
"Kau yakin itu akan berhasil?" Tanya Alvain ragu.
"Tak terlalu. Tetapi, hanya itu yang kita punya" Jawabku.
Mereka berpikir, memikirkan segala kemungkinan yang dapat terjadi lalu mengangguk setuju.
"Tak ada jalan lain. Hanya ini yang kita miliki" Balas Alvain.
"Aku akan mengembalikan Zena, tapi aku juga akan tetap berada dalam pikirannya untuk membantu"
Dengan begitu, aku memberikan tubuh Zena kembali.
Namun, Zena justru kesal karena harus melepaskan pelukannya dan membuat mereka bingung, kenapa dia terlihat marah.
Hanya Yuna yang mengerti, lalu memberikan pundaknya untuk menenangkan Zena yang masih tak ingin bicara pada siapa-siapa.
Mereka melanjutkan perjalanan, mengikuti sisa-sisa Dark Matter yang sudah mulai menghilang sehingga sedikit sulit untuk dicari.
Terlebih dengan matahari yang masih belum terbit.
Mereka harus berjalan menyusuri hutan hanya berpencahayaan dari sihir Yuna. Hutan ini tak begitu lebat, hanya terdiri dari pohon-pohon tinggi dan semak-semak kecil yang bukan sebuah masalah bagi mereka. Cuma membuat zirah Theora beberapa kali tersangkut, membuatnya tertarik dan terjatuh ke belakang.
Harus kukatakan, hutan ini terlihat sedikit lebih mengerikan dari kelihatannya. Aku tak tahu mengapa. Tetapi suasana di sekitar kami, terasa begitu mencekam seakan sesuatu sedang mengawasi dari balik kegelapan.
Tentunya mereka takkan berhenti hanya karena perasaan tak nyaman yang kini bersemayam dalam hati.
Namun, bukan berarti tak membuat mereka gelisah.
Aku sudah tak dapat menghitung seberapa banyak Theora melihat kanan-kiri. Terakhir aku menghitung dia mencapai delapan belas kali sebelum akhirnya perhatianku teralihkan oleh Zena yang juga ikut merasakan ketegangan mereka.
'Aku ada di sini'.
Itulah yang kukatakan padanya agar dia bisa merasa lebih tenang.
Zena tersenyum, lega karena aku masih bisa berada dalam kepalanya tanpa harus kembali ke tubuhku yang masih berada dalam tabung.
Aku tak perlu merasa khawatir karena aku masih bisa merasakan tubuhku sendiri seandainya ada hal buruk terjadi. Itulah alasan aku memilih untuk menemani mereka, menemani Zena.
Lagipula, aku ingin apa di dalam tubuh tersebut?
Melayang diam menunggu takdir?
'Hei Xera?' Panggilnya.
'Ya?'.
'Apakah kau yakin tubuhmu baik-baik saja jika kau terus berada di sini?'.
'Aku tak apa-apa Zena. Tubuhku juga masih aman. Aku pasti akan kembali secepat mungkin, seandainya tubuhku itu kenapa-napa. Dan jauh lebih baik aku berada di sini bukan? Menemani kalian semua. Ataukah, kau ingin aku pergi?'.
'Kalau kau sampai menghilang secara tiba-tiba lagi, hal pertama yang kulakukan saat kita bertemu adalah menghajarmu'.
Tawaku keluar mendengarnya.
Dengan begitu, perjalanan terus dilanjutkan. Melewati hutan menyeramkan yang ternyata tak memiliki apa-apa, cuma terasa sedikit menyeramkan saja.
Matahari juga tak lama lagi terbit, sehingga ini bukanlah apa-apa.
"Baik, ini waktunya bagi kita untuk berpencar" Ucap Alvain sembari memerhatikan sekitar, mengecek untuk terakhir kali jika ada yang menguntit "Seperti perkataan Xera, akan jauh lebih cepat jika kita berpencar mencari jiwa tersebut, ketimbang terus mengikuti Anti Matter yang dia tinggalkan.
Dari jalur yang semenjak awal kita ikuti juga, dia tampaknya hanya bermain-main dengan kita sehingga kemungkinan dia sementara mengawasi kita dari suatu tempat.
Kita akan berpencar, berubah menjadi tiga kelompok. Aku bersama Yuna, Theora bersama Atraz, lalu Zena bersama Xera.
__ADS_1
Kalau sampai tiga puluh menit kemudian kalian masih tak menemukan apa-apa, segera kembali ke jalur tengah tempatku dan Yuna berada"
"Apa kalian berdua yakin, kalian akan pergi sendiri?" Tanya Yuna khawatir.
Zena mengangguk dengan sebuah senyum "Tak apa-apa Yuna. Kami pasti baik-baik saja. Jangan lupa kalau aku adalah pemimpin Zeon. Tak seorangpun bisa menyakitiku. Bahkan Codes akan kesulitan untuk melakukannya"
Yuna menghela napas panjang, mengangguk setuju dan mereka mulai berjalan sesuai jalur masing-masing.
Atraz dan Theora bergerak ke sebelah kanan, sementara kami berdua ke sebelah kiri.
Di menit pertama, semuanya berjalan lancar. Tak ada yang terjadi. Zena hanya berjalan dalam diam sembari terus memerhatikan sekitar untuk mencari jiwa nyasar tersebut.
Kami tak tahu dia akan berbentuk seperti apa dalam dunia ini karena kami sendiri tak tahu bentuk jiwa itu seperti apa.
Kemungkinan besar sama seperti dalam buku yang diperlihatkan oleh Cass. Berupa bola oranye bercahaya. Tapi, entah mengapa firasatku mengatakan tidak.
Jika apa yang kulihat dalam dimensi lain itu benar, maka seharusnya dia berbentuk seperti..
'Itu dia'.
Zena segera menoleh ke sana, memerhatikan sosok seorang laki-laki berambut putih yang kini sementara berdiri diam memerhatikan kami.
'Xera.. ' Panggilnya pelan.
'Ingin aku yang menghadapinya?'.
Zena menggeleng.
Dia menghela napas panjang, mempersiapkan diri sebelum kembali melanjutkan langkah mendekati sosok tersebut.
Perlahan-lahan, langkah demi langkah.
Dapat kurasakan degup jantungnya semakin cepat dan cepat. Napas Zena mulai terengah-engah.
Tetapi dia tetap berusaha mempertahankan fokus agar tak dikendalikan oleh rasa takut, terutama karena sosok tersebut, terus diam mematung sambil menatap kami dengan mata yang sama sekali tak berkedip.
Atau dia hanya sedang bermain-main bersama kami.
Yang pasti, aku tak suka keduanya.
'Xera, dia mirip denganmu'.
Ya, itu adalah hal lain yang membuatku merasa tak nyaman melihatnya.
'Berhati-hati Zena. Jangan sampai kau menurunkan kewaspadaan'.
Begitu kami telah berada satu meter di depannya, dia tiba-tiba bergerak ke depan, akan meraih kepala Zena dan berakhir dibanting olehnya.
Laki-laki itu menjerit sakit, bertanya "Mengapa kau membantingku!?"
"Kau yang lebih dulu menyerang!"
Dia perlahan bangkit berdiri sambil menggosok belakang punggungnya "Sifatmu sama seperti Celine. Untung saja punggungku tak patah. Kau ingin bertanggung jawab seandainya dimensi ku hancur?"
"Apakah kau bisa berhenti bermain-main dengan kami?"
"Aku sudah terlalu bosan di dalam dunia ini kau tahu? Aku tak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa terus bersembunyi dari pandangan orang-orang"
"Kenapa kau terus membuat kami berputar-putar di tempat? Apa kau tak bisa langsung mendatangi kami saja?"
"Kalau kau tiba-tiba terpindahkan ke dimensi lain, apakah kau akan langsung muncul di hadapan orang lain?"
"Oh benar juga"
__ADS_1
'Zena, aku rasa dia memiliki seseorang juga di dalam kepalanya'.
'Kau tahu dari mana?'.
'Saat kalian berdua berbicara, aku dapat melihat ekspresinya berubah sejenak. Aku yakin sekarang dia juga sementara berbicara pada seseorang'.
"Mengapa kalian tiba-tiba ingin memisahkan diri seperti itu? Apa kalian tak tahu begitu banyak bahaya di sekitar kalian sekarang?" Tanyanya.
Entah aku yang sudah terlalu kelelahan atau dia memang terlihat khawatir pada kami.
Zena melipat lengan "Kalau bukan karena kau, kami tak mungkin berpisah seperti ini. Sudah terlalu banyak waktu yang terbuang dan kami harus segera menyelamatkan Xe- Tunanganku"
....
Sial, aku yakin Zena dapat merasakan wajahku memerah sekarang.
Zena berdeham beberapa kali, berusaha mengusir suasana hening yang terasa begitu canggung hingga ingin rasanya aku kembali pada tubuh "jADi- EHEM" Ulangnya lebih keras "Jadi, mohon maaf tapi kami ingin meminta bantuanmu"
"Kalian membutuhkan apa?"
"Jiwamu"
"Kau gila!?"
'Zena, biarkan aku mengambil alih tubuhmu'.
Laki-laki itu tersentak kaget ketika melihat wajah Zena menghilang layaknya sebuah tv kehilangan sinyal sebelum akhirnya terganti oleh wajahku.
"Aku masih berada di dunia bukan?"
"Tenang saja, kau belum mati"
"Bahkan suaramu berubah. Apakah kalian memiliki dua jiwa dalam satu tubuh juga?" Tanyanya penasaran.
"Semacam itulah"
"Kau terlihat lebih.. Menarik"
"Aku laki-laki sialan"
"Apa ada yang sal- TUNGGU!" Ditariknya napas panjang, kemudian dihembuskan "Kau, apa?"
"Aku laki-laki"
"Tapi suaramu seperti perempuan"
'Zena, suaraku berubah?'.
'Tiap kali kau menggunakan tubuhku, iya. Suaramu sedikit berubah menjadi lebih feminim. Tapi, aku masih tahu itu suaramu'.
Astaga, apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Kuhela napas panjang, berusaha meredakan pusing yang kini memenuhi kepala "Intinya, aku adalah laki-laki. Terlalu panjang untuk menjelaskan semuanya. Kami membutuhkan bantuanmu untuk menciptakan portal dengan Anti Matter yang kau keluarkan. Tanpa itu, dimensi kami sudah dipastikan hancur.
Dan aku rasa, kau ke sini bukan hanya karena kau nyasar bukan? Kau tahu kami siapa. Itulah alasan kau terus membuat kami berputar-putar di tempat, untuk melihat apakah kami benar orang-orang yang kau cari"
Sosok tersebut tersenyum lebar.
"Wah wah, tak kusangka akan bertemu dengan tuan otak besar di sini. Kau benar, aku hanya mengetes kalian. Aku tak ingin membahayakan diri sendiri dengan mendatangi orang yang salah"
"Kalau begitu, maaf karena kami juga harus mengurungmu. Sekarang!"
Dari balik pepohonan, kedua kelompok muncul dan mengurung sosok tersebut di dalam kurungan yang tercipta dari gabungan mana mereka berempat. Mampu mengurung seseorang di Tier 9 dengan mudah dan seseorang di depan kami ini, sama sekali tak memiliki kekuatan.
__ADS_1
Setidaknya, itulah yang kami rasakan darinya.
"Kami juga tak ingin meminta bantuan pada orang yang salah. Terutama pada seseorang yang terus-menerus membuang waktu berharga kami"