Archsoul

Archsoul
Part 40


__ADS_3

Kami berlari, bergegas keluar dari dalam istana dari kejaran para Mercenary yang tiba-tiba masuk melalui kaca menggunakan grappling gun. Peluru ditembakkan, menghantam dinding dan membuat lubang-lubang kecil di sana. Ciara memanjangkan tiap cakar, berlari maju ke depan dan mencakar seorang Mercenary tepat di wajah, mengubahnya menjadi sebuah ukiran menyeramkan yang dapat menjadi mimpi buruk. Namun, dia tak berhenti hanya sampai disitu, Ciara lanjut menyerang sisa Mercenary di depan, melukis koridor istana dengan warna merah, memberi jalan pada kami untuk berlari karena Alvain dan Theora tak memiliki kekuatan yang cukup untuk dapat menghadapi Mercenary sebanyak ini sesudah memberi Yggdrasil energi.


Pintu keluar sudah berada di depan mata dan para Mercenary sudah semakin mendekat. Sayangnya, harapan kami untuk keluar seketika hilang ketika seorang Mercenary berbadan besar muncul di sana, menggenggam sebuah golok hitam dengan lampu neon merah pada sisi tumpul. Alvain segera memutar kepala, menyerang jendela menggunakan mana yang tersisa lalu melompat ke atas sebuah atap bangunan. Kami mengikutinya dari belakang, lanjut berlari sampai akhirnya berhasil mencapai jalan utama yang telah sepi oleh elf.


Di belakang, jauh lebih banyak Mercenary menampakkan diri. Seandainya saja bukan karena Rebels, kami mungkin takkan perlu berlari seperti ini dan menghadapi mereka. Beberapa naik menggunakan Windglide yang telah sengaja diberi warna hitam, sesuai warna pakaian mereka dan menghalangi jalan di depan sembari mengarahkan senjata. Mata Alvain melebar melihatnya, lalu bergegas menciptakan sebuah perisai dari lingkaran sihir hijau yang begitu pelatuk ditekan, hancur bagaikan kaca. Pada saat itulah kami sadar, tak mungkin bagi kami untuk melawan mereka seorang diri seperti ini. Jika mereka mampu menghancurkan perisai Alvain yang sudah berada di Tier 7, kami hanya memiliki kesempatan menang yang begitu kecil begitu menghadapi mereka semua.


"Masuk ke dalam gang di sana!" Perintah Alvain sembari berusaha membentuk kembali lingkaran sihirnya yang terus dihantam oleh peluru.


Kami berlari masuk dan Alvain mengikuti dari belakang dengan luka tampak pada tubuhnya. Aku berhenti, membiarkan Alvain lewat terlebih dahulu "Apa yang kau lakukan!?" Teriaknya.


"Pergilah! Akan kuhalang jalan mereka!" Jawabku lalu mengerahkan energi pada tangan kiri yang kemudian kukumpulkan pada telapak tangan, membentuk sebuah bola listrik bertegangan tinggi dan kutembakkan ke depan. Bola dengan listrik merah menyambar itu, meluncur cepat ke depan, mengenai salah satu Mercenary dan menyebar ke Mercenary lainnya melalui Body Parts Z mereka yang terbuat dari besi.


Kulanjutkan kembali langkahku, menyusul mereka yang sudah lumayan jauh di depan sembari berharap semoga pengejar kami berkurang cukup banyak karena itu. Kemudian tercetuslah sebuah ide yang aku yakin akan sangat membantu kami dalam menghadapi para Mercenary.


Di depan sana, Alvain kembali merapal mantra pada salah satu dinding, menungguku hingga datang sebelum mengucapkan kata terakhir dan akhirnya kami diteleportasikan ke sebuah ruangan kecil berdebu dengan sebuah meja kecil tepat di bagian tengah. Kami terduduk lemah di sana, berusaha menarik napas sebanyak mungkin sembari menenangkan diri, lalu aku bangkit berdiri, mengucapkan "Kita punya kesempatan melawan mereka"


Mereka bertiga menoleh padaku dengan wajah penasaran "Bagaimana? Mereka saja bisa menembus perisai lingkaran sihir milik Alvain. Kita memang bisa menghadapi mereka tapi kita juga akan terluka parah" Balas Theora dengan mata tertutup rapat disertai dada naik-turun cepat. Keringat tampak membasahi tubuhnya "Mengapa.. Mengapa aku merasa.. hhh.. Begitu k-kelelahan? Apakah.. Karena memberi kekuatan pada Yggdrasil?"


Alvain menelan ludah, bersandar pada dinding mencari ketenangan "Tidak, seharusnya tak sampai seperti ini.. "

__ADS_1


Begitu Alvain sadar, Ciara sudah menendangnya ke seberang ruangan, membuat Alvain yang sudah lemah, menjadi kesulitan untuk tetap sadarkan diri. Theora tersentak kaget, bangkit berdiri berusaha menyerangnya namun seketika terjatuh lemah di tanah tak merasakan energi pada sekujur tubuh seakan tiap energi tersebut telah dihisap habis. Ciara lalu menoleh padaku, menunggu hingga aku juga mengalami hal yang sama seperti mereka, tetapi tak terjadi apa-apa. Ia terlihat gelisah, menyiapkan cakarnya dan maju menerjang.


Kukerahkan tenaga penuh pada tangan kiri, tahu aku harus mengerahkan segalanya untuk dapat mengalahkan Ciara yang adalah seorang Werebeast. Aku menghindar, memerhatikan bagaimana cakar panjang tersebut membentuk cekungan dalam pada dinding batu tempat kepalaku berada tadi. Ciara meraung marah, kembali melompat layaknya seekor singa menerkam. Cakar dia kembali bertemu dengan dinding, tak dapat menyamai kecepatan Body Parts Z yang telah menggantikan kedua kakiku karena aku tahu jika aku tak mampu menghadapi mereka, jalan keluar terbaik adalah kabur dan menunggu waktu yang tepat untuk membalas.


Sayangnya, aku tak dapat melakukan itu sekarang. Aku tak tahu apa yang akan terjadi pada Alvain dan Theora seandainya aku meninggalkan mereka sendirian bersamanya. Aku harus menemukan cara untuk menghadapi dia, tak peduli bagaimana caranya. Lalu bersama, aku, Alvain dan Theora akan keluar dari sini mencari bantuan demi menyelamatkan Alfheim dari bahaya.


"Sebaiknya kau menyerah Xera, kau sadar kau bukanlah lawanku bukan?" Ancamnya sembari mengitari meja, menunggu kesempatan untuk datang menyerang "Kita berdua tahu, kau hanya akan mati jika menghadapiku dan sudah terbukti malam sebelumnya. Kau tak dapat melakukan apa-apa!" Ia maju menerjang, menyerang menggunakan cakarnya yang dengan sengaja tak kuhindari sehingga memberi empat buah sayatan pada tubuh besiku, membuatnya kaget, tak mengerti mengapa aku tak menghindar.


"Disitulah kau salah Ciara" Kuambil kesempatan ini, mencengkram kuat lehernya menggunakan tangan kiri dan membantingnya kuat pada meja hingga hancur berantakan "Selama ini aku hanya menahan diri" Kubanting dia sekali lagi, menghantamnya kuat pada tanah hingga lantai bebatuan di bawah hancur dan melemparnya ke atas, memberi dia sebuah tendangan kuat tepat pada kepala dengan energi penuh teralirkan pada kaki kanan.


Tubuh Ciara terbentur kuat pada dinding yang kukira sudah berhasil membuatnya jatuh pingsan. Ternyata, aku terlalu meremehkannya. Dia balik menyerang, menggunakan kedua cakarnya secara membabi buta layaknya hewan buas sebelum memberiku tendangan kuat pada tubuh. Dapat kurasakan, dinding di belakang menghancurkan beberapa bagian dari tubuh besi ini, menusuk masuk tubuh asliku hingga darah tampak membekas pada dinding tersebut.


"Apakah kau tahu? Terkadang kau harus mengalah untuk menang" Balasku dengan sebuah seringai yang sama terbentuk pada wajah. Kutahan kaki kanannya itu dan mengangkat tinggi tangan kiri sembari menariknya ke samping, lalu membenturkan siku tepat pada pergelangan lututnya.


Werebeast tersebut menjerit keras, jatuh ke bawah sembari memegangi kaki yang kini tampak bengkok tak natural. Air mata mengalir turun sembari menatapku tajam, ingin membalas perbuatanku tersebut namun tahu kini dia tak dapat melakukan apa-apa dengan kakinya yang patah "SIALAN KAU XERA!!"


Kuperhatikan tangan kiriku yang kini tampak rusak berat. Aku tak yakin dapat menggunakannya lebih daripada ini atau aku akan kehilangan tangan kiri yang telah menemaniku selama 3 tahun belakangan.


Aku melangkah ke depan, namun tiba-tiba terjatuh ke depan dengan darah kembali keluar dari dalam mulut. Ciara terdiam melihatnya, tak menyangka kalau ternyata dinding di belajang kini telah penuh oleh cairan merah segar yang sedang mengalir turun perlahan. Sembari berusaha menahan rasa sakit, aku bangkit berdiri, berjalan mendekati Alvain dan Theora yang masih sadarkan diri. Mereka berusaha mengucapkan sesuatu, tetapi yang keluar dari dalam mulutnya hanyalah sebuah rintihan sehingga aku tak peduli jika mereka memintaku untuk lari, aku harus membawa mereka pergi dari sini.

__ADS_1


Meskipun sulit karena tubuh yang juga dalam kondisi parah, aku mengangkat kedua elf tersebut, mengalungkan lengan kiri Alvain dan lengan kanan Theora pada pundak, lalu membawa mereka menaiki tangga menuju ruangan di atas yang kuharap kosong.


"Mengapa.. MENGAPA KAU TAK MENINGGALKAN MEREKA!?" Teriak Ciara di belakang "XERA! JAWAB AKU! HEY!! XERAAA!!" Bentaknya.


Mohon maaf Ciara, bukannya tak ingin menjawab. Namun, tubuhku benar-benar sudah tak mampu jika aku berhenti selangkah saja ataupun mengeluarkan energi untuk berbicara. Aku juga meminta maaf untuk kakimu, aku terpaksa. Namun, takkan kubiarkan nyawa mereka dalam bahaya. Kali ini, akan kuselamatkan teman-temanku.


"Mengapa kau tak membantunya?" Tanya Codes perempuan yang sama, kembali muncul di belakang kursi Z yang kini tampak gelisah.


"Kita tak dapat mencampuri urusan mereka V. Xera juga membutuhkan ini untuk membangun mentalnya kembali" Jelas Z yang semenjak tadi tampak ingin pergi dan bergegas memberi bantuan pada Sang kekasih.


"Meskipun kau tak dapat diam seperti itu? Bantulah dia, akan kulindungi dirimu seandainya dia ke mari" Balasnya lembut.


Z menoleh pada sosok perempuan di belakang, merangkulnya erat, mengucapkan "Terima kasih V, aku sungguh berterimakasih"


"Pergilah"


Dengan begitu, Z menghilang bersama kilatan cahaya yang muncul dan dari layar, terlihat sosok Z membantu mereka meskipun sebenarnya hal itu dilarang untuk dilakukan karena dapat mengganggu proses berjalannya seleksi.


Pintu ruangan terbuka, menampilkan sosok laki-laki. Dia berjalan masuk, melipat lengannya ketika memerhatikan layar di depan dan menghela napas panjang "Kau membiarkannya?" Tanya dia lemah karena tahu apapun yang terjadi, V takkan diam saja melihat Sang sahabat khawatir "Aku dapat menutup mata V, tapi jika kalian terus-menerus melakukan ini, akupun takkan bisa melakukan apa-apa seandainya.. " Dia tak mampu melanjutkan kalimat berikut dan memilih untuk menggelengkan kepala, kembali berjalan keluar sembari mengucapkan "Berhati-hatilah" Dan pintu kembali tertutup rapat secara otomatis.

__ADS_1


"Aku harap, kalian berdua dapat terus bersama kali ini" Kata V tanpa melepaskan pandangan dari layar.


__ADS_2