
"Oh ya, kau membutuhkanku untuk apa Alvain?" Tanya Ciara tak mengerti karena semenjak tadi dia merasa kemampuannya tak dibutuhkan sama sekali.
"Aku mengira kalau penglihatan malammu dapat digunakan di bawah tanah tadi, ternyata kegelapan yang kita rasakan adalah kemampuan dari mahluk tersebut. Kalian berdua beruntung tak kenapa-napa" Jelas Alvain yang kemudian menghela napas "Mengapa Codes meletakkan mahluk seperti itu di bawah sana? Apakah mereka menjaga sesuatu?"
Ciara melirik padaku, kemudian menjawab "Mengapa tak kau tanyakan pada X secara langsung? Karena Z hanya berbicara padanya dan aku malas menjelaskan"
"X?" Tanya Alvain di depan tanpa menghentikan langkah.
"Z memberikanku sesuatuyang juga tak dapat kumengerti. Namun, lebih baik untuk menyimpannya sekarang. Kita tak tahu ini benda apa dan dapat melakukan apa, terlalu beresiko. Setelah semua ini selesai, mungkin kita akan dapat menemukan jawabannya" Jelasku.
Sesudahnya Alvain tak mempertanyakan hal tersebut lagi dan juga tak lagi begitu khawatir akan prajurit yang berjaga karena kami sama sekali tak bertemu salah satunya, seakan istana ini benar-benar tak berisi siapa-siapa.
Entah bagaimana bisa, tapi tak seorangpun mendengar ketika kami sedikit heboh karena kemunculan Z yang membawa berita besar. Aku harap semoga tak tersebar terlalu jauh meskipun aku tahu itu tak mungkin, mengingat Ciara adalah seseorang yang akan maju paling pertama begitu ada gosip bagus sementara Theora takkan pernah bisa menutup mulut. Ia sudah pasti tanpa sengaja mengucapkannya dan sadar sedetik kemudian. Kalau Alvain.. Melihat antusiasmenya beberapa menit lalu, dia akan menceritakan itu pada putri Yuna. Pada akhirnya, seluruh dunia mendengar berita mengenai Codes jatuh cinta pada manusia, layaknya cerita lama seperti seorang bangsawan jatuh cinta pada rakyat jelata. Semoga saja ini tak membawa masalah untuk Z.
"Tenang saja, aku takkan terkena masalah hanya karena ini.. Sedikit, tapi bisa kutangani" Balasnya tiba-tiba, namun tak dapat kutemukan di kiri maupun kanan "Telepati Xera. Berhentilah menengok kanan-kiri seakan kau sedang dikuntit seseorang"
"X? Kau tak apa-apa?" Tanya Theora bingung.
Aku menggelengkan kepala, menjawab "Tidak apa-apa. Aku hanya mencari apakah mungkin ada sihir perangkap, pendeteksi getaran, transmisi suara, video dan semacamnya"
__ADS_1
Alvain yang memimpin di depan, menoleh padaku, menjelaskan "Tak ada sihir semacam itu X. Hanya kalian manusia yang memiliki teknologi seperti itu. Harus kukatakan, kita sebenarnya sangat membutuhkan sesuatu seperti itu sekarang. Jauh lebih mudah untuk mengirim beberapa alat kecil, mengecek keadaan di depan dibanding kita yang melakukannya. Hanya untuk lebih aman"
Barulah aku teringat kalau aku memang memiliki alat semacam itu pada tangan kiri. Kukirim beberapa kode perintah melalui kepala yang kemudian diterima oleh Body Parts Z. Sisi permukaan atasnya terbuka, memperlihatkan dua buah bola besi. Bola-bola besi tersebut terbang tanpa menciptakan suara, memberiku tampilan gambar melalui kamera yang terletak pada bagian depan sehingga membuat mereka tampak seperti sepasang mata melayang.
"Mengapa kau tak menggunakannya dari awal?" Tanya Alvain berusaha menahan kekesalannya saat melihat dua buah bola besi tersebut terbang jauh ke depan "Kita akan jauh lebih menghemat waktu ketimbang berjalan pelan seperti ini" Keluhnya.
"Sudahlah, lebih baik sekarang daripada tidak sama sekali. Aku yakin banyak yang berada dalam pikiran X sekarang" Ucap Theora berusaha menenangkan Sang sahabat.
Alvain menghela napas panjang, memijat ujung mata dan balik menatapku "Maaf, aku seharusnya tak terpancing emosi. Hanya saja, melihat koridor istana ini mengingatkanku pada masa kecil, waktu di mana kami masih bermain riang tanpa perlu khawatir akan dunia. Senyuman tulus masih terpasang di wajah masing-masing, tak seperti sekarang, semuanya terasa palsu" Jelasnya pelan, menggelengkan kepala dan lanjut memimpin jalan.
Kami saling berpandangan, balik menghadap depan, mengikuti Alvain yang menuntun kami masuk ke sebuah ruangan besar dengan dua pintu ganda besi. Butuh sedikit bantuan kekuatan untuk dapat membukanya, namun begitu Ciara turun tangan, pintu tersebut seketika terasa begitu ringan, layaknya pintu biasa, membuatku sedikit merasa iri pada ras Werebeast.
"Ini adalah.. Bagian dalam dari Yggdrasil" Kataku pelan, terpukau oleh pemandangan di depan. Apapun yang pernah kulihat sampai sekarang, tak dapat mengalahkan keindahan pemandangan tersebut. Seakan menatap ke sebuah dunia lain, ke sebuah cairan kental layaknya madu dalam warna keemasan bercahaya.
"Jangan menyentuhnya!" Seru Alvain menghentikanku yang tanpa sadar sudah berada di depan, hanya berjarak dua langkah saja dari cairan tersebut dengan tangan kanan meraih ke depan seolah ingin menggapai sesuatu "Kalau kau tak ingin jiwamu terhisap, jangan sentuh Miracle Nectar. Bahkan kami para elf, tak berani melakukannya"
Aku mengambil langkah mundur, mempersilahkan Alvain dan Theora untuk mengambil alih sementara aku di belakang merekam mereka sesudah menekan pelipis kanan untuk menggaktifkan mode kamera pada mata.
"Kau siap Theora?" Tanyanya.
__ADS_1
"Selalu, bagaimana denganmu?" Balas Theora sembari menyeringai.
Alvain membalas seringai itu dengan sebuah senyuman. Mereka balik menghadap pada Miracle Nectar, memposisikan kedua tangan di depan dan mulai merapal mantra. Begitu energi sihir kehijauan ditembakkan, Miracle Nectar tampak bersinar terang, menerima tiap energi tersebut dan tampak menjadi lebih kontras dibanding sebelumnya yang berarti pembuktian mereka berhasil. Ras elf sama sekali tak membutuhkan Body Parts Z, mereka dapat menggunakan kekuatan sendiri untuk memberi lebih banyak waktu hingga Seed of Life ditemukan.
"Kau mendapatkannya X?" Tanya Alvain ketika selesai. Mereka berdua terlihat sedikit kelelahan, namun dengan sebuah senyum kemenangan pada wajah masing-masing.
"Tentu saja, kita tinggal memperlihatkan ini pada kenalan kalian sebelumnya lalu kita akan-
Terdengar suara tepuk tangan dari belakang. Kami berbalik, menemukan seorang elf laki-laki yang tampak berada di umur 40an, berjalan masuk bersama empat Mercenary, masing-masing menggunakan Body Parts Z berbeda "Sudah ayah duga, kau pasti akan melakukan hal seperti ini Alvain. Apakah kau tak dapat membiarkan segala sesuatu tetap berjalan tanpa perlu kau dan teman-temanmu ikut campur di dalamnya?"
Wajah Alvain berubah, berusaha untuk tak membenarkan apa yang sedang ada dalam pikirannya "A-ayah? Apa yang.. " Tanyanya, tak mampu menyelesaikan kalimat dengan suara gemetaran.
"Sebagai seorang elf, seharusnya kau sadar ada beberapa hal yang tak dapat kau ganggu gugat. Salah satunya adalah membantu mereka para dark elf yang hanya bisa berdiam diri di belakang sementara kita berjuang di medan perang" Ayah Alvain mengangkat tangan, memberi kode pada para Mercenary yang kemudian masuk melalui pintu, mengelilingi kami sembari mengarahkan moncong senjata dengan jari siap pada pelatuk "Ayah akan memberimu kesempatan terakhir Alvain. Bergabung bersama kami atau mati bersama mereka"
Kami menoleh pada Alvain yang terdiam di tempat dengan kepala tertunduk ke bawah, mempertanyakan pada diri sendiri apakah ini hanyalah sebuah mimpi buruk. Tak mungkin ayahnya yang begitu dia percaya akan menjadi seperti sekarang. Mustahil. Sesuatu pasti telah terjadi dan Alvain percaya itu "Tidak, aku tahu ayah terpaksa. Ayah tak mungkin melakukan ini sementara ayah selalu mengharapkan yang terbaik, tak hanya untuk elf, tetapi juga dark elf! Untuk Alfheim!" Sahutnya "Dan aku akan mencari tahu itu ayah, jangan harap aku akan berhenti sebelum menemukan kebenarannya!"
"Jika memang begitu keinginanmu, maka.. Matilah"
Tangan diturunkan, memberi perintah pada para Mercenary untuk melepaskan tembakan. Seharusnya kami tak perlu khawatir karena senjata manusia takkan pernah dapat melukai kami, terutama mereka bertiga. Tetapi, kami tahu kami lebih baik tak mengambil kesempatan mengingat para Rebels memiliki cara tersendiri untuk dapat membuat alat manusia menyamai kekuatan ras lainnya. Oleh karena itu, dengan kuat kuhantam tangan kiri yang telah memancarkan listrik bertegangan tinggi, menghancurkan lantai tempat kami berdiri dan jatuh ke lantai bawah, di atas sebuah ruang makan.
__ADS_1
Kami mendarat di atas sebuah meja panjang berisi alat-alat makan, lalu bergegas turun dari sana saat tembakan dilepaskan, mengirim beberapa peluru yang terpental ke sana-ke mari begitu menghantam meja. Kami bergegas ke pintu keluar dan berlari menjauh sembari membawa bukti yang mungkin dapat memberi kami bantuan yang kami butuhkan.