
Aku mengikuti mereka dari belakang, bermain peran sebagai seorang M3RC yang hanya mencari keuntungan. Mungkin bukan hal yang baik untuk melakukan ini sekarang, tetapi aku merasa informasi tersebut dapat membawaku pada mereka dan entah mengapa, Z sama sekali tak muncul meski aku sudah berusaha berbicara dengannya. Mungkin karena hanya tubuh sebelumnya lah yang bisa, sementara tubuh ini tak dapat melakukannya.
Mereka masuk di dalam penginapan, memesan beberapa bir sebagai teman di malam yang panjang. Penginapan tersebut sudah hampir penuh oleh orang-orang, berbagai macam ras terdapat di sana. Saling berbicara, bertukar informasi diiringi canda-tawa. Sesuatu yang takkan kau dapatkan dalam Archsoul. Oleh karena itu, melihat mereka seperti ini membuatku sedikit merasa aneh sekaligus tenang. Membayangkan jika kami semua dapat berdamai dan berkumpul bersama seperti sekarang adalah harapan yang takkan pernah terwujudkan. Peperangan dalam Archsoul terlalu menyakitkan, sulit membuat kami bersatu dengan sebuah luka dalam.
Begitu masuk ruangan, sebuah hawa hangat datang menerpa, membawa harum menggoda dari makanan hangat penggugah selera. Suara yang tadinya samar, kini terdengar jauh lebih jelas. Mereka bersalut menggunakan gelas-gelas kayu, denting dari alat makan dan suara langkah kaki para pelayan mengisi ruangan yang terlihat ramai serta nyaman. Sulit membayangkan mereka adalah orang-orang yang bergitu kembali dalam Archsoul akan lanjut berperang, seolah hari ini hanyalah sebuah liburan.
Terdapat sebuah meja kosong tak jauh dari meja mereka dan sebuah kursi kosong tepat di belakang, tepat di depan meja bar. Aku ragu memilih keduanya karena meja kosong tersebut memiliki jarak satu meja lagi dari meja mereka, sehingga kemungkinan akan lebih sulit mendengar pembicaraan orang-orang tersebut melalui ruangan yang penuh akan kehidupan ini. Namun, jika aku duduk di kursi kosong, kemungkinan sebuah pertarungan dapat terjadi karena di kiri-kanan, tampak ras Werebeast di mana Ciara adalah salah satunya. Tak terlihat perban di sana, dengan kata lain kaki dia telah membaik.
Pada akhirnya, aku memilih kursi kosong di depan karena jika Ciara menoleh ke belakang, sama saja dia akan menemukanku. Lebih baik aku duduk di sana, mendengarkan informasi dan bergegas pergi sebelum dia sadar karena kurasa dia juga sedang mabuk. Sudah terlihat delapan gelas di depan dengan bau alkohol kuat tercium dari sana. Mungkin dia sedang merayakan kesembuhan kakinya atau mungkin saja mereka berniat berpesta sebelum perang dimulai. Sudah menjadi kebiasaan Werebeast untuk berpesta besar tiap saat sehingga aneh jika mereka tak melakukannya.
Piring-piring besar berisi daging masak dibawa ke hadapan mereka, diletakkan di depan untuk mereka santap dengan puas. Melihat Ciara begitu lahap memakan tiap daging tersebut, tanpa sengaja membuatku tersenyum, mengingat masa lalu. Tiap kali sebuah misi selesai, inilah yang akan kami lakukan, duduk bersama menyantap makanan tanpa peduli akan masa depan. Intinya, bersenang-senang, pulang dan bersiap untuk misi berikut. Seperti itulah kegiatan kami tiap hari yang mungkin menjadi alasan mengapa kami dapat bertahan melalui misi-misi tak berbelas kasihan tersebut. Kalau salah bukan karena itu, kami mungkin sudah menjadi mesin pembunuh.
__ADS_1
Segelas bir diberikan padaku yang kemudian kuucapkan terima kasih pada pelayan di depan. Ia mengangguk, lalu kembali masuk dalam dapur untuk mengambil pesanan lainnya.
Tidak, lebih tepatnya dialah yang akan menjadi mesin pembunuh, bukan diriku. Aku yang adalah Codes tak dapat diambil alih oleh hasrat manusiawi seperti itu. Hentikanlah ini X, kau bukan manusia, bukan bagian dari mereka. Kau adalah Codes, kau berbeda dari mereka. Kau jauh lebih sempurna.
Reflek aku membanting gelas ke meja, berusaha mengusir pikiran yang akhir-akhir ini terus mengganggu, tak sadar kalau perbuatan tersebut membuat perhatian mereka yang berada di meja bar mengarah padaku. Termasuk Ciara yang kini berusaha memerhatikan wajahku dengan seksama, berusaha mencari tahu apakah benar seperti yang dirinya pikirkan. Kalau orang ini adalah mantan partnernya. Si tukang pematah kaki.
Walau menggunakan Face Distortion, rambut putih ini sulit untuk disembunyikan dan hanya Codes yang memilikinya selain diriku. Aku memalingkan wajah, berusaha memerhatikan dinding di sebelah kanan untuk menyembunyikan rambut, berpikir bagaimana caranya aku kabur dari sini tanpa menarik perhatian. Mana aku belum mendapatkan informasi lebih mengenai Z.
"Maksudmu, jalan menuju kerajaan dark elf? Mengapa seorang Codes pergi membawa tubuh yang bahkan tak lagi bernyawa ke sana? Apa untuk menghidupkannya? Kau tahu, dengan sihir kegelapan dan sebagainya" Balas seorang Werebeast penasaran.
Elf itu menggeleng pelan, tak mengetahui alasan pasti karena sihir kebangkitan juga sudah lama terlupakan. Tak seorangpun tahu cara menggunakannya, terlebih dalam situasi sekarang di mana High Elf sudah tiada, mustahil untuk memakai sihir yang membutuhkan mana sebesar itu.
__ADS_1
Aku bergegas keluar dari dalam ruangan, mengirim sejumlah besar poin pada pemilik penginapan yang lalu terkejut saat melihat FP miliknya, mengatakan kalau dalam seumur hidup, baru kali ini dia melihat poin sebanyak itu dan menarik perhatian seluruh orang di dalam ruangan yang kemudian bertanya-tanya, mengapa seorang M3RC datang ke sini sesudah para Mercenary menyerang? Apakah dia tak takut ditangkap oleh prajurit elf?
Elf muda tersebut menjawab kalau mereka sementara fokus untuk melawan dark elf sehingga tak begitu peduli pada seorang Mercenary biasa. Tetapi, begitu dia sadar kalau tadi adalah seorang M3RC, dia berlari keluar, ingin mengejar sosok yang sayangnya sudah menghilang bersama kuda miliknya. Entah karena alasan apa, Druid memerintahkan mereka untuk tak mengganggu Mercenary, namun segera menangkap M3RC. Sebuah hal aneh tentunya dan sementara dalam penyelidikan yang sampai sekarang masih belum ada kabar.
Tak dia ketahui kalau teman-temannya dalam penyelidikan kini telah menjadi wadah penyimpanan mana, tergantung di udara oleh sulur-sulur tanaman menusuk masuk dalam setiap bagian tubuh layaknya sebuah selang pada seseorang yang akan menjalani operasi. Qeina mengakui kalau para elf ini pintar dan cepat bergerak. Sayang sekali mereka berbicara saat sekuncup bunga mekar dalam ruangan sehingga Qeina dapat mendengar lalu membunuh mereka dari kegelapan. Sehingga kebenaran, takkan pernah terungkap.
Kini, salah satu tanamannya bergetar, memberi tahu sebuah informasi yang begitu penting dan akan membuatnya bahagia. Di gerbang utara, telah lewat seorang M3RC, bergerak cepat menggunakan seekor kuda dengan jiwa yang hampir sama seperti M3RC sebelumnya. Dia tahu hal seperti ini tak mungkin terjadi, tetapi karena kedatangan Codes, dia mulai berpikir sebaliknya. Lagipula, Codes adalah ras yang dapat melakukan semuanya, ras di antara segala ras. Sosok tertinggi yang berada di puncak rantai makanan. Terlebih sesudah seorang Codes turun tangan sendiri untuk mengambil tubuhnya, menghentikan dia seakan dia bukanlah apa-apa kemudian menghilang tanpa sepatah kata. Qeina merasa makin tertarik pada sosok M3RC tersebut dan akan melakukan apa saja untuk merebutnya, menggali informasi yang mungkin dapat berguna.
Ia sudah tak sabar melihat reaksi para Rebels seandainya dia menemukan sebuah hal penting. Qeina memang tak begitu menyukai mereka karena terdiri dari orang-orang buangan yang bahkan tak memiliki mana. Tetapi, pemimpin mereka berhasil membuatnya bertekuk lutut, seorang manusia biasa yang adalah ras terendah dibanding ras lainnya. Bagaimana mungkin seseorang seperti itu bisa membuat Druid yang dari informasi, sama kuat dengan Angel maupun Demon.
Itulah alasan Qeina begitu berhasrat untuk mencari tahu, menginginkan jawaban tersebut dan menggunakannya untuk membangkitkan Sang kekasih tercinta. Jika dia bisa mendapatkan tuan putri dark elf lalu menggunakan rahasia yang disimpan oleh Rebels maupun Codes, maka hal tersebut bukan lagi sebuah harapan. Itu akan menjadi sebuah kenyataan. Dan Qeina rela melakukan apa saja, bahkan jika harus melakukan sebuah pengorbanan.
__ADS_1