
Kembali di bumi, Rico baru saja kembali dari pertemuannya dengan seseorang mengenai informasi mengenai Alfheim yang dia yakin akan sangat dibutuhkan oleh X. Dia berharap semoga saja dirinya belum terlambat atau masalah yang jauh lebih besar dapat terjadi dan menghancurkan Alfheim untuk selamanya.
Rico tak mengerti mengapa dia memutuskan untuk membantu X menyelamatkan ras yang telah membuatnya menderita. Namun, jauh di dalam hati, dia tahu inilah hal yang benar dilakukan meski begitu sulit terutama setelah kejadian di masa lalu.
Begitu sampai di apartemen, ia buru-buru masuk ke dalam kamar, mengetik pada komputer dan mengirimkan data dari Futurephone miliknya ke dalam. Alasan dia tak bisa mengirimkannya langsung melalui FP adalah karena dia merasa semenjak awal, dia telah diikuti oleh beberapa orang entah untuk alasan apa. Untuk memastikan informasi ini tetap aman, dia harus mengirimnya melalui komputer dan menghapus jejaknya. Siapapun yang mengikuti dia, jelas memiliki hubungan dengan masalah yang kini terjadi dalam Alfheim.
"Ayo ayo! Kenapa kau begitu lama!" Sahutnya frustasi memerhatikan persegi panjang pada layar masih belum terisi penuh.
Alarm tiba-tiba berbunyi. Rico mendorong kursi mendekati meja lain yang penuh akan layar hologram, memberikan tampilan luar dari kamera-kamera tersembunyi yang dipasang nya di sekitar apartemen. Dari layar-layar tersebut, tampak beberapa orang bersembunyi di balik sebuah bangunan, belakang tempat sampah dan berada di halaman belakang, menghalangi jalan keluarnya. Rico berdecak kesal melihat itu, lalu kembali ke posisi semula demi mengetik beberapa kode perintah dan menekan 'ENTER'.
Di atas atap apartemen, tiga buah drone militer aktif, melayang di udara sebelum berpisah, meluncur ke tiga tempat tersebut. Rico kembali memerhatikan layar, menyaksikan ketika tiga drone itu menghabisi mereka yang tak sempat melarikan diri, terkejut oleh drone berukuran sebuah koper yang tiba-tiba menembakkan peluru energi, memberi beberapa hiasan baru pada tubuh-tubuh yang kini tak bernyawa.
Sebuah seringai menghias wajah, bangga terhadap keputusannya membeli drone-drone tersebut meski memiliki harga selangit hingga seringai tersebut menghilang, saat salah satu drone tiba-tiba rusak, terjatuh ke bawah dan dapat terdengar dari dalam ruangan, sebuah ledakan terjadi di luar sana.
Jeritan orang-orang makin terdengar, mengisi jalanan di bawah oleh langkah-langkah kaki mereka yang terdengar cepat, sedang melarikan diri dari maut. Rico mencari-cari alasan drone nya itu rusak begitu mudah padahal sulit untuk menembus tubuh besinya jika hanya mengandalkan senjata dari dunia ini. Kecuali..
Rico tak lagi menggunakan kursi untuk kembali ke depan komputer, berlari ke sana untuk mengecek apakah file telah terkirimkan dan tersenyum lebar, bangga telah berhasil menyelesaikan misi. Namun, kini dia harus melarikan diri dari ancaman. Buru-buru ia mengambil tas, mengisinya dengan barang-barang penting, memasukkan kode perintah pada drone untuk memusnahkan seseorang yang memiliki lambang 'C' dengan sebuah garis pada bagian tengah.
__ADS_1
Ia lalu menggunakan scan sidik jari tersembunyi pada dinding, membuka sebuah jalan keluar rahasia yang telah dia buat semenjak menerima gaji pertama sebagai Mercenary karena tahu suatu saat, hal seperti ini pasti terjadi.
Di dalam elevator yang membawanya ke bawah itu, Rico berharap X telah menerima file nya dan menggunakan file tersebut dengan baik. Jauh di dalam hati, ia khawatir X akan berubah pikiran, tapi ia yakin X takkan melakukannya karena dia tahu X adalah seseorang yang takkan pernah menelan ludah sendiri.
Begitu pintu elevator terbuka, Rico keluar di sebuah gang sempit yang terletak tak jauh dari apartemen, tempat terpencil yang takkan diduga menyembunyikan sebuah pintu keluar rahasia.
Tak sampai genap sepuluh langkah, hujan sudah turun dengan deras, menciptakan genangan air yang membuat Rico sedikit kesal karena sepatunya lagi-lagi harus basah. Ia mengangkat tudung ke atas, lalu kembali melangkah menyusuri gang dengan tujuan mencari sebuah tempat persembunyian baru tak sadar bahwa seseorang kini berdiri tak jauh di belakangnya, mengenakan pakaian serba hitam dengan jaket bertudung berhologran 'M3RC' yang sama.
Hal terakhir yang dilihat oleh gang sempit tak bernama itu adalah sebuah genangan darah. Genangan yang takkan ditemukan oleh siapa-siapa, terbawa oleh aliran air, masuk dan menghilang selamanya di bawah selokan, tak menyisakan sebuah jejak.
Di Alfheim, kini aku dan para elf sedang duduk mengitari api unggun khusus mereka yang diberi nama 'Warmblaze'. Pada dasarnya api unggun ini tak ada bedanya dengan api unggun biasa, hanya menggunakan bahan yang berbeda dengan butir-butir cahaya keemasan sebagai ganti bunga api.
"Apa kau tak mendengarku? Terdapat sebuah bangunan khusus" Desak Theora tak mau kalah "Karena bangunan itu kita bisa aman tinggal di dalamnya tanpa perlu khawatir terhadap tekanan udara"
"Lalu siapa yang membangun bangunan itu? Kau pikir seseorang bisa melakukan semua itu sendirian? Dia bahkan tak mungkin bertahan lebih dari semenit dengan tekanan udara sekuat itu" Bantah Alvain.
"Pangerannya memiliki kekuatan-
__ADS_1
"Aaahh, aku tak mau mendengar apapun soal dongeng itu lagi. Seandainya pangeran tersebut juga beneran ada, kenapa dia tak turun membantu kita di garis depan? Kenapa dia hanya diam seorang diri di atas sana? Kenapa dia tak bereaksi ketika tahu Seed of Life telah dicuri?" Alvain menggeleng frustasi "Lihat? Kau saja tak tahu jawabannya" Lalu kembali melanjutkan langkah keluar dari dalam gua untuk mencari udara segar, lelah terhadap apapun yang telah terjadi hingga sekarang.
"Alvain!" Panggil Yuna "Aku akan bicara dengannya" Tuan putri bangkit berdiri, berjalan menyusul Alvain yang sudah berada jauh di depan, untuk pertama kalinya tak terlihat seperti seseorang yang diperbudak oleh cinta. Sepertinya, budak cinta sekalipun akan merasa lelah oleh situasi yang kita alami sekarang.
"Maaf sudah membuat keributan" Ucap Theora sembari memerhatikan dark elf, lalu tersenyum lembut padanya "Alvain tak pernah sekeras ini sebelumnya. Dia memang seseorang yang dingin dan cuek, selalu fokus terhadap buku, ilmu dan segala sesuatu seperti itu dikarenakan sesuatu" Ia menoleh ke arah mulut gua, memastikan kedua orang tersebut berada cukup jauh di luar lalu kembali menghadapku "Apa kau tak keberatan mendengar sebuah cerita?" Senyumnya melebar saat aku mengangguk mengiyakan "Baiklah"
"Alvain adalah anak dari salah satu anggota dewan istana. Tak seperti manusia yang menggunakan Duke, kami menggunakan dewan sebagai satuan hukum di bawah raja dan ratu. Sebagai anak dari posisi sepenting itu, tentu Alvain harus bekerja keras agar tak menodai nama kedua orang tuanya, sehingga dia jarang memiliki waktu untuk bermain bersama mereka yang seumuran dengannya. Situasi tersebut terus berlanjut hingga dia mencapai usia dewasa, membuatnya menjadu seseorang yang tertutup dan sulit menerima sebuah perasaan karena bingung harus bereaksi seperti apa sehingga memilih untuk menjauh dibanding stres merasakan perasaan yang membuat kepalanya terasa akan pecah. Sampai dia bertemu dengan Yuna"
Di luar sana, Alvain tampak sedang memerhatikan kerajaan dark elf di kejauhan, menghela napas panjang, tak menyadari jika Sang belahan jiwa sudah berada di belakang, khawatir akan dirinya.
"Sampai kapan kau akan melarikan diri?"
Suara Yuna yang tiba-tiba muncul itu membuatnya tersentak kaget hingga hampir jatuh terpeleset. Untungnya terdapat sebuah pohon di samping sebagai pegangan, kalau tidak mungkin dia sudah harus menanggung malu dari tuan putri.
"A-aku tak mengerti maksudmu" Jawab Alvain cepat, tak dapat melihat langsung pada Yuna yang kini berjalan mendekat, meraih dan memegang kedua pipinya, mengarahkan kepala elf berambut putih itu dengan lembut untuk bertemu pada sepasang mata hazel yang sedang menatapnya penuh kasih sayang.
"Sampai kapan, kau akan melarikan diri dariku?"
__ADS_1
Hati Alvain terasa seperti tertikam ketika mendengarnya. Namun dia tahu, bahwa dia masih belum pantas bagi tuan putri yang telah menjadi cintanya selama beberapa tahun terakhir.