
Mereka masih terus keluar dari dalam sana, bergerak layaknya sebuah lautan dan menghantam seperti sebuah ombak. Namun sayang sekali yang mereka hantam adalah sebuah batu karang, berdiri tegak memecah lautan.
Kami terus melangkah maju, menghadapi mereka tanpa rasa takut. Bersama kami berhasil memukul mundur mereka, berhasil membuat mereka menjauh dari kerajaan meski harus berenang di lautan darah, bermandikan keringat serta tubuh yang seakan terikat oleh beban berat.
Napas terengah-engah, rasa sakit dan penderitaan kami sekarang adalah bukti kalau kami tak pernah berhenti sedetikpun. Terus berusaha demi melindungi mereka yang berada di belakang, mereka yang sementara menunggu kedatangan kami, menunggu kabar bahagia sehingga dapat kembali tersenyum gembira.
Kami akan membawa kemenangan untuk mereka, akan membawa harapan baru untuk mereka dan akan membuktikan kalau kami sebagai perkumpulan dari tiap ras adalah sebuah awal baru yang ke depannya akan membebaskan dunia dari kegelapan.
Tak satupun dari kami dapat melihat diri sendiri, penuh akan cairan kental berwarna oranye dengan semangat membara tampak jelas pada wajah. Kami bersorak, menyahut, meneriakkan perasaan kami. Sebuah perjuangan meraih kebebasan. Kami takkan menyerah sebelum mendapatkannya, takkan berhenti dan takkan beristirahat.
Ravager masih terus turun dari sana, seperti sebuah air terjun yang sedang mengamuk. Mereka makin banyak, makin cepat melompat turun seolah tahu mereka tak lama lagi akan kalah. Mereka juga tak tinggal diam, mereka berlari, meraung keras hingga membuat gema di udara, mengirim perasaan mencekam pada hati.
Tiap orang menggunakan kekuatan terbesar mereka, mengerahkan segalanya hingga titik darah penghabisan. Tak sedikit dari kami yang telah tiada, mati sebagai seorang pejuang yang akan terus dikenang dan tak terlupakan.
Demi menghormati kematian tersebut, kami terus bergerak maju, terus mengayunkan senjata, menembakkan anak panah, menggunakan sihir serta tubuh sendiri sebagai perlawanan. Sulit membedakan kami dari mereka. Kedua bagian sudah tampak seperti mahluk buas yang saling melawan memperebutkan daerah kekuasaan.
Hanya Zeon yang masih menahan diri sembari terus melihat ke udara, khawatir jika Codes akan datang menyerang secara tiba-tiba. Karena itu kami harus menggantikan mereka sebagai ujung pedang, menjadi kekuatan utama dalam peperangan.
Ledakan demi ledakan terjadi, mengirim debu dan tanah ke udara. Asap hitam mengepul tinggi. Tanah gemetar kuat. Langit menggelegar. Dentingan pedang menggema.
Hanya itu yang dapat terdengar.
Adrenalin mengalir kencang, memberi kami kekuatan tambahan meski tubuh sudah kelelahan.
Namun tiap kali perasaan menyerah datang, kami teringat oleh mereka yang berada di belakang dan kembali memaksa tubuh kembali bergerak. Lagi dan lagi. Berulang-ulang sampai kami bertanya pada diri sendiri.
Bagaimana bisa kami bertahan sampai sekarang?
Mungkin inilah yang diincar Codes, perasaan yang akan memberimu kekuatan tambahan, kekuatan di luar nalar yang takkan pernah bisa tercapai kecuali melalui hati. Perasaan ketika dirimu ingin melindungi orang-orang tersayang, mereka yang kau pedulikan dan mereka yang menaruh harapan.
Sudah tak dapat dihitung berapa kali kami menghela napas panjang, berusaha menekan letih dalam tubuh.
Namun kekuatan tambahan itu hanya sementara karena kami kembali merasakan tubuh semakin lambat dengan pandangan menggelap.
"Mereka takkan pernah habis!" Seru Theora.
"Jangan berhenti! Sekali kita berhenti, kita akan mati!" Balas Alvain.
Timbul getaran kuat dari arah belakang, getaran yang membuat kami ingin berbalik melihat ke sana, tetapi tahu kepala kami bisa hilang begitu kami melakukannya.
Hanya ketika Forest Guardian pertama melompat masuk dalam lautan hitam, barulah kami mengerti apa yang sedang terjadi.
Qeina yang semenjak tadi menghilang, ternyata mengumpulkan tiap Forest Guardian dan kini mereka bergabung bersama kami menghabisi para Ravager. Kedatangan mereka membawa sebuah perubahan besa yang sudah kami tunggu-tunggu.
Kami dapat menghela napas lega karenanya, tersenyum penuh semangat dan bersorak sekali lagi.
__ADS_1
"FOR ZEON!!"
Kami masuk ke dalam lautan yang sedang mengamuk, bertarung bersama mereka dengan seringai lebar menghias wajah, sadar kami perlahan-lahan makin mendekati lubang di atas.
Para Forest Guardian yang jumlahnya melebihi dua ratus itu benar-benar membantu. Serangan mereka yang tak kenal ampun, seperti sebuah mesin pembunuh, berhasil membabat habis Ravager seakan mereka bukanlah apa-apa di hadapannya.
Melihat itu, tentu kami tak ingin kalah dan mulai mengerahkan kekuatan yang tersisa.
Tetapi semua sempat terdiam ketika Azrael sebagai seseorang yang berada di Tier 10 menggunakan kekuatan besarnya. Kami tak menyangka kalau ternyata semenjak tadi dia sementara mengumpulkan mana untuk dilepaskan dalam satu tebasan sekaligus.
Apa yang terjadi berikutnya hanya pernah terjadi dalam Archsoul dan merupakan hal yang begitu jarang. Angel dan Demon tak pernah ingin menggunakan kemampuan terbaik mereka, saling menyembunyikan kekuatan pamungkas masing-masing.
Sinar keemasan dalam bentuk bulan sabit itu bergerak ke depan, membentuk sebuah jurang besar, berkali-kali lipat lebih besar dibanding serangan Alvain. Satu tebasan itu, mampu menghabiskan segaris besar Ravager dan terus bergerak ke depan, menembus sebuah pegunungan hingga kini pegunungan tersebut tampak terbelah.
Berkat Azrael, kami dapat lebih lega mendekati lubang yang anehnya tak dapat dihancurkan oleh serangan dia. Energi besar tadi hanya melewatinya seakan tak ada apa-apa. Sehingga kini kami bingung harus melakukan apa terhadap lubang besar tersebut.
"Kami akan menutupnya! Kalian tahan mereka!" Perintah Zena yang sudah terbang ke sana bersama para Zeon.
Mereka berdiri mengelilingi lubang tersebut, membentuk sebuah lingkaran besar dengan kami berada di depan mereka, menghadapi para Ravager yang makin mengganas sampai tak memedulikan kawan sendiri.
Mereke berlomba-lomba unntuk membunuh kami, saling menginjak dan melompat. Datang menerjang dari segala arah.
Begitu banyak luka terlihat yang kami tahan sembari menggertakkan gigi.
Tiba-tiba sebuah hempasan energi keluar, mengejutkan kami yang hampir saja kehilangan keseimbangan. Dari tubuh tiap Zeon, terbentuk sebuah pilar cahaya yang perlahan melebar dan melebar sampai akhirnya saling menyatu membentuk sebuah barrier tabung besar dalam warna ungu terang.
"Keluar sekarang!"
Kami melompat ke belakang, keluar melalui lubang berbentuk kotak yang sengaja mereka buka sebelum akhirnya ditutup kembali.
Langkah demi langkah, mereka berjalan mendekati lubang di atas. Angin terasa makin kencang bagaikan badai mengamuk, memaksa kami untuk melindungi mata. Cahaya di sana juga makin menerang dan menerang dan dari tiap langkah, energi besar terhempas keluar bagai sebuah sonar.
Kami sampai terdorong ke beberapa langkah ke belakang begitu mereka sudah berada begitu dekat dengan lubang dengan barrier yang makin mengecil dan mengecil lalu ledakan energi terjadi.
Kami semua terhempas ke belakang, terbanting beberapa kali karena dorongan yang begitu kuat serta begitu membutakan mata.
Telinga berdengung, pandangan kabur dan kepala berdenyut-denyut.
Perlahan, kami bangkit berdiri, berusaha mempertahankan keseimbangan, berjalan kembali ke sana, ingin melihat apakah kami telah berhasil atau gagal.
Kaki berhenti melangkah, tiap pasang mata memerhatikan lubang di depan, senyum penuh kemenangan mengihias wajah. Theora lah yang paling pertama bersorak keras, terlalu keras sampai membuatku khawatir dia akan melukai kerongkongannya.
"Kita berhasil! KITA BERHASIL!! KITA MENANG!!!"
Mendengar itu, sebuah perasaan menggebu-gebu terbentuk dalam hati, naik seperti sebuah ledakan gunung berapi. Serentak kami menghentak tangan tinggi ke udara, bersorak keras, merayakan kemenangan pertama terhadap Ravager.
__ADS_1
"AAAAAAAAA!!!"
"KITA MENANG!!!"
"KITA MENANG!!!"
"KITA MENANG!!!"
Lubang di depan berhasil ditutup oleh barrier ungu yang kini tampak begitu tipis, tapi berhasil menahan pergerakan para Ravager yang kini dapat terdengar raungan penuh amarah mereka. Raungan tersebut menggema di langit, memberitahu kami kalau ini bukanlah yang terakhir.
Mereka akan kembali.
Zena datang mendekat. Wajah terlihat pucat. Dia terhuyung-huyung ke depan dan dengan cepat kutangkap sebelum jatuh.
Aku berlutut di bawah sembari menahan tubuhnya yang telah kehilangan tenaga.
Sebuah senyum lemah terlihat di wajah indahnya "Kita berhasil Xera. Kita berhasil menahan mereka!" Ucapnya gembira, ingin menjerit tetapi yang keluar hanyalah sebuah bisikan lemas "Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Ini adalah tanda, masa depan mulai berubah. Masa depan mulai berubah Xera!"
Tiba-tiba dia merangkulku begitu erat, tertawa bahagia dan menarik diri. Kedua mata kami saling bertemu lalu Zena memberikanku sebuah ciuman yang begitu panjang, tak lagi memedulikan tatapan yang lain.
Begitu kami berpisah, mata kami kembali saling mencari, merasakan perasaan yang telah tumbuh begitu kuat di dalam hati. Terasa begitu hangat dan nyaman.
Lalu aku teringat oleh sesuatu "Adikku! Dia berada di bumi!"
"Kau tak perlu khawatir. Karena Zeon tak hanya kami seorang"
Zena mengangkat tangan, melambaikannya ke samping memperlihatkan beberapa layar hologram besar yang memperlihatkan kalau Zeon tak hanya berada di sini, tetapi juga di tiap dunia.
Mereka semua telah berhasil, sementara bersorak bahagia lalu balik menatap pada kami di mana tiap Zeon memberi sebuah penghormatan. Mereka meletakkan tangan kanan di dada kiri, lalu menundukkan kepala pada kami sembari mengucapkan "FOR ZEON!!" Secara serentak.
"Jadi, apakah kita benar-benar akan menghadapi Codes?" Tanya Alvain penasaran sambil melangkah ke mari, ikut memperhatikan layar-layar di depan dari dekat.
"Menghadapi? Tidak. Kita akan membuat mereka membayar atas yang telah mereka lakukan pada tiap ras!"
Mendengar itu, semua orang bersorak gembira, menyahutkan nama Zeon berulang kali, sebuah nama yang akhirnya terpahat dalam hati. Nama yang akan membawa harapan bagi tiap ras, sebuah harapan atas keselamatan dan juga kebebasan.
Tetapi tiba-tiba tiap layar di depan terganti oleh pemandangan seorang Codes. Laki-laki yang tak kusangka akan menampakkan diri di depan kami, dia yang sudah membuatku dan Zena menderita.
Dia bertepuk tangan. Seringai tampak pada wajah angkuhnya itu "Selamat untuk kalian semua, terutama kalian berdua. Zena dan.. Xera" Ucapnya sengaja menekan namaku dengan sepasang mata menatap tajam "Aku mengira kau telah mati. Siapa sangka kalau ternyata Zena selama ini menyembunyikanmu sebagai sebuah Clone. Namun, jangan lupa kalau tubuhmu masih berada bersama kami. Kau takkan dapat menyelamatkan mereka semua tanpa tubuh aslimu. Datanglah ke mari kalau kau berani. Tunjukkan padaku seberapa besar perjuanganmu untuk mereka semua"
Seringainya mengembang "Apakah kau rela kembali mengorbankan diri"
Kemudian seseorang muncul di sampingnya, seseorang yang tak kusangka akan kulihat berada di dalam sana, seseorang yang kukira adalah seorang teman seperjuangan. Siapa sangka kalau ternyata dirinya adalah seorang penghianat.
"Ucapkan hai pada temanmu, Rico"
__ADS_1