhkan hati, terutama setelah mengetahui kalau ras kami berada di ambang kehancuran.
__ADS_1
"Mengapa kalian tak bersatu menghadapi mahluk itu? Kalian adalah penguasa galaksi. Sesuatu yang tak pernah dicapai oleh ras manapun. Mengapa kalian justru saling menghancurkan?"
Sulit dipercaya Codes yang telah berada di Civilization Type 4 tak mampu mengalahkan mahluk ini. Mereka yang telah menguasai satu galaksi, memanfaatkan tiap energi di dalamnya sampai mampu mengendalikan black hole..
Kalah dari mahluk yang bahkan belum pernah muncul?
Aku mulai mengerti kenapa Yeza tak menerimanya.
"Xera, apa kau tak mendengar penjelasan Zena? Begitu mahluk ini muncul, dimensi ini akan hancur. Apa kau bisa mengerti itu? Kita sama sekali tak memiliki kesempatan" Jelas Cass.
"Tapi, tak satupun dari kalian pernah melihatnya bukan? Tak satupun dari kalian pernah menghadapi mahluk ini secara langsung. Bagaimana bisa kalian begitu yakin?" Tanyaku tak mengerti.
Mereka kembali berpandangan, tak tahu apakah harus memberi informasi ini atau tidak. Namun sebelum aku sempat mengatakan apa-apa, Cass mendekat, meletakkan tangan hologramnya pada keningku.
"Apa yang-
Di saat itu juga, aku melihat sesuatu yang tak dapat kuungkapkan menggunakan kata-kata.
Gelap, dingin, hampa.
Aku merasa menghadapi kematian dalam wujud aslinya, menghadapi sesuatu yang takkan pernah bisa dimengerti oleh mahluk tiga dimensi.
Cass menarik tangan, terlihat khawatir, memastikan aku tak kenapa-napa sebelum menjelaskan "Kami semua mendapatkan penglihatan itu dari diri kami di dimensi lain. Dimensi yang telah hancur oleh dirinya. Oleh mahluk tersebut"
"Kami juga masih tak mengerti bagaimana, namun tampaknya itulah hal terakhir yang mereka lihat sebelum kematian mengetuk. Kau tak perlu memikirkan semua ini sekaligus. Kau hanya akan menyakiti kepalamu" Ucap Herald.
Blake datang mendekat, memegang pundakku, memberi ketenangan yang sayangnya tak dapat kurasakan sesudah tahu mereka hanyalah hologram, sebuah rekaman dari diri mereka yang asli "Maafkan kami Xera. Kami sama sekali tak bisa membantumu berperang secara langsung, tetapi kami masih bisa membantumu mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi di dunia ini, di tiap dimensi.
Kami kurang lebih telah mengumpulkan informasi mengenai mahluk tersebut melalui bantuan dimensi-dimensi lain yang kini sudah tiada. Walaupun tak bisa mengerti sepenuhnya, setidaknya kami bisa mempersiapkanmu untuk membawa tiap orang dalam Archsoul pindah ke dimensi lain"
"Mengapa kita tidak menghadapinya saja? Kenapa kita harus meninggalkan mereka yang mungkin tak mengetahui apa-apa mengenai ini? Dan kenapa kau tiba-tiba begitu bersahabat denganku?"
Blake terkejut dan untuk pertama kalinya tertawa. Herald menggelengkan kepala sembari menahan tawa yang sedikit demi sedikit mulai terlepas, sementara Cass membiarkan tawa mengendalikan tubuhnya.
"Aku adalah sahabatmu Xera. Kau mungkin tak mengingatnya, tetapi aku adalah orang yang paling sering berada di sampingmu. Tentunya sesudah Yeza sialan itu menghianati kalian"
Apa?
"Tunggu, jadi di mana keberadaan jiwa-jiwa itu sekarang?" Tanyaku bingung.
"Masih dalam gedung yang sama, di sisi lain planet ini, disembunyikan oleh Zena"
__ADS_1
Di balik layar, Yeza tersenyum lebar mendengarnya "Bingo"