
Kami berlari dan berlari, berusaha untuk tak melihat kanan-kiri di mana sebuah suara layaknya langkah kaki, terdengar menggema memberi rasa takut pada hati. Entah mengapa, jarak yang tadinya tak terlalu panjang, kini terasa begitu lama seakan jaraknya bertambah dua kali lipat. Alvain masih terus memimpin di depan sampai akhirnya tiba-tiba dia tak terlihat, termasuk Theora dan Ciara.
"Hei! Kalian ke mana!?" Sahut Theora dengan rasa takut terdengar begitu jelas dari suaranya yang gemetaran "Ini tak lucu!"
"Justru kalianlah yang di mana! Mengapa aku tak bisa melihatmu!?" Sahut Ciara balik.
Kami berhenti di tempat masing-masing, berusaha saling mencari sampai Alvain bersuara "Diam di tempat! Aku yakin ini hanyalah sebuah ilusi. Kalau kalian merasakan sesuatu, menyahutlah, kemungkinan itu adalah salah satu dari kita!"
"Kemungkinan!? Tak ada apa-apa diluar sana bukan?" Balas Theora yang seketika terdiam ketika sebuah langkah kaki terdengar, langkah kaki yang sama layaknya sesuatu yang basah namun berat menginjak tanah "Bukan hanya aku sendiri yang mendengarnya bukan?" Tanyanya pelan.
"Sialan, lari!"
Melalui perintah Alvain tersebut, kami berlari tanpa arah, mempercayai insting masing-masing di mana letak tangga berada. Rasa takut mulai menguasai, tanpa dapat kami tahan. Mungkin efek dari ilusi ini atau kamilah yang ketakutan setengah mati. Namun, ketika mendengar suara geraman berat dari belakang, di waktu bersamaan kami berbalik, melihat sepasang mata merah menyala balik menatap. Tak butuh perintah, kami mempercepat lari masing-masing sampai menggunakan kekuatan, berusaha kabur dari mahluk apapun yang kini sedang mengikuti secara perlahan, membuat seluruh bulu kuduk pada leher berdiri tegak seakan dia sudah berada di sana, tepat di belakang, siap menerkam.
"Aku menemukan tangganya!" Sahut Alvain tak jauh dari tempatku berada.
Tetapi, begitu akan berlari ke sana, langkah kaki di belakang tiba-tiba sudah muncul di depan. Mata merahnya melirikku, seakan melarang untuk naik ke atas. Mau tak mau, aku memutar tubuh, berlari ke sembarang arah berusaha mencari jalan keluar lain dan menabrak koridor panjang yang kurasa adalah koridor sebelah kiri, berhadapan dengan tangga. Aku kembali menoleh ke belakang, melihat sepasang mata tersebut tahu-tahu sudah berada di depan wajah, hanya berjarak beberapa senti saja. Nafas dinginnya datang menerpa, memberiku rasa takut yang kurasakan saat kecil ketika menonton film horror untuk pertama kali.
__ADS_1
Aku berlari.. Berlari dari sosok yang kini datang mengejar tanpa henti, berusaha menggapai dengan dua tangan panjang dalam bentuk siluet hitam. Aku tak tahu jika aku sedang berteriak atau menjerit, yang pasti aku akan menjadi bahan pembicaraan begitu kami semua bertemu kembali.
Entah sudah berapa lama aku berlari secepat ini dan masih belum menemukan ruangan atau pun pintu, atau mungkin saja aku sudah melewati beberapa dan tak menyadarinya. Namun, aku tak ada niatan untuk berhenti, tak ingin kembali berbalik ke belakang hanya untuk menemukan kalau sepasang mata merah tersebut kembali berjarak beberapa senti saja.
Ternyata doaku terjawab! Aku menemukan sebuah pintu. Sayangnya, pintu itu terkunci. Aku sama sekali tak dapat menemukan gagang dan semacamnya. Kuberbalik, melihat monster tersebut semakin mendekat dalam langkah pelan, seakan tahu aku sudah terpojok, tak dapat melarikan diri lagi.
Jantung berdegup kuat, napas terengah-engah dan dada yang naik-turun, membuatku terpaksa mengambil jalan ini. Kukumpulkan energi penuh pada tangan kiri hingga listrik merah menyambar ke kanan-kiri, menghancurkan dinding sekitar dan memberiku sedikit penerangan. Kuhantam kuat pintu tersebut, menghancurkannya berkeping-keping, kemudian bergegas menarik keluar sebuah besi hitam panjang dari dalam Body Part Z tersebut dan meletakkannya pada lantai. Tak sampai dua detik kemudian, besi itu berubah menjadi sebuah dinding transparan berwarna merah, menggantikan pintu yang rusak.
Aku terjatuh lemas di lantai, berusaha mengatur napas sembari memerhatikan sosok bayangan di depan dengan kegelapan pekat di sekitarnya. Mata merah menyala itu masih melihat ke arahku, tepat ke kedua mata, seakan tak ingin melepaskan buruan. Namun, akhirnya dia memutuskan untuk pergi sembari membawa kegelapan pekat tersebut, memberiku kesempatan untuk dapat menarik napas panjang sesudah dada ini terasa akan meledak oleh kesesakan.
Begitu kembali mendapatkan energi, aku bangkit berdiri, berbalik ke belakang berusaha melihat benda apakah yang membuat cahaya kebiruan di ruangan ini dan menemukan sesuatu yang tak pernah kusangka akan berada di sini, di bawah kerajaan elf, di dalam Alfheim.
Tak jauh di depan, terdapat dua buah piramid kotak yang tersusun dari kubus-kubus hitam mulus, sama seperti yang digunakan oleh HQ. Kedua piramid tersebut saling berhadapan satu sama lain, satu di atas dan satu lagi di bawah. Pada bagian tengah, di mana terdapat ruang kosong dengan cahaya keunguan disertai garis-garis cahaya ungu bergerak ke atas dan beberapa ke bawah, terdapat sebuah lempengan segitiga berbahan sama yang tersusun dari segitiga-segitiga kecil lainnya.
Aku berjalan mendekat, berusaha meyakinkan diri kalau apa yang kuperhatikan di depan ini nyata. Begitu menyentuh piramid di bawah, merasakan kemulusan yang begitu asing, aku yakin ini nyata. Tapi.. Kenapa bisa? Ini berada tepat di bawah kerajaan elf! Codes takkan pernah membuat sesuatu di luar dari HQ karena sudah seperti itulah perintah yang harus mereka jalankan. Tak mungkin mereka membuat sesuatu di luar dari perintah, kecuali..
"Ini sudah berada bahkan sebelum Codes tiba di sini" Ucap Ciara yang tiba-tiba muncul dari samping.
__ADS_1
"Sejak kapan.. " Tanyaku, tak dapat menyelesaikan kata-kata, terlalu banyak yang harus kuproses sampai kepala ini terasa kosong.
"Aku sudah berada di sampingmu semenjak awal. Tapi, rasa takut yang terlalu berlebihan itu membuatmu tak sadar akan kehadiranku. Aku bahkan memanggilmu dari tadi" Ia menghela napas, menurunkan tangannya dan berjalan mendekat untuk memperhatikan benda di depan lebih seksama "Harus kuakui, monster itu memang menyeramkan dan entah kenapa terus mengincar dirimu seakan memiliki sebuah dendam besar. Yah, dari sifatmu, aku takkan terkejut jika memang itu kebenarannya"
Dan kembalilah Ciara Sang ratu sarkasme. Aku merasa seakan-akan kami kembali bekerja sama seperti dulu..
"Pertanyaan besar yang ada dalam kepala kita sekarang adalah mengapa teknologi milik Codes ini sudah berada bahkan sebelum mereka tiba. Kurasa hanya satu jawaban untuk itu" Ia melangkah mengitarinya, berusaha mencari sesuatu yang mungkin dapat menjadi petunjuk, tetapi tak menemukan apa-apa "Mungkin, ini adalah sebuah tanda, tanda bagi mereka untuk datang ke dunia ini dan membangun HQ di Alfheim. Jika bukan itu, aku tak tahu lagi tujuan keberadaan benda di depan kita"
Aku berpikir sejenak, berusaha mencari berbagai alasan lain yang mungkin masuk akal, tetapi tak menemukan apa-apa. Apakah mungkin Codes sebenarnya sudah ada semenjak awal dunia diciptakan dan mereka jugalah yang memasang teknologi ini pada masing-masing dunia? Mungkinkah kami telah ditentukan semenjak dulu? Tapi, mengapa? Karena World Harvester? Jika mereka memiliki teknologi untuk membuat semua ini, bukankah seharusnya mereka juga mampu menghadapi mahluk tersebut?
"Yang aku tak mengerti, kenapa kita? Apa yang dapat kita lakukan jika mereka sendiri tak mampu menghadapinya?" Tanya Ciara lagi yang dengan cepat mengatakan "Untuk informasimu, aku tak bisa membaca pikiran. Semuanya terlihat jelas dari bahasa tubuhmu. Kau gelisah, bingung dan beberapa perasaan lainnya yang tercampur menjadi satu. Plus, aku juga memikirkan hal yang sama jadi aku menebak kau juga berpikir sepertiku"
Bilang saja kau cuma menebaknya. Kuhela napas, mendekatkan wajah pada segitiga di tengah dan menyentuhnya tanpa sadar membuat Ciara menjerit keras dengan wajah marah. Kedua cakar dia keluar, siap menyerangku kapan saja.
"Apa yang kau lakukan! Bagaimana kalau terjadi hal buruk pada Alfheim karena kau mengikuti rasa penasaranmu? Kau siap menanggung beban atas kematian mereka semua? Bagaimana jika kita ikut mati? Pantas saja seluruh tim mu tiada!" Bentaknya karena emosi, lalu sadar dengan kalimat terakhir yang dia ucapkan "A-aku.. Minta maaf, aku tak bermaksud-
Kugelengkan kepala, melipat lengan dan mengambil jarak mundur dari benda di depan " Tak apa-apa " Jawabku singkat.
__ADS_1
Namun, sebelum Ciara dapat membalas, sebuah ledakan energi terjadi, membuat seluruh ruangan ini terang oleh warna biru sebelum kembali normal dengan Codes perempuan yang sama seperti di HQ muncul di hadapanku.
Rambut pendeknya itu terayun pelan mengikuti ritme langkah kaki, berjalan mendekat kemudian berbisik "Tampaknya kau telah menemukan 'Beacon' kami"